Gas NO2 dari Lalu Lintas Berkaitan dengan Miopia Pria Korea

A A

Pemandangan Kota Seoul diselimuti kabut polusi udara, Korea Selatan [Foto: Unknown author (arsip 1988 Seoul Paralympic Games)/Wikimedia Commons CC BY-SA 3.0]

  • Data 1.671.826 pria Korea usia 19 tahun menunjukkan NO2 menaikkan odds miopia 1,262 kali
  • Efeknya lebih kuat untuk miopia tinggi, dengan odds ratio 1,354 kali
  • PM2.5 justru berasosiasi terbalik, kemungkinan karena keterbatasan data sejak 2015
  • Naskah menyebut prevalensi miopia Seoul 51,3 persen, sementara tabelnya sendiri mencatat 58,5 persen
Daftar Isi
  1. Kenapa Nitrogen Dioksida Paling Mencurigakan
  2. Bagaimana Gas Ini Menembus Permukaan Mata
  3. Jejak Dosis dari Kuartil Satu sampai Empat
  4. Mengapa Miopia Tinggi Lebih Rentan
  5. Ketika Data Wilayah Meredam Sinyalnya
  6. Partikel Halus yang Berjalan Berlawanan Arah
  7. Angka Seoul yang Tidak Sinkron di Dua Tempat

Remaja yang tumbuh di jalanan padat kendaraan lebih sering memakai kacamata dibanding yang tinggal di sudut kota yang lengang, dan penjelasan yang biasa dipakai—terlalu lama menatap layar, kurang bermain di luar—ternyata tidak cukup menutup celahnya. Sebuah data raksasa dari pemeriksaan wajib militer Korea Selatan menunjukkan udara yang dihirup remaja itu sendiri, bukan cuma kebiasaan mereka, ikut menentukan apakah mata mereka akan rabun jauh.

Penelitian ini ditulis Kyeongmin Kwak, Sun-Young Kim, dan Sangchul Yoon dalam Association between ambient air pollution and prevalence of myopia in Korean men, dimuat BMC Public Health volume 26, tahun 2026. Ketiganya berasal dari Korea University Ansan Hospital, National Cancer Center Graduate School of Cancer Science and Policy, dan Catholic University of Korea.

Objeknya bukan sampel kecil. Data mencakup 1.671.826 pria berusia 19 tahun yang tinggal di tujuh kota metropolitan—Seoul, Busan, Daegu, Incheon, Gwangju, Daejeon, dan Ulsan—yang menjalani pemeriksaan mata standar antara 2010 dan 2020. Setiap peserta punya catatan konsentrasi PM10, PM2.5, dan NO2 di distrik tempat tinggalnya selama tiga tahun sebelum pemeriksaan, disandingkan dengan status miopia yang diukur lewat alat refraksi yang sama untuk semua orang.

Dari populasi itu, 55,3 persen tercatat mengidap miopia dan 17,0 persen di antaranya masuk kategori miopia tinggi, angka yang menempatkan Korea Selatan di antara negara dengan beban miopia tertinggi di dunia. Skala data inilah yang membedakan penelitian ini dari kebanyakan studi sebelumnya, yang umumnya mengandalkan sampel beberapa ribu hingga puluhan ribu anak sekolah saja.

Kenapa Nitrogen Dioksida Paling Mencurigakan

Dari tiga polutan yang diperiksa, NO2 tampil paling konsisten. Setiap kenaikan satu rentang interkuartil konsentrasi NO2 berkaitan dengan odds miopia yang 1,262 kali lebih tinggi, dan angka itu melonjak jadi 1,354 kali untuk miopia tinggi—kategori paling parah, dengan ukuran refraksi ≤ -6,00 dioptri. PM10 juga positif tapi jauh lebih lemah, hanya menaikkan odds sekitar 4,5 persen untuk miopia keseluruhan. Persoalannya, PM2.5 justru berjalan ke arah berlawanan, seolah melindungi dari miopia.

NO2 sendiri bukan gas sembarangan. Ia dikenal sebagai penanda polusi lalu lintas—makin padat kendaraan bermotor di suatu distrik, makin tinggi konsentrasinya. Karena itu, temuan ini secara tidak langsung menunjuk kepadatan lalu lintas sebagai tersangka utama, bukan debu atau asap pembakaran dalam pengertian yang lebih umum seperti PM10 dan PM2.5. Kwak, Kim, dan Yoon mencatat bahwa asosiasi NO2 ini tetap bertahan meski model sudah disesuaikan dengan kepadatan penduduk, yang berarti gas itu bukan sekadar cara lain untuk mengukur seberapa padat sebuah kota.

