Cekricek.id — Rak skripsi sastra di Universitas Negeri Padang menyimpan satu pertanyaan yang diulang-ulang selama lima tahun terakhir. Pertanyaannya sederhana dan tidak menyenangkan: apa sebenarnya yang terjadi pada anak-anak di dalam novel Indonesia. Sejak 2020 pertanyaan itu diajukan kepada judul yang berganti-ganti, ditulis pengarang yang berbeda-beda dan diterbitkan penerbit yang berlainan, dan jawabannya nyaris selalu jatuh pada pola yang sama. Anak dijatuhkan di rumahnya sendiri, oleh orang yang seharusnya menjaganya, dan cerita semacam itu terus saja menemukan pembaca baru.
Pada 2020 Iswandi mengajukan pertanyaan itu lewat novel Di Tanah Lada karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Tiga tahun kemudian Viandri membawanya ke Kado Terbaik karya J.S. Khairen, dan pada 2025 giliran Jayanti membedah Bunda Aku Nggak Suka Dipukul karya Jaquenza Eden. Nabilla Putri Defia dan Diantri Seprina Putri, keduanya juga dari Universitas Negeri Padang, menambahkan mata rantai berikutnya lewat Potret Kekerasan terhadap Anak dalam Novel Aku Juga Ingin Dianggap Karya Wulan Dwi Biraeng, yang terbit di jurnal Persona Volume 5 Nomor 2 tahun 2026 pada halaman 230 sampai 238.
Daftar Isi
Di Tanah Lada 2020, Kado Terbaik 2023

Yang berubah dari satu kajian ke kajian berikutnya bukan pertanyaannya, melainkan tebal jawaban yang dituntut. Pembacaan awal cenderung berhenti pada bentuk kekerasan yang tampak di permukaan, yaitu pukulan, tamparan, bentakan, dan makian yang bisa dihitung dari halaman. Kerangka yang dipakai kedua peneliti kali ini menuntut tiga lapis sekaligus, yakni bentuk kekerasan, sebab yang melatarinya, dan akibat yang ditanggung korbannya. Sebuah adegan karena itu tidak boleh berhenti sebagai adegan. Ia harus dilacak mundur menuju keadaan orang tuanya dan maju menuju apa yang tersisa pada anaknya bertahun-tahun sesudahnya. Novel yang dibaca terbit pada 2024 lewat penerbit Mediakita dan bercerita tentang Reyana, anak yang tidak pernah memperoleh pengakuan di rumahnya sendiri, bahkan setelah ia sempat diculik dan kembali.
Baca juga Manuskrip Lontar Trowulan Menunggu Giliran Didata
Pendekatannya sosiologi karya sastra, satu dari tiga cabang yang dipilah Wellek dan Warren sebagaimana dikutip Sapardi Djoko Damono. Cabang pertama mengurus pengarang beserta kedudukan sosial dan pandangan hidupnya. Cabang ketiga mengurus pembaca dan pengaruh sosial sebuah karya di tengah masyarakat yang membacanya. Yang dipakai di sini cabang kedua, yakni karyanya sendiri, apa yang tersirat di dalamnya, dan ke mana ia mengarah. Damono menempatkan sosiologi sastra sebagai kajian atas kehidupan manusia dalam konteks sosial yang diperiksa secara objektif dan ilmiah, bukan sebagai pembelaan terhadap pengarangnya. Konsekuensinya tegas dan diakui sendiri di dalam papernya: peneliti sama sekali tidak menyinggung persoalan pembaca. Novelnya dibaca sebagai cermin, bukan sebagai pengaruh.
Yang dilewati Sitorus pada 2025
Novel Aku Juga Ingin Dianggap bukan objek baru di lingkungan kampus tersebut. Setahun sebelumnya, Sitorus dan rekan-rekannya sudah membacanya untuk Jurnal Basataka, tetapi yang mereka kejar gaya bahasa dan pesan moral yang terkandung di dalamnya. Dua hal itu bisa diselesaikan tanpa sekali pun menghitung berapa kali seorang anak dijatuhkan di sepanjang ceritanya. Celah itulah yang kemudian diambil Nabilla Putri Defia dan Diantri Seprina Putri: bentuk kekerasan, faktor penyebab, dan dampaknya, tiga hal yang menurut penelusuran keduanya belum pernah dikerjakan siapa pun pada novel ini. Alasan pemilihan novelnya juga disebut apa adanya, yaitu persoalannya disajikan terang-terangan dengan bahasa yang mudah diikuti pembaca awam. Novel itu, menurut keduanya, membawa pesan tentang pentingnya menghargai kehadiran seseorang sebelum penyesalan datang terlambat.
