- Lima warna busana tokoh May dalam 27 Step of May dibaca sebagai penanda perubahan emosi.
- Seragam putih pada adegan 12 bergeser makna dari kesucian menjadi simbol trauma.
- Repetisi pakaian yang sama dibaca sebagai tanda kondisi psikologis yang berhenti bergerak.
- Puncaknya adegan 243 di menit 107 detik 15: dress biru dengan ikat pinggang coklat.
Daftar Isi
Menit seratus tujuh lewat lima belas detik, May memeluk bapaknya. Ia mengenakan dress biru dengan ikat pinggang coklat, dan itu satu-satunya kali sepanjang film warna di tubuhnya berpindah sejauh itu. Adegan tersebut bernomor 243 di dalam naskah penelitinya. Tiga peneliti dari Padang Panjang menghitungnya sebagai puncak perubahan emosi tokoh itu, dan yang mereka hitung bukan dialognya.
Mira Susanti, Zainal ABidin, dan Vicia Dwi Prakarti DB menulis pembacaan itu dalam Warna Wardrobe sebagai Perubahan Emosi May Dalam Film 27 Step of May Karya Ravi Bharwani, terbit di Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni, 8(2), 2025. Ketiganya berasal dari Program Studi TV dan Film, Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Yang mereka telusuri adalah lima warna busana yang dipakai tokoh May.
Film karya Ravi Bharwani itu menempatkan May sebagai perempuan muda yang hidup bersama trauma sesudah mengalami kekerasan seksual. Ia hampir tidak berbicara. Naskah penelitian mencatat bahwa minimnya dialog dan interaksi verbal digantikan kekuatan visual melalui kostum, sehingga pemahaman penonton terhadap kondisi mental tokoh dibentuk oleh apa yang dipakainya, bukan oleh apa yang diucapkannya.
Lima warna yang dikaji adalah putih, kuning, abu-abu, biru, dan coklat. Ketiganya menyimpulkan bahwa kelima warna itu tidak muncul secara kebetulan. “Warna wardrobe dalam 27 Step of May bukan sekadar pilihan estetik tetapi merupakan perangkat naratif yang strategis. Setiap warna membawa makna psikologis dan memperkuat kondisi emosional tokoh May,” tulis ketiga peneliti itu pada bagian kesimpulan naskahnya.
Seragam putih yang berhenti berarti kesucian di tengah film
Pada menit kedua lewat lima puluh empat detik, May muncul dengan seragam sekolah putih. Adegan itu bernomor 12. Warna putih di sana dibaca sebagai lambang kesucian dan kepolosan, warna yang paling lazim dipakai untuk menandai seorang anak sekolah yang belum mengalami apa pun. Peneliti menaruhnya sebagai titik awal.
Kemudian peristiwa itu terjadi, dan putih yang sama berubah arti. Naskah mencatat pergeseran itu dengan tenang: warna yang semula melambangkan kesucian dan kepolosan berubah makna menjadi simbol trauma sesudah kekerasan terjadi. Seragam itu tidak diganti, tidak dikotori, tidak diberi tanda apa pun di layar. Yang berpindah hanyalah cara penonton membacanya.
Temuan ini yang membuat pembacaan warna dalam film itu tidak bisa dibuat menjadi daftar tetap. Satu warna yang sama bisa menyimpan dua makna berlawanan, tergantung pada adegan mana ia muncul dan pada kondisi batin tokoh saat itu. Peneliti menyebutnya pergeseran makna sesuai konteks adegan dan kondisi batin tokoh. Putih adalah satu-satunya warna dalam kajian itu yang mendapat dua makna sekaligus.
Kuning yang tidak pernah terasa ceria di rumah itu
Warna berikutnya datang dalam bentuk dress kuning, dipakai May ketika ia mendapat tekanan dari ayahnya. Di luar film, kuning hampir selalu diasosiasikan dengan keceriaan dan energi. Di dalam film ini, menurut pembacaan ketiga peneliti, kuning justru dipakai untuk memperlihatkan kecemasan, ketidaknyamanan, dan kegelisahan batin tokohnya. Warna itu dipakai melawan arah kebiasaannya sendiri, dan justru di situ kerjanya terasa.
