Cekricek.id — Bahalo adalah kata yang dipakai orang Desa Sawangakar untuk pekerjaan memukul empulur batang sagu sampai hancur, kira-kira seperti menumbuk padi di lesung, hanya saja yang ditumbuk adalah isi batang sepanjang satu sampai dua meter dan yang keluar bukan beras melainkan tepung basah.
Kata itu, bersama belasan kata lain seperti goti, tumang, sasaku, dan ngasi, dikumpulkan Alfi Tani bersama Umar Hi. Rajab, M.A., dan Junaib Umar, S.S., M.Si. dari Universitas Khairun dalam artikel Perkembangan Pengolahan Sagu di Desa Sawangakar Kecamatan Botang Lomang Kabupaten Halmahera Selatan 1980–2022, dimuat Jurnal Pusaka Vol. 4 No. 1 terbitan 2024. Data utamanya wawancara dengan perajin sagu di desa tersebut.
Daftar Isi
Bahalo: Menumbuk Batang sampai Patinya Lepas

Sebelum 1980-an, tulis para penelitinya, mengolah bahalo sagu adalah satu-satunya mata pencaharian warga Sawangakar selain berkebun. Sagu jenis rumbia atau Metroxylon sagu — sagu yang tangkai pelepahnya ditumbuhi duri — tumbuh liar di lahan basah sekitar kampung. Volumenya tidak sampai untuk diperjualbelikan; hasilnya habis di dapur sendiri, cukup untuk mempertahankan hidup.
Urutan kerjanya panjang. Semak di sekeliling pohon ditebas lebih dulu dengan parang peda panjang supaya duri pelepah tidak menghalangi. Penebangan memakai kapak yang mereka sebut tamako. Batang sagu tidak tebal, sekitar lima sentimeter, dan dagingnya lunak, sehingga beberapa ayunan sudah cukup untuk merobohkannya. Batang yang tumbang dipotong sepanjang satu sampai dua meter, lalu dibelah dua dengan bantuan baji, yaitu penggal kayu yang dibentuk seperti kapak dan didorong pemukul balok sepanjang sekitar 50 sentimeter.
Baru sesudah itu bahalo. Empulur yang mengandung tepung dihancurkan dengan alat bernama ngongalo; pekerjaan menghancurkannya disebut penongkokan atau pangkur. Alat pangkurnya, sasaku, sesederhana namanya: sepotong bambu sekitar 50 sentimeter dan sepotong kayu 50 sentimeter yang diikat atau dianyam menjadi satu. Orang Sangihe dan Talaud menyebut alat serupa sakule atau bawusu.
Baca juga Migrasi Orang Tobelo: Dari Talaga Lina ke Bacan dan Obi
Perbandingan dengan lesung tadi meleset di satu hal. Menumbuk padi bisa dikerjakan sendirian; bahalo tidak. Satu kelompok kerja berisi empat sampai lima orang dengan pembagian tugas jelas — satu orang khusus meremas, sisanya memangkur. Kelompok itu hampir selalu keluarga dekat, anak atau saudara kandung, karena hasilnya memang hanya untuk kebutuhan sehari-hari.
Goti: Bak Penampung di Tepi Sungai
Goti adalah nama tempat pemerasan sekaligus wadah pengendapan sari pati, selalu berada di tepi sungai atau dekat mata air. Bayangkan bak pencuci beras, hanya jauh lebih besar dan dibuat sendiri. Sebelum 2000-an warga memakai perahu sederhana atau susunan papan sebagai penampung; kini susunan papan itu dibalut terpal berukuran kurang lebih empat kali delapan meter, dan sebagian kelompok tani memakai bak air.
Serat sagu ditabur di atas wadah papan segi empat, dialas saringan kain halus bermerek sivon selebar kurang lebih satu meter yang dibeli di toko. Kain itu menggantikan dormaso, penyaring dari pelepah daun kelapa. Sebelumnya saringan dijahit sendiri dari serabut pelepah daun kelapa berbentuk segitiga, dan penimba airnya pun terbuat dari pelepah daun sagu yang dijahit dengan tali.
Perbandingan tenaganya jelas. Dengan pangkur bahalo, tiga sampai empat orang membutuhkan sekitar dua sampai tiga hari untuk menuntaskan satu pohon. Dengan mesin parut, satu pohon selesai dalam setengah hari oleh dua orang yang saling bergantian. Mesin alkon — pompa air bermesin bensin yang mengalirkan air ke empulur — bisa merampungkan satu sampai dua pohon sehari, tergantung operator dan pembantunya.
Kata modern mudah disalahpahami di sini. Alfi Tani, Umar Hi. Rajab, M.A., dan Junaib Umar, S.S., M.Si. tidak membaca lambatnya mesin masuk semata sebagai soal miskin. Mereka menulis bahwa masyarakat setempat “lebih memiliki nilai budaya yang selalu berorientasi pada kebutuhan subsisten, sehingga teknologi produksi modern pun tidaklah begitu penting bagi mereka”. Subsisten di sini berarti memproduksi sekadar cukup untuk dimakan sendiri, bukan untuk dijual.
Tumang: Anyaman Daun yang Kini Jadi Karung
Tumang adalah wadah bulat dari anyaman daun sagu, disambung sehelai demi sehelai hingga utuh, tempat sari pati yang masih basah dibungkus. Padanan terdekatnya mungkin besek untuk nasi, hanya jauh lebih besar dan tanpa ukuran baku. Berat isi satu tumang tidak pernah pasti karena warga tidak memakai takaran apa pun. Bentuk dan ukurannya disebut tidak berubah sejak dahulu hingga dekade 1980-an dan 1990-an.
