Cekricek.id — Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UMY, Merita Arini, menyebut risiko kesehatan akibat abu vulkanik ditentukan konsentrasi abu, durasi paparan, dan kondisi tiap orang.
Penjelasan itu disampaikan kepada Humas UMY, Rabu (09/09/2026).
Erupsi Gunung Anak Krakatau melontarkan kolom abu hingga 14,6 kilometer di atas permukaan laut.
Episode erupsi berlangsung sekitar 25 jam, dari Jumat 4 September pukul 23.07 WIB hingga Minggu 6 September pukul 00.04 WIB.
Sebaran abu terdeteksi di Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu.
“Risiko kesehatan akibat paparan abu vulkanik dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti jumlah atau konsentrasi abu, durasi paparan, dan kondisi individu yang terpapar,” katanya.
Baca juga penjelasan pakar soal dampak abu Krakatau pada air dan lahan
“Tubuh manusia yang sehat sebenarnya memiliki mekanisme untuk mengeluarkan partikel yang masuk ke saluran pernapasan,” terangnya.
“Dampak yang paling umum biasanya berupa iritasi, seperti batuk, sakit tenggorokan, dan gangguan pada mata,” lanjutnya.
Baca juga langkah kampus lain menghadapi sebaran abu vulkanik
“Hal terpenting bukan hanya jenis maskernya, tetapi juga bagaimana masker tersebut terpasang,” ujarnya.
“Segera cari pertolongan medis apabila mengalami sesak atau napas yang semakin berat, tarikan pada dinding dada, suara mengi, nyeri dada, lemas berat, hingga penurunan kesadaran,” katanya.














