Bangkai Kapal Onrust yang Muncul Lima Tahun Sekali

A A

Ilustrasi bangkai kapal besi tua yang tersingkap di tepi sungai besar Kalimantan saat air surut pada kemarau panjang. [Foto: Dibuat dengan AI]

Cekricek.id — Hartatik dan rekan-rekannya membuat sketsa bangkai kapal itu dengan cara meraba lambungnya dari luar. Air Sungai Barito terlalu keruh dan badan kapal tertutup lumpur, pasir, serta gelondongan kayu, sehingga bentuk utuhnya tidak mungkin dilihat dengan mata. Yang mereka raba adalah sisa Kapal Onrust, kapal Belanda yang ditenggelamkan pada 26 Desember 1859 di kawasan Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, dan sampai hari ini masih berbaring di dasar sungai itu.

Catatan tentang kapal tersebut dikumpulkan kembali oleh Rizky Oktaviani dari Serikat Alumni Himse Universitas Padjadjaran bersama Anugrah Rahmatulloh dari Departemen Sosiologi Universitas Padjadjaran dan Aziz Ali Haerulloh dari Program Studi Strategi Pertahanan Laut Universitas Pertahanan Republik Indonesia. Artikel mereka, Pemanfaatan Peninggalan Arkeologis Bangkai Kapal Onrust untuk Mendukung Pengembangan Pariwisata Sejarah di Barito Utara, Kalimantan Tengah, terbit pada 2024 di AMERTA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Vol. 42 No. 2, jurnal arkeologi terbitan BRIN.

Rizky Oktaviani dan dua rekannya sendiri tidak turun ke dasar sungai. Mereka bekerja dengan metode kualitatif berpendekatan deskriptif dan mengumpulkan bahan lewat studi kepustakaan, dengan sebagian besar bahan berupa sumber sekunder. Yang mereka kerjakan adalah menyusun ulang riwayat bangkai kapal itu dari tulisan orang lain, lalu menimbang satu pertanyaan yang selama ini jarang diajukan di Barito Utara: apakah benda yang hampir tidak pernah terlihat itu bisa dijadikan tujuan wisata sejarah.

Daftar Isi
  1. Mengumpulkan Sumber Sebelum Menyusun Cerita
  2. Menyusun Ulang Siang 26 Desember 1859
  3. Mencari Bentuk Museum yang Muat di Tepi Sungai
  4. Menimbang Apa yang Belum Terjawab

Mengumpulkan Sumber Sebelum Menyusun Cerita

Tahap pertama yang dijalani Rizky Oktaviani dan timnya adalah heuristik, yaitu pencarian sumber, informasi, atau jejak masa lampau yang terkait dengan peristiwa yang sedang diteliti — istilah yang mereka pinjam dari Nina Herlina. Pada tahap itu mereka mengumpulkan buku, artikel ilmiah, dan buku elektronik yang relevan dengan tenggelamnya Kapal Onrust. Sesudahnya datang kritik internal dan eksternal, yang dipakai menyisihkan sumber yang kurang relevan sebelum informasi yang tersisa dikoroborasi satu sama lain.

Dari sana Anugrah Rahmatulloh dan dua rekannya masuk ke interpretasi, penafsiran yang menjadi dasar penyusunan narasi, lalu ke historiografi. Untuk sisi arkeologisnya mereka bersandar pada peneliti yang lebih dulu bekerja di Sungai Barito, terutama Hartatik dan Susanto. Mengacu pada Norman K. Denzin dan Yvonna S. Lincoln, mereka menempatkan penelitian kualitatif sebagai kerja yang menjelaskan dan menafsirkan suatu kejadian — bukan kerja yang mengukur, dan bukan pula survei baru di lapangan.

Sementara itu, di sisi lain penelitian, Aziz Ali Haerulloh dan dua rekannya memakai kerangka kepariwisataan. Kerangka yang dipilih adalah empat komponen yang dirumuskan Chris Cooper pada 1993: attraction, amenities, ancilliary, dan accesbility. Dengan kerangka itu bangkai kapal tidak dinilai semata sebagai benda purba, melainkan sebagai calon daya tarik yang menuntut fasilitas umum serta akses menuju lokasi. Keduanya, menurut mereka, sama pentingnya dengan benda yang hendak dipamerkan kepada pengunjung.

