- Sebanyak 56,3 persen pegawai bank di Pokhara mengalami nyeri punggung bawah dalam setahun terakhir.
- Sebanyak 68,3 persen pegawai mengaku mengalami stres yang berkaitan dengan pekerjaan.
- Stres kerja muncul sebagai faktor yang paling berpengaruh, disusul status perkawinan dan jenis kelamin.
- Duduk lama tidak terbukti berhubungan dengan nyeri punggung bawah dalam hitungan akhir.
Daftar Isi
- Sebelum Nagarkoti, angka Asia Selatan sudah tinggi
- Januari 2023: Nagarkoti mendatangi 27 bank Pokhara
- Hitungan Nagarkoti dan rekan: 56,3 persen dalam setahun
- Stres kerja, sejalan dengan riset bankir Etiopia
- Pendidikan tinggi: berbeda dari riset Etiopia dan WHO
- Duduk lama dan batas riset awal 2023 itu
- Saran Nagarkoti dan rekan: mulai dari stres kerja
Nepal sedang berpindah dari ladang ke meja kantor. Peralihan dari pertanian tradisional ke pekerjaan kantoran yang banyak duduk, menurut sebuah naskah riset dari Pokhara, menambah risiko nyeri punggung bawah di kalangan pekerja profesional negeri itu. Di tingkat dunia, pada 2020 sekitar satu dari tiga belas orang mengalaminya, atau 619 juta jiwa, naik 60 persen dibanding 1990. Keluhan ini tercatat sebagai penyebab utama disabilitas pada laki-laki maupun perempuan di semua kelompok umur.
Dari latar itulah Niraj Nagarkoti, Dhirendra Nath, Bikram Singh Dhami, Basant Kumar Dhami, dan Rajendra Lamichhane menulis artikel Prevalence and associated risk factors of low back pain among bank employees in Pokhara, Nepal, yang terbit di BMC Public Health tahun 2026. Empat di antara mereka berasal dari Pokhara University di Kaski, sedangkan Nath bekerja di Direktorat Kesehatan Provinsi Sudurpaschim di Doti. Mereka mendatangi 334 pegawai dari 27 bank di Pokhara pada Januari sampai Februari 2023 dan menanyakan, antara lain, apakah punggung bawah mereka pernah nyeri.
Sebelum Nagarkoti, angka Asia Selatan sudah tinggi
Yang dimaksud nyeri punggung bawah dalam naskah itu adalah rasa sakit di antara tepi rusuk paling bawah dan lipatan bokong. Rasa sakitnya kerap menjalar ke satu atau kedua tungkai. Orang yang mengalaminya, tulis para peneliti dengan merujuk pustaka terdahulu, sering merasakan nyeri di bagian tubuh lain dan lebih banyak menanggung masalah kesehatan fisik maupun jiwa. Dampaknya merembet ke peran di keluarga, pergaulan, dan pekerjaan, lalu menjadi beban ekonomi.
Angka di Asia Selatan berbeda jauh dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Di kalangan pegawai bank, riset yang dikutip Nagarkoti dan rekan mencatat 51,8 persen di Tamil Nadu, India, dan 52,4 persen di Pakistan dalam setahun, sedangkan di Dhaka, Bangladesh, 36,6 persen dalam sebulan. Pada pekerjaan lain tercatat 42,7 persen di kalangan petani, penarik becak, dan pekerja kantor Bangladesh, 44 persen pada dokter bedah Pakistan, serta 43 persen pada penyadap karet Sri Lanka.
Nepal sendiri punya deretan angkanya. Riset-riset terdahulu yang dirujuk naskah ini mencatat 24,7 persen pada pasien ortopedi, 43,8 persen pada pengendara sepeda motor, 52 persen pada pekerja konstruksi, 65 persen pada perawat, sampai 71 persen pada penduduk umum. Pada pekerja tekstil, angkanya 35 persen dalam sebulan. Meski bebannya setinggi itu, tulis kelima peneliti, riset tentang nyeri punggung bawah masih terbatas, terutama yang menyoroti pegawai bank.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Januari 2023: Nagarkoti mendatangi 27 bank Pokhara
Pokhara dipilih bukan tanpa alasan. Kota terbesar kedua di Nepal ini terletak 200 kilometer di sebelah barat Kathmandu, berpenduduk 513.504 jiwa, dan digambarkan dalam naskah sebagai kawasan niaga yang cepat berkembang dengan banyak bank dan lembaga keuangan. Pegawai yang diwawancarai berasal dari bank komersial dan bank pembangunan, dan sebagian besar di antaranya, yakni 85,6 persen, bekerja di bank swasta.
Mereka umumnya muda dan berpendidikan tinggi. Usia rata-ratanya 31 tahun, dan 56,0 persen belum genap 30 tahun. Lebih dari separuh, tepatnya 55,1 persen, adalah perempuan. Sedikit di bawah separuh, yakni 47,6 persen, bergelar magister atau lebih tinggi, dan kira-kira tiga dari lima orang sudah menikah. Hanya 39,2 persen yang cukup beraktivitas fisik, dan sekitar dua dari lima orang kelebihan berat badan atau obesitas.
