- Sebanyak 100 studi, atau 89 persen, melaporkan manfaat yang lebih besar daripada biaya.
- Nilai tengah imbal hasil untuk semua jenis program adalah 1 banding 3,1.
- Titik impas lazimnya tercapai dalam 2,3 tahun.
- Pada program yang bertahan lima tahun atau lebih, angkanya 1 banding 4,8.
- Tidak satu pun studi dari Afrika Sub-Sahara atau Asia Selatan memenuhi syarat.
Daftar Isi
- Januari 2003 sampai November 2024: 112 studi dari 21 negara
- Sebelum telaah ini: angka lama empat banding satu
- Tahun pertama sampai kelima: angka terus menanjak
- Sepanjang 2003–2024: ergonomi dan berhenti merokok teratas
- Hingga November 2024: di luar Amerika Utara, hitungannya berbeda
- Sesudah 2024: yang belum tercatat
Januari 2003 menjadi titik awal penelusuran itu. Dari bulan tersebut sampai November 2024, dua peneliti kesehatan kerja di Madrid mengumpulkan hitungan untung-rugi atas program kesehatan di tempat kerja. Pertanyaan mereka satu saja: apakah uang yang dikeluarkan untuk menjaga kesehatan karyawan kembali, dan seberapa besar kembalinya.
Keduanya adalah Pablo Llamas dari Department of Occupational Health, Hospital Ramon y Cajal, dan María Isabel Martín Estévez dari Department of Occupational Medicine, Hospital Rey Juan Carlos. Naskah mereka berjudul Return on investment in workplace health prevention and promotion: a systematic review (2003–2024). Jurnal BMC Public Health menerbitkannya pada 2026 sebagai naskah yang sudah diterima dan belum diberi nomor volume.
Hasilnya tercatat dari 112 studi. Sebanyak 100 studi, atau 89 persen, melaporkan manfaat yang lebih besar daripada biaya. Nilai tengah imbal hasil untuk semua jenis program adalah 1 banding 3,1. Angka itu naik seiring lamanya program berjalan.
Januari 2003 sampai November 2024: 112 studi dari 21 negara
Tahun 2003 dipilih bukan tanpa alasan. Menurut kedua penulis, pada tahun itulah evaluasi ekonomi dengan cara pelaporan imbal hasil yang seragam mulai muncul secara teratur. Latar yang mereka sebut juga berupa angka: penyakit akibat kerja menimbulkan kerugian yang ditaksir 4 sampai 6 persen dari produk domestik bruto dunia.
Sepanjang rentang itu, 1.247 catatan terjaring dari empat pangkalan data, dan 112 studi akhirnya masuk telaah. Studi-studi tersebut berasal dari 21 negara di lima benua. Amerika Utara menyumbang 60 studi atau 54 persen, Eropa 31 studi, Amerika Latin 13 studi, dan Asia-Pasifik delapan studi.
Para pekerja dalam studi itu diikuti rata-rata selama 3,2 tahun, dengan rentang satu sampai delapan tahun. Jumlah pesertanya bergerak dari 89 sampai 67.000 orang, dengan nilai tengah 2.400 orang. Program kesehatan menyeluruh mengisi 34 persen studi, ergonomi 22 persen, kesehatan jiwa 18 persen, aktivitas fisik 14 persen, dan berhenti merokok 12 persen.
Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia
Sebelum telaah ini: angka lama empat banding satu
Telaah Llamas dan Martín Estévez bukan yang pertama. Pada 2009, Verbeek dan rekan sudah mencatat bahwa ragam cara menghitung menjadi penghalang utama untuk menarik simpulan yang kukuh. Literatur yang lebih tua, menurut naskah ini, kerap mengutip angka imbal hasil 4,0 banding 1.
Kemudian datang telaah Thonon dan rekan, yang terbit pada 2023 dan mencakup studi sampai 2021. Telaah itu menemukan imbal hasil positif di semua golongan program. Naskah baru ini menambah empat tahun penelusuran. Cakupannya juga dilebarkan ke Amerika Latin dan Asia-Pasifik, dan jenis sistem kesehatan ikut ditimbang.
Simpulan umumnya serupa, tetapi angkanya bergeser. Nilai tengah 1 banding 3,1 disebut kedua penulis agak lebih rendah daripada angka lama tadi. Mereka menjelaskan bahwa selisih itu mencerminkan taksiran yang lebih hati-hati dari studi-studi baru yang bermutu tinggi. Catatan serupa, tulis mereka, sudah dibuat Baxter dan rekan.
