- Dalam jangka pendek, globalisasi secara keseluruhan menghambat pertumbuhan ekonomi Turki.
- Dalam jangka panjang hanya indeks globalisasi keseluruhan yang bermakna, dan arahnya positif.
- Skor globalisasi Turki terendah 38 pada 1970 dan mencapai puncaknya, 72, pada 2014.
- Indeks pembangunan manusia dan pembentukan modal bruto berdampak positif pada pertumbuhan jangka panjang.
- Para penulis menyebut Turki rentan terhadap arus uang panas dan gejolak nilai tukar.
Daftar Isi
Pada 1980 pemerintah Turki membuka ekonominya. Tahun itu pertumbuhan pendapatan per kepala penduduk sedang berada di titik terendah, minus 2,4 persen. Liberalisasi dan strategi tumbuh lewat ekspor dipilih sebagai bagian dari jalan pemulihan. Empat dasawarsa kemudian, empat ekonom di Istanbul menimbang hasilnya.
Mereka adalah Ayuba Napari, Hasan Vergil, Muhittin Kaplan, dan Asad Ul Islam Khan. Artikel mereka berjudul Globalisation and growth in Turki: Is there a verdict?. Artikel itu terbit di Economic Journal of Emerging Markets volume 18 nomor 1 tahun 2026. Keempatnya bekerja di Departemen Ekonomi Ibn Haldun University, Istanbul.
Jawaban mereka terbagi menurut waktu. Dalam jangka pendek, globalisasi menekan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Turki. Dalam jangka panjang, globalisasi secara keseluruhan justru mendorongnya. Simpulan itu ditarik dari data setengah abad, yaitu 1970 sampai 2019.
1970: titik paling tertutup
Catatan dimulai pada 1970. Tahun itu, dan setahun sesudahnya, Turki mencatat skor globalisasi terendah sepanjang masa yang diperiksa, yaitu 38. Skor itu berasal dari Indeks Globalisasi KOF, ukuran yang dipakai para penulis untuk menakar keterbukaan sebuah negara.
Indeks itu tidak hanya menghitung perdagangan. Ia punya tiga dimensi, yakni ekonomi, sosial, dan politik. Dimensi sosial diukur dari kedekatan budaya, arus informasi, dan kontak antarorang. Dimensi politik dihitung dari jumlah kedutaan, keterlibatan dalam misi Dewan Keamanan PBB, dan keanggotaan di organisasi internasional.
Indeks yang sama juga memisahkan dua wajah keterbukaan. Wajah de jure adalah aturannya, misalnya hambatan impor, tarif, pajak, dan pengendalian modal. Wajah de facto adalah kenyataannya, yaitu arus perdagangan dan keuangan yang benar-benar terjadi. Menurut para penulis, kelengkapan itulah daya tarik indeks KOF.
Para penulis juga menelusuri porsi pembentukan modal bruto Turki. Porsi itu, yang semula sedikit di atas 25 persen, naik sampai 38 persen pada 1976. Sesudah itu angkanya naik turun. Para penulis mencatat titik terendahnya jatuh jauh kemudian, pada 2001.
Baca juga Ekspor Sumatera Utara Harus Dibuat Dua Kali Permintaannya
Akhir 1970-an sampai 1980
Menjelang akhir 1970-an keadaan memburuk. Para penulis mencatat Turki saat itu berjuang menjaga kemampuan membayar utang, melawan inflasi, dan memulihkan pertumbuhan. Resesi nyaris terhindarkan. Namun sejak 1978 pertumbuhan PDB per kapita jatuh ke bawah nol.
Dasar jurang itu tercapai pada 1980, dengan angka minus 2,4 persen. Pemerintah lalu mengambil sejumlah langkah pemulihan. Salah satunya, tulis para penulis, adalah meliberalisasi ekonomi dan mengejar pertumbuhan yang digerakkan ekspor. Sejak tahun itu semua dimensi globalisasi Turki naik dengan pesat.
