Pencak Silat Nias, Tempat Adat, Gereja, dan Islam Berunding

A A

Omo Nifolasara, rumah adat tradisional di Desa Bawomataluo, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara. [Foto: Derius Manao/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

  • Syarat membuka Sasara, arena latihan pencak silat, meliputi ayam jantan, kain kafan, pisau, daun sirih, dan Alkitab.
  • Murid bersumpah dalam lingkaran sambil memegang kain kafan yang dikaitkan dengan simbol Islam, dengan daun sirih dan Alkitab di atasnya.
  • Sumpah kedua berupa perjanjian darah yang diikat dalam nama Allah Tritunggal saat pemilihan Guru Tuo.
  • Elemu, ilmu mistik yang dipakai dalam ritus silat, disebut dikenalkan pendatang Muslim seperti orang Aceh dan Melayu.
  • Penelitian dilakukan di Kecamatan Moro’ö, Nias Barat, dan Tugala Oyo, Nias Utara, pada Januari 2022 hingga April 2023.
Daftar Isi
  1. Doa Gereja Membuka Setiap Hajatan
  2. Harimau Berguru kepada Kucing
  3. Sumpah Diucapkan di Atas Daun Sirih dan Alkitab
  4. Mantra Datang dari Pesisir
  5. Pencak Silat Nias Berunding ke Tiga Arah
  6. Harimau Tak Pernah Menghuni Hutan Nias

Cekricek.id — Bila pencak silat Nias hanya dipahami sebagai seni bela diri, yang terlihat dari gelanggangnya cuma jurus, murid, dan guru yang mewariskan gerak dari satu angkatan ke angkatan berikutnya. Namun sebuah penelitian di dua kecamatan di Pulau Nias menunjukkan bahwa di gelanggang yang sama berlangsung tawar-menawar yang jauh lebih rumit, antara adat leluhur, gereja, dan Islam, tiga pihak yang di dalam paper itu sendiri tercatat saling memberi label.

Label itu datang dari lebih dari satu arah. Dari sudut pandang teologi Kristen, tulis para penelitinya, Sile terlalu cepat dicap sebagai okultisme dan dikaitkan dengan upaya menampilkan dimensi “roh jahat” yang bertentangan dengan “roh baik” dalam iman Kristen. Dari arah lain, masyarakat Nias tradisional memakai sebutan Ndrawa, yang berarti orang asing, bagi pendatang Muslim yang dianggap bukan Ono Niha, bukan manusia Nias, karena tidak lahir dari Tano Niha, rahim tanah air Nias.

Penelitian itu berjudul Sile (Pencak Silat Nias) as a Negotiation of Religion and Culture between Traditional Societies, Islam, and Christianity in Ono Niha. Penulisnya Famati Waruwu, Elia Tambunan, Otieli Harefa, dan Nestilina Gulo dari Sekolah Tinggi Teologi REAL Batam, bersama Ria Apvan Bertin Baene dari Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta. Artikel tersebut dimuat Jurnal Sosiologi Agama: Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama dan Perubahan Sosial, Volume 18 Nomor 2 edisi Juli–Desember 2024, halaman 171–190, dan tercatat terbit pada 2025.

Lapangannya adalah masyarakat Kecamatan Moro’ö di Kabupaten Nias Barat dan Kecamatan Tugala Oyo di Kabupaten Nias Utara, Sumatera Utara, dengan waktu penelitian yang dibulatkan dari Januari 2022 hingga April 2023. Para peneliti memakai penelitian kualitatif empiris dengan pendekatan sosio-teologis, mengumpulkan data lewat observasi, dokumentasi, dan wawancara, lalu memilih narasumber secara purposif dari sejumlah tokoh masyarakat penting, yang kemudian menunjuk tokoh lain yang dianggap memahami objek kajian.

