59 Kesalahan Terjemahan Naskah Tarsan Wanara Seta

A A

Tokoh kera dalam pertunjukan wayang kulit. [Foto: Wikimedia Commons]

Cekricek.id — Satu naskah kera putih menyimpan 59 titik kesalahan terjemahan.

Objeknya jelas. Analisis Kesalahan Penerjemahan Sintaksis dan Semantik dalam Naskah Alih Bahasa Tarsan (Wanara Seta) Jilid I, tulisan Afifah Nur Dzakiyyah dari Program Studi Sastra Inggris Universitas Negeri Yogyakarta. Terbit di jurnal ARNAWA Volume 3 Nomor 1, tahun 2025.

Naskahnya berkode NB 648. Koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, diterbitkan ulang tahun 2021. Ukurannya 21,5 x 17 sentimeter, sampulnya karton hijau yang sudah rusak.

Judul aslinya panjang: Tarsan (Wanara Seta) Pipiridan Saking Buku Karanganipun Tuwan Edgar Rice Burroughs I. Penerjemah menyingkatnya. Naskah ini selesai ditulis 6 Agustus 1934 oleh K.R.M.H. Suryaningrat, delapan jilid sekaligus.

Jilid pertama dialihbahasakan Pangesti Sri Utami dan Erma Purwati. Keduanya memakai tiga metode: harfiah, makna, dan bebas. Hasilnya diterbitkan Perpusnas Press tahun 2021. Tapi metode yang rapi tidak menjamin hasil yang rapi.

Sumber ceritanya sendiri bukan asli Jawa. Naskah ini alih bahasa dari Tarzan of the Apes karya Edgar Rice Burroughs, terbit 1912. Ceritanya soal pemuda kulit putih yang dibesarkan kera Afrika. Karena kulitnya beda dari kera lain, ia disebut wanara seta, kera putih.

Naskah alih bahasanya bisa diakses lewat Sistem Informasi Penerbitan Perpusnas Press. Teksnya 202 halaman, 24 baris tiap halaman. Meski sudah tua, kondisinya masih terbilang baik, hanya berlubang bekas serangga.

Daftar Isi
  1. 59 Titik Keliru
  2. Kera Putih Salah Kaprah
  3. Tuhan Jadi Pangeran
  4. Sintaksis yang Kacau
  5. Definisi Catford
  6. Yang Belum Terjawab

59 Titik Keliru

Layar pertunjukan wayang kulit dengan siluet tokoh dan cahaya lampu
Layar pertunjukan wayang kulit. (Foto: Wikimedia Commons)

Peneliti membaca naskah alih bahasa itu bab demi bab. Sebelas bab, dua puluh tabel, 59 baris kesalahan tercatat. Sebagian sintaksis, sebagian semantik.

Sebelas jenis kesalahan dipakai sebagai rujukan: nonsense, salah tafsir, makna salah, pengurangan, terjemahan kurang, penambahan, terjemahan berlebih, barbarism, kata demi kata, parafrase tidak tepat, dan false friend. Rujukan teorinya dari Delisle dan Nord, lewat kutipan Saridaki tahun 2023. Data dikumpulkan April 2024.

Metodenya deskriptif kualitatif. Peneliti membandingkan teks Jawa asli dengan hasil terjemahan Indonesia. Kamus bahasa Jawa dari SEAlang Library dipakai sebagai rujukan. Novel asli Tarzan of the Apes juga dibaca ulang sebagai pembanding alur.

Sampelnya diambil secara purposif. Bukan semua kalimat, hanya yang menunjukkan kesalahan. Peneliti mempertimbangkan variasi kesalahan supaya hasilnya mewakili seluruh naskah.

Sebarannya tidak rata. Bab 4 paling banyak keliru, 11 titik dalam satu bab saja. Bab 3 dan bab 11 paling sedikit, masing-masing cuma dua.

Kera Putih Salah Kaprah

Judul naskah sendiri jadi korban. Wanara Seta berarti kera putih. Tapi di bab 5, istilah itu diterjemahkan Kera Hutan. Kesalahan ini dikategorikan incorrect meaning.

Baca juga Tabloid Carakita Menulis Hai Guys dengan Aksara Jawa

Kata sepuh juga meleset, dua kali. Dalam bahasa Jawa, sepuh berarti orang tua atau berstatus tua. Di bab 5 dan bab 10, kata itu diterjemahkan paruh baya, usia empat puluhan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dua makna itu berbeda jauh.

