Sesepuh Menolak, Kuda Lumping Naik Panggung Wisata

A A

Ilustrasi properti kuda lumping dari anyaman bambu dan sesaji hasil bumi di panggung terbuka sebuah desa wisata pegunungan di Jawa Barat. [Foto: Dibuat dengan AI]

Cekricek.id — Usul itu ditolak di ruang musyawarah. Pengurus muda Kelompok Sadar Wisata Desa Mekarlaksana, Kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung, datang membawa satu gagasan yang terdengar sederhana: kuda lumping dijadwalkan, dipentaskan untuk tamu, dan dimasukkan ke dalam paket wisata desa. Para sesepuh menolak. Bagi mereka pertunjukan itu bukan tontonan yang bisa dipesan. Ia ritual, digelar ketika desa membutuhkannya, dan ritual tidak tunduk pada kalender kunjungan wisatawan. Yang diminta pengurus itu, pada dasarnya, adalah mengubah sesuatu yang datang karena kebutuhan menjadi sesuatu yang datang karena pesanan.

Penolakan itu terekam dalam penelitian Vani Yuniastoeti Sri Susilawati dan Gitasiswhara dari Universitas Pendidikan Indonesia, Transformasi Kuda Lumping dari Ritual Tradisional Menuju Atraksi Wisata Berkelanjutan di Desa Wisata Mekarlaksana, yang terbit di jurnal Purbawidya Volume 15 Nomor 1 tahun 2026. Keduanya bekerja dengan pendekatan kualitatif deskriptif berdesain studi kasus tunggal: observasi partisipan atas pertunjukan dan persiapannya, wawancara mendalam semi-terstruktur berdurasi tiga puluh menit per sesi, dokumentasi, serta studi literatur. Data diolah memakai model analisis Miles dan Huberman.

Delapan orang menjadi informan, dari penari berusia 19 tahun sampai sesepuh desa berusia 72 tahun, dan seluruh nama mereka disamarkan menjadi inisial demi etika penelitian kualitatif. Ketua Kelompok Sadar Wisata, laki-laki 26 tahun yang ditulis berinisial GN, mengingat bagian paling berat dari proses itu. “Awalnya terdapat penolakan dari sesepuh. Mereka khawatir Kuda Lumping kehilangan kesakralannya jika dijadikan tontonan wisata. Kami memerlukan waktu untuk negosiasi.”

Yang dijaga para sesepuh bukan properti dan bukan koreografi. Kuda lumping di Mekarlaksana diyakini sebagai jembatan antara dunia nyata dan dunia gaib, tempat leluhur dan roh pelindung desa bisa hadir lewat penari yang kesurupan, lalu menyampaikan pesan, berkah, atau peringatan kepada warga. Sekali pertunjukan itu masuk daftar harga, pertanyaannya berubah bentuk. Masihkah leluhur berkenan datang pada jam yang ditentukan oleh pemesan? Dan kalau tidak datang, apa yang sesungguhnya disaksikan para tamu di atas panggung itu?

Daftar Isi
  1. Dulu Ia Hanya Digelar Ketika Desa Sedang Kena Musibah atau Sedang Bersyukur
  2. Kesepakatan Itu Ditulis di Atas Kertas supaya Tidak Ada yang Bisa Menawarnya Lagi
  3. Seorang Penari Sembilan Belas Tahun dan Pertanyaan yang Menyakitkan Itu

Dulu Ia Hanya Digelar Ketika Desa Sedang Kena Musibah atau Sedang Bersyukur

Sesepuh desa berinisial WY, 72 tahun, menyaksikan tradisi itu sejak masa mudanya. Pada era sebelum wisata, kuda lumping dipentaskan dalam upacara tolak bala ketika desa dilanda musibah atau wabah penyakit, dalam upacara panen sebagai rasa syukur atas hasil pertanian, dalam pernikahan untuk mendoakan pengantin, dan dalam khitanan. Waktu pelaksanaannya mengikuti perhitungan hari baik menurut primbon, umumnya malam hari, ketika energi spiritual dianggap paling kuat. Penontonnya terbatas: warga desa, kerabat, dan undangan khusus yang memahami makna spiritual pertunjukan, sehingga yang terbentuk adalah atmosfer khidmat, bukan atmosfer hiburan.

