- Studi panel silang-lag pada 10.394 remaja Kabupaten Wuyuan, Cina, dua gelombang survei Juni 2024 dan Januari 2025
- Remaja keluarga bercerai catat penggunaan internet bermasalah, depresi, dan cemas lebih tinggi ketimbang keluarga menikah
- Kecemasan sosial jadi simpul paling berpengaruh di seluruh jaringan pada kedua kelompok dan kedua gelombang
- Pada keluarga bercerai, kecemasan sosial mengalir langsung ke harga diri negatif dengan bobot tertinggi, 0,198
Daftar Isi
Satu garis panah di jaringan gejala kelompok bercerai berbalik arah dari kelompok menikah. Tim di Universitas Shandong sudah mencocokkan ratusan tepi lain, dan sebagian besar searah, tetapi jalur dari “ketidakberdayaan” ke “kecemasan perpisahan” ini menolak sejajar. Pada remaja dari keluarga menikah, angkanya positif tipis, 0,004. Pada remaja dari keluarga bercerai, negatif, -0,004. Sebuah anomali kecil, hampir tak terlihat, yang justru mengarahkan tim untuk membaca ulang seluruh peta dua kelompok itu dari awal.
Peta itu berasal dari naskah Tingting Fang, Jialun Song, Zhangjie Hu, Li Jiang, Feng Zhuo, Ying Yang, dan Linghua Kong berjudul The association between parents’ marital status, problematic internet use, and negative emotions among Chinese adolescents: a cross-lagged panel network analysis, dimuat di BMC Public Health, volume 26, nomor artikel 2608, tahun 2026. Fang dan Song berbagi status penulis pertama, sementara Kong menjadi penulis korespondensi dari School of Nursing and Rehabilitation, Shandong University.
Sebelum garis yang berbalik itu ditemukan, ada 10.394 remaja yang harus dilacak dua kali. Gelombang pertama, Juni sampai Juli 2024, menjaring 19.249 kuesioner sah dari 25 SMP di Kabupaten Wuyuan, Provinsi Jiangxi. Enam bulan kemudian, hanya 10.394 dari mereka yang bisa ditemukan lagi dan mengisi kuesioner kedua, sebagian pindah sekolah, sebagian lulus, sebagian absen di hari survei. Dari yang bertahan itu, 1.624 remaja tercatat berasal dari keluarga bercerai atau tidak utuh, sisanya dari keluarga menikah.
Angka yang Sudah Berbeda Sejak Gelombang Pertama
Sebelum tim sampai ke jaringan gejala yang rumit, angka mentahnya sudah bicara. Remaja dari keluarga bercerai mencatat penggunaan internet bermasalah 21,6 persen pada gelombang pertama dan 25,6 persen pada gelombang kedua, dibanding 15,3 persen dan 16,5 persen pada remaja keluarga menikah. Pola serupa muncul di gejala depresi dan cemas.
Gejala depresi tercatat 35,2 persen pada gelombang pertama dan 30,1 persen pada gelombang kedua di kelompok bercerai, jauh di atas 23,1 persen dan 18,3 persen pada kelompok menikah. Gejala cemas juga lebih tinggi pada kelompok bercerai di kedua gelombang, meski selisihnya lebih tipis. Uji perbandingan struktur jaringan tidak menemukan beda signifikan antara dua kelompok, tetapi prevalensi mentah ini sudah menunjukkan jarak yang konsisten.
Di balik dua kelompok itu, karakteristik keluarganya juga berbeda jauh. Remaja keluarga bercerai lebih sering anak tunggal, 23,6 persen berbanding 8,8 persen pada keluarga menikah, dan lebih sering punya pengalaman ditinggalkan orang tua bekerja di luar kampung halaman selama lebih dari enam bulan berturut-turut, 58,6 persen berbanding 41,4 persen. Kondisi ekonomi keluarga yang tergolong kurang mampu juga jauh lebih banyak di kelompok bercerai, 14,5 persen berbanding 5,6 persen.
Gaya pengasuhan yang tercatat pun ikut berbeda. Pengasuhan lalai ada pada 9,7 persen keluarga bercerai, dibanding 3,9 persen keluarga menikah, sementara pengasuhan permisif 4,3 persen berbanding 2,1 persen. Performa akademik yang tergolong kurang juga lebih banyak di kelompok bercerai, 27,3 persen berbanding 20,9 persen. Semua perbedaan demografis ini tercatat signifikan secara statistik antara dua kelompok, mendahului seluruh analisis jaringan gejala yang disajikan pada bagian-bagian berikutnya dari naskah tersebut.
Baca juga Lima Warna Busana May Menandai Emosi di 27 Step of May
Simpul yang Tidak Pernah Berubah Posisi
Di tengah semua perbedaan itu, satu simpul tetap di puncak. Kecemasan sosial, diukur lewat subskala MASC, mencatat nilai pengaruh yang diharapkan tertinggi di seluruh jaringan pada kedua gelombang dan kedua kelompok: 1,237 pada keluarga menikah gelombang pertama, 1,225 pada keluarga bercerai gelombang pertama, lalu 1,207 dan 1,208 pada gelombang kedua. Tidak peduli status pernikahan orang tuanya, kecemasan sosial remaja Wuyuan selalu jadi simpul paling berpengaruh.
