Lima Kaidah Budaya dalam The Architecture of Love

A A

Ilustrasi Gedung Flatiron di persimpangan jalan Kota New York. [Foto: Pexels]

Daftar Isi
  1. Human Nature: Menilai Orang atau Menilai Perbuatan
  2. Man-Nature: Gedung yang Diperlakukan seperti Saksi
  3. Time Orientation: Masa Lalu yang Belum Dilepas
  4. Collateral: Pulih karena Ada Orang Lain

Cekricek.id — Ketika seseorang berkata kepada kawannya yang sedang hancur bahwa hidup bukanlah hukuman melainkan kesempatan, ia sedang memakai satu kaidah yang di dalam antropologi punya nama panjang: orientasi hakikat manusia. Istilahnya terdengar jauh dari percakapan sehari-hari. Isinya sama sekali tidak jauh. Kaidah itu hanya menanyakan satu hal, yaitu apakah sebuah masyarakat memandang manusia pada dasarnya baik, pada dasarnya buruk, atau campuran keduanya. Dan jawaban atas pertanyaan itu ikut menentukan kalimat apa yang keluar ketika ada orang jatuh.

Nehemia Anugrah Parasian dan Alemina Br. Perangin-angin dari Magister Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara, memakai kaidah itu beserta empat kaidah sejenis untuk membaca sebuah film Indonesia. Artikel mereka, Representation of Cultural Values in the Film The Architecture of Love (2024) in the View of Kluckhohn and Strodtbeck, terbit di jurnal Metahumaniora Volume 15 Nomor 2 tahun 2025, halaman 117 sampai 128. Yang mereka kerjakan bukan menilai bagus atau tidaknya film itu, melainkan membongkar nilai apa yang menempel pada dialog dan pilihan hidup tokohnya.

Filmnya barangkali sudah dikenal pembaca. The Architecture of Love tayang pada 30 April 2024, disutradarai Teddy Soeriaatmadja, ditulis Alim Sudio, dan diangkat dari novel laris Ika Natassa berjudul sama. Putri Marino memerankan Raia Risjad, penulis yang sedang mampat sesudah pernikahannya kandas, dan Nicholas Saputra memerankan River Jusuf, arsitek yang ia temui di New York. Latarnya kota itu, lengkap dengan Flatiron Building, Central Park, dan Montauk Point yang berkali-kali muncul sebagai penanda tempat.

Kerangka yang dipakai kedua peneliti datang dari Florence Kluckhohn dan Fred Strodtbeck, yang pada 1961 mengusulkan bahwa tiap kebudayaan menjawab lima pertanyaan dasar: bagaimana manusia dinilai, bagaimana manusia berhadapan dengan alam, ke arah mana waktu dihadapkan, kegiatan seperti apa yang dianggap berharga, dan bagaimana orang menempatkan diri di antara orang lain. Untuk tiap pertanyaan tersedia tiga jawaban, dan sebuah masyarakat biasanya condong ke salah satunya tanpa membuang dua sisanya. Kelima pasang jawaban itulah yang disebut orientasi nilai budaya.

Kerangka setua itu jarang dipakai pada film Indonesia, dan di situ kedua peneliti menempatkan diri. Mereka menyebut Yan dan Li, yang pada 2021 membandingkan nilai budaya Cina dan Amerika Serikat tanpa memakai kerangka tertentu, serta Seracini yang pada 2023 menelusuri metafora nilai Amerika dalam film lewat analisis korpus. Dinihari dan koleganya pada 2021 membaca nilai budaya Jawa dalam sebuah film, tetapi bacaannya tematik. Yang belum ada, tulis mereka, adalah penerapan kerangka Kluckhohn pada narasi film Indonesia.

Human Nature: Menilai Orang atau Menilai Perbuatan

Ilustrasi dua orang berbincang di bangku kayu sebuah taman.
Ilustrasi dua orang berbincang di bangku kayu sebuah taman. [Foto: Pexels]

Tiga kemungkinan untuk pertanyaan pertama, dalam istilah aslinya, adalah evil, good, dan mixed. Diterjemahkan ke pengalaman sehari-hari, ini soal apa yang orang katakan kepada seseorang yang baru saja melakukan kesalahan besar. Ada keluarga yang menganggap kesalahan itu menempel seumur hidup dan menjadikannya bahan pengingat bertahun-tahun. Ada yang menganggapnya satu episode yang akan lewat. Perbedaan sikap itu, menurut kerangka Kluckhohn, bukan perbedaan watak perorangan melainkan perbedaan nilai yang diwarisi bersama-sama.