Bentuk jamak juga sering luput. Walang alit-alit di bab 7 semestinya belalang-belalang kecil. Terjemahannya cuma belalang kecil, tunggal. Peneliti menandainya sebagai undertranslation.

Ada pula penambahan yang tak perlu. Frasa a-p-e-s (kethek) diterjemahkan a-p-e-s (kera betina). Kata betina tidak ada di naskah asli. Kesalahan jenis ini disebut addition.

Geografi ikut berubah. Kata saganten di bab 5, yang berarti laut, diterjemahkan danau. Laut jadi lebih kecil dan lebih tawar hanya karena satu kata yang salah pilih.

Senjata pun berganti wujud. Frasa teken cemeng, tongkat hitam, di bab 4 diterjemahkan senapan hitam. Sebatang kayu tiba-tiba jadi senjata api. Peneliti menyebutnya barbarism.

Bahkan raja bisa berganti kelamin. Ratuning kethek di bab 7 seharusnya raja kera. Terjemahannya jadi ratu kera. Kesalahan serupa muncul lagi di bab 11 untuk kata ratuning.

Wajah Tarsan sendiri salah digambarkan. Bathukipun bunder jembar di bab 4 artinya dahinya menonjol dan lebar. Diterjemahkan dahinya bulat dan lapang, gambaran wajah yang berbeda sama sekali.

Ekspresi wajah lain juga meleset di bab 8. Siyungipun katingal mingis-mingis, taringnya terlihat dari mulut yang menyeringai, diterjemahkan taringnya menyeringai, bibirnya monyong. Detail kecil, tapi mengubah rupa tokohnya di mata pembaca.

Tuhan Jadi Pangeran

Kesalahan paling mencolok soal Tuhan. Frasa Pangeran ingkang Maha Kawasa semestinya berarti Tuhan Yang Maha Kuasa. Penerjemah menuliskannya Pangeran Yang Mahakuasa. Peneliti menyebutnya false friend, kata mirip tapi makna berbeda.

Sosok hantu juga bergeser makna. Kata memedi di bab 10 berarti makhluk mengerikan dalam kepercayaan Jawa. Diterjemahkan sekadar hantu, istilah yang lebih umum dan kurang mengerikan.

Angka juga tak luput. Frasa 300 pun di bab 3 adalah satuan berat pon, bukan kilogram. Terjemahannya jadi 300 kg, seolah beratnya bertambah drastis hanya karena satuan yang tertukar. Perbaikan yang benar: 300 pon, setara 136 kilogram.

Baca juga Pematang Sawah dan Tibu Palakan dalam Lontar Enggung

Kata madhaliyun di bab 11 juga janggal. Artinya medalion, liontin logam. Diterjemahkan cuma mainan. Peneliti menyebut ini barbarism, kata asing yang tak diadaptasi.

Kata jajahan di bab 1 punya nasib sama. Terjemahannya koloni. Padahal jajahan menekankan hubungan kuasa, sementara koloni berkonotasi politis berbeda. Sekali lagi, false friend.

Perasaan pun ikut bergeser. Anggigilani di bab 2 artinya menyeramkan. Diterjemahkan menjijikkan, emosi yang berbeda arah. Peneliti memasukkannya ke salah tafsir.

Bahkan istilah perang berubah rasa. Perang tanding di bab 9 semestinya diterjemahkan berduel, bukan disalin apa adanya jadi perang tanding. Peneliti menyebutnya parafrase tidak tepat.

Sintaksis yang Kacau

Bukan cuma kata, kalimat pun berantakan. Di bab 8 ada kalimat panjang soal Singa Barong mengejar Tarsan. Terjemahannya membingungkan, subjek dan predikatnya tak runtut. Peneliti menandainya nonsense, kesalahan sintaksis paling serius.

Di bab 9, sebuah kalimat malah berbalik makna. Tiyang kaawisan nedha sasamining tiyang semestinya berarti manusia hampir tidak pernah memakan sesamanya. Terjemahannya jadi manusia memakan manusia lain, seolah kanibalisme itu lazim terjadi.

Di bab 3, kalimat Paring dhawuh dhateng ingkang rayi makaten diterjemahkan kaku: Memberitahu istrinya instruksi. Terjemahan ini hasil kata demi kata. Susunannya janggal buat telinga Indonesia.

Ekspresi anggeget untu di bab 6 juga meleset. Artinya menggeretakkan gigi, tanda marah tertahan. Diterjemahkan cuma menggigit mulut, makna harfiah yang salah. Peneliti menyebutnya salah tafsir.