Februari 2001: krisis
Sesudah pembaruan yang berorientasi ke luar itu, ekonomi Turki berulang kali melonjak lalu jatuh. Rangkaian itu memuncak pada krisis Februari 2001. Para penulis mencatat pemicu utamanya adalah arus modal keluar dari pasar modal yang sudah diliberalisasi, pada saat nilai tukar masih dipatok merangkak.
Akibatnya datang beruntun. Mata uang langsung jatuh hampir 30 persen terhadap dolar. Inflasi melonjak, utang pemerintah hampir berlipat dua, dan suku bunga naik tajam sesudah patokan nilai tukar akhirnya dilepas. PDB per kapita menyusut lebih dari 5,75 persen.
Pada tahun yang sama porsi pembentukan modal bruto menyentuh titik terendahnya, 13,8 persen. Angka itu baru bertahan di atas 21 persen sejak 2004. Keterbukaan sendiri terus berjalan. Skor globalisasi Turki mencapai puncaknya, 72, pada 2014.
Sepanjang 1970 sampai 2019 skor itu rata-rata 55,54. Dari semua dimensi, Turki paling terbuka secara politik. Skor globalisasi politiknya rata-rata 77,82, dengan angka terendah 59,41 dan tertinggi 92,4. Para penulis mencatat rata-rata itu lebih tinggi daripada rata-rata negara berpendapatan tinggi. Ekonominya pun membesar. PDB riil Turki, dihitung dengan dolar konstan 2017, rata-rata 917 miliar dolar selama masa itu. Angka tertingginya 2,2 triliun dolar.
Baca juga Harga Rumah Diramal sebagai Rentang, Bukan Satu Angka
Tahun-tahun pertama: tertekan
Jawaban pertama menyangkut tahun-tahun awal. Dalam jangka pendek, globalisasi secara keseluruhan menghambat pertumbuhan. Dampak negatif itu terlihat pada tahun berjalan, lalu berulang pada tahun pertama dan tahun kedua sesudahnya. Ketiganya kuat secara statistik.
Dimensi ekonomi menunjukkan arah yang sama. Globalisasi ekonomi berdampak negatif dan bermakna pada pertumbuhan jangka pendek. Globalisasi sosial juga menekan pertumbuhan, tetapi dengan jeda waktu. Ukuran de facto memperlihatkan dampak negatif yang lemah, sedangkan ukuran de jure negatif tetapi tidak bermakna.
Para penulis lalu menawarkan penjelasan. Turki, tulis mereka, sangat bergantung pada energi dan barang setengah jadi dari luar negeri. Defisit transaksi berjalannya membesar justru ketika ekonomi tumbuh tinggi. Karena itu, keterbukaan yang lebih dalam mula-mula menambah tagihan impor, bukan memacu produktivitas di dalam negeri.
Modal asing membawa akibatnya sendiri. Masuknya modal itu pada masa liberalisasi membuat nilai mata uang terlalu tinggi. Dalam jangka pendek keadaan tersebut menekan hasil produksi, bahkan ketika globalisasi makin dalam. Kedua penjelasan itu disandarkan para penulis pada riset terdahulu tentang ekonomi Turki.
Dampak globalisasi sosial yang tertunda diterangkan lewat beberapa jalur. Keterbukaan sosial membuat orang mengenal barang, penghasilan, dan taraf hidup di negara lain. Kesukaan pada barang asing bisa tumbuh. Setahun atau dua tahun kemudian impor bisa naik, defisit transaksi berjalan melebar, dan produksi tertekan.
Jalur lainnya menyangkut manusia. Orang yang tahu skala gaji di negara lain bisa terdorong pergi, gejala yang oleh para penulis disebut brain drain. Mereka juga menyebut merosotnya kepercayaan sosial. Jaringan saling percaya yang menekan biaya transaksi melemah sebelum lembaga resmi penggantinya tersedia.