Menyusun Ulang Siang 26 Desember 1859

Cerita yang mereka susun bermula dari tambang. Mengacu pada catatan Saleh, tambang batu bara Oranje Nassau di kawasan Pengaron diresmikan pada September 1849, dengan Gubernur Jenderal Russchen disebut sebagai peresminya. Artikel itu sendiri memuat dua tanggal berbeda untuk peristiwa yang sama, 21 dan 28 September, sehingga harinya sebaiknya tidak dianggap pasti. Rakyat menolak tambang tersebut karena dianggap sebagai eksploitasi alam sekaligus simbol hegemoni Belanda di Tanah Banjar.

Penolakan itu berujung pada meletusnya Perang Banjar pada 28 April 1859, seperti dicatat Susanto. Pada akhir tahun yang sama Belanda mengirim Kapal Onrust ke hulu Sungai Barito dengan tujuan politis: membujuk Tumenggung Surapati, seorang pimpinan adat Dayak pada masa pemerintahan Belanda, agar menangkap Pangeran Antasari. Antasari ketika itu telah menjadi buronan Belanda sekaligus buronan Kerajaan Banjar di bawah Sultan Tamjid, pemimpin kesultanan yang bekerja sama dengan pemerintah kolonial.

Perlawanan itu tidak berpijak pada urusan dagang saja. Merujuk Ikbar, semangat keagamaan ikut menjadi latarnya karena Pangeran Hidayatullah, putera mahkota Kerajaan Banjar yang kemudian diangkat menjadi raja di Amuntai, ditempatkan sebagai orang yang merepresentasikan agama Islam. Perang lalu meluas hingga Banua Lima, Banjar Kuala, Banjar Pahuluan, Batang Banyu, dan sepanjang aliran Sungai Barito, sampai Belanda menurunkan lebih dari 3.000 pasukan untuk memadamkannya. Luasnya lokasi perang itu justru menyulitkan pihak Belanda sendiri.

Baca juga Dua Bangkai Kapal Uap di Perairan Bawean yang Dipotong Warga

Pertemuan yang direncanakan berlangsung di atas kapal pada 26 Desember 1859, seperti dicatat Hendraswati dan Zulfa Jamalie. Belanda menjanjikan imbalan 5.000 gulden kepada Tumenggung Surapati bila ia bersedia menyerahkan Antasari. Yang terjadi kemudian, menurut susunan Rizky Oktaviani dan rekan-rekannya, adalah anak Tumenggung Surapati menghunus mandau dan memberikan komando penyerangan. Seruan itu diikuti 400 pejuang yang telah bersembunyi di dekat kapal, dan perkelahian jarak dekat dengan senjata tajam pun pecah.

Mengutip Hartatik dan kawan-kawan, perkelahian itu menenggelamkan Kapal Onrust beserta sepuluh perwira, empat puluh marinir, dan empat puluh tiga anak buah kapal ke dasar Sungai Barito. Lokasi karamnya berada di Kampung Lontontur, pada sebuah tikungan sungai berarus deras, sekitar 2,5 kilometer dari Kota Muara Teweh. Sampai sekarang bangkai itu hanya muncul kira-kira lima tahun sekali, ketika kemarau panjang membuat air Barito surut, seperti yang terjadi pada 2019.

Survei pertama untuk menemukannya dilakukan Balai Arkeologi Banjarmasin pada 2006, dengan arus deras yang menyulitkan kerja lapangan saat itu. Posisi bangkai akhirnya ditemukan lewat teknik probing yang menuntut survei bawah air. Pada musim kemarau, tulis Hartatik, kapal berada sekitar 2,5 sampai 3,5 meter di bawah permukaan. Panjang keseluruhannya diperkirakan 21 meter, sementara Kusnowihardjo mencatat bagian haluan hingga badan belakang sepanjang 18,40 meter dan satu bagian lain sekitar 300 meter ke arah hilir.

Kondisi materialnya, menurut catatan Kusnowihardjo, justru relatif baik. Korosinya tidak terlalu parah dan struktur plat besi serta bajanya masih utuh, sehingga yang paling mengancam adalah faktor alami berupa terjangan kayu, lumpur, pasir, dan batuan yang dibawa arus sungai. Temuan terakhir juga tidak disertai artefak pelengkap seperti alat kemudi maupun alat navigasi. Apa yang tersisa dari kapal itu, dengan kata lain, praktis tinggal kerangkanya saja — beberapa bidang persegi panjang membentang yang menyerupai penyangga rangka.

