Cekricek.id — Bayangkan seseorang yang ucapannya tak pernah didengar, bahkan setelah ia mati dibunuh. Begitulah subaltern, istilah dari teori kritikus sastra India, Gayatri Spivak, yang biasa dipakai membedah novel, bukan cerita rakyat dari sebuah dusun kecil di Jawa.
Istilah itu justru dipakai Riki Fernando, peneliti dari Balai Bahasa Provinsi Aceh, dalam artikel Subalternitas dan Karma Mistis dalam Legenda Pembunuhan di Dusun Cangkring, Yogyakarta. Tulisan ini terbit di jurnal ARNAWA Volume 4 Nomor 1, tahun 2026, halaman 21 sampai 31.
Objek kajiannya sebuah dusun kecil: Cangkring, Poncosari, Srandakan, Bantul, berbatasan langsung dengan laut selatan. Menurut data Kelurahan Poncosari, hanya ada dua RT di sana, dengan sekitar 84 keluarga dan 256 jiwa. Sebagian besar warganya bekerja sebagai petani dan memeluk Islam, tapi di lapangan, peneliti menemukan bahwa masyarakat masih mempercayai hantu dan kekuatan-kekuatan gaib.
Legenda yang diteliti berawal sekitar tahun 1980-an. Seorang perempuan paruh baya dituduh mencuri seikat padi di sawah orang lain. Pemilik sawah yang memergokinya di sana sontak gelap mata, melemparkan bambu ke kepalanya tanpa ampun. Perempuan itu tewas seketika di tempat.
Keluarga korban tak percaya tudingan pencuri itu, sebab selama ini korban biasa hanya memungut sisa-sisa panen dari sawah orang lain, bukan mencuri langsung. Kasus ini sempat dibawa ke pengadilan. Tapi pemilik sawah, yang tergolong orang berada, menyuap polisi supaya bisa lolos dari hukuman berat.
Ringkasan cerita ini disampaikan langsung oleh Prastowo Budi Purnama, 24 tahun, alumnus Sastra Jawa Universitas Gadjah Mada yang kini bekerja sebagai filolog di Museum Radya Pustaka, dalam wawancara pada 12 Maret 2024. Narasumber kedua, Alit Kaswanto, seorang petani berusia 71 tahun, melengkapi cerita itu dengan pengalamannya sendiri menyaksikan kejadian-kejadian mistis sesudahnya.
Peneliti memakai metode cerita lisan dari Hutomo: mencari lokasi penelitian, observasi awal, membaca literatur, baru kemudian mewawancarai narasumber yang dianggap mumpuni. Rekaman wawancara ditranskrip ke tulisan Latin, disesuaikan lagi dengan hasil rekaman, lalu diterjemahkan dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia sebelum dianalisis.
Daftar Isi
Subaltern: Suara yang Dibungkam

Dalam bahasa sehari-hari, subaltern bisa dipahami sebagai orang yang posisinya begitu rendah dalam masyarakat sehingga suaranya tak pernah sampai ke telinga yang berkuasa. Spivak mencontohkannya lewat Bhuvaneswari Bhaduri, pejuang kemerdekaan India yang bunuh diri pada 1926. Bhuvaneswari sengaja mengakhiri hidupnya saat sedang menstruasi, berharap orang tahu bahwa ia bukan bunuh diri karena hamil di luar nikah, sebagaimana yang lazim dituduhkan masyarakat India saat itu kepada perempuan yang gantung diri. Sepuluh tahun berlalu sebelum kebenarannya terungkap: ia menolak berkhianat pada perjuangan kemerdekaan, bukan menanggung aib yang orang-orang kira.
Baca juga Nyai Retno Gumilang di Balik Nama Ratu Mas Malang
Korban di Cangkring punya nasib serupa, meski konteksnya jauh berbeda. Ia perempuan, wong cilik, dan tak bertanah — tiga lapis yang menurut sosiolog Koentjaraningrat menempatkannya di dasar stratifikasi sosial masyarakat Jawa pascaperang, di bawah priyayi dan saudagar. Pelakunya laki-laki dan mempunyai sawah sendiri, sehingga posisinya jauh lebih tinggi meski sama-sama bisa disebut wong cilik.
Ketika kasus ini dibawa ke pengadilan, jarak keduanya makin lebar. Pelaku menyuap polisi, aparat dari kalangan priyayi yang lebih dekat secara strata dengannya, agar hukumannya diringankan. Korban yang sudah mati tak bisa membela dirinya sendiri sebagai bukan pencuri, dan keluarganya pun kalah di persidangan. Penindasan itu, menurut peneliti, berlapis dua: dari pelaku, lalu dari aparat yang seharusnya menegakkan keadilan.
Karma Mistis: Sebab-Akibat
Karma sehari-hari sering dipahami sebagai tindakan buruk yang cepat atau lambat berbalik pada pelakunya sendiri. Dalam legenda Cangkring, karma itu datang lewat dua peristiwa aneh yang muncul tak lama setelah pembunuhan terjadi.
Pertama, serangan hama tikus membuat sawah-sawah di Cangkring mengalami gagal panen berkepanjangan. Sebagai upaya menolak bala, warga menggelar ruwatan lewat pertunjukan wayang. Suatu malam mereka membasmi tikus-tikus itu beramai-ramai, memasang pagar pandan dan berjaga dari utara maupun selatan. Esok paginya, anehnya, tak satu pun bangkai tikus yang sudah dibunuh semalam ditemukan di sawah.
Alit Kaswanto, petani berusia 71 tahun di Wonorejo II, Gading Sari, Sanden, Bantul, masih ingat malam itu. Dalam wawancara 12 Maret 2024 ia berkata: “Anehnya waktu malam hari sudah membunuh banyak tikus kok paginya tidak ada bangkainya. Aku menyaksikan sendiri itu.”
