- Dari 5.335 pasien dewasa yang dirawat inap di sana, 60,9 persen mengaku tahu adanya program asuransi kesehatan.
- Hanya 15,8 persen pasien pernah memakai asuransi untuk menutup biaya perawatan di rumah sakit.
- Di antara pasien yang sudah tahu, peluang perempuan memiliki polis lebih rendah daripada laki-laki.
- Premi yang dirasa mahal menjadi hambatan terbanyak, disebut 63,7 persen pasien yang tidak berasuransi.
- Internet paling banyak dipilih sebagai sumber informasi asuransi, 41,8 persen, disusul konseling daring 39,7 persen.
Daftar Isi
Mengetahui bahwa asuransi kesehatan itu ada dan memegang polisnya sendiri terdengar seperti dua hal yang berdampingan, tetapi di sebuah rumah sakit besar di Maharashtra, India, keduanya terpisah jauh. Dari 5.335 pasien dewasa yang dirawat inap di sana, 60,9 persen mengaku tahu adanya program asuransi kesehatan. Yang benar-benar memiliki polis hanya 19,9 persen.
Dua angka itu dicatat Alaka Chandak, Rajiv Yeravdekar, dan Girish Bajaj dalam artikel Bridging the health insurance awareness gap: knowledge, perceptions, and utilization among patients at a tertiary care hospital in India, yang terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Ketiganya berasal dari Symbiosis International (Deemed University) di Lavale, Pune. Masih ada angka ketiga yang lebih kecil lagi: hanya 15,8 persen pasien pernah memakai asuransi untuk menutup biaya perawatan di rumah sakit.
Kira-kira enam dari sepuluh pasien tahu, dua dari sepuluh punya, dan lebih sedikit lagi yang pernah memakai. Para peneliti menyebut jarak di antara ketiganya besar. Menurut mereka, jarak itu menunjukkan terputusnya hubungan antara sekadar tahu adanya asuransi kesehatan dan benar-benar memakainya untuk membayar ongkos rawat inap.
Yang tahu: enam dari sepuluh pasien
Rumah sakit tempat para pasien itu ditemui adalah rumah sakit pendidikan tersier dengan sekitar 900 tempat tidur. Letaknya di kawasan pinggiran kota yang berada di bawah sistem Gram Panchayat. Pasiennya datang dari desa, pinggiran kota, dan kota. Mereka yang ditanyai berusia 18 tahun ke atas dan dirawat inap antara Desember 2024 dan Februari 2025.
Usia mereka terentang dari 18 sampai 92 tahun, dengan rata-rata 45,8 tahun. Perempuan sedikit lebih banyak, 54,4 persen. Hampir separuhnya, 48,8 persen, berpendapatan rendah, yaitu di bawah 20.000 rupee India sebulan. Sebanyak 42,1 persen berpendapatan menengah, antara 20.000 dan 50.000 rupee. Hanya 9,1 persen yang berpendapatan di atas itu.
Bekal sekolah mereka pun tidak tinggi. Sebanyak 30,9 persen tidak pernah mengenyam pendidikan formal dan 36,2 persen berhenti di pendidikan dasar. Seperempatnya berpendidikan menengah, sedangkan pendidikan tinggi hanya dimiliki 7,9 persen. Dari sisi pekerjaan, buruh adalah kelompok terbesar, 36,6 persen, disusul guru 20,5 persen, petani 19,1 persen, pemilik usaha 14,2 persen, dan yang tidak bekerja 9,6 persen.
Di tengah susunan seperti itu, 3.248 orang menjawab tahu adanya program asuransi kesehatan. Para peneliti merincinya menurut pendapatan dan pendidikan. Di antara pasien berpendapatan rendah, 63,0 persen tahu. Di kelompok menengah angkanya 56,9 persen, dan di kelompok berpendapatan tinggi 65,8 persen. Pasien tanpa pendidikan formal yang tahu mencapai 63,2 persen, sementara pada lulusan pendidikan tinggi 65,5 persen.
Baca juga Separuh Peserta JKN Tak Memakai Kartunya Saat Berobat Jalan
Yang punya: dua dari sepuluh pasien
Di sisi lain, pemilik polis jauh lebih sedikit. Hanya 1.061 pasien yang memiliki asuransi kesehatan. Yang pernah memakainya untuk membayar perawatan di rumah sakit lebih sedikit lagi, 842 orang. Para peneliti menulis bahwa jarak semacam ini juga dilaporkan berbagai penelitian lain, di India maupun di luar negeri.
