Cekricek.id — Sebuah meriam besi yang berkarat di halaman Museum Mpu Tantular dan sebuah meriam perunggu yang terangkat dari kapal karam di perairan Australia Barat sepintas tidak punya hubungan apa pun. Keduanya ternyata membawa tanda yang nyaris serupa: satu rupa huruf tunggal yang ditempelkan pada monogram V, O, dan C. Huruf itu bukan hiasan dan bukan tanda pembuatnya. Ia menyebut nama kamar dagang yang memesan meriam tersebut, memilikinya, dan menempatkannya di satu titik pada jalur rempah.
Perbandingan tanda itulah yang dikerjakan dalam artikel Variasi dan Kronologi Bentuk Logo Kamar Dagang VOC pada Meriam Kuno: Perbandingan pada Koleksi Museum-Museum di Jawa, Malaysia, dan Australia, yang terbit pada 2025 dalam AMERTA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Vol. 43 No. 2, halaman 171–188. Penulis pertamanya, Panji Syofiadisna, adalah peneliti pada Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan BRIN. Ia menggarap artikel itu bersama enam peneliti BRIN lain, di antaranya Yuka Nurtanti Cahyaningtyas, Dimas Nugroho, Harriyadi, dan Dewangga Eka Mahardian.
Bahan utamanya sepuluh meriam berlogo kamar dagang yang dapat dilihat langsung di lima museum, yaitu Museum Sejarah Jakarta, Museum Bahari, Museum Mpu Tantular, Museum Vredeburg, dan Museum Cakraningrat. Data itu disandingkan dengan dua sumber dari luar negeri: catatan C. A. Gibson-Hill tahun 1953 tentang meriam-meriam tua yang ditemukan di Malaysia dan laporan Wendy Van Duivenvoorde tahun 2010 tentang persenjataan kapal-kapal VOC di Australia. Dari tiga wilayah itu terkumpul sembilan belas logo kamar dagang yang kemudian diklasifikasi dan diperbandingkan satu sama lain.
Enam kamar dagang berdiri di belakang huruf-huruf tersebut: Amsterdam, Zeeland, Hoorn, Delft, Enkhuizen, dan Rotterdam. Amsterdam diwakili rupa huruf A, Delft huruf D, Hoorn huruf H, Enkhuizen huruf E, Rotterdam huruf R, sedangkan Zeeland yang berpusat di Middleburg memakai dua huruf sekaligus, Z dan M. Kesepakatan memakai kode huruf itu dibuat pada 28 Februari 1603, setahun setelah VOC dibentuk pada 1602, dan berlaku bukan hanya pada meriam, melainkan juga pada fasad bangunan, benteng, kapal, bendera, koin, dan kertas.
Daftar Isi
Besi di Halaman, Perunggu di Dalam Ruangan
Perbedaan pertama antara kedua kelompok meriam itu bahkan belum menyentuh soal logo. Kelima museum menempatkan meriam besi di luar ruangan, di halaman, karena ukurannya besar dan pemindahannya memerlukan alat angkut seperti crane. Meriam perunggu yang lebih kecil dan lebih mudah digeser disimpan di dalam ruangan. Konsekuensinya terbaca pada kondisi bendanya: meriam perunggu umumnya masih sangat bagus, sementara sebagian meriam besi mengalami korosi. Logo pada keduanya berada di tempat yang sama, yaitu bagian yang dalam istilah teknis meriam disebut 1st reinforce.
Bagian itu bukan pilihan sembarangan. Pada 1st reinforce terdapat lubang sumbu, logo, inskripsi pembuat meriam, dan angka tahun pembuatan — kebiasaan yang menurut para peneliti tidak khusus milik VOC, melainkan berlaku juga pada meriam kuno dari perusahaan dan kerajaan lain. Justru di bagian inilah korosi paling merepotkan. Posisi logo mudah ditemukan, tetapi rupa hurufnya sulit diidentifikasi ketika meriam berkarat, rusak, atau kehilangan sebagian badannya. Sebagian logo kamar Amsterdam pada meriam besi pun sudah tidak dapat diidentifikasi dengan baik lagi.
Pada meriam besi, hasil pengamatan menyisakan tiga bentuk logo saja, yaitu A VOC, D VOC, dan Z VOC M. Ketiga kamar itu menempatkan huruf kamarnya di atas monogram VOC, dan khusus Zeeland menambahkan rupa huruf M di bawahnya. Tidak ada satu pun ornamen yang menyertai, tidak ada pewarnaan khusus untuk menonjolkan identitas, dan ukuran logo yang diukir terasa kecil, tampak tidak sebanding dengan tubuh meriam besi yang sangat besar. Bahkan di antara sesama logo kamar Amsterdam rupa hurufnya tidak persis sama: satu logo di Museum Mpu Tantular memperlihatkan sudut siku di antara dua garis diagonal huruf A, sedangkan logo-logo A lainnya tidak memilikinya.
