- Hasil utamanya, 110 dari 387 orang berberat normal memiliki lemak tubuh tinggi, yaitu 28,4 persen.
- Dari 281 perempuan berberat normal, 106 orang atau 37,7 persen tergolong obesitas dengan berat badan normal.
- Dari 106 laki-laki berberat normal, hanya empat orang atau 3,8 persen yang lemak tubuhnya melewati batas.
- Lingkar pinggang perempuan berlemak tinggi rata-rata 74,6 sentimeter, sedangkan kelompok pembandingnya 69,0 sentimeter.
- Pengukuran dilakukan di satu poliklinik rumah sakit sehingga sampelnya tidak dapat mewakili seluruh penduduk Turki.
Daftar Isi
Pagi hari, di poliklinik kedokteran keluarga Buca Seyfi Demirsoy Training and Research Hospital, Izmir, orang-orang naik ke sebuah alat ukur tanpa alas kaki. Mereka sudah berpuasa sedikitnya delapan jam dan mengosongkan kandung kemih. Alat itu, Tanita BC-601, mengalirkan arus listrik lemah yang aman ke tubuh untuk menaksir lemak, otot, dan air. Satu petugas kesehatan terlatih mengerjakan semua pengukuran.
Yang berdiri di atas alat itu adalah 683 relawan, 471 perempuan dan 212 laki-laki, yang datang antara 1 November 2023 dan 1 Agustus 2025. Hakan Gülmez dan Hicret Cin menuliskan hasilnya dalam Beyond body mass index: prevalence of normal weight obesity in a primary care population in Turkey, dimuat BMC Public Health tahun 2026 sebagai artikel yang sudah diterima dan sedang dalam proses terbit.
Gülmez bekerja di Department of Family Medicine, Izmir Democracy University. Cin bertugas di Kula 3 No. Family Health Center, Manisa. Keduanya mencari satu kelompok yang luput dari timbangan: orang dengan indeks massa tubuh normal, 18,5 sampai 24,9 kilogram per meter persegi, tetapi persentase lemak tubuhnya tinggi. Kepustakaan menamai kondisi itu obesitas dengan berat badan normal.
Batas yang mereka pakai tertulis di abstrak naskah: lemak tubuh total 30 persen ke atas pada perempuan dan 25 persen ke atas pada laki-laki. Yang boleh ikut hanya orang berumur 18 tahun ke atas. Perempuan hamil, menyusui, atau sudah menopause tidak diikutkan, begitu pula orang dengan penyakit kronis berat atau pemakai obat yang mengubah komposisi tubuh.
Timbangan di Buca
Dari poliklinik itu, angka pertama yang keluar adalah soal berat. Di antara 618 peserta yang tercatat tanpa penyakit kronis, 387 orang atau 62,6 persen memiliki indeks massa tubuh normal. Sebanyak 216 orang, 35 persen, masuk kelompok berat berlebih atau obesitas. Hanya 15 orang, 2,4 persen, tergolong kurus.
Ke-387 orang berberat normal itulah yang ditelaah lebih jauh oleh Gülmez dan Cin. Mereka muda. Umur rata-ratanya 25,49 tahun, dengan nilai tengah 22 tahun, dan terentang dari 18 sampai 65 tahun. Berat rata-ratanya 61,90 kilogram, tinggi 167,75 sentimeter, dan indeks massa tubuh 21,92. Lingkar pinggang mereka rata-rata 74,52 sentimeter.
Layar alat bioimpedans memberi gambaran yang lebih beragam. Persentase lemak tubuh di kelompok berberat normal itu rata-rata 25,31 persen, dengan nilai tengah 25,80 persen. Rentangnya lebar: dari 7,20 sampai 40,70 persen. Di dalam satu kategori berat yang sama, kadar lemak tubuh para peserta terpaut jauh.
Kedua dokter keluarga itu menyoroti keterbatasan alat ukur yang paling lazim dipakai. Indeks massa tubuh, tulis mereka, tidak selalu mencerminkan komposisi tubuh. Angkanya bisa menyesatkan pada atlet berotot besar, pada orang lanjut usia yang kehilangan massa otot, dan pada kondisi klinis yang mengubah keseimbangan cairan tubuh. Indeks itu juga tidak memberi keterangan tentang di mana lemak tersimpan.
Baca juga Satu dari Sepuluh Orang Dewasa Malaysia Gemuk dan Hipertensi
Angka di layar Tanita
Hasil utamanya: 110 dari 387 orang berberat normal memiliki lemak tubuh tinggi. Itu 28,4 persen dari kelompok berberat normal. Sisanya, 277 orang atau 71,6 persen, berada di bawah batas. Gülmez dan Cin menyebut obesitas dengan berat badan normal tampak cukup banyak dijumpai di layanan kesehatan primer tempat mereka mengukur.
