Mabuk-Menyetir Pasif, Konsep Baru dari Data Bengaluru

A A

Petugas mendemonstrasikan tes napas alkohol (breathalyzer) dalam kuliah pencegahan mabuk-menyetir [Foto: Sgt. Nicholas Cox, U.S. Marine Corps/Wikimedia Commons Domain Publik]

  • 1,7% dari 11.468 penumpang di Bengaluru naik kendaraan yang disetir pelanggar mabuk-menyetir
  • Peluang jadi penumpang pasif mabuk-menyetir naik hampir 5 kali lipat pada pengguna sepeda motor (AOR 5,08)
  • BAC median pelanggar berpenumpang 63 mg/100ml, lebih dari dua kali batas hukum 30 mg/100ml
  • Peneliti usulkan istilah "mabuk-menyetir pasif", meniru konsep rokok pasif
Daftar Isi
  1. Mabuk-menyetir pasif, istilah pinjaman dari rokok pasif
  2. BAC, angka kecil yang menentukan status pelanggar
  3. Napas dua tahap, cara memisahkan dugaan dari kepastian
  4. AOR, angka yang mengoreksi bandingan sederhana
  5. Selang kepercayaan, batas yang mengukur seberapa yakin angka itu
  6. Intervensi berpusat penumpang, istilah yang belum punya bentuk hukum

Menumpang mobil bersama pengemudi yang sudah minum alkohol ternyata mirip duduk di ruangan penuh asap rokok orang lain: bahayanya menempel ke tubuh meski bukan tangan sendiri yang memegang gelas atau batang rokok itu. Istilah itu, passive drink-driving atau mabuk-menyetir pasif, dipakai sekelompok peneliti di Bengaluru, India, untuk menyebut penumpang yang ikut menanggung risiko kecelakaan seorang pengemudi mabuk, meski penumpang itu sendiri tidak menyentuh setir.

Istilah dan angkanya berasal dari Gautham Melur Sukumar, Nishit Patel, Sreedevi O N, Pallavi Muniraja, Priyanthi A V, Saleem M A, Anucheth M N, Pradeep B S, Ramendra Pratap Shukla, Smriti Ridhi, Gopalkrishna Gururaj, dan Abdulgafoor M Bachani dalam From drivers to passengers: concept of passive drink driving and need for passenger-centric interventions to reduce drink-driving in Bengaluru City, India, dimuat BMC Public Health volume 26, tahun 2026. Sebagian penulis bekerja di NIMHANS Bengaluru, bersama tim Johns Hopkins Baltimore.

Bahannya adalah 10.810 pengemudi dan pengendara yang dihentikan polisi Bengaluru sepanjang Maret 2023, di 48 wilayah hukum kepolisian, untuk tes napas alkohol acak dua tahap. Petugas lapangan lantas mencatat, lewat pengamatan langsung, berapa banyak penumpang duduk di kendaraan yang sama dan bagaimana ciri-cirinya, terpisah dari data pelanggaran yang dipegang polisi.

Konteks nasionalnya cukup besar. Sekitar 170.000 orang tewas dalam kecelakaan lalu lintas India pada 2023, dan 33 persen di antaranya penumpang. Laporan resmi hanya mengaitkan 1 sampai 2,5 persen dari kematian itu dengan mabuk-menyetir, padahal studi rumah sakit di berbagai wilayah India mencatat 10 sampai 30 persen pasien gawat darurat kecelakaan lalu lintas positif alkohol saat cedera.

Mabuk-menyetir pasif, istilah pinjaman dari rokok pasif

Passive drink-driving, atau mabuk-menyetir pasif, adalah keadaan seorang penumpang naik kendaraan yang disetir orang dengan kadar alkohol darah melebihi batas hukum. Peneliti sengaja meminjam istilah ini dari rokok pasif, yang selama ini dipakai untuk orang yang ikut menghirup asap tanpa pernah merokok sendiri. Bedanya begini: kalau rokok pasif soal udara yang dibagi, mabuk-menyetir pasif soal keputusan mengemudi yang dibagi.

