- Pemulihan hutan menuntut rangkaian tanam, pelihara, panen, dan tanam kembali
- Kerusakan dinilai berakar pada pemanfaatan yang mengejar kebutuhan jangka pendek
- Hutan juga menghasilkan pangan, energi, serapan karbon, dan tata air
Cekricek.id — Menanam bibit baru satu langkah dari empat. Hutan yang rusak baru bisa pulih bila tegakannya ditanam, dipelihara, dipanen, lalu ditanam kembali sebagai satu rangkaian yang tidak terputus, kata Guru Besar Purna Tugas Bidang Silvikultur Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Ir. Suryo Hardiwinoto, M.Agr.Sc.
Pandangan itu ia sampaikan ketika kebakaran hutan dan lahan melanda sebagian Sumatra dan Kalimantan di tengah kemarau panjang. Suryo menilai kerusakan yang terjadi berakar pada cara memanfaatkan hutan yang mengejar kebutuhan jangka pendek tanpa menghitung manfaatnya bagi generasi berikutnya.
“Untuk memperbaiki kondisi hutan yang telah mengalami degradasi diperlukan ilmu dan teknologi guna membangun hutan yang menjadi salah satu faktor kunci bagi keberhasilan pengelolaan sumberdaya hutan secara lestari di Indonesia,” kata Suryo dalam seminar nasional di Auditorium Fakultas Kehutanan UGM, Jumat (2/10/2026), sebagaimana dimuat dalam keterangan tertulis UGM, Senin (5/10/2026).
Lebih dari Urusan Kayu
Ilmu yang ia maksud adalah silvikultur, yakni cara membangun dan merawat tegakan hutan supaya jenis pohon, susunan, dan pertumbuhannya sesuai dengan tujuan pengelolaan.
“Kegiatan menanam, memelihara, memanen, dan menanam kembali menjadi rangkaian yang saling berkaitan dalam pengelolaan hutan,” ujarnya.
Artinya, pekerjaan tidak selesai ketika kayu ditebang. Setelah panen, tegakan harus dibangun lagi agar fungsi dan produktivitas hutan bertahan.
Suryo juga meminta hutan tidak dihitung hanya dari kayunya. Hutan menghasilkan pangan, pakan, obat-obatan, dan energi terbarukan, menyerap karbon, menjaga keanekaragaman hayati, serta menyeimbangkan tata air.
Sebagai contoh penerapan, ia menyebut hutan tanaman jati dan pinus di Jawa yang dikelola sejak masa kolonial Belanda dengan pengaturan jenis, jarak tanam, kerapatan, dan bibit unggul.
“Penelitian dan pengembangan silvikultur Pinus dan Jati terus dilakukan, khususnya yang terkait dengan manipulasi lingkungan tempat tumbuh dan pengendalian hama-penyakit terpadu,” tutur Suryo.
Baca juga: Banjir Bandang Sumatra Berulang karena Sisa Longsor Masih di Hulu
Baca juga: Badan Gambut dan Mangrove Nasional Diusulkan Lewat Naskah Akademisi
Baca juga: IPB Kaji Restorasi Mangrove Pantai Utara Jawa di Indramayu