Bagaimana Gas Ini Menembus Permukaan Mata

Yang membuatnya rumit adalah bagaimana gas yang dihirup lewat hidung dan mulut bisa berakhir mengubah bentuk bola mata. Kwak, Kim, dan Yoon merunut jalurnya lewat permukaan mata yang langsung bersentuhan dengan udara terbuka: paparan NO2 memicu peradangan konjungtiva, ketidakstabilan lapisan air mata, dan stres oksidatif yang mengganggu proses pembentukan kornea serta sklera. Mereka merujuk penelitian sebelumnya yang menemukan peningkatan kepadatan sel goblet konjungtiva secara bertahap seiring naiknya paparan NO2, sebuah tanda peradangan kronis yang bisa dilihat langsung di jaringan mata.

Bagaimana Gas NO2 Berujung MiopiaPaparan NO2 diikuti radang permukaan mata dan berkurangnya waktu di luar ruangan, berujung pada miopia terutama miopia tinggi.Bagaimana Gas NO2 Berujung MiopiaMekanisme yang diajukan dari paperPaparan NO2gas dari lalulintas kota padatRadang matastres oksidatif,sel mataKurang di luarwaktu luar ruangberkurangMiopiaterutamamiopia tinggiJalur ini disusun dari mekanisme yang diajukan penulis, bukan diukurlangsung pada tiap partisipan.
Sumber: Kyeongmin Kwak, Sun-Young Kim, dan Sangchul Yoon, Association between ambient air pollution and prevalence of myopia in Korean men, BMC Public Health, 26(1071), 2026. Grafik: Cekricek.id

Peradangan kronis semacam itu, menurut penulis, bisa memengaruhi pemanjangan aksial bola mata—proses fisik yang sebenarnya membuat mata jadi rabun jauh. Jalur keduanya bersifat perilaku: remaja di distrik dengan udara buruk cenderung mengurangi waktu di luar ruangan, entah karena kekhawatiran soal kualitas udara atau minimnya ruang terbuka hijau, sehingga kehilangan efek pelindung dari cahaya terang alami yang selama ini dikenal memperlambat pemanjangan mata.

Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak

Jejak Dosis dari Kuartil Satu sampai Empat

Ketika distrik dibagi menjadi empat kuartil berdasarkan konsentrasi NO2, pola dosis-responsnya rapi: dari kuartil terendah ke kuartil tertinggi, odds miopia naik bertahap, mencapai 1,356 kali lipat untuk miopia keseluruhan di kuartil keempat dibanding kuartil pertama. Untuk miopia tinggi, lonjakannya lebih tajam, sampai 1,480 kali lipat pada kuartil keempat. PM10 memperlihatkan pola yang jauh lebih kacau pada pembagian kuartil ini, bahkan berbalik arah menjadi asosiasi terbalik untuk miopia tinggi begitu variabel wilayah dimasukkan ke model.

Pola bertahap seperti ini penting karena ia menyingkirkan satu kemungkinan yang mengganggu: bahwa hubungan NO2 dan miopia hanya kebetulan statistik dari dua kelompok ekstrem. Kalau memang kebetulan, kenaikannya semestinya acak, bukan naik teratur mengikuti dosis paparan.

Mengapa Miopia Tinggi Lebih Rentan

Sepanjang analisis, pola yang berulang adalah miopia tinggi selalu bereaksi lebih keras terhadap NO2 dibanding miopia ringan. Kwak dan koleganya menafsirkan ini sebagai tanda bahwa polusi udara tidak berhenti pada memicu munculnya miopia, ia mungkin ikut mendorong keparahannya berlanjut ke tingkat yang lebih berat, bukan sekadar memunculkan gejala ringan yang stabil.

“NO2 exposure may therefore directly affect ocular development through oxidative stress and inflammation,” tulis Kyeongmin Kwak, Sun-Young Kim, dan Sangchul Yoon dalam naskah berbahasa Inggris itu. Kira-kira artinya, paparan NO2 karena itu bisa langsung memengaruhi perkembangan mata lewat stres oksidatif dan peradangan.

Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia

Ketika Data Wilayah Meredam Sinyalnya

Persoalan lain muncul saat penulis menambahkan variabel tingkat wilayah—kepadatan penduduk, prevalensi dermatitis atopik, pendapatan rata-rata, dan proporsi lansia—ke dalam model. Odds ratio NO2 untuk miopia tinggi turun dari 1,354 menjadi 1,181, dan untuk PM10, signifikansi terhadap miopia keseluruhan hilang sama sekali begitu variabel wilayah dimasukkan.