Bagi mereka, jarak itu menandakan bahwa keputusan memakai asuransi tidak sederhana. Keputusan tersebut tidak semata-mata bergantung pada tersedianya informasi. Mereka meminjam kerangka yang disebut Health Belief Model, yang memandang keputusan seseorang soal kesehatan sebagai gabungan dari cara ia menakar ancaman sakit, manfaat suatu tindakan, hambatannya, serta keyakinan bahwa dirinya sanggup melakukannya.
Dalam kerangka itu, seorang pasien bisa saja sadar bahwa biaya berobat yang tinggi mungkin menimpanya. Ia tetap bisa memutuskan tidak ikut asuransi. Syaratnya, tulis para peneliti, ia harus memandang asuransi sebagai jalan keluar yang layak, terjangkau, dan mudah diakses, serta merasa terdorong dan yakin mampu mendaftar.
Usia: kabar yang makin jarang sampai
Ketika usia, jenis kelamin, pendapatan, dan pendidikan ditimbang bersama-sama, hanya satu yang tetap berkaitan dengan tahu atau tidaknya seseorang soal asuransi, yakni usia. Setiap tambahan satu tahun usia berkaitan dengan peluang tahu yang sedikit lebih kecil, dengan rasio odds 0,992. Jenis kelamin tidak berkaitan dengan pengetahuan itu.
Rinciannya memperlihatkan arah yang sama. Di kelompok usia 18 sampai 30 tahun, 63,3 persen tahu adanya asuransi kesehatan, dan di kelompok 31 sampai 45 tahun 63,4 persen. Pada usia 46 sampai 60 tahun angkanya 61,4 persen. Di atas 60 tahun, tinggal 57,7 persen yang tahu.
Para peneliti membaca temuan itu sebagai tanda bahwa cara penyampaian dan penjangkauan yang dipakai sekarang kemungkinan sulit diakses atau tidak efektif bagi penduduk berusia lanjut. Orang yang lebih tua, tulis mereka, mungkin menghadapi lebih banyak hambatan sistemik ketika berusaha memperoleh informasi tentang program asuransi. Yang lebih muda dan lebih akrab dengan teknologi lebih mungkin terpapar pemicu untuk bertindak.
Baca juga Inklusi Keuangan Disabilitas, Belanja Lebih Tinggi 23 Persen
Perempuan: tahu, tetapi lebih jarang memegang polis
Pada kasus kedua, persoalannya bukan soal tahu. Perempuan yang tahu adanya asuransi mencapai 62,2 persen, sedangkan laki-laki 60,5 persen. Bedanya muncul satu langkah sesudahnya. Di antara 3.248 pasien yang sudah tahu, peluang perempuan memiliki polis lebih rendah daripada laki-laki, dengan rasio odds 0,81.
Para peneliti menyebut kesenjangan itu sebagai salah satu pengamatan kunci. Menurut mereka, polanya sejalan dengan bukti yang lebih luas dari India tentang ketimpangan gender yang berakar dalam, yakni dalam kemandirian keuangan, pekerjaan, dan pengambilan keputusan di rumah tangga. Mereka mengaitkannya dengan kurangnya kendali perempuan atas sumber daya keuangan dan atas keputusan berobat.
Mereka juga merujuk sebuah penelitian kualitatif di Tamil Nadu. Penelitian itu menunjukkan bahwa program asuransi kesehatan yang didanai pemerintah pun tidak selalu cukup untuk mengatasi hambatan struktural dan sosial yang dihadapi perempuan saat hendak mengakses dan memakai asuransi.
Sebaliknya, dua hal yang biasanya dianggap menentukan justru tidak bertahan. Pendapatan dan pendidikan tidak lagi berkaitan dengan pengetahuan maupun kepemilikan asuransi setelah faktor lain ikut ditimbang. “Ini menunjukkan bahwa hambatan pendaftaran yang bersifat sistemik kemungkinan lebih berat daripada keuntungan sosial ekonomi perorangan,” tulis Chandak, Yeravdekar, dan Bajaj dalam naskah mereka yang berbahasa Inggris.
Yang menghalangi: premi dan kabar yang kurang
Pasien yang tidak berasuransi ditanya apa yang menghalangi mereka. Jawaban terbanyak adalah premi yang dirasa mahal, disebut 63,7 persen. Kurangnya pengetahuan menyusul dengan 26,5 persen. Bagian yang lebih kecil, 9,8 persen, merasa asuransi memang tidak diperlukan. Para peneliti merangkumnya sebagai hambatan keuangan dan hambatan informasi.