Doa Gereja Membuka Setiap Hajatan

Kedua kecamatan itu, menurut paper, punya hukum adat yang berbeda, tetapi interaksi sosial warganya tetap bisa dirundingkan dan dalam batas tertentu hidup berdampingan. Pertautan itu tumbuh setelah perkawinan antarwarga makin lazim tanpa memandang perbedaan keyakinan teologis maupun cara pandang budaya setempat, lalu diperkuat pasar tradisional yang disebut pekan, pusat jual beli bagi kedua komunitas. Orang Tugala Oyo bahkan memiliki hubungan kekerabatan dengan orang Moro’ö, dan politik Nias Barat hari ini ikut mempertemukan keduanya.

Ruang bersama itu juga diisi kegiatan agama. Ada kegiatan gereja di ruang sosial, ada bazar Ramadan secara musiman, dan ada pesantren sementara ketika libur sekolah, dengan kegiatan Islam berpusat di Masjid Agung al-Uswah Tetesua di Nias Barat serta Babussalam Lotu di Nias Utara. Di luar itu warga bertemu di arisan, gelanggang pencak silat Nias, perburuan, pesta pernikahan, lapangan voli, dan sepak bola, sementara pada upacara pernikahan dan kematian kedua komunitas saling mengundang tanpa memandang latar gereja, hukum adat, maupun marga.

Namun ada satu hal yang, menurut dua narasumber bernama Pemonius Hulu dan Kardatu Boris Hulu, tidak pernah absen: tidak ada kegiatan sosial di masyarakat itu yang tidak dimulai dengan doa Kristen Protestan, dan acaranya selalu penuh simbol Kristen. Paper mencatat gereja dan musala kecil bagi Muslim dibangun di tiap desa, agama mayoritas di kedua kecamatan adalah Kristen Protestan dengan sisanya Kristen Katolik, dan hingga kini tidak ada rumah ibadah bagi pemeluk agama lain di sana.

Sebaliknya dari gambaran masyarakat yang telah meninggalkan tradisi, warga yang beragama Kristen itu tetap menjunjung tinggi warisan leluhur. Keyakinan paling kuat, tulis para peneliti, adalah kepercayaan kepada Malaika Zatua, roh orang tua atau bangsawan Nias yang dipercaya ikut memengaruhi hidup keturunannya. Kepatuhan pada Amakhoita Zatua atau aturan orang tua dan Amakhaita Mbanua atau aturan kampung yang diatur hukum adat, terutama dalam stratifikasi sosial, dijalankan dalam nama Tuhan Yesus seperti tertulis dalam Kolose 3:17, sekaligus dalam nama Malaika Zatua.

Baca juga Tari Perang Nias Hidup di Gunung Pangilun Sejak 1939

Harimau Berguru kepada Kucing

Di dua kecamatan itu, perguruan pencak silat Nias didirikan lewat kerja sama tokoh adat, tokoh pemerintahan, tokoh pemuda, dan tokoh agama, dengan generasi milenial, generasi Z, dan generasi Alfa sebagai objek sekaligus subjek yang dididik dalam nilai tradisi Nias. Membuka Sasara, arena latihan pencak silat Nias, menuntut sejumlah syarat untuk pengadaan ritual, yaitu ayam jantan, kain kafan, pisau, daun sirih, dan Alkitab, dan setiap murid wajib mengikuti seluruh tahap ritualnya dari awal sampai akhir.

Ritual itu bersandar pada sebuah cerita yang telah menjadi tradisi lisan. Pada masa lalu, kucing menjadi guru bagi harimau dan dijuluki guru besar karena keterampilan bela dirinya. Ia mengajarkan tiga puluh dua gerakan dari pukul enam pagi sampai pukul enam petang, tetapi tidak mengajarkan cara memanjat, sehingga harimau berkhianat dan mencoba membunuh gurunya. Tidak jauh dari tempat latihan itu, seorang raja diam-diam mengamati gerakan-gerakan tersebut dan kemudian mengajarkannya kepada manusia, menurut penuturan R Lombu dan Yos Waruwu.

