Cekricek.id — Pakar manajemen bencana Universitas Airlangga, Aditya Prana Iswara, menilai Indonesia kerap bersikap reaktif dan baru bertindak setelah bencana memakan korban.
Penilaian itu disampaikan menanggapi peningkatan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, menurut laman resmi UNAIR, Jumat (11/09/2026).
Ia menyebut Indonesia berdiri di atas pertemuan lempeng aktif dengan risiko bencana sangat besar.
“Sayangnya, kita kerap bersikap reaktif dan baru bertindak ketika bencana sudah memakan korban,” tegas dosen Sekolah Pascasarjana UNAIR itu.
Baca juga penjelasan pakar lain soal dampak abu vulkanik
Menurut dia, sistem peringatan dini dan pemantauan seismik di kawasan Krakatau sudah baik dan representatif.
Persoalannya ada pada cara data teknis disampaikan kepada masyarakat awam.
“Data teknis seperti besaran magnitudo gempa atau curah hujan sering kali menimbulkan kesalahan informasi bila langsung ditelan mentah-mentah oleh masyarakat awam,” jelasnya.
Baca juga pandangan akademisi lain soal peringatan dini erupsi
Ia meminta pemerintah dan lembaga mengolah data saintifik menjadi imbauan tindakan yang konkret.
Contohnya instruksi membatasi aktivitas di luar ruangan akibat paparan abu vulkanik atau langkah evakuasi yang terukur.
Baca juga penjelasan akademisi lain soal risiko kesehatan
“Langkah paling krusial adalah memasukkan kurikulum penanggulangan bencana ke dalam sistem pendidikan formal sejak usia dini,” ungkap Aditya.
Ia mencontohkan penerapan kurikulum serupa di Jepang sebagai negara rawan bencana.