Cara kerjanya sederhana dan sepenuhnya bertumpu pada teks. Novel dibaca berulang-ulang, lalu kata, frasa, klausa, dan kalimat yang mengindikasikan kekerasan dicatat, diinventarisasi, dan dikelompokkan sebelum akhirnya ditafsirkan. Keabsahannya tidak diserahkan kepada keyakinan peneliti sendiri. Keduanya memakai triangulasi peneliti dan mengundang pakar kajian sastra untuk menelaah, menguji, serta menilai secara kritis hasil pengelompokan itu lewat diskusi sejawat. Semi, yang menjadi rujukan metodenya, menyebut metode deskriptif sebagai metode yang menguraikan data lewat kata-kata dan tidak memakai angka sama sekali. Penelitian ini memang tidak menghasilkan satu tabel pun, dan tidak berpura-pura menghasilkannya. Yang dikerjakan keduanya adalah membaca dengan lambat, lalu mempertanggungjawabkan bacaan itu kepada orang lain.
Empat bentuk Suharto, dua yang muncul
Di sinilah temuan yang paling mudah terlewat oleh pembaca cepat. Suharto, dalam rujukan Abu Huraerah, membagi kekerasan terhadap anak menjadi empat bentuk, yaitu fisik, psikis, seksual, dan sosial. Yang ditemukan dalam novel hanya dua di antaranya. Kekerasan fisik hadir lewat adegan Reyana diseret dan dibenturkan ke dinding gudang oleh ayah kandungnya sendiri, Wira Dewanta, tanpa sekali pun ia berani melawan. Kekerasan psikis hadir lewat makian yang menempel pada namanya hampir setiap kali ia diajak bicara di rumah itu. Dua bentuk lainnya tidak ditemukan sama sekali, dan kekosongan itu dicatat apa adanya tanpa dipaksakan menjadi temuan. Sebuah kerangka boleh menyediakan empat kotak; yang mengisi tetap teksnya.
Baca juga Tiga Kata Arab untuk Cinta di Dalam Al-Quran
Barker, juga lewat Huraerah, mendefinisikan kekerasan sebagai tindakan yang menimbulkan kerugian fisik, psikologis, maupun ekonomi bagi seseorang atau sekelompok orang. Definisi selebar itu berguna untuk memilah bahan, tetapi tidak menjelaskan bagaimana orang tua kandung bisa sampai ke sana. Kekerasan terhadap anak, dalam pengertian yang dipakai kedua peneliti, adalah perlakuan yang menimbulkan penderitaan fisik atau emosional dan dilakukan berulang oleh pihak yang justru bertanggung jawab merawat dan melindunginya. Kata berulang itu yang penting. Ia memindahkan persoalan dari satu peristiwa tunggal ke satu keadaan yang berlangsung lama, dan untuk keadaan semacam itu diperlukan daftar sebab yang lebih tua umurnya.
Luka batin dalam daftar Hidayat
Hidayat pada 2020 membagi penyebab kekerasan menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Yang internal berasal dari dalam diri orang tua, yakni kurangnya pengetahuan mengasuh dan luka batin yang membuat emosi sukar dikendalikan. Yang eksternal datang dari luar dirinya, mulai dari pernikahan usia muda, tekanan ekonomi, konflik keluarga, perceraian, sampai kegagalan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Novelnya, menurut analisis kedua peneliti, memakai kedua-duanya sekaligus dan menyilangkannya di dalam satu rumah tangga. Pada faktor internal ceritanya justru paling terang, sebab di sanalah pengarang menaruh percakapan yang menjelaskan mengapa satu anak diperlakukan berbeda dari saudara kembarnya sendiri.