Menurut Yos Waruwu, harimau berkhianat karena sang guru tidak mengajarkan seluruh ilmu bela diri atau ilmu gaibnya kepada murid. Karena itu penyembelihan ayam murid dipakai sebagai medium untuk melihat watak murid di kemudian hari, dan Fabadu Do, perjanjian darah, dijadikan ikrar bahwa tidak akan ada pengkhianatan di antara mereka. Tata ritual ini diyakini sebagai hukum leluhur yang ditetapkan dengan sumpah dan diikat dengan kutukan, sehingga yang patuh menerima kemuliaan dan berkat, sedangkan yang melanggar menerima kutuk dan hukuman.

Baca juga Sesepuh Menolak, Kuda Lumping Naik Panggung Wisata

Rangkaiannya dibuka Fanaba Manu, pemotongan ayam oleh seorang mahaguru dengan tata cara dan mantra khusus, yang dilakukan dua kali. Pemotongan pertama, ayam murid, mengesahkan status seseorang sebagai murid dan menjadi ungkapan syukur kepada leluhur sebagai perintis gerakan pencak silat Nias, sebab arwah leluhur diyakini memengaruhi gerakan bela diri. Pemotongan kedua, ayam guru, dilakukan saat penetapan Guru Tuo, penerus perguruan, yang menguasai lebih banyak ilmu bela diri, mantra, dan tata cara dibanding murid lain.

Tahap kedua, Famaure Sasara, menempatkan guru gaib di area gelanggang dengan mantra dan tata cara khusus. Paper mencatat keyakinan bahwa keberadaan guru gaib itu terlihat keesokan harinya dari bekas cakaran harimau, sehingga murid yang masuk wajib menghormati keempat sudut arena, dan murid yang berlatih sendiri di luar arena harus meletakkan kursi atau benda lain sebagai lawan. Tahap ketiga adalah Fabadu Do, perjanjian darah, dan tahap keempat pembakaran kemenyan untuk menyatukan jiwa murid dengan guru gaib.

Sesudah pembakaran kemenyan, para murid diharapkan mampu mengendalikan emosi selama tiga hari karena pengaruh guru gaib yang dipercaya telah menyatu dengan hidup mereka, dan selama masa itu pasangan suami istri dilarang berhubungan badan. Mengabaikan peringatan di gelanggang pun diyakini membawa dampak buruk bagi murid, bahkan sampai kehilangan nyawa. Menurut paper, seluruh ritual itu diwariskan lewat tradisi lisan dari generasi ke generasi sebagai identitas asli Sile, pencak silat Nias tradisional.

Sumpah Diucapkan di Atas Daun Sirih dan Alkitab

Tahap sumpah adalah bagian yang oleh para peneliti disebut unik. Sumpah murid pertama diucapkan saat ayam pertama dipotong, ketika para murid membentuk lingkaran, masing-masing memegang kain kafan yang selalu dikaitkan dengan simbol Islam, lalu di atasnya diletakkan daun sirih dan Alkitab. “Mereka bersumpah dalam nama Allah Tritunggal (Bapa, Anak, dan Roh Kudus) bahwa sejak hari ini mereka bersaudara dan tidak lagi saling mencurigai,” tulis Famati Waruwu dan rekan-rekannya.

Gereja berdinding putih dengan menara lonceng dan tangga batu di Gunungsitoli, Nias
Gereja Paroki Santo Fransiskus Asisi di Gunungsitoli, Nias, gereja Katolik yang dibangun dengan motif tradisional Nias. [Foto: Slaia/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

Sumpah kedua jauh lebih mengikat karena berupa perjanjian darah, diucapkan saat pemotongan ayam guru sekaligus pemilihan Guru Tuo. Semua peserta menumpahkan darahnya untuk diminum bersama, meletakkan tangan di atas Alkitab, dan mengikat sumpah dalam nama Allah Tritunggal bahwa mereka bersaudara, dikandung satu ayah dan satu ibu, sehati dan sepikiran. Ancaman kutuk bagi pelanggarnya, menurut paper, serupa dengan ancaman hukum adat, yakni mati oleh pedang, mati secara keji dan tidak manusiawi, atau tidak beruntung seumur hidup.

