Tabloid Carakita Menulis Hai Guys dengan Aksara Jawa

A A

Naskah beraksara Jawa koleksi Museum Sonobudoyo. [Foto: Wikimedia Commons]

Cekricek.id — Di salah satu rubrik Tabloid Carakita, sederet aksara Jawa membentuk bunyi yang sama sekali bukan bahasa Jawa. Dibaca huruf demi huruf, bunyinya hai gais — sapaan bahasa Inggris sehari-hari, dieja persis seperti diucapkan, dalam aksara yang lahir untuk menuliskan bahasa Jawa.

Contoh itu dicatat tiga peneliti dalam satu artikel jurnal berjudul Harmoni Budaya dalam Pelestarian Aksara Jawa Lintas Bahasa pada Tabloid Carakita, ditulis Vighna Rivattyannur Hernawan, peneliti independen; Nurma Aisyah dari Tribun Video, TribunNews; dan Idharul Huda dari Komunitas Jangkah Nusantara. Tulisan itu terbit di jurnal ARNAWA Volume 3 Nomor 1 tahun 2025.

Tabloid itu lahir dari sebuah kongres. Pada 22 Maret 2021, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta membuka Kongres Aksara Jawa I. Kongres itu berlangsung lima hari, sampai 26 Maret 2021. Salah satu hasilnya berupa terbitan cetak untuk pembaca remaja. Empat bulan kemudian terbitan itu keluar dengan nama Carakita.

Upaya pelestarian aksara Jawa sudah berjalan sebelum kongres itu. Peneliti mendaftar sejumlah contoh dari rentang 2015 sampai 2020. Wardani (2015) memakai teknologi augmented reality untuk mengenalkan aksara Jawa kepada anak. Syahbarina (2017) menyusun media monopoli aksara Jawa untuk siswa sekolah dasar. Avianto dan Prasida (2018) memakai board game untuk sasaran yang sama.

Daftar itu berlanjut pada tahun berikutnya. Wulandari dan kawan-kawan (2018) mengembangkan permainan dakon aksara Jawa untuk kelas V sekolah dasar. Fakhruddin dan kawan-kawan (2019) membangun media pembelajaran berbasis situs web. Rahardjo dan kawan-kawan (2019) menyusun multimedia interaktif berbasis Android untuk kelas X SMK Negeri 5 Malang. Hampir seluruhnya menyasar anak-anak. Carakita menyasar remaja.

Daftar Isi
  1. Juli 2021: Edisi Pertama dan Sebelas Rubrik
  2. September 2021: Edisi Kedua dan Dua Rubrik yang Hilang
  3. Dua Edisi Dibaca: Aksara Swara dan Aksara Rekan
  4. April 2022: Keterangan dari Kontributor Tabloid
  5. Sesudah 2021: Bagian yang Belum Terukur

Juli 2021: Edisi Pertama dan Sebelas Rubrik

Halaman naskah Jawa dengan gambar tokoh wayang berwarna di kedua sisinya
Naskah Jawa bergambar tokoh wayang. (Foto: Wikimedia Commons)

Edisi pertama Tabloid Carakita terbit pada Juli 2021. Penerbitnya Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta. Bentuknya empat lembar berukuran 60 x 42 sentimeter, dilipat dua seperti koran. Setelah dilipat, ukurannya menjadi 30 x 42 sentimeter dengan tebal 2 milimeter. Isinya empat belas halaman, ditambah dua halaman sampul. Satu lembar poster anak disertakan sebagai bonus.

Edisi Juli 2021 memuat sebelas rubrik. Namanya Trending Topik Kita, Cerpen Kita, Cerkak Kita, Artikel Kita, Carakita, Puisi Kita, Geguritan Kita, Hang Out Kita, Sahabat Santuy Kita, Harta Karun Kita, dan Pepeling Jawa Kita. Sebagian rubrik ditulis dengan huruf Latin. Sebagian lagi ditulis dengan aksara Jawa. Rubrik beraksara Jawa itulah yang diperiksa ketiga peneliti, termasuk rubrik Hang Out Kita yang memuat sapaan hai gais tadi.

Baca juga 52 Kata Korea Masuk Bahasa Indonesia lewat Hallyu

Nama tabloid dijelaskan di rubrik Carakita pada edisi yang sama. Carakita adalah akronim dari Carakan Kita. Redaksinya memberi nama itu dua arti. Carakita berarti cara remaja masa kini berekspresi dengan aksara. Bila penanda vokal /i/ atau wulu dihilangkan, kata itu terbaca Carakata, yang berarti cara sebuah kata dituliskan dengan aksara dan alfabet. Wulu pada tajuknya dicetak berwarna oranye.

