Dua Gelembung di Rontgen Perut Bayi Lima Hari

A A

Ilustrasi bayi baru lahir disuapi susu botol oleh tangan bersarung tangan medis. [Foto: Pexels]

Daftar Isi
  1. Foto Rontgen Jam ke-24
  2. Meja Operasi Hari Kelima
  3. Tiga Puluh Sentimeter Jejunum
  4. Hari ke-23

Cekricek.id — Selang tipis itu masuk lewat mulut, turun ke lambung, dan yang naik kembali berwarna kuning kehijauan. Bayi perempuan, umur satu hari, berat lahir 3.355 gram. Ia menangis kuat saat lahir dan mendapat nilai Apgar sembilan per sepuluh. Semuanya tampak baik sampai isi lambungnya keluar dengan warna yang tidak seharusnya.

Warna itu petunjuk pertama. Cairan empedu tidak seharusnya berada di lambung bayi baru lahir. Kalau ia muncul di selang orogastrik, ada sesuatu yang menyumbat usus di bawah muara saluran empedu. Perut bayi tersebut sendiri datar, tanpa gambaran usus yang menonjol, tanpa tanda peritonitis. Sumbatannya lebih tinggi daripada yang bisa terbaca dari luar. Bayi baru lahir tidak bisa menunjukkan letak sakitnya. Yang tersedia bagi dokter hanya tanda tidak langsung: warna cairan lambung, bentuk perut, ada tidaknya udara di usus bagian bawah, dan riwayat kehamilan ibunya. Empat hal itu digabungkan sebelum satu pun sayatan dibuat.

Kasus ini dicatat Ahmad Yani dan Albireza Ruhimat dari Divisi Bedah Anak, Departemen Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, dalam laporan Roux-en-Y Duodenojejunostomy as Surgical Treatment for Congenital Duodenal Obstruction: A Case Report yang terbit di The New Ropanasuri Journal of Surgery Volume 10 Nomor 1 tahun 2026.

Tandanya sudah ada sebelum bayi itu lahir. Pemeriksaan ultrasonografi pada usia kehamilan 35 minggu menemukan air ketuban berlebih. Persalinan dilakukan lewat bedah sesar karena beberapa pertimbangan sekaligus: riwayat sesar sebelumnya, air ketuban berlebih tadi, diabetes melitus tipe dua yang ditangani dengan insulin, dan dugaan vaginosis bakterialis. Bayi lahir, menangis, lalu dipasangi alat bantu napas bertekanan positif.

Air ketuban berlebih pada trimester akhir memang sering menjadi tanda awal. Janin menelan air ketuban dan menyerapnya lewat usus. Kalau ususnya tersumbat di bagian atas, cairan itu menumpuk di rahim. Karena itu sumbatan duodenum kerap dicurigai sebelum bayinya lahir, dan tim bedah bisa bersiap lebih dulu.

Foto Rontgen Jam ke-24

Ilustrasi dua tenaga medis mengamati lembar foto rontgen di papan cahaya.
Ilustrasi dua tenaga medis mengamati lembar foto rontgen di papan cahaya. [Foto: Pexels]

Pada usia 24 jam, perut bayi itu difoto sinar-X. Gambarnya klasik dan punya nama sendiri, double bubble, dua gelembung. Satu gelembung adalah lambung yang menggembung berisi udara, satu lagi bagian awal usus dua belas jari di sebelahnya. Di bawah kedua gelembung itu hampir tidak ada udara. Jalannya berhenti di sana.

Baca juga Dua Gaya Bahasa Islam di Beranda Facebook

Obstruksi duodenum bawaan, sumbatan pada usus dua belas jari yang dibawa sejak lahir, terjadi kira-kira pada satu dari 2.500 sampai 10.000 kelahiran hidup. Angkanya kecil, tetapi porsinya besar. Hampir separuh kasus sumbatan usus pada bayi baru lahir berasal dari kelainan ini. Penyebabnya bisa datang dari dalam dinding usus, bisa pula dari luar. Yang dari dalam antara lain atresia, penyempitan, dan selaput yang menutup rongga usus. Yang dari luar berupa pankreas berbentuk cincin yang melingkari duodenum, usus yang gagal berputar sempurna saat janin berkembang, atau vena porta yang letaknya di depan duodenum alih-alih di belakangnya seperti umumnya.