Adegan May dipaksa keluar oleh bapaknya tercatat bernomor 44, pada menit keempat belas lewat sembilan detik. Rumah itu menjadi ruang tempat tekanan berlangsung, dan warna paling cerah di lemari May justru muncul di sana. Kontras itu yang dicatat penelitinya sebagai pilihan sadar, bukan kebetulan pemilihan kostum. Yang cerah di kain tidak selalu cerah di tubuh yang memakainya.
Abu-abu bekerja dengan cara yang lebih lurus. Warna itu muncul ketika May menyendiri di kamar atau berjalan menyusuri lorong rumah yang gelap, dan dibaca sebagai kekosongan serta ketidakpastian yang membalut tokoh itu. Tidak ada kejutan di dalamnya. Abu-abu melakukan persis apa yang diharapkan dari abu-abu, dan justru kelurusan itu yang membuatnya menjadi latar tetap bagi tiga warna lain yang bergerak.
Baca juga Kerah Kebaya Labuh Riau Naik ke Enam Busana Pastel
Lemari yang nyaris tidak pernah dibuka lagi sepanjang film
Di luar lima warna itu, ada temuan yang lebih sunyi. Sepanjang film, May tidak banyak mengganti pakaiannya. Pakaian yang sama atau sangat mirip dipakai berulang kali dalam berbagai adegan, dan ketiga peneliti membacanya sebagai keputusan artistik, bukan kelalaian produksi. Pengulangan itu menandai kondisi psikologis yang berhenti bergerak, sebuah keadaan yang tidak bisa disampaikan lewat pergantian busana.
“Repetisi ini menjadi simbol bahwa May terjebak dalam waktu, seakan tidak bisa bergerak maju dari masa lalu yang menyakitkan,” tulis Mira Susanti, Zainal ABidin, dan Vicia Dwi Prakarti DB pada bagian pembahasan. Bahkan ketika ada sedikit perubahan gaya berpakaian, warna yang dipakai tetap berada dalam spektrum yang murung dan tidak mencolok.
Pembacaan itu ditopang keterangan dari luar layar. Peneliti mewawancarai Abam Jufen, asisten kostum film tersebut, yang menurut naskah menyatakan bahwa pemilihan wardrobe yang terbatas adalah cara menunjukkan ketidakstabilan emosi dan keterikatan pada trauma masa lalu. Keterangan itu ditulis sebagai parafrase di dalam naskah, tanpa kalimat langsung dari yang bersangkutan, dan menjadi satu-satunya sumber dari dalam produksi film yang dipakai ketiga peneliti.
Maka pakaian yang berulang itu berfungsi dua arah sekaligus. Secara fisik tokohnya berpindah dari satu adegan ke adegan lain, menyusuri rumah, halaman, dan ruang-ruang lain. Secara emosional ia tetap berada di tempat yang sama. Naskah menyebut repetisi wardrobe sebagai visualisasi dari perasaan tidak berubah dan luka batin yang belum sembuh.
Baca juga Rumah Bolon Jadi Gaun, Atap Segitiganya Naik ke Bahu
Biru dan coklat yang baru datang menjelang menit terakhir
Biru baru muncul menjelang akhir film. Warna itu hadir ketika May mulai membangun relasi dengan pesulap, dan dibaca sebagai isyarat ketenangan serta proses pemulihan. Coklat datang beriringan, lewat jaket, ikat pinggang, dan aksesoris, menandai kehangatan, keterbukaan, dan kepercayaan yang tumbuh terhadap orang lain. Dua warna itu tidak pernah muncul di paruh awal film, dan kedatangannya terlambat bukan tanpa alasan.
