Angka Kelahiran Negara Maju Makin Mirip, Eropa Timur Malah Naik

A A

Ilustrasi tangan bersarung lateks memegang kaki bayi baru lahir di ruang bersalin [Foto: Hannah Barata/Pexels]

  • Penurunan 19,3 persen di kawasan Nordik adalah yang terdalam dari kelima kawasan.
  • Kenaikan 13,1 persen menjadikan Eropa Timur satu-satunya kawasan yang bergerak naik.
  • Ukuran sebaran angka kelahiran di 20 negara turun dari 0,157 pada 2010 menjadi 0,104 pada 2020.
  • Naik turunnya ekonomi dan pendidikan dari tahun ke tahun tidak menerangkan penurunan kelahiran.
Daftar Isi
  1. Kawasan Nordik Memulai dari Puncak dan Turun Paling Dalam
  2. Eropa Timur Berbalik Naik Ketika Kawasan Lain Menurun
  3. Jarak Antarnegara Menyempit di Angka yang Sama-sama Rendah
  4. Korea Selatan Menjauh, Israel Bertahan di Tiga Anak
  5. Pendapatan dan Lama Sekolah Tidak Menjelaskan Penurunan, dan Datanya Punya Batas

Finlandia jatuh paling cepat. Sepanjang 2010 sampai 2020, jumlah anak yang dilahirkan tiap perempuan di negeri itu menyusut rata-rata 0,057 per tahun, laju tercuram di antara negara maju yang dibandingkan. Pada dasawarsa yang sama, Ceko bergerak ke arah sebaliknya. Angkanya naik 0,036 per tahun.

Dua arah itu dicatat Chaoliang Zhang, Fangyu He, Wenjuan Zhao, Runyao Zhang, dan Mingxia Gao dalam artikel Converging fertility trajectories across developed countries, 2010–2020: implications for public health policy. Tulisan tersebut terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 nomor 583 tahun 2026. Kelimanya berasal dari Lanzhou University di Tiongkok. Mereka membandingkan angka kelahiran total, yaitu jumlah anak per perempuan, di 20 negara maju yang dibagi ke dalam lima kawasan. Hasilnya berlapis dua. Tingkat kelahiran negara-negara itu makin mirip di angka yang rendah. Arah geraknya justru berpencar.

Kawasan Nordik Memulai dari Puncak dan Turun Paling Dalam

Pada 2010, kawasan Nordik berdiri paling tinggi. Finlandia, Swedia, Norwegia, dan Denmark rata-rata mencatat 1,92 anak per perempuan. Sepuluh tahun kemudian angkanya tinggal 1,55. Penurunan 19,3 persen itu adalah yang terdalam dari kelima kawasan.

Negara berbahasa Inggris menyusul rapat di belakangnya. Amerika Serikat, Kanada, Inggris Raya, dan Australia turun dari 1,86 menjadi 1,54, atau berkurang 17,5 persen. Di tingkat negara, Norwegia menyusut 0,045 per tahun, Inggris Raya 0,040, dan Australia 0,033. Semuanya berada di bawah Finlandia dalam urutan penurunan tercuram.

Empat kawasan turun, Eropa Timur naikNordik 1,92 ke 1,55; Berbahasa Inggris 1,86 ke 1,54; Eropa Barat 1,77 ke 1,60; Eropa Selatan 1,42 ke 1,31; Eropa Timur 1,39 ke 1,58.Empat kawasan turun, Eropa Timur naikRata-rata angka kelahiran total, anak per perempuan201020201,21,41,61,82,0Nordik1,551,92Berbahasa Inggris1,541,86Eropa Barat1,601,77Eropa Selatan1,311,42Eropa Timur1,391,58
Sumber: Chaoliang Zhang, Fangyu He, Wenjuan Zhao, Runyao Zhang, dan Mingxia Gao, Converging fertility trajectories across developed countries, 2010–2020: implications for public health policy, BMC Public Health, 26(583), 2026. Grafik: Cekricek.id

Eropa Barat turun lebih landai. Prancis, Belgia, Belanda, dan Jerman bergeser dari 1,77 ke 1,60, berkurang 9,7 persen. Eropa Selatan sudah rendah sejak awal dan tetap di sana. Italia, Spanyol, Portugal, dan Yunani turun tipis dari 1,42 menjadi 1,31, dengan rata-rata sepanjang dasawarsa hanya 1,34.

Urutan kecepatan itu juga terbaca dari nilai tengah tiap kawasan. Nordik turun 0,037 per tahun, negara berbahasa Inggris 0,029, Eropa Barat 0,024, dan Eropa Selatan 0,009. Para penulis menyebut Eropa Barat dan Eropa Selatan sebagai kawasan yang bertahan rendah tetapi relatif stabil.