Asosiasi paling kuat di kedua jaringan juga sama: hubungan antara penarikan diri dari kehidupan sosial dan substitusi realitas lewat dunia daring, bobotnya berkisar 0,447 sampai 0,488 di keempat kombinasi kelompok dan gelombang. Remaja yang menarik diri dari pergaulan nyata, di keluarga menikah maupun bercerai, sama-sama condong mencari pengganti di layar.
Simpul penarikan diri dan masalah sosial itu punya peran lain: ia menjadi simpul dengan pengaruh masuk tertinggi di kedua kelompok, artinya paling banyak diprediksi oleh gejala-gejala lain pada waktu sebelumnya. Nilainya 0,823 pada keluarga menikah dan 0,637 pada keluarga bercerai. Korelasi pengaruh keluar maupun masuk antara kedua kelompok juga sangat kuat, masing-masing 0,897 dan 0,935, menandakan simpul-simpul sentral itu relatif serupa meski status keluarganya berbeda.
Panah yang Mengarah ke Harga Diri
Baru ketika tim membedah jaringan silang-lag, waktu ke waktu, perbedaan nyata muncul. Pada keluarga menikah, efek terkuat mengalir dari penarikan diri ke substitusi realitas, bobot 0,185, disusul kecemasan sosial ke suasana hati negatif, 0,181, lalu anhedonia ke harga diri negatif, 0,165. Pada keluarga bercerai, urutannya berubah: efek terkuat justru mengalir dari kecemasan sosial langsung ke harga diri negatif, bobot 0,198.
“Bagi remaja dari keluarga yang bercerai, keruntuhan struktur keluarga bisa dimaknai sebagai serangan langsung terhadap harga diri mereka,” tulis Fang, Song, dan rekan-rekan dalam naskah berbahasa Inggris itu. Harga diri negatif kemudian menjadi simpul dengan pengaruh keluar tertinggi di kedua kelompok, 0,896 pada keluarga menikah dan 0,888 pada keluarga bercerai, sekaligus simpul jembatan terkuat yang menyambungkan gejala penggunaan internet dengan emosi negatif pada kelompok bercerai.
Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak
Jembatan yang Berpindah Tangan
Jembatan itu tidak selalu dipegang simpul yang sama. Pada keluarga menikah, yang menjadi penghubung utama justru anhedonia, ketidakmampuan merasakan kesenangan, dengan nilai pengaruh jembatan 0,078 pada satu langkah. Pada keluarga bercerai, harga diri negatif mengambil alih peran itu dengan nilai 0,068. Tim menafsirkan hal ini sebagai dua jalan berbeda menuju penggunaan internet yang sama-sama bermasalah: kejenuhan emosional yang panjang pada keluarga utuh, luka harga diri yang tajam pada keluarga yang pecah.
“Individu yang mengalami kecemasan sosial atau kekurangan keterampilan sosial cenderung memilih sosialisasi daring dan menunjukkan penggunaan media sosial berlebihan sebagai strategi kompensatif untuk memenuhi kebutuhan sosial yang tidak terpenuhi,” tulis para penulis, juga diterjemahkan dari bahasa Inggris. Kalimat itu berlaku untuk kedua kelompok, tanpa membedakan status pernikahan orang tua.
Kedua peta jaringan itu sendiri diuji berulang lewat pengambilan sampel ulang seribu lima ratus kali. Hasilnya stabil: koefisien stabilitas untuk pengaruh keluar sama-sama 0,75 pada kedua kelompok, sedangkan pengaruh masuk sedikit lebih goyah pada kelompok bercerai, 0,44 berbanding 0,67 pada kelompok menikah. Perbedaan itu wajar mengingat jumlah remaja dari keluarga bercerai jauh lebih sedikit, 1.624 berbanding 8.770, sehingga taksiran pada kelompok kecil itu memang punya rentang ketidakpastian lebih lebar.
Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia
Garis yang Tetap Menolak Sejajar
Fang, Song, dan rekan-rekan membatasi sendiri klaim mereka. Data dikumpulkan lewat laporan diri yang rentan bias sosial-desirabilitas, sampel hanya mencakup satu kabupaten di Provinsi Jiangxi sehingga sulit digeneralisasi, dan status pernikahan orang tua hanya dipilah biner, menikah atau bercerai, tanpa menangkap variasi dinamika keluarga di dalam masing-masing kelompok.
Naskah ini juga menyimpan kejanggalan yang bisa diperiksa pembaca sendiri. Pada bagian yang membahas arah tepi ketidakberdayaan ke kecemasan perpisahan, dua kalimat penyangkalan diri muncul nyaris identik berturut-turut: satu berbunyi hasil itu “tetap spekulatif dan perlu direplikasi,” kalimat berikutnya mengulang hampir kata demi kata bahwa hasil itu “tetap sangat spekulatif dan perlu direplikasi.” Pengulangan itu ada di paragraf yang sama, di bagian perbedaan status pernikahan orang tua dalam jaringan gejala.
Garis yang berbalik arah di awal tadi tetap ada sampai akhir naskah, tidak pernah dijelaskan tuntas. Bobotnya kecil, nyaris nol, dan tim sendiri berulang kali mengingatkan pembaca untuk tidak membacanya terlalu jauh. Namun di antara ratusan tepi yang searah, satu yang menolak sejajar itu tetap tercatat, seperti retakan kecil yang dibiarkan terbuka di peta yang sebagian besar sudah rapi.















