Cekricek.id — Puisi sufi lazim dibaca sebagai jalan damai menuju Tuhan, ruang tempat jiwa yang gaduh oleh dunia akhirnya menemukan ketenangan lewat zikir dan tafakur. Namun larik pembuka puisi Meditasi karya Abdul Hadi Widji Muthari menampilkan gambaran yang jauh dari itu: pelukan pada sinar bulan yang justru berakhir dengan tubuh kedinginan, gerbang cahaya yang tidak segera memberi rasa aman, dan burung-burung yang terus menempuh jalan yang sama seolah tersesat di sarangnya sendiri. Ketenangan yang dijanjikan tema sufistik ternyata tidak datang begitu saja; ia harus melewati sesuatu yang terasa seperti luka, jauh sebelum sampai pada damai yang dicari.
Pembacaan ini datang dari Mochammad Bagja Agung Nugraha Zainaldy dan Nurlaila Jihadah, dua peneliti dari Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, dalam artikel Paradigma Trauma Cathy Caruth dalam Puisi Meditasi Abdul Hadi Widji Muthari yang terbit di jurnal Metahumaniora Volume 16 Nomor 1 edisi April 2026. Keduanya membaca satu puisi tunggal, Meditasi, yang termuat dalam kumpulan puisi berjudul sama terbitan tahun 1982, dengan metode close reading yang menelusuri diksi, citraan tubuh, repetisi ritual, perpindahan ruang sakral, dan perubahan posisi kata ganti aku dari bait ke bait.
Daftar Isi
Sinar yang Tidak Menenangkan

Bait pertama membuka dengan citraan tubuh: “Kupeluk sinar bulan. Tubuhku kedinginan.” Sinar yang semestinya menjadi penanda kehadiran ilahi justru diikuti oleh dingin, seolah kedekatan dengan yang sakral tidak serta-merta memberi rasa aman bagi subjek lirik yang mengucapkannya. Bayangan berikutnya adalah gerbang cahaya dan sebuah gereja tua sebagai ambang kesucian, namun pandangan itu segera dialihkan oleh burung-burung yang menempuh jalan yang sama, menyanyikan lagu yang sama, dan tersesat di sarang yang sama. Repetisi burung ini dibaca peneliti sebagai lingkaran yang menandai hilangnya kekuatan, sebentuk gerak yang terus berputar tanpa pernah benar-benar sampai pada tujuan yang dicarinya.
Baca juga Pematang Sawah dan Tibu Palakan dalam Lontar Enggung
Dalam kerangka trauma yang dipakai peneliti, repetisi semacam ini tidak dibaca sebagai gaya bahasa semata, melainkan sebagai tanda kembalinya pengalaman yang belum bisa dipahami secara utuh. Subjek lirik mengaku pernah lama tidak tahu Tuhan sebenarnya berada di mana, apakah di masjid, di kuil, atau di gereja, dan ketidakpastian itu bukan momen sesaat melainkan keadaan yang berlangsung lama, semacam pengembaraan rohani yang tidak kunjung selesai. Ia bahkan bercakap-cakap dari pintu ke pintu, bernyanyi dari pintu ke pintu, lalu mengetuk berkali-kali, sebuah repetisi yang oleh peneliti dibaca bukan sebagai hiperbola melainkan sebagai gambaran orang yang terus datang lagi karena tujuannya sendiri tidak pernah benar-benar jelas.
Citra lain yang dipakai peneliti untuk menopang pembacaan trauma adalah baris “Aku menemu sinar di mata kakekku yang sudah mati.” Sinar itu bukan penutup cerita hidup sang kakek, melainkan babak yang memotong perjalanan teologis subjek lirik, jalan lain menghadapi kesucian yang tidak bergantung pada wujud kota-kota yang dianggap suci. Pada bait lain, subjek bahkan mengusulkan sebuah negeri di ruang paling sempit sekalipun, lewat baris “Bila hari menahun dan kota jadi benua, aku akan bikin negeri di sebuah flat karena aku pun adalah rumah-Nya.” Bagi peneliti, flat di sini bukan hunian estetis, melainkan hunian praktis yang lahir dari kegagalan tata geografi besar untuk memberi ruang bagi semua orang menampung yang sakral.
Yerusalem, Mekah, dan Batas yang Dipertanyakan
Titik balik muncul pada baris “Yerussalem dan Mekkah tidak seluas hati dan jiwa ini,” yang memindahkan letak kesucian dari peta geografis ke ruang batin. Dalam bacaan peneliti, baris ini bekerja sebagai pembelaan diri sekaligus penolakan terhadap gagasan bahwa kesucian bisa diukur lewat jarak atau wilayah tertentu, seolah subjek lirik menolak untuk tunduk pada logika bahwa hanya kota-kota tertentu yang berhak menyimpan yang sakral. Persoalan ini menajam pada bait berikutnya, ketika Tuhan digambarkan berteriak, “Musa! Musa! Akulah tuhan orang Israel!”, lalu di ruang lain berkata, “Akulah hadiah seluruh dunia, tapi sinarku memancar di Arab.” Subjek lirik merespons dengan pertanyaan yang tajam, “Apa kekurangan orang Jawa?” sebuah pertanyaan yang menurut peneliti bukan soal benar atau salah, melainkan soal mengapa orang Jawa harus berada di pinggir, padahal Tuhan yang mengaku hadiah bagi seluruh dunia semestinya tidak memihak wilayah mana pun.