Pembagian menurut jenis kelamin memperlihatkan jurang. Dari 281 perempuan berberat normal, 106 orang atau 37,7 persen tergolong obesitas dengan berat badan normal. Dari 106 laki-laki, hanya empat orang, 3,8 persen. Kedua penulis mencatat hubungan yang bermakna secara statistik antara jenis kelamin perempuan dan kondisi tersebut.
“Ketika dipilah menurut jenis kelamin, teramati kesenjangan epidemiologis yang mencolok: prevalensi obesitas dengan berat badan normal lebih tinggi secara bermakna pada perempuan (37,7 persen) dibandingkan laki-laki (3,8 persen),” tulis Gülmez dan Cin dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Dominasi perempuan itu, menurut mereka, mirip dengan data global: angka pada perempuan biasa dilaporkan 2 sampai 28 persen, sedangkan pada laki-laki sering di bawah 3 persen.
Pinggang dan pinggul perempuan
Di antara para perempuan berberat normal, dua kelompok itu nyaris seumur. Mereka yang berlemak tinggi rata-rata berumur 26,2 tahun, yang lain 26,3 tahun. Lemak tubuhnya yang berbeda jauh: rata-rata 33,3 persen pada 106 perempuan dengan obesitas berberat normal, dan 25,1 persen pada 175 perempuan lainnya.
Pita ukur ikut bicara. Lingkar pinggang kelompok berlemak tinggi rata-rata 74,6 sentimeter, sedangkan kelompok pembandingnya 69,0 sentimeter. Lingkar pinggulnya 101 sentimeter berbanding 94 sentimeter. Berat badan mereka pun lebih besar, 61,7 kilogram berbanding 55,8 kilogram, walau keduanya masih dalam rentang indeks massa tubuh normal. Semua selisih itu bermakna secara statistik.
Alat Tanita juga mengeluarkan dua angka lain. Tingkat lemak viseral perempuan berlemak tinggi rata-rata 3,05, sedangkan perempuan lainnya 1,76. Usia metabolik, yang dihitung otomatis oleh perangkat lunak alat dari taksiran laju metabolisme basal, rata-rata 31,5 tahun pada kelompok pertama dan 18,4 tahun pada kelompok kedua.
Gülmez dan Cin membaca angka-angka itu sebagai penanda risiko yang tersembunyi. Bahkan di dalam rentang indeks massa tubuh yang sepenuhnya normal, tulis mereka, perempuan dengan obesitas berberat normal menunjukkan ukuran bagian tengah tubuh yang lebih besar daripada perempuan lain. Mengandalkan indeks massa tubuh saja, menurut keduanya, membuat sebagian orang keliru digolongkan sebagai sehat.
Empat laki-laki
Di sisi laki-laki, kelompoknya sangat kecil. Hanya empat orang yang lemak tubuhnya melewati batas, dengan rata-rata 26,6 persen, berbanding 17,3 persen pada 102 laki-laki lainnya. Tingkat lemak viseral keempatnya rata-rata 5,75, sedangkan kelompok pembanding 3,08. Usia metabolik mereka rata-rata 35 tahun, padahal umur sebenarnya rata-rata 20 tahun.
Kedua penulis sendiri meminta angka itu dibaca dengan hati-hati. Karena laki-laki dengan obesitas berberat normal hanya berjumlah empat orang, tulis mereka, perbandingan statistik dan telaah subkelompok untuk laki-laki tidak punya daya statistik yang kuat. Temuan khusus itu, menurut Gülmez dan Cin, harus ditafsirkan dengan kehati-hatian tersendiri.
Perbandingan antara perempuan dan laki-laki peserta memperlihatkan dua pola. Persentase lemak tubuh total perempuan rata-rata 28,26 persen, laki-laki 17,49 persen. Sebaliknya, tingkat lemak viseral laki-laki lebih tinggi, 3,15 berbanding 2,25, dan lingkar pinggangnya 83,03 sentimeter berbanding 71,24 sentimeter. Perempuan, simpul kedua penulis, memiliki lemak tubuh keseluruhan yang lebih banyak, sedangkan laki-laki lebih menonjol dalam penumpukan lemak perut dan viseral.
Untuk menjelaskannya, Gülmez dan Cin merujuk faktor biologis dan hormonal. Perempuan secara fisiologis memiliki lebih banyak jaringan lemak, yang terutama disimpan di bagian tepi tubuh, sedangkan laki-laki cenderung menimbunnya di rongga perut. Estrogen mendorong penyimpanan lemak di bawah kulit dan menekan lemak viseral. Setelah menopause, kadar estrogen yang turun diikuti bertambahnya lemak viseral.
