Daftar Isi
Cekricek.id — Ukuran tiga milimeter menentukan mutu sebuah anyaman bambu. Angka itu bertahan ketika perajin Dlingo di Bantul bekerja bersama perajin bambu dari Beppu, Jepang. Bilah yang meleset dari ukuran tersebut mengubah hasil kerja, dan perajin di kedua tempat sama-sama mengetahuinya.
Ruly Darmawan menaruh angka itu di pusat pembacaannya. Peneliti Kelompok Keahlian Literasi Budaya Visual, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung, tersebut menulis Medan Translasi Pada Pemetaan Artefak Kebudayaan Berupa Produk Kerajinan. Makalahnya terbit di jurnal Purbawidya Vol. 14 No. 1 pada Juni 2025.
Makalah itu tidak membawa data lapangan baru. Darmawan membaca ulang dua penelitiannya sendiri tentang perwujudan artefak dan interaksi manusia dengan teknologinya. Yang ia kejar adalah nilai yang tidak bisa dipegang di balik sebuah benda buatan tangan, dan yang jarang masuk ke dalam catatan resmi.
Nilai itu ia sebut ketakteragaan. Istilahnya berat, maksudnya sederhana. Ketakteragaan adalah bagian kerajinan yang tidak berwujud, dan letaknya bukan pada barang jadi melainkan pada cara barang tersebut dibuat oleh tangan seseorang.
Kerangka itu berpijak pada dasar yang lebih tua. Darmawan mengutip Jukka Jokilehto, yang menyebut setiap benda warisan punya ciri terkenali yang mengungkapkan pengalaman manusia. Dengan ukuran itu, produk kerajinan sudah memenuhi syarat untuk dibaca sebagai warisan budaya, setara benda cagar budaya lain.
Kata translasi sendiri punya banyak wajah. Dalam linguistik ia berarti pemindahan gagasan dari sumber ke sasaran dengan patokan kesetaraan. Dalam matematika ia berarti pergeseran titik-titik sebuah objek ke arah dan jarak yang sama.
Yang dipakai Darmawan bukan dua pengertian itu. Ia memakai translatability, yaitu kadar keterjemahan sesuatu. Wolfgang Iser menyebut sasaran translatability adalah terbangunnya pemahaman atas perbincangan antarbudaya, termasuk perbincangan yang di dalamnya terjadi peniruan dan pengambilalihan.
Kekhawatiran soal translasi bukan hal baru dalam pelestarian. Darmawan menyinggung dokumen UNESCO yang menyiratkan translasi bisa menjadi persoalan tersendiri, khususnya terkait perkembangan media dan budaya populer. Kekhawatiran itu beralasan karena dinamika budaya kontemporer bisa mengarah pada produksi kepalsuan.
Tiga Milimeter di Dlingo

Penelitian yang dibaca ulang berjudul “Menciptakan Kerajinan Bambu dengan Pendekatan Hibrida” dan dikerjakan pada 2017. Pengamatannya mengambil dua lokasi sekaligus, Dlingo di Bantul dan Beppu di Jepang. Keduanya dipilih karena punya nilai kesejarahan dalam pembentukan komunitas perajin bambu berikut karyanya.
Pendekatan hibrida berarti menyatukan dua cara membuat. Perajin Dlingo bekerja sama dengan perajin Beppu, lalu proses kedua daerah itu dipertemukan dalam satu karya. Yang dicari adalah jati diri karya yang lahir dari pertemuan dua kebiasaan kerja yang berbeda.
Dari situ perhatian jatuh pada satu ukuran. Lebar bilah tiga milimeter ternyata menentukan kualitas anyaman yang dihasilkan. Angka itu kemudian dibaca sebagai patokan makna, bukan sekadar ketentuan teknis yang berlaku di bengkel kerja.
Baca juga Kekerasan terhadap Anak di Aku Juga Ingin Dianggap
Darmawan menyebut ukuran tersebut sebagai kebenaran. Kebenaran tiga milimeter menentukan kebenaran yang lain, mulai dari material, proses, sampai mutu karya yang dihasilkan. Kebenaran semacam ini tidak datang dari buku, tetapi dari pematangan pengetahuan dan pengalaman selama bertahun-tahun mengolah bahan.