Baca juga Sejarah Indonesia Masih Jarang Menempatkan Alam sebagai Pelaku

Kapal itu pun tidak berdiri sendiri di sepanjang Barito. Hartatik dan kawan-kawan mencatat 19 situs buren — sebutan lokal untuk situs peleburan bijih besi — yang ditemukan Balai Arkeologi Provinsi Kalimantan Selatan dalam rentang 2017 sampai 2019, dengan uji karbon menempatkannya pada abad ke-16 hingga abad ke-19. Catatan Mayor Hendrik serta catatan perjalanan Carl Bock pada 1879 dipakai untuk memperkuat keberadaan industri senjata di wilayah Negara yang memproduksi mandau.

Mencari Bentuk Museum yang Muat di Tepi Sungai

Dari titik itulah Rizky Oktaviani dan dua rekannya berpindah dari sejarah ke gagasan. Konsep yang mereka pilih adalah open-air museum, model museum yang menurut Paul Edward Montgomery Ramírez memamerkan koleksi utamanya di ruang terbuka, termasuk objek besar yang sulit dipindahkan dari tempat aslinya. Merujuk Linda Hurcombe, pengunjung yang berada persis di lokasi peristiwa dapat membentuk ikatan psikologis dengan tinggalan yang mereka lihat, sesuatu yang sulit muncul di dalam ruang pamer tertutup.

Persoalannya, bangkai Kapal Onrust tidak memungkinkan diangkat ke permukaan. Karena itu yang mereka usulkan adalah membuat replika di sekitar titik tenggelamnya sebagai penanda posisi objek aslinya. “Meskipun bangkai Kapal Onrust ini tidak memungkinkan untuk dilakukan ekskavasi ke permukaan, namun para pengunjung setidaknya dapat membayangkan bagaimana bentuk asli kapal KNIL abad ke-19 tersebut,” tulis Rizky Oktaviani, Anugrah Rahmatulloh, dan Aziz Ali Haerulloh dalam artikel yang terbit Desember 2024 itu.

Pembanding dalam negeri mereka ambil dari dua museum. Museum Bahari di Jakarta Utara, museum khusus tipe A yang dikelola Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, dinilai cukup baik merawat dan memamerkan koleksi perahu masyarakat Nusantara. Museum Pusat TNI Angkatan Laut di Surabaya disebut yang termodern karena memakai kecerdasan buatan untuk menata pamer audio visual, lengkap dengan replika KRI R.E. Martadinata 331. Menurut Aziz Ali Haerulloh dan dua rekannya, keduanya belum mengangkat sejarah lokal pertempuran laut atau sungai.

Dari luar negeri, Anugrah Rahmatulloh dan rekan-rekannya menunjuk Folks Museum di Norwegia yang sudah dikembangkan sejak 1882 menurut catatan UNESCO, serta kapal perang yang dijadikan museum seperti USS Texas milik Amerika Serikat dan HMS Belfast milik Inggris. Mereka juga menyebut Museum Bahari Sarwajala di Cirebon sebagai contoh museum yang berdiri di atas air. Menurut Tomaszek, menjadikan tinggalan arkeologis sebagai museum turut mendorong proses konservasi dan perawatan benda tersebut menjadi lebih baik.

Baca juga Ketukan Tengah Malam dalam Cerpen Sunda Yus R. Ismail

Model lain yang sudah berjalan di Indonesia adalah wisata selam. Mengacu pada Stefanus dan rekan-rekannya, bangkai Kapal USAT Liberty di perairan Tulamben, Bali, serta Kapal M.V Boeloengan telah dikembangkan menjadi kawasan wisata sejarah dan edukasi lewat penyelaman bagi pengunjung. Cara itu sulit ditiru di Barito. Arus sungainya deras dan airnya keruh, sehingga replika di permukaan dipilih Rizky Oktaviani dan timnya sebagai jalan tengah yang dianggap paling masuk akal.