Hari kerja mereka nyaris seluruhnya dijalani di depan layar. Sebanyak 99,7 persen memakai komputer, dan 65,6 persen memakainya lebih dari empat jam sehari. Sebagian besar duduk di kursi yang bisa digerakkan, yaitu 90,7 persen, dan 76,9 persen kursinya bersandaran lengan. Saat bekerja, 59,3 persen menjaga punggung tetap tegak, sedangkan 33,2 persen membungkuk. Lebih dari separuh, tepatnya 56,6 persen, duduk di atas enam jam sehari.
Satu angka lain kelak menjadi penting. Sebanyak 68,3 persen pegawai mengaku mengalami stres yang berkaitan dengan pekerjaan. Soal jeda, hampir tiga perempat atau 74,6 persen hanya sesekali beristirahat di tengah jam kerja, dan 17,4 persen sering mengambil jeda. Kira-kira tujuh dari sepuluh orang tidak pernah mengangkat barang sebagai bagian dari pekerjaannya.
Hitungan Nagarkoti dan rekan: 56,3 persen dalam setahun
Hasilnya menempatkan nyeri punggung bawah sebagai keluhan yang lazim di balik meja bank. Sebanyak 75,4 persen pegawai pernah mengalaminya seumur hidup, dan 56,3 persen mengalaminya dalam setahun terakhir. Di antara mereka, 68,1 persen melaporkan keluhan dalam empat minggu terakhir. Pada hari wawancara pun, sedikit di atas seperempat pegawai atau 27,1 persen sedang merasakan nyeri atau rasa tidak nyaman di punggung bawahnya.
“Penelitian ini melaporkan bahwa lebih dari separuh pegawai bank di Pokhara mengalami nyeri punggung bawah dalam 12 bulan terakhir,” tulis Niraj Nagarkoti, peneliti School of Health and Allied Sciences di Pokhara University, bersama empat rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Angka setahun itu, menurut mereka, sejalan dengan riset pegawai bank di Pakistan sebesar 52,4 persen dan di Etiopia sebesar 55,4 persen, juga dengan riset pekerja konstruksi di Kavre, Nepal, sebesar 52,0 persen.
Dibanding riset lain, angka Pokhara lebih tinggi. Pekerja tekstil mencatat 35 persen dan pengendara sepeda motor di Kathmandu 43,8 persen, sedangkan pegawai bank di Bangladesh 36,6 persen. Sebaliknya, riset penduduk umum di Nepal timur melaporkan angka yang lebih besar, yaitu 71 persen. Para peneliti menduga selisih itu lahir dari perbedaan alat ukur, cara memilih peserta, dan rentang waktu yang ditanyakan. Makin panjang rentangnya, tulis mereka, makin tinggi angkanya.
Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia
Stres kerja, sejalan dengan riset bankir Etiopia
Dari sekian banyak hal yang ditanyakan, lima yang terbukti berhubungan dengan nyeri punggung bawah: jenis kelamin, status perkawinan, pendidikan, stres kerja, dan jenis bank. Stres kerja muncul sebagai yang paling berpengaruh, disusul status perkawinan dan jenis kelamin. Pegawai yang merasa stres di tempat kerja, menurut hitungan para peneliti, kira-kira 3,5 kali lebih mungkin melaporkan nyeri punggung bawah dibanding rekan yang tidak merasakannya.
Temuan itu serupa dengan dua riset terdahulu terhadap pegawai bank di Etiopia yang dirujuk naskah ini. Penjelasan yang diajukan Nagarkoti dan rekan bersandar pada pustaka: tekanan batin yang tinggi dapat menambah ketegangan otot dan mengurangi jeda-jeda kecil dalam kerja otot, sehingga otot lelah meski bebannya ringan. Perubahan pada saraf, hormon, dan tekanan darah akibat stres kerja juga disebut menambah beban sistem otot dan rangka, lalu memicu nyeri.
Perempuan pun lebih rentan. Pegawai perempuan tercatat jauh lebih mungkin mengalami nyeri punggung bawah daripada laki-laki, dengan rasio peluang 2,62. Hasil itu sejalan dengan riset di Kathmandu dan Kavre, di Etiopia, serta studi Organisasi Kesehatan Dunia tentang penuaan dan kesehatan orang dewasa. Sebagai kemungkinan sebab, para peneliti menyebut ambang nyeri yang lebih rendah pada perempuan, siklus haid, kehamilan dan persalinan, serta peran hormon.
