- Di jamban yang tidak memiliki ramp, orang harus menaiki anak tangga yang tidak rata, tanpa pegangan dan tanpa pelindung tepi.
- Akibatnya, 58,6 persen peserta memerlukan bantuan sebagian atau sepenuhnya untuk mencapai jamban atau ruang mandi.
- Sebanyak 72,4 persen peserta melaporkan hambatan di lebih dari satu tahap perjalanan itu.
- Sebanyak 45,6 persen mengusulkan pengaturan antrean, termasuk jam pakai khusus bagi penyandang disabilitas.
Daftar Isi
Sebuah toilet yang diberi bidang landai, pegangan tangan, dan pintu yang dilebarkan biasanya langsung disebut ramah bagi penyandang disabilitas, seakan-akan perkara selesai begitu perlengkapan itu terpasang. Di kamp-kamp pengungsian Gaza, anggapan itu patah persis di ambang pintu, sebab ramp yang terlalu curam, lantai yang licin, dan bilik yang sempit membuat fasilitas yang di atas kertas terbuka bagi semua orang tetap tidak bisa dimasuki sendirian oleh mereka yang paling membutuhkannya.
Gambaran itu disusun Samer Abuzerr dalam Accessible in theory, inaccessible in practice: a user-centered evaluation of disability inclusion in humanitarian WASH facilities in Gaza displacement camps, terbit di BMC Public Health tahun 2026. Abuzerr berasal dari Department of Medical Sciences, University College of Science and Technology, Khan Younis, Gaza. Ia menilai 112 fasilitas air, sanitasi, dan kebersihan di enam kamp pengungsian di Gaza utara, tengah, dan selatan, lalu menyandingkannya dengan pengalaman 384 penyandang disabilitas yang tinggal di sana antara 23 September dan 26 Desember 2025.
Keenam kamp itu, tiga penampungan kolektif resmi dan tiga lokasi pengungsian tidak resmi, masing-masing dihuni kira-kira 4.000 sampai 18.000 orang yang bergantung pada jamban, kamar mandi, dan titik pengambilan air bersama. Fasilitas yang dinilai terdiri atas 68 jamban bersama, 24 ruang mandi, dan 20 titik air. Layanannya dikelola badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa, lembaga swadaya internasional, dan organisasi kemanusiaan setempat, dalam masa ketika pasokan air tersendat dan kemampuan memperbaiki bangunan sangat terbatas.
Ramp yang ada tetapi tidak menolong
Di atas kertas, jamban-jamban itu tidak tampak buruk, karena 82,4 persen di antaranya dapat dicapai lewat jalan setapak kamp. Namun ketika diperiksa satu per satu, ramp hanya terpasang di 41,2 persen jamban, dan yang benar-benar memenuhi syarat kemiringan, lebar, kestabilan permukaan, serta jalan masuk yang aman hanya 17,6 persen. Di jamban yang tidak memiliki ramp, orang harus menaiki anak tangga yang tidak rata, tanpa pegangan dan tanpa pelindung tepi.
Urusan tidak berhenti di ramp, sebab pintu yang cukup lebar untuk kursi roda atau untuk masuk dengan dibantu hanya ditemukan di 36,8 persen jamban, sedangkan ruang gerak yang memadai di dalam bilik hanya ada di 29,4 persen. Ambang pintu yang rendah atau rata tersedia di 42,6 persen jamban. Secara keseluruhan, 46,4 persen dari seluruh fasilitas yang diperiksa tetap sulit dipakai penyandang disabilitas, meski beberapa di antaranya memiliki perlengkapan yang dimaksudkan untuk memudahkan.
Ruang mandi malah lebih berat, karena privasi dan penutup yang memadai hanya terlihat di 45,8 persen ruang mandi, lantai antiselip di 37,5 persen, pegangan tangan di 25 persen, dan ruang yang cukup bagi pendamping untuk membantu hanya di 20,8 persen. Titik air pun tidak lebih ramah. Tinggi keran tergolong terjangkau di 40 persen titik air, tanah di sekitarnya stabil hanya di 35 persen, dan 55 persen titik air terletak lebih dari 50 meter dari tenda.
Baca juga Disabilitas Vietnam: Divaksin Setara, Jalan ke Sana Tak Setara
Ketika seluruh ukuran itu digabung menjadi satu skor berskala seratus, nilai fasilitas bergerak dari 18 sampai 72, dan 61,6 persen fasilitas masuk golongan akses rendah, 28,6 persen sedang, dan hanya 9,8 persen tinggi. Ruang mandi mencatat skor tengah paling rendah, yakni 32, di bawah jamban yang 38 dan titik air yang 44. Abuzerr mengingatkan bahwa penggolongan itu memakai ambang yang disusun khusus untuk penelitiannya, bukan standar yang sudah diuji di tempat lain.