Angka yang dipakai Rizky Oktaviani dan dua rekannya untuk menakar peluang itu datang dari lembaga lain. Mereka mengutip United Nation World Tourist Organization yang menyebut kunjungan wisata pada 2023 meningkat 88 persen dari rata-rata sebelum pandemi, dengan estimasi sekitar 1,3 miliar perjalanan mancanegara. Dari data Badan Pusat Statistik, mereka mencatat usaha wisata sejarah yang beriringan dengan wisata budaya di Indonesia saat ini berjumlah 281 usaha, sebuah angka yang menurut mereka masih menyisakan ruang tumbuh.

Menimbang Apa yang Belum Terjawab

Yang perlu dicatat, seluruh gagasan itu berdiri di atas bacaan, bukan di atas uji kelayakan. Rizky Oktaviani dan dua rekannya sendiri menyatakan pengumpulan data dilakukan lewat studi kepustakaan dengan sebagian besar sumber sekunder, tanpa survei pengunjung dan tanpa hitungan biaya pembangunan. Mereka pun mengakui batas pengetahuan yang tersedia. “Sayangnya penelitian arkeologi bawah air masih belum memadai dan tersedia dari segi sumber daya manusia serta support dari stakeholder,” tulis mereka.

Hambatan berikutnya bersifat fisik. Menurut catatan Hartatik, titik karam berada di tikungan sungai berarus deras, dan sampai artikel itu terbit belum ada jalur darat yang memadai menuju lokasi sehingga aksesnya hanya bisa ditempuh lewat jalur air. Rizky Oktaviani dan rekan-rekannya menutup tulisan dengan menyebut perlunya kajian komprehensif tentang rancangan pengembangan serta integrasi transportasi dan akomodasi bagi calon pengunjung situs tersebut. Tanpa kajian itu, menurut mereka, rancangan apa pun berisiko berhenti sebagai wacana.

Pihak yang mereka sebut perlu dilibatkan pun tidak sedikit. Selain Pemerintah Kabupaten Barito Utara dan warga sekitar Muara Teweh, Aziz Ali Haerulloh dan dua rekannya menyebut Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIII yang meliputi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Wacana pemanfaatan situs ini sendiri, catat Rizky Oktaviani, sudah bergulir sejak 2015, sementara penelitian dan ekskavasinya berjalan sejak 2006. Sembilan tahun berselang, yang tersedia baru berupa skema di atas kertas.

Kembali ke sketsa yang dibuat Hartatik dan rekan-rekannya dengan meraba lambung kapal dari luar. Selama replika yang diusulkan Rizky Oktaviani, Anugrah Rahmatulloh, dan Aziz Ali Haerulloh belum berdiri, sketsa dari rabaan itulah gambar paling utuh yang dimiliki publik tentang Kapal Onrust. Bangkai aslinya tetap berbaring di dasar Barito, muncul sebentar setiap kemarau panjang, lalu kembali tertutup air keruh sampai musim keringnya datang lagi. Kapal yang ditenggelamkan itu, pada akhirnya, masih menunggu orang berikutnya yang mau merabanya.

Bagikan

Baca Juga

Petugas menangani kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan
Hotspot Kalimantan Melonjak, Operasi Karhutla Diperkuat
Apes, Pria Ini Diperas Setelah Digoda Bercinta Wanita "Jadi-jadian" dan Mengirim Video Tanpa Busana
Apes, Pria Ini Diperas Setelah Digoda Bercinta Wanita "Jadi-jadian" dan Mengirim Video Tanpa Busana
Ilustrasi kapal dagang kayu berlambung tinggi yang kandas miring di pantai berpasir gelap dengan tali tambang terbentang, keranjang anyaman, dan warga menarik tali dari kejauhan
Dua Kapal dan Laut Bali Utara dalam Babad Buleleng
Candi Naga di Kompleks Candi Panataran, Blitar, dengan tubuh candi batu andesit berhias pahatan naga melingkar dan deretan figur penopang
Candi Naga Panataran Bukan Kisah Samudramanthana
Bangkai lokomotif uap Silukah dengan ketel dan roda berjari-jari yang disimpan di bawah bangunan pelindung beratap seng
Lokomotif Uap Silukah, Saksi Jalur Maut Sijunjung
Candi Kalasan di Kabupaten Sleman dilihat dari sisi timur laut, dengan tubuh candi batu andesit berelung dan berhias serta atap bersusun
Tiga Candi Rakai Panangkaran dan Kelas Dasar Tantra