Dari 10.810 kendaraan yang dihentikan, 5.624 di antaranya, atau 52 persen, punya sedikitnya satu penumpang selain pengemudi, dengan total 11.468 penumpang tercatat, termasuk 602 anak. Sebanyak 320 pengemudi terbukti melanggar batas alkohol. Dari situ, 201 penumpang, sekitar 1,7 persen dari seluruh penumpang, ternyata naik kendaraan yang disetir salah satu dari 320 pelanggar tadi.

Asesmen mabuk-menyetir Bengaluru, Maret 2023201 dari 11.468 penumpang naik kendaraan yang disetir pelanggar mabuk-menyetir.Asesmen mabuk-menyetir Bengaluru, Maret202348 wilayah hukum polisi, 10.810 pengemudi diuji napas10.810kendaraandiperiksadiuji napas acakdua tahap5.624kendaraanberpenumpang52% dari totalkendaraan11.468penumpangtercatattermasuk 602anak201penumpangterpapar1,7% naikkendaraanJalan risetnyaTes napas acak di 52jalanAmati kendaraan danpenumpangHitung proporsi terpaparPelanggar mabuk-menyetir = pengemudi dengan BAC di atas 30 mg per100 ml darah.
Sumber: Gautham Melur Sukumar, Nishit Patel, Sreedevi O N, Pallavi Muniraja, Priyanthi A V, Saleem M A, Anucheth M N, Pradeep B S, Ramendra Pratap Shukla, Smriti Ridhi, Gopalkrishna Gururaj, dan Abdulgafoor M Bachani, From drivers to passengers: concept of passive drink driving and need for passenger-centric interventions to reduce drink-driving in Bengaluru City, India, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

BAC, angka kecil yang menentukan status pelanggar

BAC, singkatan Blood Alcohol Concentration atau kadar alkohol darah, adalah angka yang dipakai hukum India untuk memisahkan pengemudi biasa dari pelanggar. Pasal 185 Undang-Undang Kendaraan Bermotor 1988 menetapkan batasnya 30 miligram per 100 mililiter darah. Maksudnya, begitu napas seseorang menunjukkan angka di atas itu, ia otomatis berstatus pelanggar mabuk-menyetir, berapa pun jarak dan tujuan perjalanannya.

Di antara 132 kendaraan yang disetir pelanggar dan membawa penumpang, BAC median tercatat 63 miligram per 100 mililiter, lebih dari dua kali lipat batas hukum. Nilai terendahnya 31 miligram, tertinggi 331 miligram. Seperempat pelanggar punya BAC di bawah 42,25 miligram, sementara seperempat lainnya di atas 100 miligram, artinya separuh penumpang yang terpapar justru duduk bersama pengemudi yang jauh melampaui ambang minimal pelanggaran.

Proporsi pelanggar juga berbeda menurut usia dan jenis kelamin pengemudi. Pengemudi 18 sampai 24 tahun mencatat proporsi 5,7 persen, jauh di atas kelompok 25 sampai 59 tahun yang 2,3 persen maupun kelompok 60 tahun ke atas yang 2,6 persen. Pengemudi perempuan tercatat 2,9 persen, sedikit lebih tinggi dari pengemudi laki-laki yang 2,3 persen, meski jumlah pengemudi perempuan dalam sampel jauh lebih sedikit.

Baca juga RPJMD Rajin Menulis Target, Hemat Menulis Capaian Lalu

Napas dua tahap, cara memisahkan dugaan dari kepastian

Tes napas dua tahap berarti setiap pengemudi ditiup dulu lewat alat skrining cepat; bila layar menyala merah tanda positif, barulah petugas menjalankan tes konfirmasi yang hasilnya dicatat sebagai BAC resmi. Bedanya begini: skrining hanya menandai kecurigaan, sedangkan konfirmasi memastikan angkanya. Alat yang dipakai, MSIPL A8080TC, adalah model yang sama dengan yang rutin dipegang polisi untuk penindakan sehari-hari.