Baca juga Fandom Konser Selawat dan Kerja Para Penggemarnya

Di dalam film, dua sikap tadi ditaruh berhadapan pada satu adegan yang sama. River kehilangan istri dan anaknya dalam kecelakaan mobil, lalu menyimpulkan dirinya sendiri sebagai penyebabnya. Pada dialog yang dikutip kedua peneliti, ia menyebut dirinya pembunuh dan mengatakan seharusnya dialah yang mati. Kalimat itu dibaca sebagai contoh orientasi manusia pada dasarnya buruk: satu peristiwa dianggap menentukan nilai moral seseorang untuk seterusnya, tanpa jalan kembali, tanpa ruang untuk diperbaiki.

Jawaban Raia berdiri di kutub lain. Dialog yang ia ucapkan pada adegan itu berbunyi, “Kau bertahan hidup bukanlah hukuman, melainkan kesempatan. Untuk terus hidup.” Di adegan lain ia mengatakan kepada River bahwa kesediaan menunjukkan kerapuhan justru satu bentuk keberanian, dan tidak banyak laki-laki sanggup melakukannya. Menurut analisis kedua peneliti, kalimat-kalimat itu memuat pandangan bahwa manusia pada dasarnya baik, bahwa rasa bersalah tidak otomatis membuat seseorang jahat, dan bahwa ia tetap layak atas harga dirinya.

Contoh sehari-hari tadi mulai meleset pada kemungkinan ketiga. Ketika Raia bicara tentang bekas suaminya yang berselingkuh pada malam kariernya menanjak, ia tidak menyimpulkan semua laki-laki serupa. Larik dialognya pendek: “Tapi tidak semua laki-laki begitu.” Kedua peneliti menggolongkannya sebagai orientasi campuran, yaitu manusia sanggup baik dan sanggup buruk bergantung keadaan. Artinya satu film bisa memuat tiga jawaban sekaligus untuk satu pertanyaan, dan itu yang luput kalau pertanyaannya cuma kebudayaan mana yang optimistis.

Man-Nature: Gedung yang Diperlakukan seperti Saksi

Pertanyaan kedua Kluckhohn lazim diterjemahkan sebagai hubungan manusia dengan alam, dengan tiga pilihan: menguasai, hidup selaras, atau tunduk. Di film ini yang berdiri di tempat alam bukan hutan atau laut, melainkan kota beserta bangunannya. Kedua peneliti memindahkan pertanyaan itu ke arsitektur New York, lalu bertanya apakah para tokohnya memperlakukan bangunan sebagai benda mati yang boleh diapakan saja, atau sebagai sesuatu yang menyimpan riwayat orang-orang sebelumnya.

Buktinya berupa dialog. River, si arsitek, mengatakan bahwa setiap bangunan punya cerita. Di tepi laut dekat sebuah mercusuar, ia menjelaskan bahwa mercusuar memberi arah supaya kapal tidak tenggelam atau menabrak karang. Di Grand Central Terminal ia membawa Raia ke sudut bernama Whispering Gallery, tempat bisikan dari satu ujung terdengar jelas di ujung yang lain karena lengkung langit-langitnya. Ketiga adegan itu memakai bangunan sebagai lawan bicara, bukan sebagai latar yang diam.

Baca juga Ketika Petani dan Nelayan Hanya Jadi Penerima Harga

Ketiganya, menurut pembacaan kedua peneliti, jatuh pada pilihan hidup selaras. Mercusuar dibangun karena manusia mengakui ada bahaya yang tidak bisa ia hilangkan. Whispering Gallery bukan gejala yang diciptakan, melainkan gejala akustik yang dibiarkan lalu dirayakan. Bandingkan dengan pilihan menguasai dalam kerangka yang sama, yang akan tampak sebagai lanskap yang dirombak habis demi kehendak manusia, atau dengan pilihan tunduk, yang akan menampilkan tokoh yang pasrah pada tempatnya. Film ini tidak menawarkan keduanya.

Time Orientation: Masa Lalu yang Belum Dilepas

Orientasi waktu menanyakan ke mana sebuah kebudayaan menghadapkan wajahnya: ke masa lalu, ke masa kini, atau ke masa depan. Dalam bahasa sehari-hari, ini beda antara keluarga yang mengukur segala hal dengan cara orang tua dahulu dan keluarga yang selalu bicara rencana lima tahun. Kedua peneliti menemukan ketiganya hadir di film ini, dan bukan pada tokoh yang berbeda-beda, melainkan pada tokoh yang sama pada saat yang berbeda.

