- Studi di Parepare membandingkan standar BMI WHO, Asia, dan Indonesia pada 953 pasangan ibu-bayi
- Prevalensi kegemukan berbeda jauh: 22,2% (WHO), 33,3% (Asia), 11,8% (Indonesia)
- Standar Asia paling akurat memprediksi risiko bayi lahir kecil, dengan skor kecocokan model terbaik
- Indonesia memakai dua ambang BMI berbeda untuk populasi umum dan ibu hamil, berpotensi membingungkan
Daftar Isi
Ambang berat badan yang dipakai untuk menilai ibu hamil ternyata bisa mengubah siapa yang dianggap berisiko. Studi baru di Parepare, Sulawesi Selatan, membandingkan tiga cara mengukur indeks massa tubuh dan menemukan hasil yang tidak selalu sama.
Riset ini ditulis Sabaria Manti Battung, A. Razak Thaha, Eline M. van der Beek, dan Henk Groen, berjudul Associations between Gestational Weight Gain and Pregnancy Outcomes Using WHO, Asian, and Indonesian BMI Classifications: A Prospective Longitudinal Study in Parepare, Indonesia, dimuat di BMC Public Health, 2026. Battung berafiliasi dengan Universitas Groningen di Belanda dan Universitas Hasanuddin Makassar.
Tiga Ambang, Satu Populasi
Ada tiga cara mengelompokkan berat badan ibu hamil: standar WHO, standar Asia, dan standar Indonesia. Ketiganya memakai angka indeks massa tubuh (BMI) yang berbeda untuk garis batas kegemukan dan obesitas. Studi ini menguji ketiganya sekaligus pada populasi yang sama.
Datanya berasal dari 953 pasangan ibu-bayi di Parepare, bagian dari 1.216 ibu hamil yang direkrut sejak Agustus 2021. Usia rata-rata ibu 28,0 tahun. Berat badan sebelum hamil rata-rata 54,2 kilogram, dengan kenaikan berat badan selama hamil rata-rata 8,9 kilogram.
Sebagian besar ibu dalam studi ini, 72,3%, berpendidikan universitas atau diploma, dan 95,5% memiliki jaminan kesehatan. Hanya 19,7% yang bekerja. Sebanyak 58,7% ibu terpapar asap rokok orang lain di rumah, dan 31,8% baru pertama kali hamil. Kadar hemoglobin rata-rata di trimester ketiga 13,1 gram per desiliter, dengan 7,9% ibu mengalami anemia.
Kegemukan Melompat Dua Kali
Prevalensi kurang gizi sama di ketiga standar, 11,4%. Tapi prevalensi kegemukan berbeda jauh: 22,2% memakai standar WHO, melompat ke 33,3% memakai standar Asia, dan turun ke 11,8% memakai standar Indonesia. Obesitas juga berubah: 6,8% menurut WHO, 14,4% menurut Asia, 17,3% menurut Indonesia.
Ibu yang sama bisa dicap normal oleh satu standar dan kegemukan oleh standar lain. Perbedaan ini muncul karena ambang Asia menetapkan batas kegemukan dan obesitas pada angka BMI yang lebih rendah dibanding WHO.
Setiap kategori BMI juga punya rentang kenaikan berat badan hamil yang dianggap memadai, mengikuti rekomendasi Institute of Medicine (IOM). Ibu berkategori kurang gizi dianjurkan naik 12,5 sampai 18,0 kilogram, ibu berkategori berat normal 11,5 sampai 16,0 kilogram, ibu kegemukan 7 sampai 11,5 kilogram, dan ibu obesitas hanya 5,0 sampai 9,0 kilogram. Rentang inilah yang dipakai menilai kecukupan kenaikan berat badan pada tiap standar BMI.
Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak
Standar Asia Lebih Peka
Peneliti lalu menguji: standar mana yang paling akurat memprediksi bayi lahir kecil untuk usia kehamilan (SGA), lahir prematur, dan berat lahir rendah? Jawabannya standar Asia. Rasio odds risiko SGA memakai standar Asia mencapai 1,62, lebih tinggi dari WHO (1,54) dan Indonesia (1,51).
Untuk risiko gabungan ketiga luaran buruk itu, angkanya 1,71 memakai standar Asia, dibanding 1,61 memakai WHO dan 1,62 memakai Indonesia. Uji kecocokan model AIC juga paling rendah pada standar Asia, 792,2, dibanding WHO 797,0 dan Indonesia 796,1.
Dari 953 bayi yang lahir, berat lahir rata-rata 3.077 gram dan panjang lahir rata-rata 48,2 sentimeter. Sebanyak 153 bayi, atau 16,0%, lahir kecil untuk usia kehamilan. Empat puluh bayi lahir prematur, 54 bayi berberat lahir rendah, 25 bayi besar untuk usia kehamilan, dan delapan bayi mengalami makrosomia atau berat lahir di atas 4.000 gram.
Peluang 80 Persen Terbaik
Perhitungan bobot Akaike menunjukkan model Asia punya peluang 80% menjadi model paling pas di antara ketiganya. Standar Asia juga satu-satunya yang menunjukkan hubungan signifikan antara kenaikan berat badan berlebih dan risiko bayi besar untuk usia kehamilan (LGA), dengan rasio odds 0,38.
