Tujuh Cara Laki-laki Menyokong Perempuan di Hidden Figures

A A

Ilustrasi seorang perempuan menuliskan deretan rumus matematika dengan kapur pada papan tulis hijau yang penuh coretan. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Ketika seorang insinyur memberi tahu perempuan yang bekerja sebagai penghitung angka bahwa ada satu kursi kosong di program pelatihan insinyur, ia sedang melakukan hal yang dalam kajian gender punya nama sendiri: male allyship, keberpihakan laki-laki kepada perempuan di tempat kerja. Percakapan itu berlangsung pada menit ke-15 film Hidden Figures. Insinyur itu Karl Zielinski, perempuan itu Mary Jackson, dan keduanya berdiri di bawah badan pesawat luar angkasa.

Adegan itu satu dari tujuh bentuk keberpihakan yang dicatat I Gusti Ayu Mahatma Agung dan Ni Luh Sutjiati Beratha, dua peneliti Universitas Udayana, dalam artikel Male allyship contributing to women’s empowerment in Hidden Figures. Tulisan itu dimuat jurnal LITERA Volume 24 Nomor 3, terbitan November 2025, halaman 187 sampai 200. Keduanya membaca ulang film produksi 2016 tersebut bukan untuk mencari penindasan, melainkan untuk mencari sokongan.

Pilihan itu berlawanan arah dengan kebiasaan. Empat penelitian sebelumnya yang mereka sebut, mulai dari Sari dan kawan-kawan pada 2022 sampai Amanda dan kawan-kawan pada 2024, sama-sama membedah Hidden Figures sebagai kisah diskriminasi ganda: ras dan gender. Yulisnawati dan Kurniati pada 2023 bahkan merinci bentuknya di dalam film: upah yang tidak setara, jalur kenaikan pangkat yang tertutup, dan pemisahan fasilitas. Semuanya berhenti pada perempuan sebagai korban. Agung dan Beratha memilih menggeser kamera ke arah laki-laki yang membuka pintu.

Daftar Isi
  1. Sponsorship, atau Menyebut Nama Seseorang di Ruangan yang Tepat
  2. Pushback, atau Penolakan yang Dijawab dengan Fakta
  3. D.E.I., atau Kekeliruan tentang Menurunkan Standar
  4. Positive Masculinity, atau Kekuatan yang Tidak Merasa Terancam

Sponsorship, atau Menyebut Nama Seseorang di Ruangan yang Tepat

Ilustrasi seorang perempuan berbaju merah muda berbincang dengan seorang lelaki di lorong kantor berjendela.
Ilustrasi seorang perempuan berbaju merah muda berbincang dengan seorang lelaki di lorong kantor berjendela. [Foto: Pexels]

Dua kata sering ditukar dalam percakapan kantor: mentorship dan sponsorship. Yang pertama berarti membimbing, menasihati, membagi pengetahuan supaya seseorang berkembang. Yang kedua berarti menyebut nama orang itu ketika ia tidak ada di ruangan, merekomendasikannya untuk sebuah posisi, dan menghubungkannya dengan jaringan yang tidak bisa ia jangkau sendiri. Agung dan Beratha memakai kerangka Burrell dan Morin terbitan 2025 untuk memisahkan keduanya.

Perbedaan itu kelihatan di adegan menit ke-15 sampai ke-16. Zielinski bukan hanya memuji Mary. Dialog film itu berbunyi, “Mary, a person with an engineer’s mind should be an engineer. You can’t be a computer the rest of your life”. Mary menjawab bahwa sebagai perempuan kulit hitam ia tidak akan bermain-main dengan sesuatu yang mustahil.

Baca juga Kedokteran Kerja dari Milan 1906 hingga Surabaya 2026

Jawaban Zielinski itulah yang mengoreksi salah paham paling umum tentang keberpihakan. Ia tidak menghibur. Ia menyebut riwayatnya sendiri sebagai orang Yahudi Polandia yang kedua orang tuanya mati di kamp Nazi, lalu berkata dalam dialog yang sama, “Now I’m standing beneath a spaceship that’s going to carry an astronaut to the stars. I think we can say, we’re living the impossible”. Sesudah itu ia bertanya, seandainya Mary laki-laki kulit putih, apakah ia masih ingin jadi insinyur.