Pada menit seratus lima lewat dua puluh detik, adegan bernomor 238, May menangis dan dipeluk pesulap yang mengenakan jaket hitam. Dua menit kemudian di layar, pada adegan 243, May memeluk ayahnya dengan dress biru dan ikat pinggang coklat. Jarak antara dua pelukan itu kurang dari tiga menit film.
Kombinasi dua warna pada adegan terakhir itu yang dibaca sebagai penutup perjalanan batin tokohnya. Biru menghadirkan kesan damai dan rasional, sementara coklat menggambarkan perasaan hangat, keterikatan, dan kenyamanan emosional. Keduanya bertemu di satu tubuh, dalam satu adegan, tanpa satu kalimat dialog pun yang menyatakan perubahan itu. Naskah menyebutnya keberhasilan film menyampaikan perubahan emosi tanpa pernyataan eksplisit.
Ketiga peneliti menutup naskahnya dengan menempatkan kostum sejajar dengan unsur film lain. “Desain wardrobe tidak bisa dipandang sebagai elemen sekunder, melainkan menjadi bagian integral dari narasi visual,” tulis mereka. Kesimpulan itu disandarkan pada satu film, satu tokoh, dan satu genre drama psikologis saja, sehingga belum bisa diperlakukan sebagai kaidah umum bagi kostum dalam film Indonesia.
Batas itu diakui sendiri di bagian akhir naskah. Ketiganya menyarankan penelitian lanjutan dengan pendekatan kuantitatif untuk mengukur persepsi penonton terhadap simbolisme warna, penelitian lintas budaya karena persepsi warna dapat berbeda antarlatar budaya penonton, serta eksplorasi genre lain seperti horor atau fantasi untuk melihat peran warna dalam membangun atmosfer dan karakterisasi tokohnya.
Baca juga Monumen Bundo Kanduang Sijunjung dan Empat Warnanya
Beberapa hal yang bisa diperiksa sendiri di dalam naskahnya
Nama penulis pertama tidak sama di dua tempat. Di baris nama pengarang halaman pertama tertulis Mira Susanti, sedangkan pada kepala halaman yang berulang di sepanjang naskah dan pada baris sitasi mandirinya tertulis Masriyan. Alamat surel penulis pertama yang dicantumkan di halaman yang sama memakai kata masriyan. Selisih itu tidak pernah dijelaskan.
Jumlah adegan juga berbeda antarbagian. Naskah menyatakan analisis difokuskan pada 14 adegan kunci yang menunjukkan dinamika emosional tokoh May. Pada bagian hasil, hanya empat adegan yang benar-benar dirinci lengkap dengan nomor dan waktunya, yakni adegan 12, 44, 238, dan 243. Sepuluh sisanya tidak pernah didaftar, tidak diberi nomor, dan tidak muncul dalam bentuk tabel mana pun di dalam naskah.
Hal ketiga ada di abstraknya. Di sana disebutkan warna wardrobe menjadi penanda emosi seperti takut, sedih, marah, cinta, hingga menerima, lima emosi sekaligus. Pembahasannya menguraikan putih untuk trauma, kuning untuk kecemasan, abu-abu untuk kekosongan, biru untuk ketenangan, dan coklat untuk kepercayaan. Warna untuk marah dan cinta tidak pernah diuraikan.
Ada pula baris hak cipta di halaman pertama yang tertulis dengan huruf di tengah angka tahunnya, sementara kaki halaman lain konsisten menulis 2025. Paragraf tentang biru dan coklat muncul dua kali hampir persis pada bagian pertama pembahasan. Semuanya bisa dicek baris per baris oleh pembaca naskahnya, tanpa perlu menonton ulang filmnya terlebih dahulu.
Di menit seratus tujuh lewat lima belas detik itu, yang berpindah pada tubuh May hanyalah dua warna kain. Sebelumnya ada putih yang berganti arti, kuning yang tidak pernah ceria, dan abu-abu di lorong rumah yang gelap. Pelukan itu berlangsung tanpa kalimat. Yang tersisa di layar adalah biru dan coklat, dan film pun selesai di sana.