Mereka menyandingkan temuan itu dengan penelitian tingkat nasional yang mereka rujuk. Di sana, kerumitan administrasi, susunan manfaat, dan kurangnya keterbukaan disebut sebagai tiga hal yang membuat orang enggan mendaftar dan enggan bertahan. Hambatan itu terutama dihadapi orang yang kurang memahami cara kerja sistem kesehatan, sehingga kesenjangan perlindungan keuangan makin lebar.
Di bagian pendahuluan, para peneliti menyebut beberapa hambatan struktural lain. Ada kerumitan administrasi dan tidak adanya loket atau meja khusus asuransi di rumah sakit. Ada pula tata cara klaim yang tidak jelas serta kurangnya komunikasi antara rumah sakit dan perusahaan asuransi. Menurut mereka, hal-hal itu menghambat pemakaian asuransi di luar soal kurangnya pemahaman.
Baca juga Skor Kelayakan Perawatan Jangka Panjang dalam JKN Capai 8,10
Yang diinginkan: layar, dan loket di rumah sakit
Di sisi lain, para pasien juga ditanya dari mana mereka lebih suka mendapat informasi asuransi, dan boleh memilih lebih dari satu. Internet paling banyak dipilih, 41,8 persen, disusul konseling daring 39,7 persen. Saluran lama tetap dipakai: televisi 31,0 persen, konseling tatap muka 20,9 persen, serta brosur dan media cetak 19,2 persen.
Para peneliti melihat media digital sebagai pemicu bertindak yang kuat karena menyajikan informasi yang cepat dan mudah dipahami. Namun, mereka menambahkan satu peringatan. Akses digital dan kemampuan memahami informasi kesehatan perlu diperhatikan, terutama pada kelompok lanjut usia dan berpendapatan rendah. Karena itu mereka menyarankan gabungan cara komunikasi digital dan tradisional.
Untuk rumah sakit, sarannya lebih konkret. Rumah sakit dapat menyediakan konseling asuransi yang resmi pada titik-titik penting perawatan, misalnya saat pasien masuk atau pulang. Mereka juga menyebut perlunya kemitraan antara pusat layanan kesehatan dan lembaga asuransi supaya prosesnya lebih mudah bagi pemegang polis, serta pendaftaran dan klaim yang lebih sederhana.
“Penelitian ini menunjukkan bahwa kesadaran saja tidak cukup untuk memastikan pemakaian asuransi kesehatan, yang menegaskan kebutuhan mendesak akan literasi asuransi kesehatan yang lebih baik dan penyederhanaan di tingkat sistem,” tulis ketiga peneliti, juga dalam bahasa Inggris. Pendidikan kesehatan masyarakat, menurut mereka, perlu bergeser dari menumbuhkan kesadaran menuju membangun pemahaman yang sesungguhnya.
Para peneliti mencatat beberapa keterbatasan. Rancangan penelitian ini hanya memotret satu waktu, sehingga yang terlihat adalah hubungan, bukan sebab dan akibat. Sebagian besar data berasal dari pengakuan pasien sendiri, yang bisa keliru karena ingatan atau karena ingin terlihat baik, meski sebagian dicocokkan dengan catatan elektronik rumah sakit. Datanya juga hanya dikumpulkan selama tiga bulan.
Selain itu, pesertanya adalah pasien rumah sakit, yang mungkin tidak mewakili penduduk yang tidak dirawat. Penelitian ini juga tidak menggali secara mendalam kemampuan orang memakai asuransinya, pengalaman mengajukan klaim, dan alasan berhenti berasuransi. Para peneliti menyarankan penelitian berikutnya menelusuri perubahan perilaku pasien dan perasaan mereka yang lebih dalam ketika memutuskan soal asuransi.
Di rumah sakit berkapasitas sekitar 900 tempat tidur itu, tahu dan punya tetap berdiri berjauhan: 60,9 persen di satu sisi, 19,9 persen di sisi lain. Usia berkaitan dengan yang pertama, jenis kelamin dengan yang kedua. Para peneliti menyimpulkan bahwa menjembatani keduanya memerlukan pendidikan asuransi yang terarah sekaligus proses yang lebih sederhana.