Dari sudut pandang masyarakat Nias tradisional, perjanjian itu dipandang sebagai praksis sosio-teologis. Fw Waruwu, Ar Waruwu, dan Jo Zebua menyebut perjanjian darah sebagai ritual mulia yang disahkan Tuhan, dengan keyakinan bahwa apa yang disetujui di dunia juga disetujui Tuhan di surga, dan mereka menganggapnya kebenaran doktrin Kristen yang tertulis dalam Matius 16:19. Orang yang telah terikat perjanjian darah, menurut mereka, memiliki kesatuan jiwa yang melampaui hubungan orang tua, saudara, kerabat dekat, bahkan hubungan suami dan istri.

Mantra Datang dari Pesisir

Tetapi di balik lingkaran sumpah yang dibuka dengan nama Allah Tritunggal itu, para peneliti menelusuri jejak yang datang dari arah lain. Pengaruh pendatang tampak di pesisir, di Idano Gawo, Sirombu, Gunungsitoli yang terbesar, Lahewa, dan Tuhemberua, dan mereka kerap disebut Nias pesisir atau Islam pesisir. Keturunan Bugis di Sirombu, misalnya, telah menetap selama tiga belas generasi atau sejak sekitar akhir abad ke-17, menikah dengan warga Aceh, Minang, dan Nias, dan tidak lagi mengidentifikasi diri sebagai Bugis melainkan sebagai Ono Niha.

Ilmu mistik berupa mantra, jampi, dan jimat, yang oleh orang Nias disebut Elemu, menurut paper telah lama dikenalkan kepada orang Nias oleh pendatang Muslim seperti orang Aceh dan Melayu, lalu bercampur dengan budaya Nias terutama di pesisir sebelum agama Kristen masuk ke pulau itu. Budaya tersebut kemudian menjangkau orang Nias di dataran tinggi, yang kini mayoritas memeluk Kristen, dan Elemu itu dipraktikkan dalam ritus pencak silat Nias dengan ritual-ritual khusus.

Narasumber paper tidak seragam menilai seberapa jauh pengaruh itu. Menurut O Gulo, pendatang Muslim tidak berpengaruh besar terhadap agama dan budaya orang Nias, tetapi memperkenalkan unsur budaya mereka yang bercampur ke dalam budaya tradisional dan Kristen, antara lain mantra yang memadukan unsur Islam dan Kristen. B Waruwu dan Bz Waruwu melihatnya lebih jauh, sebab menurut keduanya pengaruh budaya pendatang telah meleburkan mantra tradisional Nias, sehingga kini hampir tidak ada lagi bunyi mantra dalam bahasa Nias asli.

Baca juga Patuntung Ammatoa Kajang dan Haji yang Tak Sampai Mekah

R Lombu menuturkan bahwa orang Nias yang memburu Elemu, entah Kristen, Muslim, atau penganut kepercayaan tradisional, sengaja datang kepada haji atau ustaz karena percaya ilmu mistik dari mereka lebih ampuh, bahkan ada yang pergi ke Aceh, termasuk ke Pulau Banyak. Menurut R Lombu, pencak silat Nias dengan ritual yang kini menjadi identitas budaya Nias dibawa oleh orang Nias yang belajar Elemu di Aceh. J Waruwu menambahkan bahwa warga Kristen yang mendalami Elemu menerima bacaan mantra Muslim yang meneguhkan keyakinan kepada Nabi dan Allah.

Pencak Silat Nias Berunding ke Tiga Arah

Namun para peneliti tidak berhenti pada soal asal-usul. Ritual pencak silat Nias hari ini, tulis mereka, memiliki rumusan spiritual, adat tradisional, dan aksi teatrikal sosial, dan pelaksanaannya disesuaikan atau dipadukan dengan isi ajaran Kristen tanpa menghapus unsur ritual dari dimensi keniasan yang lain. Perundingan itu dipahami sebagai komunikasi sosial antara tiga pihak yang berbeda untuk menemukan posisi yang saling cocok dan menciptakan hubungan sosial yang harmonis di Pulau Nias.