Baca juga Standar BMI Asia Lebih Peka Deteksi Risiko Kehamilan
Dari Izmir ke Kolombia dan Korea
Angka dari Buca lalu disandingkan dengan laporan dari tempat lain. Sebuah tinjauan atas penelitian sepuluh tahun terakhir mencatat kisaran 10 sampai 46 persen. Penelitian nasional di Tiongkok melaporkan 4,76 persen. De Lorenzo dan rekan-rekannya memperkirakan angka global sekitar 10 persen. Penelitian pada orang dewasa muda Kolombia mencatat 29,1 persen, yang disebut Gülmez dan Cin sejalan dengan temuan mereka.
Asia memperlihatkan rentang yang sama lebarnya. Kapoor dan rekan-rekannya menemukan 31,7 persen di India. Moy dan rekannya melaporkan 19,8 persen di antara 6.854 perempuan di Malaysia. Di Korea angkanya sekitar 32 persen, dan sebuah penelitian pada dokter pemerintah di India mencatat 48,7 persen. Di Israel, penelitian atas 1.779 orang dewasa menggolongkan 26 persen laki-laki dan 38 persen perempuan ke dalam kondisi ini.
Mengapa angkanya berserakan? Gülmez dan Cin menunjuk perbedaan populasi, batas persentase lemak tubuh, dan teknik pengukuran. Belum ada kesepakatan penuh tentang kriteria diagnosis. Pedoman tradisional pernah menyarankan batas lebih dari 35 persen untuk perempuan. Memakai batas setinggi itu, tulis keduanya, kemungkinan menghasilkan angka yang lebih rendah karena melewatkan orang dengan kelainan metabolik tahap awal yang tersembunyi.
Kedua penulis menaruh temuan mereka di samping kepustakaan tentang risiko. Orang dengan indeks massa tubuh normal tetapi lemak tubuh tinggi, menurut penelitian yang mereka rujuk, lebih sering mengalami gangguan lemak darah, sindrom metabolik, risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, serta kematian. Penumpukan lemak viseral disebut sebagai peramal kuat sindrom metabolik.
Lingkar pinggang menjadi salah satu ukurannya. Gülmez dan Cin mengutip batas yang ditetapkan penelitian besar berbasis masyarakat di Turki, yakni 96 sentimeter untuk laki-laki dan 91 sentimeter untuk perempuan. Lingkar pinggang di atas batas itu, tulis mereka, berkaitan dengan penyakit jantung dan pembuluh darah serta dengan berkumpulnya beberapa faktor risiko metabolik.
“Akibatnya, orang dengan berat badan normal mungkin tampak sehat tetapi tetap berada pada risiko kardiometabolik yang meningkat,” tulis Gülmez dan Cin dalam simpulan berbahasa Inggris itu. Penilaian obesitas, menurut mereka, tidak boleh bertumpu pada indeks massa tubuh semata. Persentase lemak tubuh dan sebaran lemak juga perlu dinilai secara rutin.
Baca juga Berat Badan dan Sikap ke Obesitas Mahasiswa Kesehatan Hanoi
Batas sebuah poliklinik
Gülmez dan Cin menuliskan keterbatasan pekerjaan mereka dengan terang. Pengukuran dilakukan di satu poliklinik rumah sakit, pada satu titik waktu. Sampelnya, tulis mereka, terkena bias seleksi wilayah dan tidak dapat mewakili sepenuhnya keragaman sosial, budaya, dan metabolik seluruh penduduk Turki.
“Karena itu, angka prevalensi kami harus ditafsirkan sebagai potret subpopulasi layanan primer di satu wilayah, bukan sebagai patokan epidemiologis nasional yang definitif,” tulis kedua dokter tersebut, juga dalam bahasa Inggris. Mereka menambahkan bahwa data ini perlu didukung penelitian berskala besar di banyak pusat layanan.
Usulan mereka bersifat praktis. Cara sederhana seperti analisis bioimpedans dapat dipakai di layanan primer, program penapisan disusun untuk kelompok berisiko, dan kesadaran dibangun bahwa obesitas tidak sama dengan berat badan. Gülmez dan Cin juga menyebut perlunya penelitian nasional berskala besar untuk menyeragamkan kriteria diagnosis obesitas dengan berat badan normal.
Alat Tanita BC-601 di poliklinik Buca itu sendiri dibeli lewat proyek penelitian ilmiah yang didukung Fakultas Kedokteran Izmir Democracy University. Sepanjang yang diketahui kedua penulis, pekerjaan mereka adalah yang pertama menelaah seberapa sering obesitas dengan berat badan normal dijumpai di Turki. Dari orang-orang yang naik ke alat itu tanpa alas kaki, 110 orang berberat normal tercatat memiliki lemak tubuh melewati batas.