Sejarah penanganannya bisa dihitung. Operasi pertama untuk kelainan ini dikerjakan Ladd pada 1931, ketika angka kematiannya sekitar 40 persen. Perbaikan perawatan intensif neonatus dan anestesi anak selama beberapa dekade menurunkan angka itu ke kisaran 5 persen. Yang belum ada sampai sekarang adalah pedoman baku tentang teknik mana yang harus dipakai. Pilihannya sendiri lebih dari satu. Selain duodenoduodenostomi ada duodenojejunostomi, pemotongan selaput yang menutup rongga duodenum, dan gastroduodenostomi. Yang menentukan bukan selera operator melainkan penyebab sumbatannya dan letaknya di sepanjang duodenum. Pada kasus yang sederhana, keputusan sudah bisa diambil sebelum perut dibuka.

Meja Operasi Hari Kelima

Bayi itu dibawa ke kamar bedah pada hari kelima. Yang ditemukan di dalam perutnya lebih rumit daripada yang terbaca di foto. Hatinya membesar. Bagian pertama dan kedua duodenum menggembung. Sumbatannya berada di perbatasan bagian ketiga dan keempat, jauh lebih ke bawah daripada letak yang biasa.

Ada dua penyebab sekaligus, dan keduanya dari luar. Sebuah vena porta berdiameter besar melintang di depan duodenum. Sebuah cincin pankreas melingkari bagian kedua dan ketiga. Laporan itu menyebut keberadaan keduanya pada satu pasien yang sama sebagai kejadian langka. Keputusan bedahnya baru bisa diambil di dalam perut. Foto sinar-X memperlihatkan adanya sumbatan, tetapi tidak memperlihatkan vena porta yang melintang maupun cincin pankreas yang melingkar. Keduanya baru terlihat sesudah rongga perut terbuka, dan sejak saat itu rencana yang dibawa masuk ke kamar bedah tidak lagi bisa dijalankan.

Baca juga Buku Bergambar Anak dan Gambar yang Membantah Teks

Rencana yang biasa gugur di situ. Duodenoduodenostomi, teknik yang menyambungkan ujung duodenum di atas sumbatan dengan ujung di bawahnya, sudah lama menjadi baku emas sejak diperkenalkan Kimura dan rekan. Tetapi teknik itu menuntut ruang untuk membebaskan duodenum, dan ruang tersebut tidak ada. Vena porta yang besar dan cincin pankreas menutupnya.

Tiga Puluh Sentimeter Jejunum

Yang dikerjakan kemudian adalah jalan memutar. Duodenojejunostomi Roux-en-Y memotong jejunum, bagian usus halus sesudah duodenum, lalu membuat dua sambungan: satu antara duodenum dan jejunum, satu lagi antara dua penggal jejunum itu sendiri. Panjang segmen yang dipakai sebagai jalur baru pada bayi ini 30 sentimeter. Panjang itu bukan angka sembarangan. Segmen sepanjang itu dipakai supaya cairan empedu tidak berbalik naik ke sambungan yang baru dibuat. Teknik ini lazim pada pasien dewasa. Pada bayi baru lahir ia nyaris tidak pernah dilaporkan, dan di situlah laporan tersebut menempatkan dirinya.

“Sepanjang pengetahuan kami, ini adalah kasus pertama yang dilaporkan mengenai obstruksi duodenum bawaan yang ditangani dengan duodenojejunostomi Roux-en-Y,” tulis Ahmad Yani dan Albireza Ruhimat. Mereka menambahkan bahwa variasi anatomi serumit ini jarang ditemui, sehingga perencanaan bedah yang matang akan memberi hasil lebih baik.

Pembanding terdekat datang dari ruang operasi orang dewasa. Chittawadagi dan rekan melaporkan enam pasien dewasa dengan pankreas cincin bergejala yang ditangani secara laparoskopik memakai teknik yang sama. Tidak ada komplikasi pascaoperasi seperti radang pankreas atau perdarahan dalam rongga perut, dan pasiennya bisa mulai makan lebih cepat dibandingkan cara lain.