Baca juga BMI Anak Gothenburg Terbelah Dua Arah Sejak Tahun 2008

Eropa Timur Berbalik Naik Ketika Kawasan Lain Menurun

Lalu ada satu kawasan yang melawan arus. Hungaria, Polandia, Ceko, dan Slovakia memulai dasawarsa itu di posisi terbawah, dengan rata-rata 1,39 anak per perempuan. Pada 2020 angkanya menjadi 1,58. Kenaikan 13,1 persen itu menjadikan Eropa Timur satu-satunya kawasan yang bergerak naik.

Keempat negaranya kompak. Ceko naik 0,036 per tahun dan Hungaria 0,030. Polandia dan Slovakia sama-sama naik 0,014. Nilai tengah kawasan itu positif, yakni 0,022 per tahun, satu-satunya yang tidak bertanda minus. Di luar Eropa Timur, Portugal juga mencatat kenaikan kecil 0,013 setelah penurunan pada tahun-tahun sebelumnya.

Para penulis menyebut kenaikan itu sebagai pemulihan sebagian. Mereka mengaitkannya dengan paket kebijakan pendorong kelahiran yang diterapkan di kawasan tersebut. Isinya antara lain tunjangan orang tua yang besar, kredit pajak, dan skema perumahan bersubsidi bagi keluarga yang memiliki anak. Akibatnya terlihat di ujung dasawarsa. Kawasan yang semula paling rendah kini berada dekat dengan kawasan lain. Angka 1,58 di Eropa Timur pada 2020 hampir sejajar dengan 1,55 di Nordik, 1,54 di negara berbahasa Inggris, dan 1,60 di Eropa Barat.

Jarak Antarnegara Menyempit di Angka yang Sama-sama Rendah

Di situlah lapis pertama temuan ini. Ukuran sebaran angka kelahiran di 20 negara itu turun dari 0,157 pada 2010 menjadi 0,104 pada 2020. Makin kecil ukuran tersebut, makin mirip negara-negara itu satu sama lain. Penulis menyebutnya konvergensi yang sedang. Kecenderungan itu bertahan ketika Eropa Timur dikeluarkan dari hitungan. Tanpa Hungaria, Polandia, Ceko, dan Slovakia, sebaran tetap menyusut dari 0,139 ke 0,107, hanya lebih lambat.

Jarak antarnegara yang menyempitJarak antarnegara yang menyempitJarak antarnegara yang menyempitKoefisien variasi angka kelahiran total0,157sebaran 201020 negara maju0,104sebaran 202020 negara maju1,4-1,8anakkisaran umum20203,0anakIsrael, tetap tinggiJalan risetnya20 negara majuLima kawasanTahun 2010-2020
Sumber: Chaoliang Zhang, Fangyu He, Wenjuan Zhao, Runyao Zhang, dan Mingxia Gao, Converging fertility trajectories across developed countries, 2010–2020: implications for public health policy, BMC Public Health, 26(583), 2026. Grafik: Cekricek.id

Gambaran serupa muncul saat cakupan diperluas ke 36 negara. Sebagian besar mengumpul di rentang sempit 1,4 sampai 1,8 anak per perempuan pada 2020. Sebarannya turun dari kira-kira 0,17 menjadi 0,11. Penurunan paling curam tercatat di Finlandia, Selandia Baru, Islandia, Norwegia, dan Irlandia.

Lapis kedua adalah arah yang berpencar itu. “Ini menunjukkan konvergensi pada tingkat kelahiran, tetapi divergensi pada arah trennya,” tulis Zhang dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka menamainya pola ganda. Angka di bawah tingkat pengganti, menurut mereka, tetap menjadi pola dominan di negara maju.

Baca juga Perkawinan Anak Penentu Utama Kelahiran Remaja di 34 Provinsi

Korea Selatan Menjauh, Israel Bertahan di Tiga Anak

Tidak semua negara ikut merapat. Di antara 36 negara, Korea Selatan adalah pencilan dengan angka terendah dan makin menjauh dari yang lain. Jepang tetap rendah tetapi stabil, sedangkan Korea Selatan turun tajam setelah 2015. Asia menjadi kawasan dengan angka terendah sekaligus perbedaan internal yang melebar.

Para penulis juga menengok Timur Tengah dan Afrika Utara. Di sana angka kelahiran lebih tinggi, tetapi arahnya sama. Iran turun dari 1,9 menjadi 1,7 dan Yordania dari 3,4 menjadi 2,9. Arab Saudi turun dari 2,9 ke 2,4, sementara Maroko dari 2,6 ke 2,3. Israel menjadi pengecualian. Angkanya bertahan di sekitar 3,0 anak per perempuan sepanjang dasawarsa. Naskah itu mengaitkannya dengan tradisi keagamaan, norma sosial yang kuat mendukung kelahiran, dan dukungan lembaga bagi keluarga besar, termasuk tunjangan keuangan dan penitipan anak bersubsidi.