Baca juga Air Garam dan Mantra Sakit Perut dari Desa Jomboran
Kedua, warga sering mendengar suara gejog lesung menjelang musim panen, padahal tak ada seorang pun yang sedang menumbuk padi malam itu. Suara itu dipercaya sebagai pertanda bahwa hasil panen di sawah bekas pembunuhan tak akan pernah maksimal lagi. Sampai tahun lalu, suara itu disebut masih terdengar di sekitar persawahan Cangkring, seolah sawah itu sudah dipanen lebih dulu oleh sesuatu yang tak terlihat.
Peneliti sendiri mengingatkan bahwa serangan hama tikus sebenarnya bisa terjadi kapan saja dan di mana saja, tanpa hubungan sebab-akibat langsung dengan kasus pembunuhan. Hanya karena waktunya berdekatan, disertai simpati warga pada korban yang tak mendapat keadilan, masyarakat setempat kemudian meyakininya sebagai satu rangkaian karma yang utuh.
Konsep karma sendiri sebenarnya berasal dari ajaran Hindu-Buddha yang masuk ke Jawa sejak abad keempat hingga kelima Masehi, jauh sebelum Islam datang. Meski karma bukan ajaran Islam, prinsipnya serupa dengan konsep pembalasan yang diajarkan Islam: setiap perbuatan akan mendapat balasannya, baik di dunia maupun di akhirat. Karena itu, konsep karma tetap bertahan dalam kepercayaan masyarakat Jawa yang mayoritas muslim, termasuk di Cangkring.
Legenda bertema karma seperti ini juga bukan yang pertama di Jawa. Ada legenda kematian Syekh Siti Jenar di Dusun Pematen, Cirebon, yang konon mengutuk pembunuhnya supaya keturunannya kelak dijajah bangsa berkulit putih. Ada pula legenda petapa Sek Belobelo yang dibunuh temannya sendiri, lalu mengutuk keturunan pembunuhnya dengan kutukan serupa. Karma buruk, dalam legenda-legenda semacam itu, selalu menyertai pembunuhan orang yang tak bersalah.
Legenda: Sejarah yang Diyakini
Bagi orang awam, legenda sering diartikan sekadar dongeng lama untuk anak-anak. Padahal menurut folklorist James Danandjaja, legenda berbeda dari dongeng maupun mite — ia dianggap benar-benar terjadi oleh masyarakat pemiliknya, bertempat di dunia nyata yang dikenal sehari-hari, bukan di negeri antah-berantah pada masa yang sangat lampau seperti mite. Peneliti Finnegan menambahkan, legenda semacam ini juga tergolong tradisi lisan: berkaitan dengan lisan, tidak tertulis, milik rakyat, dan diturunkan dari generasi ke generasi.
Kasus Cangkring memenuhi seluruh ciri itu. Pembunuhannya nyata, ada korban, ada proses pengadilan yang tercatat. Yang mengubahnya menjadi legenda adalah unsur mistis yang menyertainya: karma tikus dan suara gejog lesung yang terus diceritakan turun-temurun oleh warga setempat, bukan cerita yang sudah sangat jauh di masa silam.
Legenda semacam ini, menurut Danandjaja, berfungsi memperteguh sistem kepercayaan masyarakat pemiliknya. Cerita tentang karma mengingatkan warga bahwa kejahatan, cepat atau lambat, akan berbalik pada pelakunya sendiri — meski hukum resmi gagal menghukumnya secara setimpal, bahkan ketika tuntutan keluarga korban bahwa nyawa harus dibayar nyawa tak pernah terkabul.
Representasi: Suara untuk yang Bisu
Istilah lain yang dipakai adalah representasi, yang dalam bahasa sehari-hari berarti mewakili suara orang lain yang tak bisa bicara sendiri. Spivak membaginya menjadi dua bentuk: representasi politis, semacam anggota dewan yang mewakili rakyatnya di parlemen, dan representasi filosofis, yang biasanya dilakukan lewat karya budaya seperti novel atau kajian ilmiah tentang subaltern.
Baca juga Pematang Sawah dan Tibu Palakan dalam Lontar Enggung
Tiga kajian terdahulu yang dirujuk peneliti semuanya memakai jalur representasi filosofis lewat novel: Valentina Edellwiz Edwar meneliti perempuan Tionghoa dalam novel Dari Dalam Kubur, Agry Pramita meneliti perempuan India dalam novel The Glory of Sri Sri Ganesh, dan Ide Idola Silehu meneliti budak perempuan kulit hitam dalam novel Ever My Love. Ketiganya sama-sama menemukan bahwa upaya merepresentasikan suara subaltern lewat novel itu justru sering gagal atau terjebak.
Yang tak biasa dari kajian Cangkring, agen representasinya bukan seorang penulis tunggal seperti pada ketiga novel itu, melainkan masyarakat Dusun Cangkring sendiri secara kolektif. Merekalah yang menghidupkan dan mewariskan legenda ini dari generasi ke generasi, secara tidak sadar menyuarakan ketidakadilan yang dialami korban lewat cerita karma mistis, bukan lewat tulisan sastra.
Peneliti sendiri mengakui batasan kajiannya. Kajian yang memakai teori subaltern Spivak untuk cerita rakyat, khususnya di Indonesia, nyaris tidak ada, sehingga tinjauan pustaka dalam artikel ini hanya bisa merujuk pada penelitian atas novel-novel tadi, bukan legenda lisan yang benar-benar sebanding dari segi bentuknya.
Pemilik sawah itu lolos dari hukuman mati. Tapi hampir empat dekade kemudian, orang-orang Cangkring masih menceritakan suara gejog lesung yang, kata mereka, belum juga berhenti terdengar.