River membuka bagian ini. Salah satu dialognya menyatakan kenangan buruk sanggup menghantui seumur hidup dan orang tidak pernah tahu kapan ia mampu melepaskan masa lalu. Kedua peneliti membacanya sebagai orientasi masa lalu yang menghambat, bahkan menghalangi terbentuknya hubungan baru. Erin, sahabat Raia, berdiri di seberangnya lewat kalimat ringan tentang penulis yang paling terilhami ketika sedang jatuh cinta. Kalimat itu digolongkan sebagai orientasi masa depan, meski dibungkus canda.

Pertanyaan keempat Kluckhohn, tentang kegiatan yang dianggap berharga, bergerak seiring pertanyaan ketiga di film ini. Istilahnya being, being-in-becoming, dan doing: menikmati keadaan, bertumbuh, atau mengerjakan sesuatu yang terukur hasilnya. Raia yang lari ke New York dibaca sebagai being-in-becoming, sedangkan Raia yang merayakan lima cerita pendek yang selesai dibaca sebagai doing. Erin, yang menyuruh sahabatnya menikmati nasi goreng dan berhenti menghitung, mewakili being.

Baca juga Hutan Nagari Halaban dan Ladang di Kawasan Lindung

Kalimat Raia tentang hidup sebagai kesempatan tadi ternyata dihitung dua kali: sekali pada orientasi hakikat manusia, sekali lagi pada orientasi waktu. Di sinilah salah paham yang paling sering muncul dikoreksi. Kelima orientasi itu bukan lima kotak terpisah tempat adegan disortir satu-satu. Nilai budaya, tulis Nehemia dan Alemina pada bagian penutup, “tidak statis, melainkan dinamis, dialami secara pribadi, dan terus-menerus dibentuk lewat interaksi sehari-hari para tokohnya.”

Collateral: Pulih karena Ada Orang Lain

Pertanyaan kelima punya tiga pilihan yang namanya asing semua: lineal, collateral, dan individualistik. Terjemahan pendeknya begini. Lineal berarti keputusan mengikuti garis atas-bawah, umumnya kepada yang dituakan. Individualistik berarti orang memutuskan sendiri untuk dirinya sendiri, dan keberhasilan diukur perorangan. Collateral berarti keputusan dan pemulihan berjalan lewat lingkaran sebaya serta keluarga dekat, yakni orang-orang yang kedudukannya setara dan hadir setiap hari.

Orientasi collateral inilah yang paling menonjol sepanjang film, dan buktinya bukan satu adegan melainkan rangkaian. Erin mendesak Raia berhenti melamun di taman dan membuka diri pada lingkungan barunya di New York. Aga membawa Raia ke tempat yang penting bagi River karena, dalam dialognya, ia tidak ingin melihat abangnya terus bersedih dan percaya kenangan baru bisa menolong. Ibu River menyatakan ia berdoa supaya anaknya sanggup memaafkan dirinya sendiri.

Bandingkan dengan cerita pemulihan yang berorientasi individualistik, yang akan menempatkan tokohnya sembuh sendiri lewat keputusan pribadi dan kerja keras yang ditanggung sendirian. Film ini tidak berjalan ke sana. Kebangkitan Raia sebagai penulis, yang ia rayakan sesudah menuntaskan lima cerita pendek, justru datang menyusul rangkaian dorongan dari orang lain. Relasi, kata kedua peneliti, adalah kekuatan utama yang menggerakkan perkembangan tokoh sekaligus penyelesaian konfliknya.

Batas kajian ini perlu disebut. Analisisnya bertumpu pada tafsir atas adegan dan dialog, dan kedua peneliti mengakui tafsir semacam itu rawan bias, sehingga mereka menempuh triangulasi dengan ulasan film serta pustaka lain untuk menekannya. Tidak ada penonton yang diwawancarai, dan tidak ada ukuran seberapa jauh nilai itu benar-benar sampai. Satu film juga bukan sinema Indonesia, dan tokoh yang dibaca di sini kelas menengah atas yang hidupnya berpindah antara Jakarta dan New York.

Istilah teknis tadi, pada akhirnya, cuma alat penunjuk. Orientasi nilai budaya sanggup memberi nama pada apa yang terjadi di sebuah adegan, kenapa satu kalimat terdengar meneguhkan sementara kalimat lain terdengar menghakimi. Ia tidak menjelaskan mengapa penonton menangis pada adegan yang satu dan diam pada adegan yang lain. Untuk pertanyaan itu, nama panjangnya belum menolong.

Bagikan

Baca Juga

Lima Warna Busana May Menandai Emosi di 27 Step of May
Perlawanan Diam Perempuan di Sinema Minangkabau
Tungku Tigo Sajarangan dalam Film Onde Mande
Tujuh Cara Laki-laki Menyokong Perempuan di Hidden Figures
27 Tuturan Raka dalam Sidang Film Keadilan
Kutukan yang Tak Pernah Terbukti di Layar Film Lakuna