Baca juga Sembilan Tuturan Humor Rina Nose Dihitung Peneliti
Pada halaman 11 novel itu, tokoh Wira berkata kepada istrinya, “Memang benar seharusnya Arlan aja yang terlahir. Karena melahirkan anak kembar, kamu jadi depresi gini.” Kalimat itu bukan pukulan, tetapi memuat seluruh mekanismenya sekaligus. Depresi yang dialami sang ibu setelah melahirkan anak kembar diubah menjadi kesalahan salah satu anak yang terlanjur lahir. Sejak titik itu, keberadaan Reyana dibaca keluarganya sebagai sebab penderitaan ibunya, dan penilaian tersebut tidak pernah ditinjau ulang sampai cerita berakhir. Faktor eksternalnya muncul lewat tokoh Dena, yang kebenciannya pada Reyana begitu dalam sampai wajah orang lain yang kebetulan mirip pun mengganggu ketenangannya di tempat kerja.
Gelles dan dampak yang tersisa
Rantainya ditutup dengan pembagian Gelles, kembali lewat Huraerah, yang menyebut empat jenis dampak kekerasan dan penelantaran anak. Lagi-lagi hanya dua yang ditemukan di dalam novel, yakni dampak fisik dan dampak psikis. Yang fisik berupa luka, memar, lebam, dan rasa sakit yang ditahan tanpa perlawanan sedikit pun. Yang psikis mengikuti daftar Lestari yang dikutip Viandri pada 2023, mulai dari penarikan diri, ketakutan, emosi yang labil, kepercayaan diri yang runtuh, kecemasan, gangguan tidur, sampai rasa terluka yang tidak lagi mau pergi. Pada bagian akhir novel, tekanan itu berbalik ke tubuh Reyana sendiri dalam bentuk tindakan melukai diri, dan tokoh Rafael menemukannya dalam keadaan itu.
Hidayat menambahkan satu kemungkinan yang membuat rantai ini tidak berhenti pada satu generasi. Anak yang mengalami kekerasan psikis berkepanjangan berpeluang mengulang tindakan serupa kepada anak-anaknya kelak, sehingga korban hari ini bisa menjadi pelaku pada giliran berikutnya. Papernya menyandingkan temuan tekstual itu dengan laporan survei 2020 tentang bentakan dan makian oleh orang terdekat, dengan satu kasus kekerasan fisik terhadap anak berusia empat tahun di Tangerang yang dilaporkan pada 2023, dan dengan artikel Universitas IPB pada 2026 mengenai kasus bunuh diri anak dan remaja. Perbandingan itu dipakai untuk satu keperluan saja, yaitu menunjukkan bahwa adegan di dalam novel punya padanan di luar novel.
Batas pekerjaannya perlu ditegaskan justru karena perbandingan tadi mudah membuat orang melompat terlalu jauh. Yang dibaca satu novel, karya satu pengarang, terbit pada satu tahun, dan dianalisis oleh dua peneliti dengan penilaian pakar sebagai pengujinya. Kesimpulannya berlaku untuk teks itu, bukan untuk keluarga Indonesia dan bukan pula untuk sastra Indonesia secara keseluruhan. Satu novel tetap satu novel, betapapun mudah ia dicocokkan dengan kabar yang datang dari luar. Papernya sendiri berhenti sebelum sampai ke sana. Pembacanya tidak diteliti, angka tidak dikumpulkan, dan dua dari empat bentuk kekerasan serta dua dari empat jenis dampak sama sekali tidak muncul dalam bahan yang mereka kerjakan.
Yang tersisa adalah posisinya di dalam rantai. Di Tanah Lada pada 2020, Kado Terbaik pada 2023, Bunda Aku Nggak Suka Dipukul pada 2025, dan kini Aku Juga Ingin Dianggap: empat novel yang berbeda, empat rumah tangga rekaan, satu pola yang terus saja ditemukan pembacanya. Setiap kajian menambah satu judul ke daftar dan satu nama ke deretan tokoh anak yang tidak dianggap di rumahnya sendiri, sementara kerangka yang dipakai membacanya nyaris tidak berubah sejak awal. Rak skripsi itu masih menyisakan tempat kosong di ujungnya.