Hampir seluruh isi tabloid ditulis dengan aksara Jawa. Peneliti mencatat angkanya sekitar sembilan puluh persen. Sisanya huruf Latin berbahasa Jawa. Yang membedakan terbitan ini dari tabloid lain adalah bahasanya. Aksara Jawa di dalamnya dipakai untuk menulis bahasa Jawa, bahasa Indonesia, dan sedikit bahasa Inggris.

September 2021: Edisi Kedua dan Dua Rubrik yang Hilang

Edisi kedua terbit pada September 2021. Jumlah rubriknya berkurang menjadi sembilan. Dua rubrik tidak muncul lagi, yaitu Artikel Kita dan Carakita. Poster anak tetap disertakan pada kedua edisi. Poster itu memuat pedoman penulisan dan pembacaan aksara Jawa yang terbaru, disertai gambar nama-nama hewan beserta anaknya dan tahap pertumbuhan buah kelapa.

Setiap rubrik beraksara Jawa diberi penanda bahasa. Penandanya ada dua, yaitu BI untuk bahasa Indonesia dan BJ untuk bahasa Jawa. Penanda itu ditempatkan di samping nama rubrik. Nama rubrik dalam aksara Jawa dicetak tepat di bawahnya. Bahasa Inggris tidak diberi penanda khusus, sebab kemunculannya menyelip di dalam rubrik berbahasa Indonesia.

Dua Edisi Dibaca: Aksara Swara dan Aksara Rekan

Aksara Jawa memakai sistem abugida. Setiap huruf konsonan sudah mengandung vokal /a/. Vokal lain ditandai sandhangan, sedangkan vokal bawaan dimatikan dengan pangkon. Carakan terdiri atas dua puluh aksara pokok, yaitu hanacaraka, datasawala, padhajayanya, dan magabathanga. Rujukan kaidah yang dipakai peneliti adalah buku Tata Tulis Aksara Jawa terbitan Tim Kongres Aksara Jawa I Yogyakarta tahun 2021.

Peneliti membedakannya dari sistem silabis murni. Dalam sistem itu, satu lambang mewakili satu suku kata penuh. Aksara kana Jepang, yaitu hiragana dan katakana, disebut sebagai contohnya. Aksara Jawa tidak bekerja begitu. Ia memerlukan sandhangan untuk menghadirkan vokal selain /a/, sehingga penulisannya turut dipengaruhi sistem fonemis dan alfabetis.

Kaidah utamanya mengikuti bunyi ujaran, bukan ejaan Latinnya. Peneliti mencatat beberapa contoh dari dalam tabloid. Kata “biasanya” ditulis menjadi biyasanya. Frasa Inggris “hang out kita” ditulis menjadi heng ot kita. Sapaan “Hai guys” ditulis mengikuti bunyinya, yaitu hai gais. Kaidah lama itu tetap berlaku meski bahasa yang ditulis berganti.

Baca juga Bahalo, Goti, Tumang: Kosakata Sagu Halmahera

Perubahan justru terjadi pada frekuensi pemakaian. Aksara swara lazimnya dipakai terbatas, yaitu untuk nama orang, nama tempat, dan kata serapan. Contohnya Andi, Irma, dan Indonesia. Di dalam Carakita, aksara swara dipakai pada seluruh teks yang memuat bunyi tersebut. Contoh yang dicatat peneliti adalah kata “yaitu”, “adalah”, dan frasa “oleh karena itu”.

Aksara rekan juga muncul lebih sering. Aksara ini sengaja dibuat untuk melafalkan bunyi asli kata serapan. Penandanya cecak telu, yaitu tiga titik yang ditaruh di atas aksara. Dari aksara pa, ka, wa, dan ja lahir fa, kha, va, dan za. Contoh pemakaiannya di dalam tabloid adalah kata faktor, lazim, aktivitas, dan khawatir.

Ada pula aksara yang justru tidak terpakai. Dalam rubrik berbahasa Indonesia, peneliti tidak menemukan aksara da apiko-alveolar dan aksara tha lamino-palatal. Sebabnya, dua bunyi itu tidak ada dalam pelafalan bahasa Indonesia. Pada teks berbahasa Inggris, hanya aksara tha yang dimungkinkan tidak terpakai.

April 2022: Keterangan dari Kontributor Tabloid

Pada 25 April 2022, peneliti mewawancarai Siti Nurhilmi Nihayati, S.S., lewat aplikasi WhatsApp. Ia kontributor tabloid tersebut. Wawancaranya bersifat informal, tanpa daftar pertanyaan yang disusun lebih dulu. Dari keterangannya diketahui Tabloid Carakita terbit dua kali dalam setahun. Jumlah cetakannya terbatas dan pembagiannya tidak dipungut biaya.

Tabloid itu tersedia di kantor Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Siapa pun boleh mengambilnya di sana. Selain itu tabloid diedarkan ke sekolah-sekolah di Yogyakarta, dan guru yang bersangkutan dapat mengambilnya langsung. Biayanya berasal dari dana keistimewaan, yaitu dana yang dialokasikan untuk kewenangan istimewa daerah, termasuk urusan kebudayaan.