Padahal bangunan-bangunan itu masih baru, sebab 67,9 persen fasilitas dibangun pada masa tanggap darurat dan usianya belum setahun, namun 58,9 persen sudah menunjukkan kerusakan yang kasatmata akibat kepadatan, minimnya perawatan, paparan cuaca, atau air yang tidak selalu mengalir. Kamp yang terutama ditopang organisasi kemanusiaan internasional mencatat skor tengah 49, lebih tinggi daripada kamp yang lebih lama atau lebih padat, yang skor tengahnya 31.
Dari sinilah Abuzerr menarik simpulan yang membelokkan cara memandang persoalan ini. “Temuan utamanya, karena itu, bukan sekadar bahwa fitur aksesibilitas tidak memadai, melainkan bahwa aksesibilitas itu sendiri tidak stabil dan bergantung pada dukungan operasional yang berkelanjutan,” tulis Samer Abuzerr dalam naskahnya yang berbahasa Inggris. Menurut dia, hambatan di Gaza kerap muncul bukan dari rancangan awal, melainkan dari kerusakan yang cepat, perawatan yang terputus, dan pengungsian yang berulang.
Orang-orang di balik angka
Mereka yang menanggung keadaan itu berusia 6 sampai 79 tahun, dengan sedikit lebih dari separuhnya perempuan, dan 71,4 persen sudah mengungsi lebih dari enam bulan. Hambatan gerak menjadi jenis disabilitas utama yang paling banyak, yaitu 41,7 persen, disusul hambatan penglihatan 18,5 persen, pendengaran 14,3 persen, disabilitas intelektual 13 persen, dan psikososial 12,5 persen. Sebanyak 62,2 persen melaporkan keterbatasan fungsi yang berat atau sangat berat.
Lebih dari separuh peserta memakai alat bantu seperti kursi roda, kruk, alat bantu jalan, atau alat bantu lihat, tetapi 64,5 persen dari para pemakai itu menyebut alatnya rusak, tidak cocok dengan medan kamp, atau sulit dirawat. Seorang peserta laki-laki dengan hambatan gerak di Kamp 4, yang dikutip tanpa nama dalam naskah, menggambarkannya begini: “Kursi roda saya terbenam di pasir dan tanah yang rusak, jadi meskipun toiletnya dekat, saya tidak bisa mencapainya sendirian.”
Akibatnya, 58,6 persen peserta memerlukan bantuan sebagian atau sepenuhnya untuk mencapai jamban atau ruang mandi. Di antara mereka yang perlu dibantu itu, 61,8 persen menyebut pertolongan terutama datang dari perempuan atau remaja putri di rumah tangganya. Seorang peserta perempuan di Kamp 4 menuturkan bahwa putrinya membantunya setiap kali karena jamban terlalu sempit bagi kursi rodanya, dan anak itu sampai melewatkan kegiatan sekolah untuk mendampinginya.
Baca juga Kesenjangan SES Perlebar Risiko Disabilitas Lansia Kota
Menunda, mengurangi, menghindar
Namun yang paling jelas terlihat adalah bagaimana kesulitan itu mengubah kebiasaan sehari-hari. Dalam 144 sesi pengamatan atas kegiatan ke jamban, mandi, dan mengambil air, kelelahan atau ketegangan fisik yang kasatmata tercatat pada 63,2 persen sesi, bantuan pendamping diperlukan pada 58,3 persen, sedangkan jatuh atau nyaris jatuh terlihat pada 27,8 persen. Waktu tengah untuk menyelesaikan urusan di jamban adalah 14 menit, dan menjadi 21 menit untuk mandi dan membersihkan diri.
Rasa takut ikut menentukan, karena 48,2 persen peserta mengaku takut memakai fasilitas tanpa ditemani, terutama mereka yang memiliki hambatan penglihatan, keseimbangan, atau kerentanan psikososial. Sebanyak 39,3 persen menunda pergi ke jamban, 46,1 persen mengurangi mandi atau cuci tangan, dan 11,2 persen melaporkan buang air di tempat terbuka atau memakai cara darurat. Seorang peserta laki-laki di Kamp 6 bahkan berkata bahwa ia kadang minum lebih sedikit karena tahu perjalanan ke toilet akan sulit.
Di situlah persoalannya bergeser dari bangunan ke martabat, sebab 53,6 persen peserta melaporkan hilangnya privasi saat memakai fasilitas, dan 47,9 persen merasa malu atau terhina karena harus dibantu untuk buang air atau mandi. Kekhawatiran yang khas perempuan dan anak perempuan dilaporkan 34,6 persen peserta, antara lain ketiadaan tempat tertutup untuk mengurus haid, ketakutan terlihat orang, dan keengganan memakai fasilitas pada jam ramai. Beberapa jamban, kata seorang remaja putri di Kamp 3, tidak berkunci.
Rintangan yang menumpuk sepanjang jalan
Abuzerr tidak memperlakukan rintangan itu sebagai halangan yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan sebagai rangkaian yang bertumpuk sejak orang meninggalkan tenda sampai kembali lagi. Sebanyak 72,4 persen peserta melaporkan hambatan di lebih dari satu tahap perjalanan itu. Di jamban, 62 persen terhalang ketika hendak masuk, 58,6 persen ketika memakainya, dan 55,4 persen ketika keluar, terutama saat lantai basah atau penerangan kurang.
