Cekricek.id — Pemerintah memperkuat operasi terpadu pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, terutama di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Penguatan dilakukan menyusul peningkatan hotspot berkepercayaan tinggi serta laporan masyarakat mengenai kabut asap dan keterbatasan jarak pandang, demikian dikutip dari kehutanan.go.id.
Menurut keterangan lembaga dalam Siaran Pers Nomor SP.429/HKLN/08/2026, operasi terpadu melibatkan Kementerian Kehutanan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, BMKG, pemerintah daerah dan BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, pelaku usaha, relawan, serta masyarakat.
Lonjakan Hotspot pada 19 Agustus
Berdasarkan pemutakhiran Sistem Pemantauan Karhutla (SIPONGI) dengan pemantauan Satelit NASA-MODIS/Terra-Aqua, pada 17 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB terdeteksi 93 hotspot berkepercayaan tinggi di Kalimantan Barat, 28 di Kalimantan Tengah, dan dua di Kalimantan Selatan, atau total 123 titik.
Sehari berikutnya, hotspot di Kalimantan Barat turun menjadi 15 titik, sementara Kalimantan Tengah meningkat menjadi 73 titik dan Kalimantan Selatan 21 titik, dengan total 109 titik. Peningkatan signifikan terdeteksi pada 19 Agustus 2026, saat Kalimantan Barat mencatat 259 hotspot, Kalimantan Tengah 242 hotspot, dan Kalimantan Selatan 17 hotspot, atau 518 titik secara keseluruhan.
Secara kumulatif selama 17–19 Agustus 2026, terdeteksi 367 hotspot di Kalimantan Barat, 343 hotspot di Kalimantan Tengah, dan 40 hotspot di Kalimantan Selatan, sehingga totalnya mencapai 750 titik. Pemerintah mengingatkan hotspot tidak otomatis menunjukkan jumlah kejadian kebakaran karena satu kejadian dapat terdeteksi sebagai beberapa titik panas, sehingga tetap diverifikasi lewat pemeriksaan lapangan.
Jarak Pandang Mulai Membaik
Pada 19 Agustus 2026, BMKG mencatat kondisi berasap dengan jarak pandang sekitar 1,2 kilometer di Bandara Supadio, Pontianak, pukul 08.00 WIB. Di Palangka Raya, jarak pandang tercatat sekitar 3 kilometer, sedangkan di Bandara Internasional Syamsudin Noor jarak pandang sempat menurun hingga sekitar 400 meter pada pukul 07.00 WITA.
Kondisi membaik pada 20 Agustus 2026. Jarak pandang di Bandara Supadio tercatat sekitar 4 kilometer pada pukul 10.00 WIB, di Bandara Tjilik Riwut sekitar 6 kilometer, dan di sejumlah titik di Banjarbaru kembali mencapai lebih dari 10 kilometer. Pemerintah menegaskan perbaikan itu tidak meniadakan kebutuhan untuk tetap meningkatkan kewaspadaan karena kabut asap bersifat dinamis.
12.880 Personel Dikerahkan
Penanganan di tiga provinsi prioritas melibatkan sedikitnya 12.880 personel gabungan, terdiri atas 1.410 personel di Kalimantan Barat, 10.700 personel di Kalimantan Tengah, dan 770 personel di Kalimantan Selatan. Petugas melakukan patroli terpadu, pemeriksaan lapangan, pemadaman darat, pembasahan dan pendinginan, penyekatan area terbakar, serta penjagaan lokasi rawan.
Penguatan satuan tugas darat juga dilakukan melalui pembangunan dan pengaktifan sumur bor di wilayah prioritas. Langkah itu diperlukan karena sumber air permukaan kian terbatas seiring kondisi kering, sementara ketersediaan air sangat penting pada lahan gambut karena bara dapat bertahan di bawah permukaan.
Operasi Modifikasi Cuaca di Kalimantan Barat telah dilaksanakan pada 13–17 Agustus 2026 melalui Posko Pontianak dengan sembilan sorti penerbangan dan estimasi volume curah hujan mencapai 10,92 juta meter kubik. Di Kalimantan Tengah, operasi serupa berlangsung dalam dua periode dengan total 13 sorti dan estimasi curah hujan sekitar 4,8 juta meter kubik.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni telah berkoordinasi langsung dengan Kepala BNPB untuk menambah dukungan armada udara bagi operasi water bombing di Kalimantan Tengah. Meski demikian, pengerahan armada tetap mempertimbangkan jarak pandang, kondisi asap, cuaca, serta standar keselamatan penerbangan, terutama di sekitar Jabiren dan Tanjung Taruna hingga kawasan Taman Nasional Sebangau.
Pemerintah bersama aparat penegak hukum terus mendalami penyebab setiap kejadian karhutla dan akan menindak apabila ditemukan unsur kesengajaan atau kelalaian. Sebelumnya, pakar UMM menilai karhutla yang berulang menuntut penguatan pencegahan. Pemerintah juga telah menyetujui penambahan 21.000 polisi kehutanan, sementara dampak kabut asap di Kalimantan sempat disorot publik saat Nicholas Saputra menyampaikan keprihatinannya dari hutan Kalimantan.
