Frasa kanthi kasamaraning panggalih di bab 2 semestinya bermakna kebimbangan hati. Diterjemahkan kesabaran hati, makna yang justru berlawanan. Kesalahan ini masuk kategori parafrase tidak tepat.

Lima paragraf lain bahkan tak diterjemahkan sama sekali. Letaknya di halaman 32, 36, 48, 62, dan 65. Peneliti menyebutnya human error, kelalaian saat proses alih bahasa berlangsung.

Definisi Catford

Untuk menimbang kesalahan-kesalahan itu, peneliti memakai definisi klasik penerjemahan. Salah satunya dari John C. Catford, penulis buku A Linguistic Theory of Translation, terbit tahun 1978.

Baca juga Bahalo, Goti, Tumang: Kosakata Sagu Halmahera

Begitu Catford mendefinisikan penerjemahan: “Penggantian materi tekstual dalam satu bahasa (Bahasa Sumber) dengan materi tekstual yang setara dalam bahasa lain (Bahasa Sasaran).”

Definisi itu terdengar sederhana. Tapi 59 titik kesalahan dalam satu jilid saja membuktikan penerapannya tidak semudah definisinya.

Teori lain juga dipakai sebagai pembanding. Nida dan Taber menyoroti pemahaman struktur gramatikal. Larson menekankan konteks makna. Baker menyoroti perbedaan budaya. Semuanya sepakat, satu kata yang meleset bisa mengubah keseluruhan cerita.

Kajian semacam ini bukan yang pertama, tapi objeknya jarang. Penelitian serupa pernah dilakukan untuk terjemahan berita Indonesia ke Mandarin, juga Indonesia ke Arab lewat Google Translate. Naskah sastra Jawa berusia sembilan puluh tahun jarang mendapat perlakuan yang sama.

Yang Belum Terjawab

Peneliti sendiri mengakui kesulitannya. Naskah Tarsan (Wanara Seta) ditulis dalam bahasa Jawa bergaya sastra kental. Beberapa kali peneliti kesulitan memastikan keakuratan terjemahan, sampai harus membuka kamus SEAlang berulang kali.

Tujuh jilid lain naskah ini belum disentuh. Studi ini cuma membedah jilid pertama dari delapan jilid yang ada. Satu kategori kesalahan, overtranslation, sama sekali tak ditemukan di jilid ini.

Peneliti menyarankan pelatihan sintaksis dan semantik bagi penerjemah naskah kuno. Teknologi seperti Translation Memory Systems juga disebut bisa membantu konsistensi istilah.

Kolaborasi dengan ahli bahasa Jawa dan Inggris juga disebut penting, mengingat Tarsan aslinya berbahasa Inggris sebelum dialihbahasakan dua kali: ke Jawa, lalu ke Indonesia.

Naskah ini juga menyimpan nilai lain di luar hitungan kesalahan. Ia jadi bukti bagaimana kera Afrika ciptaan Edgar Rice Burroughs pernah singgah lama di lidah Jawa, lengkap dengan gelar bangsawan dan sebutan pangeran yang aslinya tidak pernah ada di hutan Afrika.

Satu kera putih, delapan jilid, dan 59 kesalahan yang baru ketahuan setelah sembilan puluh tahun.

Bagikan

Baca Juga

Halaman naskah beraksara Jawa terbuka di dalam lemari pamer museum
Tabloid Carakita Menulis Hai Guys dengan Aksara Jawa
Hikayat Sultan Mughul dan Kunci yang Hilang
Hikayat Sultan Mughul dan Kunci yang Hilang
Cekricek.id, Berita Viral – Seorang bocah yang didua masih duduk di sekolah dasar sukses membuat netizen tertawa lebar dengan videonya di media sosial baru-baru ini. Dia mencoba menerjemahkan sejumlah kosa kata bahasa Inggris menjadi bahasa Jawa.
Kocak! Ini Jadinya Bahasa Inggris Jika Diubah ke Bahasa Jawa, Broken Heart Jadi Ambyar
Deretan punggung buku berjajar rapat di sebuah rak
Tiga Novel Populer, Dua Arah Islam dalam Sastra
Deretan jilid kitab Risale-i Nur berjajar di rak dengan potret kecil di depannya
Partikel, Galaksi, dan Cinta Menurut Said Nursi
Danau dan pepohonan di lingkungan kampus Universitas Hasanuddin, Makassar
Irama Tanpa Musik dalam Mars Sastra Unhas