Pendidikan tinggi: berbeda dari riset Etiopia dan WHO
Di titik inilah temuan Pokhara berselisih dengan riset sebelumnya. Pegawai berpendidikan sarjana atau lebih tinggi hampir empat kali lebih mungkin mengalami nyeri punggung bawah dibanding mereka yang berpendidikan sampai tingkat menengah. Nagarkoti dan rekan menawarkan penjelasan: pegawai berpendidikan tinggi biasanya memegang jabatan manajerial, dan jabatan seperti itu lebih banyak membawa tekanan mental serta lebih sedikit kerja fisik dibanding jabatan di bawahnya.
Riset lain menunjukkan arah sebaliknya. Satu studi dari Etiopia dan studi Organisasi Kesehatan Dunia tadi, tulis para peneliti, justru mendapati peserta berpendidikan rendah lebih mungkin mengalami gangguan otot dan rangka. Sebuah kajian sistematis bahkan tidak menemukan hubungan yang konsisten antara pendidikan dan risiko nyeri punggung bawah. Karena itu mereka menganjurkan riset lanjutan dengan populasi yang lebih luas dan dengan memperhitungkan keadaan sosial ekonomi.
Dua faktor lain justru berkaitan dengan peluang yang lebih kecil. Pegawai yang menikah lebih jarang mengalami nyeri punggung bawah dibanding yang lajang atau berpisah, dengan rasio peluang 0,36, dan hasil itu didukung riset dari Nepal dan Brasil. Para peneliti menduga dukungan pasangan dalam menjaga kesehatan fisik dan jiwa ikut berperan. Orang yang menikah, menurut pustaka yang mereka rujuk, memiliki mutu hidup dan dukungan sosial yang lebih baik.
Pegawai bank swasta juga lebih jarang melaporkan nyeri dibanding pegawai bank pemerintah, dengan rasio peluang 0,31. Menurut naskah itu, bank swasta di Nepal mungkin lebih ketat mengikuti standar tempat kerja, termasuk soal jam kerja, lama duduk, dan waktu jeda. Di bank pemerintah, ketentuan keselamatan dan kesehatan kerja dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan 2017 disebut kurang dijalankan. Para peneliti juga mencatat kemungkinan nyeri tidak dilaporkan karena pegawai takut dicap sakit.
Baca juga Nyeri Otot dan Sendi Terkait Kambuhnya Penyakit Kardiovaskular
Duduk lama dan batas riset awal 2023 itu
Satu hal yang mungkin tidak terduga: duduk lama tidak terbukti berhubungan dengan nyeri punggung bawah dalam hitungan akhir. Padahal 56,6 persen pegawai duduk lebih dari enam jam sehari. Nagarkoti dan rekan menduga hal itu mencerminkan sifat pekerjaan bank yang seragam, sama-sama banyak duduk. Mereka juga mengakui tidak mengukur jumlah jam kerja dalam sepekan, ukuran yang menurut mereka bisa memberi gambaran lebih halus.
Kelima peneliti menulis sendiri batas kajiannya. Nyeri diukur lewat kuesioner, tanpa menilai tingkat keparahan dan gangguan fungsi yang ditimbulkannya. Pegawai yang baru bekerja tiga bulan ikut disertakan, padahal yang dihitung adalah keluhan selama setahun, meski sebagian besar peserta sudah bekerja lebih dari setahun. Karena bersandar pada ingatan, jawaban peserta bisa meleset. Jabatan tiap pegawai, misalnya teler atau manajer, juga tidak dicatat.
Saran Nagarkoti dan rekan: mulai dari stres kerja
Bagi tempat kerja dengan sumber daya terbatas, tulis para peneliti, tidak semua faktor risiko bisa ditangani sekaligus. Mengetahui faktor utama membantu menentukan prioritas, dan dalam riset ini yang paling menonjol adalah stres kerja, status perkawinan, dan jenis kelamin. Pelatihan mengelola stres kerja, menurut mereka, dapat sangat membantu pegawai menurunkan risikonya. Kerentanan pegawai perempuan perlu dijawab dengan penataan tempat kerja yang dirancang khusus bagi mereka.
“Untuk mengurangi nyeri punggung bawah, dianjurkan intervensi beragam segi guna mencegah stres terkait pekerjaan,” tulis Nagarkoti dan rekan dalam simpulannya. Mereka menambahkan bahwa jenis kelamin dan status perkawinan perlu dipertimbangkan ketika penataan tempat kerja dirancang. Hubungan stres kerja dan status perkawinan dengan nyeri punggung, menurut mereka, menegaskan perlunya upaya yang disesuaikan untuk menjaga kesehatan jiwa pekerja.
Dalam deretan riset nyeri punggung bawah di Nepal, yang sebelumnya memuat pekerja konstruksi, perawat, pengendara sepeda motor, dan pekerja tekstil, kajian Nagarkoti dan rekan menambahkan satu mata rantai dari meja bank di Pokhara. Mata rantai berikutnya sudah mereka tunjuk sendiri: riset mendatang dengan catatan jabatan dan jam kerja mingguan yang lebih rinci, agar kaitan antara pekerjaan kantor dan punggung yang nyeri dapat dibaca lebih tepat.