Yang membuat penelitian ini berbeda dari catatan penindakan biasa adalah kehadiran petugas lapangan NIMHANS yang berdiri terpisah dari polisi, mengamati dan mencatat jumlah penumpang, usia anak, penggunaan sabuk pengaman, hingga pemakaian ponsel, tanpa ikut menjalankan tes napas. Pemisahan tugas ini yang membuat data penumpang bisa disandingkan dengan data pelanggaran tanpa saling memengaruhi pencatatan satu sama lain.

Proporsi terpapar pengemudi mabuk, empat negaraChile: Proporsi +50,2%; Washington DC, AS: Proporsi +29,7%; Bengaluru, India: Proporsi +2,5%; Amerika Serikat (nasional): Proporsi +2,2%.Proporsi terpapar pengemudi mabuk, empatnegaraDefinisi dan tahun tiap studi berbeda10%20%30%40%50%0Chile50,2%Washington DC, AS29,7%Bengaluru, India2,5%Amerika Serikat (nasional)2,2%Definisi dan tahun survei tiap studi berbeda; paper menyandingkannyasebagai pembanding kasar, bukan hasil metode yang sama.
Sumber: Gautham Melur Sukumar, Nishit Patel, Sreedevi O N, Pallavi Muniraja, Priyanthi A V, Saleem M A, Anucheth M N, Pradeep B S, Ramendra Pratap Shukla, Smriti Ridhi, Gopalkrishna Gururaj, dan Abdulgafoor M Bachani, From drivers to passengers: concept of passive drink driving and need for passenger-centric interventions to reduce drink-driving in Bengaluru City, India, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

AOR, angka yang mengoreksi bandingan sederhana

AOR, singkatan adjusted odds ratio atau rasio peluang yang disesuaikan, adalah angka yang membandingkan peluang dua kelompok setelah faktor lain seperti jumlah penumpang dalam kendaraan ikut diperhitungkan. Bedanya dengan bandingan mentah begini: bandingan mentah bisa saja keliru menuduh sepeda motor lebih berbahaya semata karena kebetulan lebih banyak diamati, sedangkan AOR sudah menyaring kemungkinan kebetulan semacam itu.

Hasil regresi menunjukkan peluang menjadi penumpang pasif mabuk-menyetir naik hampir lima kali lipat pada pengguna sepeda motor dibanding kendaraan lain, dengan AOR 5,08 pada selang kepercayaan 2,26 sampai 11,43. Sejalan dengan itu, 4,4 persen penumpang sepeda motor tercatat naik kendaraan pelanggar, jauh di atas rata-rata 1,7 persen seluruh penumpang. Peneliti sendiri mengakui jumlah sampel terlalu kecil untuk menarik simpulan yang lebih rinci dari regresi ini.

Truk juga menonjol pada sisi penumpang, bukan sisi pengemudi. Sebanyak 2,9 persen penumpang truk tercatat naik kendaraan pelanggar, urutan kedua setelah penumpang sepeda motor, meski proporsi truk yang disetir pelanggar sendiri hanya 1,8 persen. Selisih ini menunjukkan penumpang truk kerap terpapar lewat kendaraan yang jarang dicurigai sebagai kendaraan berisiko.

Baca juga Anggaran Gender Kota Padang Naik, Isinya Masih Formalitas

Selang kepercayaan, batas yang mengukur seberapa yakin angka itu

Selang kepercayaan, angka yang mengapit di sebelah persentase seperti 1,52 sampai 2,01 pada temuan 1,7 persen penumpang terpapar, adalah rentang yang paling mungkin memuat angka sebenarnya di populasi, bukan sekadar hasil satu sampel. Maksudnya, kalau asesmen ini diulang berkali-kali dengan cara sama, sebagian besar hasilnya akan jatuh di antara batas bawah dan batas atas itu, bukan meleset jauh.