Dasar aturannya sudah ada sebelum tabloid terbit. Peraturan Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 3 Tahun 2021 mengatur pengembangan bahasa, sastra, dan aksara Jawa. Sebuah tinjauan oleh Quinn (2021) yang dikutip artikel itu menyebut Carakita luar biasa karena hampir seluruhnya dicetak dalam aksara Jawa. Tinjauan yang sama menyejajarkannya dengan majalah Ancas, Pagagan, Sempulur, Jawacana, dan Swaratama.

Peneliti mencatat dua nilai dari terbitan itu. Nilai sosialnya terletak pada sasaran pembaca dan pembagian gratis tanpa batas kepemilikan. Pedoman baca di dalam poster dan penanda bahasa di tiap rubrik disebut memudahkan pembaca pemula. Nilai budayanya terletak pada pertemuan aksara Jawa dengan bahasa Indonesia dan Inggris di satu halaman.

Baca juga Sesepuh Menolak, Kuda Lumping Naik Panggung Wisata

Praktik serupa sudah tampak di ruang publik Yogyakarta. Artikel itu menyebut tulisan aksara Jawa pada penanda jalan di Malioboro. Penanda kursi dan tempat pembuangan sampah di kawasan yang sama juga memakainya. Tabloid Carakita disebut sebagai wujud yang sama dalam bentuk media cetak.

Dari rangkaian catatan itu ketiga peneliti menarik satu istilah. “Tabloid Carakita adalah cermin penyatuan budaya tradisional dan modern,” tulis Vighna Rivattyannur Hernawan bersama Nurma Aisyah dan Idharul Huda dalam artikel tersebut. Sisi tradisionalnya mereka tempatkan pada aksara dan bahasa Jawa. Sisi modernnya pada pemakaian bahasa Indonesia dan Inggris serta cara tabloid itu dikemas.

Sesudah 2021: Bagian yang Belum Terukur

Ketiga peneliti menyebutkan batas kerjanya sendiri. Di dalam artikel itu tertulis bahwa penelitian ini terbatas pada sampel Tabloid Carakita yang hanya dua edisi awal, wawancara informal pada satu narasumber, serta tidak mengukur dampak pembaca secara langsung. Kedua edisi itu sama-sama terbit pada 2021. Edisi sesudahnya tidak masuk ke dalam bahan yang diperiksa.

Batas itu perlu dipegang saat membaca kesimpulannya. Artikel tersebut menilai tabloid ini efektif sebagai strategi pemertahanan aksara Jawa. Penilaian itu disusun dari desain, isi, jalur distribusi, dan sifat terbitannya yang berkala. Tidak ada pengukuran terhadap pembacanya. Berapa remaja yang benar-benar membaca dan berapa yang kemampuan membaca aksaranya bertambah tidak diketahui dari kajian ini.

Peneliti mengusulkan lanjutan. Alih kode dan campur kode di dalam tabloid disebut layak dikaji lebih dalam. Mereka juga menulis bahwa pelestarian aksara Jawa sebaiknya tidak bertumpu pada pemerintah daerah saja.

Peneliti menutup catatan mereka dengan satu kemungkinan yang belum tertangkap di kedua edisi itu: kelak, kata mereka, bisa saja ada bahasa lain di luar Jawa, Indonesia, dan Inggris yang turut dituliskan dengan aksara yang sama. Untuk sekarang, di halaman tabloid yang sudah tercetak dan berhenti di September 2021, sapaan hai gais tetap berdiri dengan huruf yang lahir jauh sebelum ada kata sesantai itu untuk diucapkan.

Bagikan

Baca Juga

Pemandangan udara kawasan kampus Universitas Gadjah Mada
Diskusi UGM Soal Batas Antara Merawat dan Menjual Budaya
Ilustrasi seorang anak dan neneknya mengamati lemari kaca museum sejarah alam
Museum Biologi UGM Dinilai Gelap dan Tak Ada yang Bisa Dimainkan
Arsip Pribadi Heri Dono Dibuka, Termasuk Surat dari Kedutaan
Arsip Pribadi Heri Dono Dibuka, Termasuk Surat dari Kedutaan
Ilustrasi rombongan pesepeda melintasi gang berdinding tembok tua pada pagi hari
53 Mahasiswa Menguji Rute Sepeda Cagar Budaya Yogyakarta
Festival Kiamat dan Hutan Wakaf, Dua Cara Iman Menjaga Alam
Festival Kiamat dan Hutan Wakaf, Dua Cara Iman Menjaga Alam
Dosen Fakultas Kehutanan UGM Atus Syahbudin memperlihatkan kain ecoprint karya warga Sangurejo di Leiden
Bekas Kampung Kumuh Sleman Masuk 32 Nominasi ProKlim