Versi asal-usulnya sendiri tidak pernah tunggal. Literatur yang dirujuk kedua peneliti menyebut beberapa jalur sekaligus, mulai dari ritual primitif pemujaan leluhur, perjuangan Pangeran Diponegoro melawan Belanda, hingga strategi penyebaran Islam yang dikaitkan dengan Sunan Kalijaga. Keragaman versi itu justru dibaca sebagai bukti bahwa kesenian ini sudah berulang kali berganti makna mengikuti konteks sosial, politik, dan religius zamannya. Di Mekarlaksana sendiri, menurut penuturan sesepuh, kuda lumping disebut sudah ada sejak dahulu, tetapi baru ditetapkan secara resmi sebagai kesenian desa pada 2016.

Durasinya tidak pernah ditentukan lebih dulu. Tiga sampai empat jam, kadang sampai semalam suntuk, bergantung pada kehendak roh yang hadir dan kebutuhan ritual yang harus dipenuhi. Kesurupan dipahami sebagai tanda roh leluhur telah menunggangi penari, dan dalam kondisi itu penari bisa memakan ayam hidup, memakan ikan mentah, atau mengeluarkan api dari mulut. Pawang yang memulihkan kesadaran mereka setelah pertunjukan usai, lewat doa, mantra, dan sentuhan fisik. Atraksi semacam itu tidak dipahami sebagai tontonan, melainkan sebagai manifestasi kekuatan spiritual yang harus dihormati. Unsur komersial tidak ada sama sekali di dalamnya.

Baca juga Menelusuri Tujuh Arca Dewa Surya di Jawa dari Kediri sampai Prambanan

Persiapannya panjang dan sunyi. Kuda dari anyaman bambu setinggi 80–100 sentimeter dicat dengan warna mencolok dan dihias rambut sintetis, lalu dijepit di antara kedua kaki penari yang bergerak seolah sedang berkuda. Latihan digelar setiap minggu di rumah pawang, meliputi gerak tari, penguatan fisik, sinden, dan penabuh. Di luar panggung ada laku yang harus dijalani, seperti mandi di sumber mata air pada malam Jumat Wage. Sehari sebelum pentas, ritual pembukaan dilakukan untuk meminta izin kepada leluhur dan roh pelindung sekaligus sebagai upaya mencegah hujan turun pada hari pertunjukan. Seleksi penari pun tidak berhenti pada kemampuan menari, melainkan juga kesiapan mental dan spiritual.

Maknanya bertumpu pada keberanian, semangat juang, dan kekuatan, sementara kesurupan melambangkan kepasrahan total kepada kekuatan yang lebih besar. Nilai sosialnya melekat pada gotong royong: yang punya bambu menyumbang bambu, yang bisa membuat sesaji membuat sesaji, yang bisa menabuh langsung mengambil peran. Falsafah Sunda tentang silih asah, silih asih, dan silih asuh terbaca di situ. Bahan-bahannya pun diambil dari alam — bambu, kemenyan, bunga — karena alam diyakini menyimpan roh yang harus dihormati, dan sesaji karena itu dipilih dari hasil bumi yang masih segar, bukan yang sudah diawetkan atau memakai bahan kimia.

Lahan pertanian menyempit. Pandemi COVID-19 menekan daya beli. Desa Mekarlaksana, berpenduduk 7.098 jiwa di ketinggian sekitar 900–1.500 meter di atas permukaan laut, mulai menggarap program desa wisata pada 2021 dan ditetapkan sebagai desa wisata binaan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada 2022. Kesenian kuda lumping berada di RW 8, satu dari sembilan rukun warga yang masing-masing menyimpan potensi berbeda. Ia daya tarik yang tidak dimiliki desa wisata sebelah, dan warga menyadarinya. Pertunjukan yang tadinya spontan serta mengikuti kebutuhan ritual pun mulai dijadwalkan, misalnya pada akhir pekan atau sesuai pesanan wisatawan.