Sesudah bertahun-tahun: tumbuh
Jawaban kedua menyangkut jangka panjang. Di sini hanya satu ukuran yang bermakna, yaitu indeks globalisasi keseluruhan. Arahnya positif. Ukuran de facto, de jure, ekonomi, dan sosial tidak menunjukkan dampak yang bermakna pada pertumbuhan jangka panjang.
Para penulis membaca selisih antara ukuran de jure dan de facto sebagai jarak antara kebijakan dan praktik. Aturan sudah dibuka, sementara kegiatan ekonominya belum mengikuti. “Pada dasarnya, prasarana kelembagaan yang diperlukan untuk menerjemahkan kebijakan globalisasi menjadi kegiatan ekonomi yang berdampak perlu diperbaiki,” tulis Napari dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Dua hal lain justru selalu bermakna. Indeks pembangunan manusia dan pembentukan modal bruto berdampak positif pada pertumbuhan jangka panjang di semua perhitungan. Para penulis menyebut modal manusia sebagai penopang pertumbuhan yang kokoh di Turki.
Indeks pembangunan manusia Turki rata-rata 0,61 selama masa yang diperiksa. Pada 2019 angkanya naik menjadi 0,84. Badan PBB untuk pembangunan, UNDP, menggolongkan angka di atas 0,80 sebagai sangat tinggi. Turki baru mendekati ambang itu menjelang akhir masa yang diperiksa.
Dari situ para penulis menghubungkan dua temuan. Seiring naiknya indeks pembangunan manusia, tulis mereka, kemampuan Turki menyerap dan memanfaatkan globalisasi membaik sedikit demi sedikit. Menurut mereka, lintasan itu sejalan dengan temuan bahwa dampak globalisasi baru positif dalam jangka panjang.
Guncangan juga tidak berlangsung selamanya. Pada perhitungan dengan indeks keseluruhan, kira-kira sepertiga guncangan, tepatnya sekitar 36 persen, terkoreksi dalam setahun. Ekonomi kembali seimbang dalam sekitar 2,8 tahun. Pada ukuran de facto dan de jure penyesuaiannya jauh lebih lambat, sekitar 8,3 tahun.
Baca juga Inklusi Keuangan Disabilitas, Belanja Lebih Tinggi 23 Persen
2019: batas catatan dan saran
Catatan para penulis berhenti pada 2019, dan ada dua batas yang mereka sebut sendiri. Indeks globalisasi politik dikeluarkan dari pengujian karena sifat datanya tidak memenuhi syarat. Batas kedua menyangkut indeks pembangunan manusia. UNDP baru menerbitkannya sejak 1990. Angka untuk 1970 sampai 1989 merupakan hasil perkiraan para penulis, yang disusun dari data harapan hidup dan pendapatan nasional per kapita Bank Dunia.
Dari hasil jangka pendek, para penulis menunjuk satu titik rawan. Turki rentan terhadap arus uang panas dan gejolak nilai tukar. Mereka mengutip anjuran Dana Moneter Internasional (IMF) agar pinjaman dalam mata uang asing tanpa lindung nilai alami dibatasi.
Jalan lain yang mereka sebut adalah memperluas dan melembagakan Reserve Option Mechanism. Menurut riset yang mereka rujuk, mekanisme itu terbukti meredam gerak nilai tukar yang berlebihan. Para penulis menyebutnya penyangga otomatis terhadap berhentinya arus modal secara tiba-tiba.
Untuk dampak globalisasi sosial, sarannya berbeda. Jaring pengaman sosial dasar perlu disertai investasi di bidang kesehatan dan pendidikan. Para penulis juga mengingatkan agar globalisasi ekonomi dan sosial tidak diperdalam dengan cepat dan seragam tanpa prasyarat di dalam negeri untuk menyerapnya.
Putusan akhirnya mereka rumuskan sendiri. “Tidak semua dimensi globalisasi sama-sama berorientasi pada pertumbuhan, dan para pembuat kebijakan perlu menakar keterlibatan mereka sesuai dengan itu,” tulis keempat ekonom tersebut. Catatan mereka berakhir pada data 2019.















