- Skrining nasional pertama Timor-Leste 2025 menjangkau 262.434 siswa Kelas 1-9 di 1.371 sekolah, menemukan karies gigi pada 30,0 persen dan BMI-for-age rendah pada 20,5 persen siswa
- Tujuh dari sembilan sekolah di Atauro mencatat nol kasus karies gigi, bagian dari 73 sekolah (6 persen) yang jauh melebihi ekspektasi statistik sekitar 2 persen
- Variasi antartim untuk tugas gigi dokter 3,51 kali tolok ukur, jauh di atas 0,67 kali untuk tujuh tugas non-gigi yang sama
- Setelah koreksi efek klaster, perbedaan antarkabupaten yang tampak besar (Cramer V hingga 0,238) turun menjadi dapat diabaikan (0,012-0,028)
Daftar Isi
Sembilan sekolah dasar berada di bawah tanggung jawab satu Puskesmas di Pulau Atauro, Timor-Leste. Tim skrining kesehatan yang bertugas di sana mencatat nol kasus karies gigi di tujuh dari sembilan sekolah itu. Bukan karena murid-murid di pulau kecil itu benar-benar bebas gigi berlubang. Angka itu muncul dari cara memeriksa yang berbeda, di tangan tim yang berbeda pula.
Temuan itu ditulis Hanna Jin, Rita Maria Soares, Jaime dos Reis Belo, Fernando Soares, Apolinario Serpa Rosa, Arvind Mathur, dan Mokryeon Cho dalam Screen-detected health conditions among students in Grade 1-9: findings from Timor-Leste's first nationwide school-based screening program, terbit di BMC Public Health, tahun 2026. Jin bekerja di Kantor Perwakilan WHO untuk Timor-Leste bersama Mathur dan Cho; empat penulis lain berasal dari Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pendidikan Timor-Leste.
Nol Kasus di Pulau yang Sama
Kejanggalan di Atauro bukan berdiri sendiri. Dari 1.167 sekolah yang menyaring sedikitnya 50 siswa, 73 sekolah (6 persen) mencatat nol kasus karies gigi sama sekali, padahal model statistik memperkirakan seharusnya hanya sekitar 2 persen sekolah yang seperti itu. Selisih hampir empat kali lipat itu bukan tersebar acak: 49 dari 73 sekolah nol-kasus itu berasal dari sembilan tim skrining saja, dan tim di Atauro adalah salah satu yang paling mencolok.
Kabupaten Atauro sendiri mencatat tingkat karies terendah nasional, hanya 8,3 persen, jauh di bawah Lautem yang mencapai 44,9 persen. Program ini menjangkau 262.434 siswa Kelas 1-9 di 1.371 dari 1.387 sekolah dasar Timor-Leste sepanjang 2025, dan karies gigi menjadi temuan paling banyak tercatat: 78.643 siswa, atau 30,0 persen dari yang diperiksa.
Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak
Tujuh Puluh Dua Tim, Satu Standar yang Renggang
Setiap tim skrining terdiri atas satu dokter dan dua perawat, dikirim ke sekolah oleh salah satu dari 72 pusat kesehatan masyarakat di seluruh 14 kabupaten. Dokter memeriksa mulut, telinga, mata luar, kulit, dan riwayat merokok atau minum alkohol; perawat mengukur tinggi-berat badan, penglihatan, dan pendengaran. Di atas kertas, seluruh 72 tim mengikuti protokol nasional yang sama, dengan pelatihan dan formulir yang identik dari Dili sampai Atauro.
Kenyataan di lapangan berbeda jauh. Tingkat kebersihan mulut buruk yang dicatat satu tim bisa 0,0 persen, sementara tim lain mencatat 98,4 persen, dengan median 9,8 persen.
Karies gigi berkisar dari 3,7 sampai 67,9 persen antartim. Di Kabupaten Ermera saja, tujuh tim yang bekerja di kabupaten yang sama mencatat kebersihan mulut buruk pada 0, 1, 5, 5, 53, 63, dan 98 persen siswa mereka masing-masing, angka yang tidak bisa dijelaskan oleh perbedaan geografis di dalam satu kabupaten yang sama.
Peneliti menelusuri pola ini dengan membandingkan setiap kondisi terhadap satu tolok ukur: status gizi berdasarkan BMI-for-age, kondisi yang paling sedikit bergantung pada penilaian subjektif karena tinggi dan berat badan diukur dengan alat, bukan dilihat mata. Dibandingkan tolok ukur itu, variasi antartim untuk kebersihan mulut buruk 6,73 kali lipat lebih besar, dan untuk keputusan merujuk siswa 5,37 kali lipat. Semua kondisi lain berada di sekitar atau di bawah tolok ukur, termasuk otoskopi, pemeriksaan mata luar, kulit, dan riwayat merokok yang juga dikerjakan dokter yang sama.
Yang membuat pola ini tidak bisa disalahkan pada dokter tertentu: dokter yang sama, di tim yang sama, jauh lebih konsisten pada tujuh tugas non-gigi mereka (rasio rata-rata 0,67 kali tolok ukur) dibanding tiga tugas gigi mereka (3,51 kali; Mann-Whitney p=0,012). Pemeriksaan ulkus mulut, yang juga dilakukan di rongga mulut yang sama tetapi hanya membutuhkan pengetahuan klinis umum, tidak menunjukkan kelebihan variasi sama sekali (0,89 kali).
“Variasi ini karena itu disebabkan oleh jenis pemeriksaan gigi, bukan oleh pemeriksa atau kesulitan memeriksa mulut,” tulis Hanna Jin dan koleganya dalam naskah berbahasa Inggris mereka. Kalimat aslinya berbunyi the variation is therefore attributable to the dental task, not to the examiner or the difficulty of examining a mouth.
Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia
Peta Kabupaten yang Sebagian Menipu
Karies gigi berkisar dari 8,3 persen di Atauro sampai 44,9 persen di Lautem antarkabupaten, perbedaan yang secara statistik signifikan (p di bawah 0,001). Tetapi begitu peneliti mengoreksi angka itu dengan memperhitungkan efek desain klaster, kekuatan hubungannya (ukuran efek Cramér's V) anjlok dari 0,135 menjadi hanya 0,024 untuk karies gigi, dan dari 0,238 menjadi 0,023 untuk kebersihan mulut buruk. Setiap kondisi tetap signifikan secara statistik, tetapi menjadi, dalam kata peneliti sendiri, dapat diabaikan besarnya.
Interval kepercayaan yang mempertimbangkan efek klaster ini juga empat sampai sepuluh kali lebih lebar dari interval naif. Untuk karies gigi, interval naif hanya 29,8 sampai 30,1 persen, sedangkan interval berbasis desain melebar menjadi 29,0 sampai 31,0 persen. Peneliti menyimpulkan bahwa sebagian besar dari yang tampak sebagai perbedaan antarkabupaten sesungguhnya adalah perbedaan antartim yang kebetulan ditempatkan di kabupaten yang berbeda.
Bukan berarti seluruh temuan program ini goyah oleh masalah yang sama. Status gizi tetap dianggap sinyal yang lebih dapat dipercaya karena diukur dengan alat, bukan dinilai mata: 20,5 persen dari 261.438 siswa yang diukur berat-tingginya masuk kategori kurus atau sangat kurus, berkisar dari 11,3 persen di Manufahi sampai 30,3 persen di Oecusse. Angka gemuk atau obesitas justru sebaliknya, hanya 4,8 persen secara nasional, tertinggi di Dili (8,7 persen) dan terendah di Ermera (1,2 persen), pola yang oleh peneliti disebut sebagai transisi gizi ganda.
Baca juga Petani Sedulur Sikep di Pati Mulai Memakai Pupuk Kimia
Cakupan program juga tercatat rapi: dari 301.596 siswa terdaftar, 262.434 (87,0 persen) berhasil diskrining. Cakupan pada siswa perempuan (89,3 persen) secara konsisten lebih tinggi daripada siswa laki-laki (84,8 persen) di semua 14 kabupaten, selisih yang oleh peneliti disebut mengangkat pertanyaan kesetaraan tentang hambatan partisipasi anak laki-laki di sekolah, sesuatu yang mereka sarankan untuk ditelusuri pada putaran skrining berikutnya.
Batas yang Diakui Peneliti Sendiri
Peneliti menandai sendiri batas analisis ini. Tidak satu pun temuan dikonfirmasi dengan alat baku emas seperti indeks DMFT untuk karies, audiometri untuk pendengaran, atau pemeriksaan spesialis mata, sehingga seluruh angka adalah tingkat screen-positive, bukan diagnosis pasti. Data juga hanya tersedia di tingkat sekolah, bukan per siswa, sehingga tidak ada penyesuaian usia, jenis kelamin, atau status sosial-ekonomi terhadap perbedaan yang ditemukan, dan desain potong-lintangnya tidak bisa memastikan sebab dari akibat.
Rujukan yang diterbitkan pun berhenti di titik penerbitannya saja. Sebanyak 39.488 siswa (15,1 persen) menerima setidaknya satu rujukan untuk perawatan lanjutan ke Puskesmas yang sama yang melakukan skrining, tetapi apakah rujukan itu benar-benar ditindaklanjuti, dan apakah pengobatannya berhasil, tidak tercatat secara terpusat di mana pun dalam sistem yang dipakai penelitian ini. Data merokok dan alkohol pun diambil lewat wawancara tatap muka di sekolah, bukan kuesioner anonim, sehingga kemungkinan besar meremehkan angka sebenarnya, terutama pada siswa termuda yang baru berusia sekitar enam tahun.
Ada satu kejanggalan lagi yang bisa diperiksa pembaca sendiri di dalam naskah. Untuk BMI-for-age rendah, peneliti menulis kisarannya 11,3 persen di Manufahi sampai 30,3 persen di Oecusse, dengan rasio prevalensi 2,96. Namun jika angka itu dibagi langsung, 30,3 dibagi 11,3 menghasilkan sekitar 2,68, bukan 2,96.
Sebagai pembanding, untuk karies gigi naskah menulis rasio 5,39 dari kisaran 8,3 sampai 44,9 persen, dan pembagian langsungnya memang mendekati 5,41, sangat dekat dengan angka yang dicetak. Selisih pada perhitungan BMI-for-age itu tidak dijelaskan di bagian mana pun dalam naskah.
Sesuatu yang Tersisa dari Sembilan Sekolah
Kembali ke Atauro. Kabupaten kepulauan kecil itu tetap tercatat sebagai kabupaten dengan tingkat karies terendah di Timor-Leste, dan sebagian dari catatan itu boleh jadi memang benar. Namun tujuh sekolah yang mencatat nol kasus dari sembilan yang ada, ditangani oleh satu tim yang sama, meninggalkan pertanyaan yang tidak bisa dijawab hanya dengan membaca peta kabupaten: berapa banyak dari angka nasional 30 persen itu sesungguhnya menceritakan tentang mulut anak-anak Timor-Leste, dan berapa banyak yang menceritakan tentang siapa yang kebetulan memegang senter dan cermin mulut hari itu.