Dari sisi bayi, pembandingnya berbeda hasil. Sebuah seri kasus yang dikutip laporan itu mencatat enam bayi dengan pankreas cincin yang ditangani dengan duodenoduodenostomi. Semuanya bertahan hidup dengan komplikasi minimal dan rata-rata dirawat 9,5 hari. Tidak satu pun dari keenam bayi tersebut punya vena porta di depan duodenum. Laporan lain menyebut bayi berumur 18 hari dengan vena porta praduodenum yang berhasil ditangani dengan teknik baku dan mulai minum pada hari kedua sesudah operasi.

Baca juga Sembilan Tuturan Humor Rina Nose Dihitung Peneliti

Dua pembanding itu tidak setara dengan kasus di Jakarta. Bayi-bayi tadi punya satu kelainan, bukan dua yang bertumpuk, dan sumbatannya berada di tempat yang masih memungkinkan sambungan langsung. Perbandingan yang paling dekat pun masih berjarak. Yang tersisa untuk disandingkan hanya prinsipnya: kalau duodenum tidak bisa disambung ke dirinya sendiri, isinya harus dialihkan ke tempat lain.

Hari ke-23

Pada hari kelima sesudah operasi, bayi itu mulai diberi susu lewat selang orogastrik, selang yang sama yang pada hari pertama menarik keluar cairan kuning kehijauan. Sambungan barunya bekerja. Sampai di titik tersebut, hitungannya berjalan sesuai rencana.

Hari kesepuluh, suara napasnya berubah. Terdengar ronki, foto dadanya memperlihatkan bayangan seperti jala, dan jumlah sel darah putihnya naik. Pneumonia. Infeksi itu berkembang menjadi sepsis, pemberian susu dihentikan, dan pada hari ke-23 sesudah operasi bayi perempuan tersebut meninggal.

Penyebab kematiannya bukan sambungan yang gagal. Tetapi laporan itu tidak memakai perbedaan tersebut sebagai pembelaan. Penulisnya menyatakan teknik ini dapat menjadi pilihan alternatif dengan catatan luarannya masih harus dinilai, dan bahwa penelitian lanjutan serta pemantauan jangka panjang diperlukan untuk mengukur waktu mulai minum, waktu sampai bisa makan penuh, dan angka kematian.

Ada pula hal yang tidak bisa dibaca dari satu laporan kasus. Apakah pneumonia pada hari kesepuluh berhubungan dengan lamanya bayi itu berpuasa sebelum operasi, dengan alat bantu napas yang dipakainya sejak lahir, atau dengan hal lain sama sekali, tidak dijawab di sana. Laporan kasus mencatat urutan kejadian, bukan sebab-akibatnya. Angka kematian sekitar 5 persen yang dikutip di awal pun berlaku untuk obstruksi duodenum bawaan secara umum; untuk kombinasi kelainan seperti pada bayi ini, penulisnya menyebut kepustakaannya sedikit sekali.

Di ruang bayi, selang orogastrik dipasang hampir setiap hari: pada bayi yang muntah, pada bayi yang perutnya kembung, pada bayi yang tampak baik-baik saja. Yang naik lewat selang itu biasanya jernih. Ketika warnanya kuning kehijauan, seseorang harus memutuskan seberapa jauh ke bawah sumbatan itu berada, dan keputusan berikutnya menyusul cepat.

Bagikan

Baca Juga

Berat Badan Sehat Hanya Dimiliki 58,8 Persen Mahasiswa 15 Negara
Enam dari Sepuluh Pasien India Tahu Asuransi, Dua yang Punya
Perempuan Bangladesh yang Ikut Memutuskan Lebih Sering Kegemukan
Orang Tua Tepi Barat Paham Gizi, Hanya Separuh Tahu soal Jus Buah
Parasit Usus Paling Banyak Ditemukan pada Anak Prasekolah di Iran
Penyandang Disabilitas Korea yang Rajin Jalan Lebih Jarang Stres