Kehujanan Bikin Flu? Dokter IPB: Penyebabnya Virus, Bukan Hujan

A A

Ilustrasi titik-titik air hujan di kaca jendela. [Foto: W.carter/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Flu disebabkan virus, bukan air hujan atau rambut basah.
  • Air hujan bisa membawa debu dan polutan, sehingga rambut sebaiknya segera dibilas dan dikeringkan.
  • Orang yang demam, kelelahan, atau punya asma dan rhinitis perlu lebih waspada terhadap udara dingin.

Cekricek.id — Anggapan bahwa kehujanan atau keramas air hujan pasti membuat sakit masih banyak dipercaya. Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Widya Khairunnisa, menegaskan air hujan maupun rambut basah bukan penyebab langsung seseorang jatuh sakit.

“Secara medis, keramas saat hujan deras pada dasarnya tidak berbahaya bagi orang yang sehat, selama setelahnya tubuh dibilas dengan air bersih dan rambut dikeringkan segera,” jelas dr Widya, sebagaimana disampaikan dalam keterangan tertulis IPB University, Jumat (16/10/2026).

Menurutnya, flu atau common cold adalah infeksi saluran pernapasan yang disebabkan virus. Karena itu, kehujanan tidak otomatis membuat seseorang terkena flu.

Meski begitu, suhu dingin tetap memicu respons tubuh. “Dalam kondisi dingin, pembuluh darah di kulit menyempit (vasokonstriksi) untuk mempertahankan panas tubuh. Kondisi ini dapat membuat seseorang menggigil dan tidak nyaman,” ujarnya.

Waspadai Kualitas Air Hujan

Selama di atmosfer, air hujan dapat bercampur dengan debu, polutan, mikroorganisme, dan zat lain yang kemudian menempel di rambut dan kulit kepala. “Dalam kondisi tertentu, paparan polutan berpotensi memicu stres oksidatif dan peradangan, meskipun penelitian yang secara langsung menghubungkan air hujan dengan gangguan rambut dan kulit kepala masih terbatas,” kata dr Widya.

Ia menyarankan rambut segera dibilas air bersih dan dikeringkan setelah kehujanan. Bila kehujanan lama di lingkungan berdebu dan berpolusi, mencuci rambut dengan sampo lembut bisa membantu membersihkan partikel yang menempel.

Baca juga: Kasus Influenza A Naik ke 38 Persen, Pakar UGM Bagikan 6 Cara Cegah

Sebagian orang perlu lebih berhati-hati. “Sebagian orang perlu lebih berhati-hati terhadap paparan udara dingin, seperti mereka yang sedang demam, sangat lelah, mengalami infeksi saluran pernapasan, atau memiliki asma dan rhinitis. Pada kondisi tersebut, udara dingin dapat memicu atau memperburuk gejala saluran pernapasan,” jelasnya.

Baca juga: Antibiotik Tidak Mengobati Influenza A, Dokter ITS Ingatkan Warga

dr Widya menyimpulkan, “Jadi, masalahnya bukan pada keramas saat hujan, tetapi pada paparan dingin berkepanjangan, kualitas air, dan kondisi kesehatan seseorang.”

Baca juga: Debu PM2.5 Menaikkan Risiko Influenza di Xinjiang 6,7 Persen

Bagikan

Baca Juga

Cium Bau Gas LPG Bocor? Ini Langkah Pertama Menurut Dosen ITS
Belanja Sayur Daring di Shanghai Lebih Ramai di Kawasan Mapan
Hampir Tiga dari Empat Orang Kuwait Makan Garam Terlalu Banyak
Migrain Lebih Jarang Datang pada Orang yang Tidurnya Tujuh Jam
Warga Korea yang Tinggal Sendiri Kian Murung dari Muda sampai Tua
Tekanan Kerja Tinggi Justru Membuat Pekerja Norwegia Bertahan