Fakta itu lalu dirumuskan dalam satu kalimat simpulan. “Investasi kesehatan di tempat kerja menghasilkan imbal hasil ekonomi positif yang konsisten,” tulis Pablo Llamas dan María Isabel Martín Estévez dalam naskah mereka yang aslinya berbahasa Inggris. Kalimat berikutnya dalam naskah langsung meminta hasil itu dibaca dengan hati-hati.
Tahun pertama sampai kelima: angka terus menanjak
Pada program yang baru berjalan satu sampai dua tahun, rata-rata imbal hasilnya 1 banding 2,1. Biaya awal yang harus ditanggung lazimnya 100 sampai 300 dolar AS per karyawan per tahun. Kedua penulis menyebut biaya di muka ini sebagai penghalang yang perlu diatasi dengan skema pembiayaan.
Titik impas lazimnya tercapai dalam 2,3 tahun. Rentangnya antara 1,5 dan 4,2 tahun. Ujung bawah seluruh taksiran, yakni 1 banding 1,5, kebanyakan berasal dari uji acak berjangka kurang dari dua tahun. Uji semacam itu menilai program berkomponen tunggal di perusahaan kecil.
Sebanyak 23 uji acak terkendali dalam telaah ini memang berumur pendek, umumnya paling lama dua tahun, dengan peserta lebih sedikit. Nilai tengah imbal hasilnya 1 banding 2,4. Kedua penulis menilai kelompok studi ini memberi taksiran yang paling sahih secara internal, sekaligus yang paling hati-hati.
Memasuki tahun ketiga dan keempat, rata-rata imbal hasil naik menjadi 1 banding 3,4. Pada program yang bertahan lima tahun atau lebih, angkanya 1 banding 4,8. Naskah itu merangkum polanya begini: setiap tambahan satu tahun, imbal hasil bertambah 0,4 poin.
Ujung atas taksiran mencapai 1 banding 13,6. Angka setinggi itu kebanyakan datang dari program menyeluruh berjangka lima tahun atau lebih di perusahaan besar Amerika Serikat yang menanggung sendiri asuransi karyawannya. Perusahaan semacam itu, tulis kedua penulis, menikmati langsung porsi lebih besar dari penghematan biaya berobat.
Ukuran organisasi ikut membedakan hasil. Organisasi dengan lebih dari 5.000 karyawan mencatat rata-rata 1 banding 4,1, yang oleh naskah dikaitkan dengan skala ekonomi. Organisasi menengah berada di 1 banding 3,2. Organisasi dengan kurang dari 250 karyawan mencatat 1 banding 2,1.
Keikutsertaan karyawan juga tercatat. Program yang diikuti lebih dari 60 persen karyawan mencatat rata-rata 1 banding 3,8, sedangkan yang keikutsertaannya lebih rendah 1 banding 2,7. Faktor yang berulang kali disebut ialah komitmen pimpinan, keterpaduan dengan budaya organisasi, komponen yang disesuaikan untuk tiap orang, umpan balik berkala, dan pendampingan tenaga kesehatan profesional.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Sepanjang 2003–2024: ergonomi dan berhenti merokok teratas
Dipilah menurut jenisnya, program ergonomi mencatat nilai tengah tertinggi, yakni 5,2 banding 1, dengan rentang 4,2 sampai 8,7. Cedera otot dan rangka turun rata-rata 29,4 persen. Biaya kompensasi pekerja turun rata-rata 36,8 persen.
Program berhenti merokok menyusul dengan nilai tengah 5,1 banding 1 dan rentang 3,8 sampai 7,2. Hitungannya memakai jangka lima tahun pada karyawan yang berhasil berhenti. Biaya program dibandingkan dengan turunnya klaim kesehatan terkait tembakau dan turunnya kerugian akibat absen.
Program kesehatan menyeluruh, golongan dengan studi terbanyak, mencatat nilai tengah 1 banding 3,8. Biaya berobat turun rata-rata 24,1 persen dan absensi turun 19,2 persen. Produktivitas naik rata-rata 9,3 persen. Program jenis ini juga dikaitkan dengan turunnya pergantian karyawan sebesar 12 sampai 18 persen.