Baca juga Dua Prasasti yang Memundurkan Umur Bahasa Jawa Kuno

Kesepakatan Itu Ditulis di Atas Kertas supaya Tidak Ada yang Bisa Menawarnya Lagi

Musyawarah berlangsung intensif antara pengurus wisata, sesepuh desa, dan komunitas seni, dan yang keluar dari sana bukan izin kosong. Ada tiga kesepakatan pokok. Durasi pertunjukan wisata dibatasi, berbeda dari ritual tradisional yang bisa berjalan semalam. Pertunjukan wisata dilarang pada hari-hari sakral seperti Maulid Nabi dan hari besar keagamaan lain. Ritual pembukaan tetap wajib dilaksanakan meskipun pentasnya untuk tamu. Anggota pengurus berinisial HE, 24 tahun, menyebut aturan itu dibuat tertulis sebagai hasil musyawarah, lengkap dengan poin-poin yang tidak boleh dilanggar siapa pun, termasuk oleh pengurus sendiri.

Dua larangan menonjol di dalam aturan tersebut. Sesaji tidak boleh dikurangi atau diganti bahan sintetis, dan penari yang sedang kesurupan tidak boleh dipaksa melakukan atraksi berbahaya hanya karena ada permintaan wisatawan. Pengawasnya bukan panitia acara. Dewan sesepuh yang terdiri atas orang tua desa dan pawang senior memegang hak veto atas setiap inovasi maupun permintaan yang dinilai melanggar nilai sakral, dan keputusan mereka dihormati pengurus wisata serta warga. Otoritas tradisional, dalam catatan peneliti, tetap kuat di tengah arus modernisasi desa.

Pertunjukan kini digelar rutin setiap bulan atau sesuai permintaan rombongan, dipromosikan lewat Instagram, Facebook, dan situs desa wisata dengan video-video yang menarik perhatian calon tamu. Seusai pentas ada sesi foto bersama penari, properti kuda lumping, dan pawang. Satu bagian tetap ditahan di luar paket, yaitu ritual penutup Mundinglaya, yang menggambarkan leluhur terdahulu lewat prosesi menumbuk padi, membersihkan beras, menanak nasi, dan debus. Prosesi itu dinilai terlalu sakral untuk dijual dan hanya bisa disaksikan pada acara tasyakuran warga, di luar jangkauan mata tamu yang membeli paket.

Peneliti mencatat dampak positif pada tiga pilar keberlanjutan. Dari sisi ekonomi, ada pendapatan baru bagi kelompok seni dan efek berganda ke homestay, rumah makan warga, kerajinan, serta jasa transportasi lokal. Dari sisi sosial-budaya, kebanggaan warga naik, transfer pengetahuan antargenerasi menjadi lebih terstruktur lewat pelatihan rutin, dan dokumentasi bertambah. Dari sisi lingkungan, bambu ditanam dan dirawat di lahan kosong, pentas digelar di ruang terbuka atau panggung semi-permanen, dan kesadaran untuk tidak memakai bahan sintetis maupun plastik dalam sesaji serta properti meningkat.

Baca juga Jemparingan dan Jejak Panahan Jawa Sebelum Islam

Klaim itu perlu dibaca sesuai ukurannya. Ini studi kasus tunggal di satu desa dengan delapan informan, enam laki-laki dan dua wisatawan perempuan, yang diwawancarai sekitar tiga puluh menit per sesi. Tidak ada angka pendapatan, jumlah kunjungan, atau nilai transaksi yang disajikan, sehingga peningkatan ekonomi yang dilaporkan berdiri di atas keterangan informan, bukan di atas hitungan. Penulisnya sendiri menyarankan studi komparatif, penelitian longitudinal, dan riset persepsi wisatawan sebagai lanjutan. Temuannya kuat sebagai potret satu komunitas, tetapi satu desa bukan potret Indonesia.