Baca juga Dua Prasasti yang Memundurkan Umur Bahasa Jawa Kuno
Meriam perunggu memberi gambaran yang berlawanan. Sebelas logo kamar tercatat pada kelompok ini, dan lima di antaranya milik kamar Zeeland dengan berbagai variasi bentuk. Model hurufnya digolongkan sebagai humanist dan transitional. Delapan meriam perunggu memuat angka tahun pembuatan — dua dibuat pada abad ke-17 dan enam pada abad ke-18 — sehingga kelompok inilah yang menopang hampir seluruh kerangka kronologi dalam kajian tersebut. Sebagian logonya berada di dalam ornamen perisai yang bentuknya tidak seragam.
Satu Garis Ukir, Dua Garis Perisai
Penjelasan atas jarak antara keduanya, menurut para peneliti, terletak pada teknik. Meriam besi digarap dengan teknik ukir satu garis, dan teknik semacam itu menyulitkan pembuatan bentuk dua dimensi. Akibatnya, pada meriam besi tidak terlihat apakah rupa huruf O dan C berada di dalam tangkai huruf V, di depannya, atau di belakangnya. Pada meriam perunggu, letak O dan C terhadap tangkai huruf V justru menjadi penanda yang paling membedakan satu logo dari logo lainnya.
Yang menarik, tim penulis tidak menyimpulkan bahwa perajin meriam besi kurang cakap. Mereka menempatkan keterbatasan itu sebagai soal jumlah garis semata. “Apabila diatur menjadi dua garis untuk mengukir satu huruf maka meriam besi juga bisa memiliki desain logo VOC seperti meriam perunggu,” tulis Panji Syofiadisna, peneliti arkeologi maritim BRIN, bersama para koleganya. Perbedaan rupa, dengan kata lain, tidak otomatis berarti perbedaan mutu, dan belum tentu pula berarti perbedaan zaman.
Di sisi perunggu, ornamen perisai menjadi ciri yang paling kasatmata. Logo kamar Hoorn di Museum Bahari dibuat dengan huruf timbul dan dibingkai perisai yang menyerupai jenis heater shield, sementara logo kamar Hoorn pada meriam dari Malaka memakai perisai dengan garis lengkung yang jauh lebih banyak. Keduanya tetap memakai perisai. Pada salah satu meriam kamar Zeeland, perisainya bahkan digambarkan bersayap, dengan tiga garis melengkung yang melebar di sisi atas dan dua lekukan yang turun ke ujung bawah.
Baca juga Meriam ke Istana dan Harga yang Dibayar Kemal Idris
Amsterdam Diam, Zeeland Berubah
Kamar Amsterdam adalah contoh kamar yang nyaris tidak bergerak. Logo A VOC pada meriam besi memperlihatkan bentuk logo kamar yang sama satu sama lain; dua di antaranya berasal dari kapal karam Vegulde Draak dan berangka tahun 1648, sedangkan sisanya tidak memuat angka tahun sama sekali. Pada meriam perunggu, logo kamar ini muncul dua kali: pada meriam dari Kelantan bertahun 1686 dan pada meriam di Museum Bahari bertahun 1794. Jarak keduanya 108 tahun, dan letak serta bentuk rupa hurufnya tidak berubah.
Di sisi lain, kamar Zeeland bergerak beberapa kali. Logo tertua kamar ini dalam kajian tersebut adalah Z VOC pada meriam perunggu dari kapal karam Zeewijk yang berangka tahun 1670, tanpa rupa huruf M dan tanpa perisai. Logo Z VOC M yang dibingkai perisai justru muncul jauh kemudian, yaitu pada dua meriam di Museum Bahari bertahun 1766 dan satu meriam di Museum Cakraningrat bertahun 1783 — semuanya mendekati masa akhir VOC. Pada ketiga meriam itu rupa huruf M dibuat paling besar, diikuti rupa huruf Z, dan monogram VOC justru yang paling kecil.
Dari perbandingan tiga bentuk itu, para penulis menarik satu dugaan yang hati-hati tentang aturan internal kamar Zeeland: rupa huruf M seolah hanya dipakai bila logo dibingkai perisai. “Apabila tidak menggunakan perisai maka tidak memerlukan rupa huruf M,” tulis tim peneliti BRIN tersebut. Dugaan itu sejalan dengan catatan lain dalam artikel yang sama, bahwa ornamen perisai diduga kuat baru muncul pada abad ke-18, dengan bersandar pada logo kamar Hoorn berangka tahun 1768.