“Pencak silat adalah ekspresi masyarakat, tempat ritual-ritual tradisional diisi dengan pandangan dunia Kristen atau dipadukan menjadi satu kesatuan yang imersif,” tulis Waruwu, Tambunan, Harefa, Gulo, dan Baene dalam kesimpulannya. Mereka juga menyebut asal pencak silat Nias dengan ritual itu sebagai budaya khas komunitas pendatang Muslim di Pulau Nias yang dirundingkan dengan budaya orang Nias di pesisir, lalu memengaruhi identitas sosio-teologis orang Nias yang tinggal di dataran tinggi maupun di pesisir.

Ringkasan berbahasa Indonesia paper itu merumuskannya lebih pendek: “Ditemukan, bahwa Sile Nias Utara dan Barat menampilkan terjadinya negosiasi ruang antara budaya dan agama di masyarakat.” Dalam uraian para penulis, budaya lokal Nias dan budaya pendatang saling menawar sehingga terjadi penyusupan budaya bahkan asimilasi yang makin mengaburkan batas keduanya, sementara pelaku Sile tidak punah walau kehadiran Islam dan Kristen dapat dibaca dalam interaksi sosial di Nias Utara dan Nias Barat sampai sekarang.

Harimau Tak Pernah Menghuni Hutan Nias

Persoalannya, paper ini juga memuat keraguan terhadap cerita yang menjadi dasar ritualnya. Ada yang berpendapat sosok gaib berwujud harimau di gelanggang tidak mendapat dukungan dari mitologi leluhur orang Nias, karena tidak satu pun dewa dalam mitologi itu menampakkan diri sebagai harimau, orang Nias tidak mengidentifikasi leluhurnya sebagai harimau, dan hingga kini tidak ada habitat harimau di hutan Pulau Nias. Menurut pandangan itu, orang Nias kuno tidak dapat membayangkan sosok harimau yang tidak pernah mereka lihat.

Paper tidak menyediakan bagian khusus tentang keterbatasan penelitian. Yang tertulis adalah bahwa, dengan alasan etis, tidak semua nama sumber data ditulis lengkap, bahwa narasumber dipilih secara purposif dari sejumlah tokoh, dan bahwa gagasan, persepsi, dan keyakinan warga yang diteliti tidak dapat diukur dengan angka. Kesimpulan tentang asal ritual dari pendatang Muslim di pesisir juga ditarik dari lapangan di dataran pedalaman yang mayoritas Kristen, dan di bagian lain naskah urutan cerita asalnya berbalik, ketika harimau justru disebut mengajar kucing.

Lapangan kajian ini tidak mencakup Sirombu, Lahewa, atau Gunungsitoli, padahal di pesisir itulah, menurut kesimpulannya sendiri, ritual pencak silat Nias bermula sebelum dirundingkan dengan budaya dataran tinggi. Seperti apa sumpah diucapkan di gelanggang-gelanggang pesisir itu hari ini, di tanah tempat, menurut paper, Elemu lebih dulu bercampur dengan budaya Nias, dengan kain kafan, daun sirih, dan Alkitab di dalam satu lingkaran, atau dengan susunan yang sama sekali lain?

Bagikan

Baca Juga

Naskah Ulu Serawai dan Nilai Islam dalam Ritual Kayik Beterang
Tujuh Burung Pemali yang Tak Diburu Warga Mungguk Gelombang
Ritual Kematian Suku Kajang dan Sarung Hitam Seratus Hari
Hukum Adat Nias Fondrakö Bertahan di Tengah Mayoritas Kristen
Game Online dan Kebugaran Jasmani 37 Siswa SD Tak Signifikan
Tradisi Padungku di Toinasa Kini Dirayakan Lintas Etnis