Seorang Penari Sembilan Belas Tahun dan Pertanyaan yang Menyakitkan Itu

Penari berinisial AR mulai ikut latihan sejak bangku sekolah menengah pertama. Awalnya iseng, katanya, lalu ia tertarik pada filosofinya, dan sekarang kesenian itu menambah kebanggaan pada dirinya sehingga ia bertambah semangat. Ia informan termuda dalam penelitian, 19 tahun, bagian dari generasi yang justru diharapkan meneruskan tradisi di tengah laporan bahwa minat anak muda pada kesenian tradisional menurun. Di panggung wisata, ia berdiri pada titik yang paling terbuka: tubuhnya sendiri, dan kamera-kamera yang mengelilinginya sesudah pertunjukan usai.

“Kadang saya bingung. Saat berlatih, pawang selalu bilang ‘ini ritual, harus khusyuk’. Tapi pas pentas buat wisata, rasanya beda. Mereka foto-foto, ada yang nanya kesurupannya beneran atau dibuat-buat? Itu menyakitkan karena kami serius melakukannya.”

Tekanan datang dari arah yang bisa ditebak. Sebagian wisatawan meminta atraksi yang lebih ekstrem, seperti makan pecahan kaca, membakar tubuh, atau kebal senjata tajam, demi tontonan yang lebih memacu. Peneliti mencatat risiko yang mengintai di baliknya: penari bisa saja berpura-pura kesurupan untuk memenuhi ekspektasi penonton. Bila itu terjadi, keaslian yang selama ini menjadi modal utama pertunjukan runtuh bersama kepercayaan spiritual warga terhadapnya. Risiko lain bernama standardisasi: pentas yang terlalu teratur dan terjadwal berpotensi kehilangan sisi yang justru mestinya tidak terduga.

Ada pula perilaku yang tidak diperhitungkan dari sisi penonton: tertawa saat penari kesurupan, mengambil sesaji untuk berfoto, berbicara keras ketika ritual pembukaan sedang berjalan. Pawang berinisial AY, 68 tahun, mengaku cemas anak-anak muda kelak melupakan bahwa kuda lumping bukan sekadar pertunjukan. Peneliti mengingatkan satu kerapuhan lain: ketika kunjungan turun karena pandemi, bencana, atau krisis ekonomi, pendapatan warga langsung terpukul dan kelompok seni kesulitan menjaga kegiatan rutinnya.

Jadwal berikutnya sudah ditandai. Sehari sebelum tamu datang, ritual pembukaan digelar lagi, izin dimintakan kepada leluhur, hujan ditolak. Latihan tetap berjalan setiap minggu di rumah pawang. Kuda anyaman bambu itu dicat ulang, rambut sintetisnya dirapikan, dan pada malam Jumat Wage para penari turun ke sumber mata air seperti yang sudah-sudah. Mundinglaya tetap tinggal di dalam desa, tidak ikut naik ke panggung wisata, menunggu tasyakuran berikutnya yang tanggalnya ditentukan warga sendiri.

Bagikan

Baca Juga

Ilustrasi biji kopi hijau atau green bean di dalam karung goni.
Kopi Jawa Barat 10 Ton Diekspor ke Inggris Rp2,64 Miliar
Beberapa unit ambulans terparkir siaga di area terbuka
Verrell Bramasta Serahkan Ambulans untuk Warga
Ilustrasi rumah panggung beratap ijuk di kampung adat Banten dengan hutan berkabut di latar.
Orang Baduy Bukan Pelarian Pajajaran, Kata Naskah Kuno
Ilustrasi tumpukan majalah lawas di meja kayu.
Manglé, Majalah Sunda yang Bertahan Enam Puluh Delapan Tahun
Konferensi pers Polda Jawa Barat mengungkap kasus ujaran kebencian berbasis AI di Cimahi
Ditressiber Polda Jabar Bongkar Ujaran Kebencian Berbasis AI di Cimahi, Dua Tersangka Diamankan
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memusnahkan knalpot bising hasil sitaan
Polda Jabar dan Pemprov Jabar Ungkap 352 Kasus Kejahatan Jalanan, Sita 2,7 Juta Butir Obat Keras Tertentu