Pengetahuan seperti itu sulit dipindahkan lewat dokumen. Ia berpindah dari tangan ke tangan, di ruang kerja, dengan bahan yang sama di depan mata. Perbedaan kebiasaan dua bengkel justru terlihat ketika angka tersebut harus dipenuhi bersama-sama.
Di titik itulah menganyam berubah menjadi menerjemahkan. Perajin harus menerima dan memahami cara kerja pihak lain agar karya bersama bisa berdiri. Hasilnya bukan karya Dlingo dan bukan karya Beppu, melainkan sesuatu yang lahir di antara keduanya.
Tiga Moda dalam Satu Karya
Dari pengamatan itu terbaca sebuah dialog. Perajin berdialog dengan objek yang sedang dikerjakannya, dan dialog tersebut menghubungkan ranah subjektif dengan ranah objektif. Skema itu yang kemudian dipakai Darmawan sebagai dasar rumusannya.
Darmawan dan July Hidayat merumuskan tiga moda pada 2018. Ada moda translasi, moda kebenaran, dan moda estetika. Ketiganya cara berbeda untuk membaca nilai satu karya kriya bambu, dan ketiganya bekerja pada tahap yang berlainan.
Moda translasi bekerja paling awal. Ia adalah cara perajin mewujudkan produk sebagai manifestasi nilai budaya yang melekat pada kehidupannya, termasuk cara ia menciptakan sesuatu. Translasi terjadi ketika seorang perajin berusaha menerima persepsi perajin lain.
Moda kebenaran berpijak pada ukuran tadi. Di sinilah tiga milimeter itu berdiri sebagai batas benar dan salah. Ukuran tersebut lalu menular ke pilihan bahan, urutan proses, dan penilaian mutu karya yang sudah selesai.
Moda estetika baru bekerja belakangan, sesudah karya terbentuk. Menurut Darmawan, moda ini bukan soal keindahan semata, melainkan representasi dan akumulasi dua moda sebelumnya. Penilaian pengamat boleh berbeda-beda, tetapi objektivitas wujud yang dibangun dua moda awal tetap utuh.
Ketiga moda itu saling terkait dan tidak bisa dipisahkan. Darmawan menilai moda translasi punya kekhususan tersendiri di antara ketiganya. Moda tersebut hadir di setiap fase penciptaan artefak, dari niat yang pertama sampai bentuk yang terakhir.
Empat Unsur di Balik Wujud
Dari bacaan ulang itu ia menyarikan empat unsur pelengkap artefak. Unsurnya adalah kapasitas mental pembuat, pengetahuan material, penguasaan alat, dan proyeksi wujud akhir yang ingin dicapai. Empat hal tersebut yang membedakan satu artefak dari artefak lainnya.
Baca juga Disfemisme Penagih Pinjol dan Dampaknya pada Korban
Produk kerajinan dinilai memuat nilai eksklusif. Setiap produk dibuat berdasarkan potensi sumber daya manusia, sumber daya alam, dan perangkat pendukung yang tersedia di tempatnya. Potensi itu yang kemudian menjadi pembeda di antara artefak-artefak lain.
Kapasitas mental berarti pengalaman dan pengetahuan pembuatnya. Unsur ini yang paling sulit diukur dari luar. Unsur ini pula yang paling sering hilang dari katalog, label pameran, dan keterangan singkat yang menyertai sebuah benda budaya.
Keempat unsur itu tidak berdiri sendiri. Semuanya terikat pada ruang dan waktu tempat artefak dibuat, termasuk pada tata adat yang berlaku di sana. Di titik itulah nilai dan otentisitas sebuah benda ditentukan.
Darmawan juga membagi artefak ke dalam dua aspek, teknis dan nonteknis. Keduanya lahir dari pengetahuan dan pengalaman orang yang membuat benda tersebut. Bedanya terletak pada apa yang bisa dilihat mata ketika perajin sedang bekerja.