OR Miopia akibat NO2, Sebelum dan Sesudah Wilayah DisesuaikanMiopia tinggi 1,35 ke 1,18; Miopia keseluruhan 1,26 ke 1,15; Miopia ringan 1,23 ke 1,13.OR Miopia akibat NO2, Sebelum dan SesudahWilayah DisesuaikanOdds ratio per kenaikan IQR konsentrasi NO2Model individuModel + wilayah1,01,11,21,31,4Miopia tinggi1,181,35Miopia keseluruhan1,151,26Miopia ringan1,131,23OR di atas 1 berarti odds miopia lebih tinggi. Model wilayah menambahkepadatan penduduk, dermatitis atopik, pendapatan, dan proporsi lansia.
Sumber: Kyeongmin Kwak, Sun-Young Kim, dan Sangchul Yoon, Association between ambient air pollution and prevalence of myopia in Korean men, BMC Public Health, 26(1071), 2026. Grafik: Cekricek.id

Kwak, Kim, dan Yoon menduga penurunan ini bukan berarti efek polusi menghilang, melainkan overadjustment: sebagian variabel wilayah itu sendiri kemungkinan berada di jalur sebab-akibat antara polusi dan miopia, atau justru dipengaruhi oleh polusi jangka panjang di daerah itu. Karena itu, mereka memilih model yang hanya disesuaikan dengan variabel individu sebagai model utama, bukan model yang sudah ditambah variabel wilayah.

Partikel Halus yang Berjalan Berlawanan Arah

PM2.5 menjadi anomali dalam penelitian ini. Alih-alih menaikkan odds miopia seperti NO2 dan PM10, ia justru terus-menerus berasosiasi terbalik, menurunkan odds miopia tinggi hingga 0,955 kali. Penulis sendiri tidak menganggap ini sebagai efek pelindung yang sungguhan.

Data pemantauan PM2.5 secara nasional baru tersedia sejak 2015, sehingga analisisnya dibatasi pada peserta yang diperiksa antara 2018 dan 2020 saja—jendela waktu yang jauh lebih sempit dibanding NO2 dan PM10 yang terekam sejak 2001. Kwak dan koleganya menyimpulkan pola terbalik ini kemungkinan besar mencerminkan perancu temporal, bukan bukti bahwa partikel halus benar-benar melindungi mata dari rabun jauh.

Baca juga Sungai Batang Tembesi Keruh Dilukis dalam Kilau Senja

Angka Seoul yang Tidak Sinkron di Dua Tempat

Ada satu kejanggalan kecil yang bisa diperiksa siapa pun yang membuka naskah aslinya. Pada bagian narasi hasil, penulis menyebut prevalensi miopia di Seoul sebesar 51,3 persen. Namun tabel data pada makalah yang sama mencantumkan angka berbeda untuk kota itu: 415.662 dari 710.797 penduduknya mengidap miopia, yang kalau dihitung setara 58,5 persen, bukan 51,3 persen.

Selisih tujuh poin persentase itu tidak dijelaskan di bagian mana pun dalam naskah. Pembaca yang cermat bisa memeriksanya sendiri dengan membandingkan kalimat pada bagian hasil dan angka pada Tabel 1 secara berdampingan, tanpa perlu membuka rujukan lain di luar naskah itu.

Studi ini juga mengakui sejumlah keterbatasan yang membatasi seberapa jauh kesimpulannya bisa ditarik. Desainnya potong-lintang, sehingga urutan waktu antara paparan dan munculnya miopia tidak bisa dipastikan, dan paparan polusi hanya ditetapkan di tingkat distrik yang luas, bukan alamat tempat tinggal masing-masing peserta, sehingga sebagian orang bisa saja salah diklasifikasi paparannya. Data soal waktu bermain di luar ruangan, intensitas membaca dari jarak dekat, dan riwayat miopia orang tua juga tidak tersedia, padahal ketiganya dikenal luas ikut menentukan risiko miopia seseorang.

Yang tersisa dari studi berskala hampir dua juta orang ini bukan kepastian bahwa polusi udara menyebabkan miopia, melainkan sebuah pola yang cukup kuat dan berulang untuk sulit diabaikan. Gas dari lalu lintas kota, yang selama ini hanya dikaitkan dengan paru-paru dan jantung, tampaknya juga meninggalkan jejaknya di lensa mata generasi muda yang menghirupnya setiap hari.

Tag:
Bagikan

Baca Juga

Arsip Survei Kamboja: Tekanan Darah dan Kesenjangan Sekolah
Lampu Kelas Xinjiang Diduga Perlambat Miopia Anak Uighur
RFC 0,96, Tali Kuning Jawaban Utama Obat Malaria Suku Moi
Kekayaan Luruh, Desa dan Kota Tetap Beda soal Pencernaan
Dua Puluh Satu Tahun Diare Menular Beijing dan Ramalan 2025
Indeks Bahaya Balita Melonjak Saat Panel VOC Diperluas