Program kesehatan jiwa dan pengelolaan stres mencatat nilai tengah 3,4 banding 1. Absen yang terkait kesehatan jiwa turun rata-rata 31,2 persen. Program aktivitas fisik berada di 1 banding 2,9, dengan absensi turun rata-rata 13,7 persen. Program aktivitas fisik yang disesuaikan untuk tiap peserta mencatat imbal hasil 35 persen lebih tinggi daripada format umum.
Dari sisi sumber manfaat, penghematan biaya berobat mencatat nilai tengah 1 banding 3,27. Nilainya 850 sampai 2.340 dolar AS per karyawan per tahun, disetarakan ke nilai dolar 2024. Turunnya absensi mencatat nilai tengah 1 banding 2,73. Hari sakit berkurang empat sampai 12 hari per pekerja per tahun, rata-rata 7,2 hari.
Hingga November 2024: di luar Amerika Utara, hitungannya berbeda
Lebih dari separuh studi berasal dari Amerika Utara, dan di sana pula rata-rata imbal hasil tertinggi tercatat, yaitu 1 banding 3,8. Eropa mencatat 1 banding 3,1 dan Asia-Pasifik 1 banding 2,9. Amerika Latin berada paling bawah dengan 1 banding 2,6.
Sistem kesehatan menjelaskan sebagian perbedaan itu. Pada 18 studi di negara dengan layanan kesehatan universal, kenaikan produktivitas menyumbang 65 persen dari seluruh imbal hasil. Di sistem bayar per layanan, porsinya 45 persen. Penghematan biaya berobat di sistem universal lebih banyak jatuh ke pembayar publik, bukan ke pemberi kerja.
Untuk Amerika Latin, kedua penulis menunjuk model asuransi sosial yang terbagi-bagi. Penghematan di sana terpecah ke pemberi kerja, lembaga jaminan sosial, dan kantong pekerja sendiri. Keadaan itu, menurut mereka, menyulitkan pencatatan dan mungkin menjelaskan angka kawasan tersebut yang lebih rendah.
Dari perbedaan itu keduanya menarik satu peringatan. “Satu angka imbal hasil tidak dapat dijadikan patokan universal,” tulis mereka. Memindahkan taksiran negara berpendapatan tinggi ke negara berpendapatan rendah dan menengah, menurut naskah itu, menuntut penyesuaian tingkat upah, beban penyakit, dan porsi pekerja informal.
Baca juga PM2.5 Chiang Mai Telan Biaya Pernapasan Sampai 460 Ribu Dolar
Sesudah 2024: yang belum tercatat
Kedua penulis mengakui sejumlah keterbatasan. Sebagian besar studi dikerjakan di negara berpendapatan tinggi, dan tidak satu pun studi dari Afrika Sub-Sahara atau Asia Selatan memenuhi syarat. Hampir semua studi juga hanya menyangkut pekerja formal. Padahal, tulis mereka, pekerja informal mencakup 50 sampai 60 persen tenaga kerja di banyak negara berpendapatan rendah dan menengah.
Keterbatasan lain menyangkut waktu dan cara hitung. Hanya delapan persen studi yang mengikuti pesertanya lebih dari lima tahun, sehingga ketahanan manfaat jangka panjang belum pasti. Cara menghitung biaya dan manfaat berbeda-beda antarstudi. Hasil positif pun, menurut naskah itu, mungkin lebih banyak terbit daripada hasil sebaliknya.
Untuk perusahaan kecil dan menengah, yang imbal hasilnya positif tetapi lebih rendah, naskah itu menyebut beberapa jalan. Di antaranya model konsorsium, layanan bersama, dan penyampaian program dengan bantuan teknologi. Kemitraan pemerintah dan swasta serta insentif pajak disebut sebagai cara menutup biaya di muka.
Daftar pekerjaan berikutnya sudah ditulis kedua penulis. Isinya evaluasi ekonomi di negara berpendapatan rendah dan menengah, studi dengan masa pengamatan lima tahun atau lebih, dan cara menjangkau pekerja informal. Mereka juga meminta pelaporan cara hitung imbal hasil diseragamkan.
Penelusuran itu berhenti pada November 2024. Sampai bulan tersebut, nilai tengah yang tercatat adalah 1 banding 3,1, dengan basis bukti yang sebagian besar berasal dari negara berpendapatan tinggi.