Aspek teknis mudah dikenali di depan mata. Ukuran bilah, cara memotong, dan urutan menganyam bisa dicatat siapa saja yang berdiri di sebelah perajin. Aspek nonteknis menuntut penafsiran dan perenungan, dan di sanalah pekerjaan yang paling sulit dimulai.
Bacaan ini punya sisi praktis. Penguasaan material dan teknik menentukan keberhasilan restorasi produk kerajinan, dan tanpa keduanya nilai di balik wujudnya ikut hilang. Penyelidikan artefak karena itu perlu mencakup wujud produk, material, alat, dan proses pembuatannya.
Klaim Budaya yang Bisa Ditengahi
Di bagian ini moda translasi berganti nama menjadi medan translasi. Fungsinya menafsirkan hubungan antarartefak dan hubungan antarunsur pelengkap yang menopang wujudnya. Medan itu dipakai untuk mengapresiasi sekaligus menilai empat unsur tadi.
Artefak dari ruang budaya yang berbeda bisa tampak mirip. Salah satu sebabnya adalah kesamaan cara pandang yang dipahami dan diyakini beberapa komunitas kebudayaan. Bentuk yang dipilih untuk mewakili keyakinan itu pun bisa saling berdekatan.
Kemiripan seperti itu jarang berhenti sebagai catatan akademis. “Adanya kemiripan falsafah dan representasi bentuk artefak semacam ini yang kerap memantik perbincangan mengenai artefak mana yang lebih dulu dibuat dan peradaban mana yang lebih dulu ada,” tulis Darmawan.
Baca juga Ketika Petani dan Nelayan Hanya Jadi Penerima Harga
Ia menawarkan jalan lain, yang ia sebut poros refleksi. Poros itu adalah perangkat mental untuk membangun kesadaran tentang kemungkinan adanya konstelasi artefak kebudayaan. Kesadaran semacam itu diharapkan menuntun pemahaman nilai dan makna budaya yang lebih utuh.
Pemetaan itu tidak berhenti pada perbandingan dua benda. Hubungan bisa ditarik langsung antarunsur pelengkap, misalnya antara pengetahuan material seorang perajin dan perajin lain di tempat yang jauh. Dari situ gagasan paling mendasar di balik pembentukan artefak bisa diraba.
Konsekuensinya cukup praktis. Peristiwa klaim atas kepemilikan artefak kebudayaan dapat ditengahi lewat pembuktian empat unsur tadi. Pertanyaannya bergeser dari siapa yang lebih dulu menjadi apa yang sebenarnya terbaca dari wujud benda itu.
Peta yang Belum Selesai
Darmawan tidak mengaku sudah selesai. Ia menyatakan pembacaan ini masih berjalan dan berstatus work-in-progress. Pemetaan medan translasi, tulisnya, akan menemui kompleksitasnya sendiri karena artefak kebudayaan tersebar dan berelasi dengan artefak dari ruang dan waktu yang berbeda.
Batasnya juga jelas di bagian lain. Tidak ada perajin baru yang diwawancarai untuk makalah ini. Yang tersedia adalah tafsir ulang atas temuan lama, bukan bukti lapangan yang baru dikumpulkan dari bengkel mana pun.
Karena itu jangkauannya perlu dijaga. Dua desa perajin bambu bukan gambaran seluruh kerajinan Indonesia. Satu ukuran bilah juga bukan hukum yang berlaku untuk semua bahan, semua daerah, dan semua jenis karya.
Meski begitu, Darmawan menilai penyelidikan semacam ini tetap perlu diupayakan. Hasilnya, tulisnya, berpeluang mengungkap kebenaran sekaligus kebaruan narasi kebudayaan bangsa yang selama ini masih banyak yang belum terungkap.
Yang bisa dibawa keluar dari makalah ini adalah caranya bertanya. Sebelum menilai sebuah benda budaya, tanyakan siapa pembuatnya, dengan bahan apa, memakai alat apa, dan membayangkan bentuk seperti apa. Empat pertanyaan itu murah dan bisa dipakai siapa saja.
Ukurannya bisa ditiru; tahun-tahun yang mengajarkan ukuran itu tidak.















