- Sisa longsor November 2025 masih tertahan di hulu dan membentuk bendungan alami
- Tajuk hutan mampu menahan 25 sampai 35 persen air hujan
- Pakar UGM minta jalur banjir bandang dikosongkan dari permukiman
Cekricek.id — Banjir bandang yang kembali menerjang Sumatra bukan bencana baru, melainkan lanjutan dari bencana lama yang belum selesai. Tumpukan tanah, batu, dan kayu sisa longsor November 2025 masih tertahan di hulu sungai dan sewaktu-waktu bisa lepas ketika hujan deras turun.
Penilaian itu disampaikan pakar Hidrologi Hutan dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Ir. Hatma Suryatmojo, S.Hut., M.Si., IPU, ASEAN Eng., menanggapi galodo di Arosuka, Kabupaten Solok, Sumatra Barat, pada 21 September 2026 serta luapan Sungai Sibuluan di Tapanuli Tengah, Sumatra Utara.
“Banjir bandang yang terjadi November 2025 lalu itu kan sebenarnya proses alamnya belum tuntas,” kata Hatma, yang akrab disapa Mayong, dalam keterangan tertulis UGM, Jumat (2/10/2026).
Ia menjelaskan urutannya. Lereng yang runtuh tidak seluruhnya hanyut sampai ke hilir. Sebagian berhenti di alur sungai, menumpuk, lalu menahan air di belakangnya.
“Material longsoran yang tertahan itulah yang kemudian membentuk bendungan alami, dan ketika hujan kembali turun dan volume air meningkat, ya bendungan alami tersebut bisa jebol dan menghasilkan banjir bandang,” ujarnya.
Hutan sebagai Mesin yang Berhenti Bekerja
Menurut Mayong, tajuk hutan mampu menahan 25 sampai 35 persen air hujan sebelum menyentuh tanah. Ketika tutupan itu hilang, hampir semua hujan langsung mengalir ke sungai.
“Kalau sungainya kemudian tiba-tiba debitnya tinggi terus meluap, itu berarti ada sesuatu di atas sana yang harus dilihat, ya berarti ada mesin yang tidak bekerja di hulu. Mesinnya adalah kawasan hutan,” tuturnya.
Dari situ ia menarik kesimpulan yang tidak nyaman bagi warga maupun pemerintah daerah: jalur yang pernah dilewati banjir bandang harus dikosongkan, dan tata ruang di sekitarnya perlu dievaluasi.
“Daerah yang terdampak banjir bandang itu tidak boleh didiamkan manusia lagi, ya harus steril. Kalau dulu ada permukiman, orang jangan kembali lagi membangun rumah di situ,” kata Mayong.
Baca juga: Banjir Bandang Batu Busuk: Bukan Sekadar Banjir Besar
Baca juga: Pakar UNAIR Nilai Mitigasi Bencana Masih Bersifat Reaktif
Baca juga: Sensor Gempa Bawah Air Buatan UGM Diuji di Kedalaman 30 Meter