Pembacaan atas dua momentum ini bersandar pada kerangka trauma Cathy Caruth, sejarawan sastra yang tulisannya menjadi rujukan utama studi trauma sejak awal dekade 1990-an. Caruth, dalam tulisannya tahun 1991 yang dikutip langsung oleh peneliti, menyatakan bahwa sejarah, sama seperti trauma, tidak pernah sepenuhnya menjadi milik satu orang; sejarah justru adalah cara manusia saling terlibat dalam trauma satu sama lain. Kalimat itu menjadi poros pembacaan atas Meditasi: penyempitan Tuhan menjadi milik satu bangsa, dalam larik “Tuhan makin sempit rasa kebangsaannya,” bukan sekadar gambaran teologis, melainkan pengulangan dari cara sejarah dan klaim keagamaan saling menjerat ketika menentukan siapa yang berhak atas yang sakral.
Baca juga Hadiah Sayembara Sastra Jogja Turun, Danais Naik
Radikalitas subjek lirik tampak lebih jauh lewat pengandaian, “Kunyanyikan Bach dalam tembang kinanti dan kupulas Budha jadi seorang dukun di Madura.” Bagi peneliti, baris ini bukan sekadar sinkretisme yang dekoratif; ia menegaskan bahwa yang sakral bisa berpindah, bisa diucapkan ulang dalam idiom bahasa lokal, dan tetap hidup tanpa tunduk pada hierarki mana yang disebut pusat dan mana yang disebut pinggir. Kalau satu budaya menuntut bahwa hanya bahasanya sendiri yang berhak menggambarkan keindahan ilahi, larik ini menjawabnya dengan menunjukkan bahwa keindahan yang sama bisa diciptakan ulang dalam diksi bahasa yang lain, tanpa kehilangan kesungguhannya sedikit pun.
Gurun, Keledai, dan Cara Bertahan
Krisis itu berlanjut ke citra padang gurun. Subjek lirik pernah menyamakan diri dengan keledai yang melenggang membawa beban berisi hartanya, gambaran kerja yang berbasis kepatuhan dan ketundukan pada jalan yang dianggap suci oleh orang banyak. Namun perjalanan itu tidak benar-benar berakhir dengan damai, melainkan berakhir di gurun, tepat ketika kafilah tidak lagi bisa menunjukkan arah dan bintang-bintang berloncatan gembira seolah langit tak lagi peduli pada moral manusia yang berjalan di bawahnya. Di titik paling terlantar itu, subjek lirik berubah, menjelma seekor singa, sebuah perubahan yang oleh peneliti dibaca bukan sebagai transformasi identitas melainkan sebagai strategi bertahan, ketika khotbah dan nasihat lama sudah tidak lagi bisa menolong menghadapi kebuntuan yang sama.
Subjek bahkan menolak ritus lama dan menyatakan, “Sakramenku ialah ketiadaan,” sebuah kalimat yang menjungkirbalikkan logika ibadah konvensional yang biasanya bertumpu pada kepenuhan simbol dan ritual. Ironi paling tajam kemudian datang lewat gambar cacing-cacing yang berkumpul saat magrib untuk bersembahyang dan berzikir, mendoakan ketenteraman dunia yang baru, sementara manusia di ruang lain sibuk memperebutkan siapa yang paling berhak atas kedekatan dengan Tuhan. Bagi peneliti, gambaran ini menandakan bahwa doa yang paling jujur justru datang dari makhluk yang tidak punya kedudukan maupun kebanggaan sosial untuk dipertahankan.
Baca juga Empat Nilai Islam Dibangun dari Halaman Novel
Puisi ini kemudian ditutup dengan pertanyaan yang menolak segala kepastian: “Tuhan, siapakah namaMu yang sebenarNya? Dari manakah asalMu? Apakah kebangsaanMu? Dan apa pula agamaMu?” Jawaban yang muncul bukan kepastian, melainkan pengakuan bahwa Tuhan sendiri tidak pernah tahu siapa sebenarnya Aku, dari mana dan sedang menuju ke mana. Bagi peneliti, aporia penutup ini bukan kekosongan semata, melainkan sikap etis yang menolak Tuhan dijadikan milik kelompok, bangsa, atau agama tertentu, sekaligus menolak kepastian teologis yang biasanya dipakai untuk menutup luka secara terburu-buru.
Batas yang Diakui Peneliti
Peneliti sendiri menegaskan batas bacaan ini sejak awal. Analisis ditempatkan sebagai pembacaan atas konstruksi puitik, bukan diagnosis klinis atas penyairnya; frasa traumatik Abdul Hadi, tulis mereka, tidak berarti diagnosis traumatik terhadap Muthari secara pribadi, melainkan cara membaca posisi budaya yang dibangun oleh teks itu sendiri, subjek Indonesia dan subjek Jawa yang dipaksa mengembara ke pusat-pusat budaya milik orang lain agar pengalaman religiusnya dianggap sah. Kajian ini juga sengaja dibatasi hanya pada satu puisi, Meditasi, dan tidak mencakup keseluruhan buku kumpulan puisi dengan judul yang sama, sehingga generalisasi atas seluruh karya Muthari tidak bisa ditarik hanya dari pembacaan tunggal ini.
Yang tersisa dari pembacaan panjang ini adalah pertanyaan yang justru diajukan subjek lirik sendiri di dalam Meditasi kepada Tuhannya: siapa sebenarnya namaMu, dari mana asalMu, apa kebangsaanMu, dan apa pula agamaMu? Kalau bahkan Tuhan dalam puisi ini digambarkan tidak tahu jawabannya, kalau yang sakral memang tak pernah sepenuhnya bisa dimiliki oleh satu bangsa, satu bahasa, atau satu agama saja, pertanyaan yang sama pantas dibalikkan kepada setiap pembaca puisi sufi hari ini: atas dasar apa keyakinan bahwa jalan rohani sendirilah satu-satunya yang berhak menyebut dirinya telah sampai?














