Cekricek.id — Reformasi 1998 sering diceritakan sebagai pintu yang akhirnya terbuka lebar bagi kelompok-kelompok yang lama dibungkam, termasuk umat Islam yang sepanjang Orde Baru menulis lewat simbol-simbol sufi karena tidak leluasa bicara terang-terangan soal keyakinan mereka sendiri, dan begitu pintu itu terbuka, harapan yang lazim melekat padanya adalah bahwa suara-suara yang lama tertahan akan tumbuh makin beragam, makin plural, makin banyak berdialog dengan dunia di luar dirinya.
Pembacaan dekat yang dilakukan Sudibyo, Eggy Fajar Andalas, dan Muhammad Taufiqurrahman -- peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Muhammadiyah Malang, dan Universitas Jenderal Soedirman -- menunjukkan arah yang tidak sepenuhnya sejalan dengan harapan itu. Dalam artikel Reclaiming Supremacy, Negotiating Modernity: Islamism and Post-Islamism in Post-Suharto Indonesian Novels, yang terbit di jurnal LITERA Volume 24 Nomor 2 tahun 2025, ketiganya membaca tiga novel populer pasca-Reformasi -- Jilbab Traveler karya Asma Nadia, Bumi Cinta karya Habiburrahman El Shirazy, dan Geni Jora karya Abidah El Khalieqy -- dan menemukan bahwa dua di antaranya justru condong menegaskan kembali gagasan supremasi Islam, sementara hanya satu yang benar-benar bergerak ke arah yang lebih terbuka.
Daftar Isi
Ketika Kebebasan Justru Menegaskan Batas Lama

Menurut penelitian ini, Jilbab Traveler dan Bumi Cinta paling banyak menyuarakan apa yang oleh peneliti disebut sebagai Islamisme, yaitu kecenderungan memandang Islam sebagai kepatuhan penuh pada syariah dan penolakan terhadap hegemoni politik-budaya Barat, sebagaimana didefinisikan Pipes (2000) dan dikutip dalam artikel ini. Dalam Jilbab Traveler, tokoh perempuan yang mengenakan jilbab di negeri sekuler digambarkan tetap tenang meski dibandingkan dengan sosok Bunda Teresa oleh orang-orang di sekitarnya, dan penelitian mencatat bahwa novel ini secara konsisten menampilkan tokoh perempuan Muslim sebagai warga transnasional yang aktif dan mobile, membantah anggapan bahwa perempuan Muslim pasif dan terkurung di ranah domestik, sekaligus melawan citra bahwa umat Islam pada umumnya irasional dan gampang tersulut kekerasan.
Baca juga Empat Nilai Islam Dibangun dari Halaman Novel
Pada Bumi Cinta, tokoh Ayyas, mahasiswa Indonesia yang menempuh riset filologi di Moskow, digambarkan sebagai figur yang nyaris tanpa cela di tengah dua perempuan yang berulang kali mencoba menggoyahkan keyakinannya. Sudibyo dan koleganya mencatat bahwa Ayyas selalu kembali ke ruang salat, mengambil wudu, dan mengaji setiap kali imannya terasa goyah, sebuah pola yang menurut penelitian ini menempatkan tokoh itu sebagai teladan moral yang menegakkan superioritas keyakinannya tanpa kekerasan, sekaligus menolak segala bentuk paksaan untuk berpindah keyakinan. Baik Jilbab Traveler maupun Bumi Cinta, tulis peneliti, sama-sama mengajukan gagasan Islam kafah -- keislaman yang menyeluruh dan tidak bisa ditawar, bahkan di negeri yang jauh dari rumah.
Sikap itu, menurut penelitian ini, kadang bergesekan dengan kepatutan sosial di negeri orang, dan Jilbab Traveler tidak menutupi ketegangan itu. Dalam satu adegan yang dikutip peneliti, seorang ayah tetap bersikeras salat di tempat dan waktu itu juga meski sudah berkali-kali diingatkan, melepas sepatu dan kaus kaki lalu berjalan tanpa alas kaki ke toilet, sementara seorang perempuan kulit putih di meja sebelah menutup mulutnya dan nyaris muntah menyaksikan pemandangan itu. Penelitian mencatat bahwa novel ini juga menasihati pembacanya soal makanan halal di negeri rantau -- membawa bekal tahan lama dari kampung halaman kalau perlu -- sekaligus menyisipkan otokritik lewat suara narator sendiri, bahwa kewajiban beribadah semestinya tidak sampai mengganggu kenyamanan orang lain di ruang publik.
Satu Novel yang Menegosiasikan, Bukan Menegaskan
Namun Geni Jora bergerak dengan logika yang berbeda, dan di titik inilah penelitian menemukan nuansa yang tidak selesai begitu saja. Tokoh Kejora, yang tumbuh dalam keluarga patriarkis dan poligami, digambarkan menolak peran feminin tradisional yang dilekatkan padanya, sementara ia sekaligus tetap menjalankan praktik spiritual seperti tahajud, tafakur, dan tadabur bersama sahabatnya, Elya, di lingkungan pesantren tempat mereka belajar. Ketika tuduhan tak pantas dilontarkan kepada hubungan keduanya, baik Kejora maupun Elya menurut penelitian ini sama sekali tidak mencari pengampunan atas apa yang dianggap orang lain sebagai penyimpangan, melainkan membiarkan rumor itu reda dengan sendirinya.