Mengambil air ternyata termasuk pekerjaan yang paling menguras tenaga, dengan 66,1 persen peserta menghadapi hambatan di titik air, mulai dari keran yang terlalu tinggi, jarak yang jauh, sampai antrean panjang, dan 63,5 persen kesulitan membawa wadah air melintasi tanah kamp yang tidak stabil. Sebanyak 44 persen bergantung pada orang lain untuk urusan itu. Pada kegiatan mandi, 53,6 persen terhalang sejak mencapai tempatnya dan 52,1 persen memerlukan bantuan fisik.
Menurut naskah itu, cara memandang yang berurutan ini menjelaskan mengapa perbaikan di satu titik saja sering tidak banyak berarti. Memasang ramp, tulis Abuzerr, terbatas manfaatnya bila jalan menuju fasilitas tidak stabil, ramp terlalu curam, pintu terlalu sempit, lantai licin, atau pemakainya tidak dapat kembali ke tenda dengan aman. Hambatan yang kecil sekalipun, menurut dia, menjadi melumpuhkan ketika berulang di banyak tahap.
Baca juga Inklusi Keuangan Disabilitas, Belanja Lebih Tinggi 23 Persen
Usul sederhana dari para pemakai
Para peserta mengusulkan sejumlah penyesuaian yang murah dan dapat dikerjakan di dalam prasarana kamp yang sudah ada. Pemasangan lantai antiselip, pegangan tangan, dan batang pegangan diutamakan 62,8 persen peserta, pelebaran pintu dan ruang dalam 57,1 persen, perawatan dan pengawasan rutin 51 persen, dan pendekatan titik air atau gerobak air keliling 49,5 persen. Sebanyak 45,6 persen mengusulkan pengaturan antrean, termasuk jam pakai khusus bagi penyandang disabilitas.
Ada pula gagasan yang dapat dikerjakan dengan bahan dan tenaga setempat, yakni ramp sementara, panggung kayu yang bisa disetel, penanda jalur yang dapat diraba bagi pengguna dengan hambatan penglihatan, serta papan petunjuk bergambar, yang diutamakan 38,7 persen peserta. Dalam lokakarya bersama 62 orang, hambatan fisik digolongkan sebagai prioritas tinggi pada 79 persen lembar penilaian, hambatan perawatan dan pengelolaan pada 72,6 persen, serta urusan privasi, martabat, dan keselamatan pada 67,7 persen.
Di situlah tampak jarak antara janji dan pengalaman, karena 52,3 persen peserta mengetahui adanya komitmen atau standar inklusi disabilitas yang dipakai lembaga kemanusiaan, tetapi 67,9 persen tetap merasa tersisih. Seorang peserta perempuan dengan hambatan penglihatan di Kamp 6 mengatakan bahwa organisasi berbicara tentang inklusi, tetapi mereka jarang ditanya apa yang sungguh berguna bagi mereka. Abuzerr menyimpulkan bahwa perawatan, drainase, penerangan, pengaturan antrean, dan keandalan air semestinya dihitung sebagai bagian inti dari aksesibilitas.
Batas yang diakui dan pertanyaan yang tersisa
Namun Abuzerr sendiri membatasi jangkauan temuannya, sebab hasil ini menurut dia belum tentu mewakili pengungsian di luar kamp, lingkungan warga penampung, atau krisis kemanusiaan dengan keadaan bangunan dan tata kelola yang berbeda. Sebagian data bersandar pada penuturan peserta, yang dapat dipengaruhi ingatan atau keinginan memberi jawaban yang pantas. Kehadiran pengamat pun mungkin mengubah perilaku orang yang sadar sedang diamati.
Batas lain menyangkut suara para peserta itu sendiri, karena juru bahasa isyarat yang cakap tidak selalu tersedia di semua lokasi, sehingga komunikasi kadang diperantarai keluarga atau pendamping, dan 98 dari 384 catatan survei diisi oleh atau bersama pendamping. Menurut naskah, cara itu mencegah tersisihnya peserta yang butuh bantuan komunikasi, tetapi dapat membatasi privasi dan kebebasan bertutur, terlebih ketika yang dibicarakan adalah urusan buang air, mandi, haid, dan rasa takut.
Karena datanya diambil pada satu kurun waktu saja, penelitian ini tidak dapat mengukur bagaimana aksesibilitas berubah dari waktu ke waktu, juga tidak dapat menetapkan hubungan sebab-akibat antara keadaan fasilitas dan kesehatan, perlindungan, atau keadaan batin pemakainya. Maka ramp di depan jamban kamp itu menyisakan pertanyaan yang oleh Abuzerr diserahkan kepada penelitian berikutnya: apakah perawatan dan pemantauan yang melibatkan para pemakainya sendiri akan membuat fasilitas itu tetap dapat dipakai penyandang disabilitas?