Di sinilah pembaca gampang keliru. Angka 2,5 persen kendaraan berpenumpang yang disetir pelanggar terdengar kecil, jauh di bawah 50,2 persen yang dilaporkan studi Chile atau 29,7 persen di Washington DC. Namun India punya lebih dari 250 sampai 300 juta sepeda motor terdaftar, dan Bengaluru sendiri mencatat 26.371 kasus mabuk-menyetir pada 2022, setara 197 kasus per 100.000 penduduk. Persentase kecil dikalikan populasi sebesar itu tetap berarti banyak penumpang sungguhan.

Intervensi berpusat penumpang, istilah yang belum punya bentuk hukum

Selama ini, hukum dan penindakan mabuk-menyetir di India, termasuk kenaikan denda dari Rp seribu rupee menjadi sepuluh ribu rupee untuk pelanggaran pertama lewat amandemen 2019, seluruhnya menyasar pengemudi. Peneliti menyebut penumpang selama ini hanya diperlakukan sebagai korban sampingan, bukan kelompok berisiko tersendiri yang layak disasar kampanye maupun peraturan sendiri.

“Menarik analogi dari rokok pasif, kami merasa tepat menyebut risiko penumpang akibat pengemudi mabuk sebagai mabuk-menyetir pasif, yang secara operasional didefinisikan dalam studi ini sebagai penumpang yang bepergian bersama pelanggar mabuk-menyetir,” tulis Gautham Melur Sukumar dan rekan-rekannya, dari kalimat asli berbahasa Inggris we feel it is appropriate to refer to alcohol impaired passenger risk as passive drink-driving. Kutipan ini mengoreksi anggapan bahwa risiko di jalan cuma milik pengemudi.

Baca juga Harga Rumah Diramal sebagai Rentang, Bukan Satu Angka

Peneliti mengakui tidak melakukan uji keandalan antarpengamat karena sifat sensitif asesmen dan cara pengumpulan data yang mengandalkan pengamatan langsung, sehingga sebagian kemungkinan salah catat tidak bisa dipastikan besarnya. Desain lintas seksi yang hanya mengambil satu periode di Maret 2023 juga membuat angka ini belum tentu mewakili beban sesungguhnya sepanjang tahun, apalagi di tingkat nasional India.

Ada satu kejanggalan yang bisa diperiksa sendiri dari tabel yang dimuat naskah. Tabel sebaran penumpang menurut jenis kendaraan mencatat 6.179 di sedan, 330 di pikap, 236 di truk, 1.237 di SUV, 393 di kendaraan roda tiga, dan 1.296 di sepeda motor. Dijumlah, angka-angka itu hanya sampai 9.671 penumpang, selisih 1.797 dari total 11.468 penumpang yang disebut di bagian hasil, tanpa keterangan ke mana penumpang yang hilang dari tabel itu semestinya masuk.

Istilah mabuk-menyetir pasif, pada akhirnya, hanya berlaku untuk penumpang yang duduk di kendaraan bersama pelanggar berkadar alkohol di atas 30 miligram, dalam satu kota, selama satu bulan pengamatan. Ia tidak menjelaskan berapa dari penumpang itu yang kelak benar-benar celaka, atau berapa yang sadar risikonya sejak naik ke kursi penumpang. Batas itulah yang membuat sebuah nama baru, sekecil apa pun cakupannya, tetap perlu disebutkan dengan hati-hati.

Bagikan

Baca Juga

Remaja Keluarga Bercerai di Cina Lebih Rentan Kecanduan Internet
Kelembapan Terlalu Rendah atau Tinggi Naikkan Risiko Artritis
Layar Sebelum Usia Dua Tahun Terkait Skor Kembang Rendah
Gas NO2 dari Lalu Lintas Berkaitan dengan Miopia Pria Korea
Arsip Survei Kamboja: Tekanan Darah dan Kesenjangan Sekolah
Lampu Kelas Xinjiang Diduga Perlambat Miopia Anak Uighur