“Antara tahajud dan tafakur, di tengah pelukan? Betapa romantisnya narasi teman kita ini,” begitu tokoh Sonya menyindir dalam novel itu, sebagaimana dikutip peneliti dari halaman 97, sebelum dijawab bahwa perempuan yang beriman justru punya hak untuk romantis, sementara perempuan yang hidup tanpa iman tidak akan pernah bisa mengekspresikan hal serupa. Kutipan itu, menurut Sudibyo dan koleganya, memperlihatkan bagaimana Geni Jora menegosiasikan iman dengan kebebasan pribadi alih-alih memperlakukan keduanya sebagai dua hal yang saling meniadakan, sebuah ciri yang oleh peneliti disebut sebagai pasca-Islamisme: iman dijalani sebagai pilihan, bukan kewajiban ideologis yang mengikat tanpa ruang tawar.
Tiga Pilar yang Dipakai Membandingkan
Untuk menata temuan yang berserak di tiga novel itu, peneliti menyusunnya ke dalam tiga tema besar: kosmopolitanisme Islam, agensi moral, dan kebebasan individu. Pada tema kosmopolitanisme, Geni Jora merayakan identitas hibrida lewat jaringan solidaritas lintas negara yang dibangun Kejora, sementara Jilbab Traveler menampilkan minoritas Muslim yang justru menegaskan ortodoksi keyakinannya di negeri asing, dan Bumi Cinta memosisikan komunitas diaspora sebagai penjaga moral di tengah masyarakat yang dianggap berbeda nilai. Ketiga novel sama-sama bicara soal dunia yang lebih luas, tetapi dengan sikap yang nyaris berlawanan terhadap dunia itu sendiri.
Baca juga Penculikan dan Narkoba dalam Novel Metropop Purple Prose
Pada tema agensi moral dan kebebasan individu, jarak antarnovel makin terasa. Tokoh-tokoh dalam Geni Jora, menurut penelitian ini, bertindak sebagai agen etis yang menegosiasikan modernitas lewat kritik atas norma patriarkis, sementara protagonis Jilbab Traveler ditampilkan sebagai “Muslim teladan” yang menegakkan norma, dan tokoh utama Bumi Cinta menjelma pahlawan yang menghidupi cita-cita dakwah. Kebebasan individu pada dua novel terakhir, tulis peneliti, dibingkai sebagai kepatuhan pada batas-batas keagamaan dan kesalehan komunal, sementara pada Geni Jora ia justru lahir dari kritik atas norma-norma yang sama.
Kecenderungan Islamisme yang lebih dominan ini, menurut peneliti, tidak lahir dari ruang kosong. Sepanjang Orde Baru, kritik keislaman terhadap kekuasaan negara hanya berani tampil lewat simbol-simbol nabi dan alegori, seperti pada novel Kuntowijoyo Wasripin dan Satinah yang menyoroti marginalisasi umat Islam lewat bahasa kias. Begitu Reformasi 1998 mencabut kendali ideologis negara atas sastra, penelitian mencatat ledakan produksi sastra Islam populer, dengan Ayat-Ayat Cinta terjual 700 ribu eksemplar dan periode 2007-2008 yang disebut sebagai “masa keemasan” ketika 50 novel bertema Islami membanjiri pasar sekaligus. Kebebasan berekspresi yang baru itulah yang, menurut peneliti, justru lebih banyak diisi oleh suara-suara yang menegaskan kembali supremasi keislaman ketimbang suara yang menegosiasikannya dengan dunia luar.
Supremasi Tanpa Tuntutan Khilafah
Di sinilah letak nuansa yang tidak sepenuhnya rapi bagi peneliti sendiri. Sudibyo dan koleganya menegaskan bahwa kecenderungan Islamisme yang dominan dalam Jilbab Traveler dan Bumi Cinta tidak sampai pada tuntutan mendirikan negara berdasarkan khilafah, meski keduanya sama-sama menuntut kepatuhan syariah yang ketat dan penolakan terhadap gaya hidup Barat. “Temuan ini mencerminkan dominannya legitimasi terhadap imperatif Islamisme dalam sastra Islam Indonesia pasca-1998 -- kepatuhan ketat pada syariah, penolakan gaya hidup Barat, dan klaim ulang atas superioritas peradaban secara simbolis tanpa tuntutan kekhalifahan -- meski suara pasca-Islamisme yang muncul menandakan adanya pertentangan ideologis lewat kesalehan berbasis hak dan modernitas hibrida,” tulis Sudibyo, Andalas, dan Taufiqurrahman dalam simpulan penelitian mereka.
Baca juga Tambo, Kartini, dan Syarat Perempuan Masuk Sejarah
Para peneliti sendiri mengakui bahwa kesimpulan ini berdiri di atas pembacaan tiga novel populer yang ditulis antara 2004 dan 2019, tanpa menelaah bagaimana pembaca sungguhan menerima narasi-narasi bermuatan ideologis itu, tanpa melacak perkembangannya secara longitudinal setelah 2020, dan tanpa memasukkan pertimbangan kelas maupun etnisitas yang mungkin ikut membentuk cara ketiga novel itu dibaca di lapangan. Riset mendatang, tulis mereka, perlu menjangkau genre dan penulis yang lebih beragam serta menelusuri bagaimana audiens sesungguhnya bersikap terhadap narasi-narasi semacam itu, sebab pembacaan dekat atas teks tidak sama dengan mengetahui bagaimana jutaan pembaca novel-novel itu benar-benar memahami dan menghayati pesannya di luar halaman buku.
Yang tersisa dari pembacaan tiga novel ini bukan jawaban tunggal tentang ke mana sastra Islam Indonesia pasca-Soeharto bergerak, melainkan sebuah timbangan yang belum juga jatuh ke satu sisi: jika dua dari tiga novel paling laris pasca-Reformasi memilih menegaskan kembali supremasi lewat tokoh yang nyaris sempurna, pertanyaan yang tersisa bukan lagi apakah sastra itu sudah bebas bicara, melainkan bebas bicara untuk mengatakan apa.














