- Tidak munculnya keluhan bukan berarti vitamin palsu aman
- Hentikan konsumsi, simpan kemasan dan bukti, catat gejala, lalu konsultasi
- Cek status produk lewat Cek KLIK BPOM di cekbpom.pom.go.id
Cekricek.id — Konsumen yang telanjur mengonsumsi vitamin yang diduga palsu sebaiknya segera menghentikan konsumsi dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Sulpiana MBiomed, mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap peredaran vitamin palsu di platform daring, setelah terbongkarnya pabrik vitamin anak palsu di Lampung yang produknya dijual Rp50 ribu per botol secara online.
Merujuk penjelasan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), produk kesehatan palsu dapat memuat bahan aktif yang tidak sesuai, tidak mengandung bahan aktif sama sekali, atau bahkan mengandung zat berbahaya. “Tidak munculnya keluhan bukan berarti produk tersebut aman,” tegas Sulpiana, sebagaimana disampaikan dalam keterangan tertulis IPB University, Selasa (20/10/2026). Dampaknya, kata dia, bergantung pada kandungan, jumlah, frekuensi konsumsi, dan kondisi kesehatan konsumen.
Baca juga: Kehujanan Bikin Flu? Dokter IPB: Penyebabnya Virus, Bukan Hujan
Dari Berhenti Minum hingga Cek KLIK BPOM
Langkah pertama adalah menghentikan konsumsi. “Jangan mencoba menghabiskan produk hanya karena masih tersisa atau karena sudah mengeluarkan biaya untuk membelinya,” katanya. Langkah kedua, simpan kemasan, nomor bets, dan bukti pembelian. Ketiga, catat waktu konsumsi, jumlah, dan gejala yang muncul, seperti mual, muntah, diare, ruam, gatal, pusing, atau tubuh lemas. Bila muncul sesak napas, pembengkakan lidah atau tenggorokan, kejang, penurunan kesadaran, atau nyeri perut hebat, segera cari pertolongan medis. “Jangan menunggu sampai gejala memburuk untuk mencari pertolongan,” ujarnya.
Keempat, konsultasikan dengan tenaga kesehatan. “Dokter akan menilai kebutuhan pemeriksaan dan penanganan berdasarkan kondisi masing-masing individu,” ujarnya. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak memaksakan muntah atau melakukan detoksifikasi tanpa petunjuk tenaga kesehatan. Anak-anak, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit kronis sebaiknya tetap berkonsultasi meski belum muncul gejala, terutama bila kandungan atau jumlah produk yang dikonsumsi tidak diketahui pasti.
Baca juga: Cium Bau Gas LPG Bocor? Ini Langkah Pertama Menurut Dosen ITS
Kelima, periksa status produk lewat Cek KLIK Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), yakni kemasan, label, izin edar, dan kedaluwarsa, di cekbpom.pom.go.id, lalu laporkan bila ada dugaan pemalsuan. Konsumsi vitamin palsu berulang, menurut Sulpiana, dapat meningkatkan risiko kekurangan vitamin yang tak tertangani, paparan kontaminan, hingga efek samping akibat dosis berlebih. Karena itu, ia menyarankan pembelian lewat apotek, toko resmi, atau penjual yang dapat dipertanggungjawabkan. “Jika suatu produk menimbulkan kecurigaan, pilihan paling aman adalah menghentikan penggunaannya dan mencari informasi melalui tenaga kesehatan atau kanal resmi BPOM,” pungkasnya.
Baca juga: Ampela Ayam Bergizi, tetapi Kolesterolnya 370 mg per 100 Gram