“Gestational weight gain classes based on Asian BMI cutoffs corresponded better with adverse pregnancy outcomes than WHO or Indonesian BMI cutoffs”, tulis Battung dan tiga rekannya dalam simpulan naskah berbahasa Inggris itu. Kalimat itu berarti: kelas kenaikan berat badan hamil berdasarkan ambang BMI Asia lebih sesuai dengan luaran kehamilan yang buruk dibanding ambang WHO atau Indonesia.
Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia
Kurang Gizi Tetap Berisiko
Ada temuan yang berlaku di ketiga standar sekaligus. Lebih dari 70% ibu berkategori kurang gizi dan lebih dari 69% ibu berkategori berat normal mengalami kenaikan berat badan hamil yang tidak memadai, tanpa peduli standar mana yang dipakai. Sebaliknya, standar Asia menghasilkan proporsi kenaikan berat badan berlebih tertinggi, 15,2%, terutama pada ibu berkategori kegemukan dan obesitas.
“We hypothesize that implementing the Asian BMI classification may better identify risks for adverse pregnancy outcomes”, tulis para peneliti. Artinya, mereka menduga penerapan klasifikasi BMI Asia bisa lebih baik mengenali risiko luaran kehamilan yang buruk, sehingga intervensi bisa lebih tepat waktu dan akurat.
Peneliti juga membandingkan temuan ini dengan studi lebih kecil di Indonesia sebelumnya. Satu studi di Sumatera Barat mencatat 21,7% ibu hamil kegemukan dan 5,3% obesitas memakai standar Asia, dibanding hanya 13,5% dan 1,1% memakai standar WHO. Pola yang sama, angka lebih tinggi pada standar Asia, juga muncul konsisten di Parepare.
Kegemukan dan Diabetes Naik
Naskah ini mencatat konteks yang lebih luas di Indonesia: prevalensi kegemukan dan obesitas pada perempuan dewasa naik dari 32,9% menjadi 44,4% pada 2018. Prevalensi diabetes tipe dua juga diproyeksikan naik dari 9,19% pada 2020 menjadi 16,09% pada 2045. Tren ini membuat makin banyak perempuan memasuki masa hamil dalam kondisi kegemukan atau obesitas.
Indonesia Pakai Dua Standar
Naskah ini mencatat kejanggalan praktik di Indonesia: populasi umum, termasuk perempuan sebelum hamil, dinilai memakai ambang BMI 27,0 untuk kegemukan dan obesitas, sedangkan begitu hamil, ambang yang dipakai berpindah ke standar WHO dengan batas obesitas 30,0. Dua standar berbeda untuk populasi yang sama ini, menurut peneliti, berpotensi membuat penilaian kecukupan kenaikan berat badan jadi tidak konsisten.
Baca juga Separuh Petani Kopi Pargarutan Berpendapatan Sejuta
Batas yang Diakui Peneliti
Berat badan sebelum hamil dalam studi ini dilaporkan sendiri oleh ibu, bukan diukur langsung, sehingga berpotensi lebih rendah dari berat sesungguhnya dan menggeser hasil klasifikasi BMI. Peneliti menyebut bias ini kemungkinan bersifat sama di ketiga standar, sehingga tidak mengubah kesimpulan perbandingan antarstandar.
Perhitungan jumlah sampel awal studi ini juga didasarkan pada perkiraan angka berat lahir rendah, bukan pada bayi lahir kecil untuk usia kehamilan. Karena itu, peneliti sendiri menyebut hasilnya bersifat deskriptif dan eksploratif, bukan kesimpulan yang final. Peneliti turut mengakui tidak mengumpulkan data preeklamsia, hipertensi, maupun diabetes gestasional, padahal ketiganya diketahui berkaitan dengan berat badan ibu hamil.
Data bayi baru lahir dikumpulkan dari buku kesehatan ibu dan anak yang difoto ibu dan dikirim lewat WhatsApp kepada tim peneliti. Cara ini dipilih karena seluruh ibu melahirkan di rumah sakit atau fasilitas kesehatan masyarakat, dengan dua bidan terlatih ditugaskan di tiap puskesmas untuk mengumpulkan data selama masa studi berlangsung.
Ada pula kejanggalan kecil yang bisa diperiksa pembaca sendiri pada naskah ini. Jumlah ibu hamil yang direkrut ditulis 1.216 di bagian metode, namun keterangan salah satu gambar menyebut basis "(n=957)", berbeda empat angka dari 953 yang dipakai konsisten sebagai jumlah pasangan ibu-bayi yang dianalisis di bagian lain naskah.
Studi ini juga hanya mengambil data dari satu wilayah perkotaan, Parepare, sehingga hasilnya belum tentu berlaku sama di wilayah pedesaan atau dengan kondisi sosial-ekonomi berbeda. Pola makan, keragaman gizi, kepatuhan konsumsi suplemen, akses layanan kesehatan, dan kondisi sosial-ekonomi diketahui bervariasi luas antarwilayah di Indonesia, sehingga hasil di satu kota belum tentu berlaku di tempat lain.
Angka-angka dari Parepare ini pada akhirnya menunjukkan sesuatu yang sederhana: cara mengukur bisa mengubah siapa yang tampak berisiko dan siapa yang tidak. Satu ibu, tiga standar, tiga hasil berbeda, dan hanya satu di antaranya yang paling dekat dengan apa yang sesungguhnya terjadi pada bayi yang lahir.