Baca juga Ekonomi Cengkeh Tidore: 18 Persen untuk Petani
Kelebihannya terletak pada kelembapan: sagu di dalam tumang bisa bertahan empat sampai enam bulan. Meski begitu, tumang kini digantikan karung beras berukuran 25 kilogram yang dianggap jauh lebih efektif, seperti disampaikan seorang warga bernama Naidir kepada para peneliti. Masalah lamanya tetap terbawa — karung itu pun tidak ditimbang, sehingga berat tiap karung selalu berbeda-beda.
Angka yang lebih pasti justru datang dari pasar. Sejak 2010 hingga batas akhir penulisan, satu karung sagu basah ukuran 25 kilogram dijual sekitar Rp180.000 sampai Rp200.000 di sentra produksi, dan lebih mahal lagi bila sudah berpindah ke tangan pengecer. Sejak 1990-an, hampir semua kelompok tani mengaku mampu mencetak lebih dari 100 sak sagu basah dalam dua minggu.
Ngasi adalah istilah untuk bagi hasil ketika lahan sagu milik orang lain. Bila lahan dibuka dengan sistem ngasi dan hasilnya sepuluh karung pati sagu, pemilik lahan menerima dua karung, sisanya dibagi rata di antara kelompok kerja. Berbeda dengan bagi hasil di dalam satu keluarga, yang seluruh hasilnya dikumpulkan lalu dibagi merata tanpa melihat struktur sosial karena dianggap kepemilikan bersama.
Hasilnya juga bukan hanya papeda, bubur sagu yang cepat dimasak itu. Ada singole dan sagu lempeng, ditambah biskuit bagea, roti panggang kenari khas Ternate, serta kamplang yang sebagian besar diproduksi masyarakat Bajo Sangkuang. Distribusinya menyebar ke Kota Labuha, kampung Bajo Sangkuang, Paisumbaos, Desa Tanjung Obi, Pulau Kasiruta, dan Kecamatan Kayoa Barat.
Perbandingannya dengan daerah lain juga ada di papernya. Alex J. Ulaen mencatat sagu sudah lama menjadi makanan utama penduduk Sangihe dan Talaud, sementara Hafiz Ansar bersama Maria Heni Pratinyo dan Nasrun Sandiah menemukan sagu di Kota Tidore Kepulauan bertahan sebagai makanan alternatif. Di Sawangakar posisinya berbeda: sagu bukan alternatif, melainkan makanan pokok di samping beras sekaligus sumber ekonomi yang dikomersialkan.
Mesin Sensor: Sebutan Setempat untuk Gergaji Mesin
Yang disebut warga mesin sensor sebenarnya gergaji mesin berbahan bakar bensin, dengan merek yang sering dipakai stihl mini. Kata sensor di sini tidak ada hubungannya dengan alat pendeteksi; alat itu dipakai untuk menebang, membelah, memotong, dan mengupas batang sagu — pekerjaan yang dulu dilakukan kapak tamako. Mesin ini dikendalikan seorang operator dan dibantu seorang kernek, yaitu tenaga pembantu.
Baca juga 52 Kata Korea Masuk Bahasa Indonesia lewat Hallyu
Mesin parut menggantikan sasaku. Merek yang sering dipakai adalah Robin, Honda, dan Yamaha dengan kapasitas kekuatan sama, dan isi tangkinya kurang lebih dua sampai tiga liter bensin murni. Mesin pabrikan itu tidak selalu dipakai utuh: kaki mesin bisa diganti balok kayu, bola dan parutannya diganti kayu dengan paku berukuran tujuh sentimeter. Yang tidak bisa diganti hanya tangki mesin dan busi, ditambah satu komponen yang mereka sebut vembel.
Mesin alkon menggantikan tangan yang menimba. Alat itu mengalirkan air ke empulur sagu yang sudah diparut agar patinya larut ke dalam bak kayu atau goti. Dua orang bergantian: satu memegang selang, satu mengaduk dan meremas. Penyiraman berhenti ketika sari pati tidak lagi terlihat keluar dari serat, lalu ampasnya dibuang dan diganti serat yang baru, terus-menerus sampai sore menjelang malam.
Bahkan pemasaran ikut berganti nama. Para penelitinya menyebut sistem penjualan kini sudah berbentuk digitalisasi, dan yang mereka maksud dengan istilah besar itu sederhana: sagu lempeng dapat dipesan lewat telepon atau grup WhatsApp. Sebutan itu jauh lebih luas daripada praktik yang diwakilinya, dan tulisan ini memakainya persis seperti yang tertulis di sana, tanpa menambah maknanya.
Ada yang tidak bisa dijawab istilah mana pun. Para penelitinya mengakui hingga kini belum dapat teridentifikasi berapa hektare pohon sagu tumbuh di Pulau Batanglomang dan Desa Sawangakar karena pemerintah desa tidak menyediakan data statistik. Berat satu karung juga tidak pernah pasti. Artinya lonjakan produksi yang mereka gambarkan bersandar pada pengakuan kelompok tani, bukan pada timbangan.
Bahalo pun berhenti menjadi pekerjaan. Pangkur sasaku yang disebut bahalo itu, tulis mereka, pada masa kini tidak lagi digunakan dan digantikan mesin parut berbahan bakar bensin. Kata-kata tadi masih dicatat, dijelaskan, dan diterjemahkan, tetapi sebagai nama alat kerja sebagian besar sudah tidak menunjuk apa pun yang masih dipegang tangan di tepian sungai tempat goti berdiri.