Lalu pandemi datang. Pada 2021 angka kelahiran melonjak tajam di negara berbahasa Inggris, Nordik, dan Eropa Barat, serta naik lebih kecil di Eropa Timur. Lonjakan itu disusul penurunan tajam pada 2022 dan 2023. Eropa Selatan tidak mengalami lonjakan maupun kejatuhan yang mencolok. Penulis membaca lonjakan itu sebagai kelahiran yang ditunda pada 2020 dan baru terwujud setahun kemudian. Pada 2023 gejolak tersebut sebagian besar mereda. Angka di kebanyakan kawasan kembali mendekati lintasannya sebelum pandemi, dan pola rendah itu tidak berubah.

Baca juga Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang

Pendapatan dan Lama Sekolah Tidak Menjelaskan Penurunan, dan Datanya Punya Batas

Satu dugaan diuji secara khusus. Para penulis memasukkan pendapatan per kapita dan rata-rata lama sekolah perempuan ke dalam hitungan. Hasilnya hampir tidak bergeser. Naik turunnya ekonomi dan pendidikan dari tahun ke tahun tidak menerangkan penurunan kelahiran yang terus berlangsung. Dari situ mereka menyimpulkan bahwa penurunan sejak 2010 bersifat struktural, bukan gejala siklus. Pendorongnya adalah faktor demografi, sosial, dan budaya jangka panjang. Naskah itu menyebut perkawinan yang tertunda, masa pendidikan yang panjang, serta tingginya biaya memiliki anak sebagai perilaku yang sama-sama dijalani negara-negara tersebut.

Kesimpulan itu membawa pesan bagi pembuat kebijakan. “Pemulihan ekonomi saja kemungkinan tidak cukup untuk membalikkan kelahiran yang rendah,” tulis Zhang dan rekan-rekannya. Yang diperlukan, menurut naskah itu, adalah kebijakan keluarga yang menyeluruh dan berkelanjutan, yang menyentuh ketimpangan gender, keselarasan kerja dengan keluarga, dan keterjangkauan pengasuhan anak.

Insentif jangka pendek dinilai hanya memberi hasil sementara. Pengalaman beberapa negara Eropa Timur, tulis para penulis, memperlihatkan bahwa dukungan dari banyak sisi dapat mengangkat kelahiran di tengah ketidakpastian ekonomi. Dukungan itu berupa bantuan uang, subsidi perumahan, cuti orang tua, dan investasi pengasuhan anak.

Penulis mencatat sendiri batas pekerjaan mereka. Seluruh hitungan memakai data tingkat negara. Karena itu, hal-hal di tingkat perorangan tidak tertangkap, seperti sikap, niat memiliki anak, dan perbedaan keadaan ekonomi antarkeluarga. Beberapa faktor besar lain juga tidak dimasukkan karena keterbatasan data, yaitu ketidakpastian pasar kerja, kesetaraan gender, dan ketersediaan penitipan anak. Tanggapan orang terhadap perubahan ekonomi dan sosial pun bisa datang terlambat. Pembacaan atas masa pandemi yang pendek mungkin belum menangkap penyesuaian yang tertunda.

Ukuran sebaran yang dipakai pun punya batas. Ia menangkap seberapa berjauhan negara-negara itu secara keseluruhan, tetapi tidak memperlihatkan pengaruh kebijakan tertentu. Para penulis menempatkan persoalan ini sebagai urusan kesehatan masyarakat. Kelahiran yang bertahan sangat rendah, tulis mereka, mempercepat penuaan penduduk, menambah beban ketergantungan, dan mengancam keberlanjutan sistem kesehatan serta layanan sosial.

Simpulan naskah itu merangkum pola yang sama: tingkat kelahiran negara maju perlahan menyatu di angka yang sama-sama rendah, sementara arah perubahannya berbeda. Sebagian besar kawasan terus turun, sedangkan Eropa Timur menempuh arah sebaliknya.

Bagikan

Baca Juga

Sepuluh Desa Samoa Merancang Cara Cegah Kekerasan pada Perempuan
Mahasiswa Farmasi Karachi Sadar Perubahan Iklim, 43% Bertindak
Pengingat Ponsel Bantu Pasien TB di Asia Menuntaskan Pengobatan
Makin Lama Program Kesehatan Karyawan, Makin Besar Imbal Hasilnya
Toilet Kamp Pengungsi Gaza Sulit Dipakai Penyandang Disabilitas
Radang Otak Jepang Merenggut Hampir Seperlima Pasien Anak India