Mary menjawab bahwa ia tidak perlu ingin, sebab ia sudah menjadi insinyur sejak awal. Agung dan Beratha membaca pertukaran itu sebagai penanda bahwa masalah Mary bukan kemampuan melainkan sistem. Yang membuat adegan itu masuk kategori sponsorship bukan simpatinya, melainkan tindakan berikutnya: Zielinski memakai posisinya untuk menghubungkan Mary dengan jalur karier yang tertutup rapat.

Pushback, atau Penolakan yang Dijawab dengan Fakta

Istilah kedua yang dipakai paper ini adalah anti-D.E.I. pushback, perlawanan terhadap program keragaman di dalam organisasi. Bentuk keberpihakan yang menjawabnya digambarkan Burrell dan Morin sebagai kesediaan bersuara ketika melihat perlakuan tidak adil, tanpa takut dianggap ikut campur. Dalam film itu contohnya bukan pidato, melainkan sebuah linggis. Adegan yang dianalisis berlangsung antara menit ke-61 dan ke-64. Al Harrison, kepala Space Task Group, marah karena Katherine Goble kerap meninggalkan mejanya selama empat puluh menit setiap hari. Katherine menjelaskan bahwa tidak ada kamar kecil untuknya di gedung itu, dan bahwa toilet terdekat untuk pegawai kulit hitam berjarak setengah mil di West Campus.

Perbandingannya penting untuk pembaca yang mengukur keberpihakan dari besar kecilnya suara. Harrison tidak menggelar rapat, tidak menulis nota, dan tidak melimpahkan urusan itu kepada bawahan. Ia mencongkel papan penanda toilet berlabel warna kulit di depan sekumpulan insinyur dan teknisi, lalu mengumumkan bahwa mulai saat itu tidak ada lagi toilet yang dibedakan menurut warna kulit.

Agung dan Beratha mencatat bahwa yang berubah bukan sekadar lambang. Waktu dan tenaga yang selama itu terbuang di jalan kembali ke meja kerja Katherine. Keputusan Harrison, tulis kedua peneliti, tidak diambil atas dasar belas kasihan melainkan atas dasar keadilan dan kepentingan misinya sendiri, dan itulah yang membedakan keberpihakan dari kedermawanan.

Baca juga Fandom Konser Selawat dan Kerja Para Penggemarnya

Kewenangan bisa dipakai jauh lebih diam-diam daripada itu. Pada menit ke-70, Mary Jackson berdiri di sebuah ruang sidang di Virginia untuk meminta izin mengikuti kelas malam di sekolah menengah khusus kulit putih, syarat yang harus ia penuhi sebelum bisa melamar posisi insinyur. Hakimnya mula-mula menolak dengan alasan hukum negara bagian. Mary menjawab dengan mengingatkan riwayat hakim itu sendiri sebagai orang pertama di keluarganya yang masuk Angkatan Laut, pertama yang kuliah, dan hakim negara bagian pertama yang dilantik ulang oleh tiga gubernur berturut-turut. Ia lalu bertanya perkara mana di hari itu yang masih akan berarti seratus tahun kemudian. Hakim itu mengabulkan kelas malamnya saja, tanpa satu kalimat pun yang menyatakan bahwa pandangannya tentang pemisahan sudah berubah.

D.E.I., atau Kekeliruan tentang Menurunkan Standar

Singkatan D.E.I. berarti diversity, equity, and inclusion: keragaman, kesetaraan, dan pelibatan. Keberatan yang paling sering muncul terhadapnya selalu sama, yaitu tuduhan bahwa program semacam itu menaikkan orang yang tidak memenuhi syarat. Satu bentuk keberpihakan dalam kerangka Burrell dan Morin dibuat khusus untuk menjawab tuduhan tersebut. Contohnya ada pada menit ke-74. Katherine meminta izin mengerjakan perhitungan lintasan penerbangan John Glenn. Harrison mengingatkan bahwa pekerjaan itu bukan memasukkan angka melainkan menciptakan matematika yang belum ada. Ketika Paul Stafford meragukan ketelitiannya, dialog film itu mencatat jawaban Katherine yang membandingkan pekerjaannya dengan menembak sasaran sangat kecil dari jarak seribu kaki, ditutup kalimat, “I’m an excellent shot, sir”.

Yang dilakukan Harrison sesudah itu adalah memeriksa dulu hasil hitungan Katherine yang terdahulu, mendapati angkanya tepat, baru menyerahkan tugas itu kepadanya dengan syarat semua hasilnya diperiksa Stafford. Urutan itu yang dipakai Agung dan Beratha sebagai bukti. Katherine mendapat pekerjaan bukan karena ia perempuan kulit hitam yang perlu diberi kesempatan, melainkan karena ia orang yang paling cakap untuk itu.

Baca juga Tiga Milimeter yang Menentukan Nilai Kerajinan Bambu

Bentuk berikutnya, menempatkan keragaman sebagai keunggulan bersaing, terlihat di menit ke-80. Katherine meminta ikut rapat Pentagon karena datanya berubah tiap hari dan perhitungannya jadi usang setiap kali ia tidak ada di ruangan itu. Stafford menolak dengan dua alasan: tidak ada izin keamanan, dan tidak ada protokol untuk perempuan. Harrison memilih menjawab bahwa di dalam gedung itu dialah yang membuat aturan.

Positive Masculinity, atau Kekuatan yang Tidak Merasa Terancam

Istilah terakhir yang perlu diterjemahkan adalah positive masculinity, kelakian yang aman dengan dirinya sendiri. Maksudnya sederhana: laki-laki yang tidak merasa terancam ketika perempuan di sekitarnya naik. Agung dan Beratha memakai istilah itu untuk menjelaskan mengapa tokoh-tokoh laki-laki dalam film itu tidak berlaku seperti penyelamat. Buktinya yang paling ringkas ada di menit ke-101. Menjelang peluncuran, John Glenn mengatakan ia tidak sepenuhnya percaya pada komputer IBM. Dalam dialog film itu ia meminta, “Let’s get the girl to check the numbers”, dan ketika Harrison bertanya balik siapa yang dimaksud, Glenn menjawab, “Yes, sir. The smart one. If she says they’re good, I’m ready to go”.

Pengakuan itu diucapkan di depan pimpinan NASA, bukan di ruang tertutup. Enam menit kemudian, pada menit ke-107, Harrison menyampaikan koordinat titik masuk kembali kepada Glenn dan menambahkan bahwa Katherine sanggup menghitung beberapa desimal lebih jauh daripada mesin. Glenn menjawab bahwa ia akan mengambil setiap digit yang ada, dan meminta Harrison menyampaikan terima kasihnya.

Di sinilah istilah tadi mulai menemukan batasnya. Semua yang dianalisis Agung dan Beratha adalah dialog dan adegan dalam satu film berdurasi dua jam, bukan perilaku orang di kantor sungguhan. Kedua peneliti tidak menyediakan bagian keterbatasan tersendiri; yang mereka akui di bagian simpulan adalah bahwa penelitian lanjutan masih diperlukan untuk melihat bagaimana bentuk-bentuk keberpihakan itu dapat dikembangkan secara sistematis di berbagai lingkungan kerja.

Batas itu perlu dipegang. Tujuh bentuk yang dicatat papernya adalah tujuh bentuk yang muncul di satu film, bukan peta lengkap keberpihakan laki-laki, dan bukan bukti bahwa cara semacam itu berhasil di tempat kerja mana pun. Yang bisa dikatakan hanya bahwa istilah male allyship punya rujukan yang bisa ditunjuk, lengkap dengan menit dan detiknya. Dan rujukan itu selalu berbentuk tindakan yang kecil. Satu formulir yang disodorkan, satu papan yang dicongkel, satu nama yang disebut ketika orangnya tidak ada di ruangan. Tidak ada satu pun di antaranya yang membutuhkan pidato.

Bagikan

Baca Juga

Hamparan tanaman cabai merah dengan seorang petani bertopi berjalan di antara bedengan
Jamur yang Disemprotkan ke Cabai untuk Membunuh Kutu Daun
Orang berjalan di trotoar Malioboro Yogyakarta pada malam hari dengan lampu jalan menyala
Bahasa Jawa Modern Ternyata Lebih Sering Langsung ke Inti
Sebuah neuron hipokampus dalam kultur dengan cabang-cabang bercahaya hijau dan merah pada latar gelap
Dua Metode Hitung Amiloid-Beta Memberi Hasil yang Sama
Hamparan tanaman jagung yang batang dan daunnya sudah mengering menjelang panen
Dua Calon Jagung Komposit Diuji di Payakumbuh dan Agam
Ratusan peti kemas berwarna-warni tersusun berderet di dermaga sebuah pelabuhan dilihat dari udara.
Itera Kaji Ketangguhan Pelabuhan Panjang Hadapi Tsunami
Lima orang berdiri berjajar memegang papan hadiah juara ketiga di depan latar bertuliskan Greenovate.
Mahasiswa UGM Ubah Limbah Sawit Jadi Elektroda Superkapasitor