Namun kamar Zeeland juga menyisakan variasi yang tidak rapi. Pada meriam besi di Museum Vredeburg, kedua kaki rupa huruf M terbuka lebih lebar dan sejajar dengan titik ujung bawah rupa huruf V. Pada meriam besi di Negeri Sembilan yang berangka tahun 1785, kaki huruf M tidak melebar, logo kamarnya berukuran kecil, dan rupa huruf Z diapit dua titik di sisi kanan dan kirinya. Dua meriam dengan kode huruf yang sama, dua tata letak yang berlainan.
Baca juga Saat Bangsawan Sunda Bangga Bisa Berbahasa Jawa Kuno
Di Atas Logo VOC, di Bawah Logo VOC
Perbandingan berikutnya menyangkut posisi. Amsterdam, Zeeland, dan Hoorn konsisten menempatkan rupa huruf kamar di atas monogram VOC. Enkhuizen dan Rotterdam, dengan data yang tersedia, melakukan sebaliknya. Logo VOC E terbaca pada meriam perunggu dari Malaka yang berangka tahun 1706, dengan garis horizontal huruf E yang tidak lagi utuh. Logo VOC R muncul pada meriam perunggu dari kapal karam Zeewijk, dibuat dengan huruf timbul, dengan garis diagonal pada kaki huruf R yang terlihat lebih tebal.
Kamar Delft berada di kelompok pertama, meski datanya paling tipis. Logo D VOC hanya ditemukan pada satu meriam besi di Museum Sejarah Jakarta dan tidak memuat angka tahun. Bentuk ukirannya sangat mirip dengan logo kamar Amsterdam di Museum Vredeburg dan Museum Mpu Tantular, dan ketiganya sama-sama tanpa keterangan tahun. Kemiripan itu menjadi petunjuk sekaligus jalan buntu: mirip boleh jadi berarti sezaman, tetapi tidak ada angka yang dapat membuktikannya.
Di balik semua variasi itu, para peneliti menemukan satu hal yang tidak pernah berpindah. Rupa huruf kamar boleh ditaruh di atas atau di bawah, bentuk hurufnya boleh berubah, ornamen boleh ditambahkan, tetapi posisi monogram VOC sebagai pusat tidak pernah dihilangkan. Kebebasan kamar dagang itu, menurut artikel tersebut, diperkirakan merupakan kesepakatan dengan para direktur VOC. Logo VOC menjadi poros, dan logo kamar dibiarkan beredar di sekitarnya selama porosnya tidak hilang. Pola itu bertahan pada seluruh sembilan belas logo yang dibandingkan, baik pada meriam besi maupun pada meriam perunggu.
Dari sudut kajian desain, tim penulis meminjam pembagian Alina Wheeler tentang lima bentuk logo dan menempatkan logo kamar VOC sebagai wordmarks, yaitu logo berbentuk akronim. Mereka juga memakai lima syarat identitas visual dari R. Landa: recognizable, memorable, distinctive, suistainable, dan flexible. Di titik itulah kesimpulan mereka justru mengerem. Identitas visual kamar-kamar VOC memang bervariasi, dan konsistensi yang tetap tidak terlihat sepanjang hampir dua abad, sehingga syarat keberlanjutan sulit dianggap terpenuhi. Adapun fungsi umum logo — sebagai identitas diri, tanda kepemilikan, penjamin kualitas, dan pencegah pembajakan — mereka kutip dari Yerza Adynata.
Kehati-hatian itu wajar mengingat batas bahannya. Hanya sepuluh meriam yang benar-benar diamati langsung, seluruhnya di lima museum di Pulau Jawa, sementara data Malaysia dan Australia diambil dari sumber sekunder berupa tulisan tahun 1953 dan laporan tahun 2010. Tidak semua logo memuat angka tahun, sehingga kronologinya hanya dapat dibelah kasar menjadi abad ke-17 dan abad ke-18, dan logo tanpa tahun terpaksa diposisikan sebagai bagian dari kelompok kamar yang sama. Artikel ini menyebut dirinya sendiri sebagai rona awal.
Maka dua kelompok meriam itu memberi kesaksian yang berbeda. Meriam besi menyimpan angka tahun paling tua, 1648, tetapi sebagian besar logonya sama sekali tidak berangka tahun. Meriam perunggu menyimpan lebih banyak tahun dan seluruh ornamennya, tetapi jumlahnya kecil dan tersebar di tiga negara. Yang satu kuat pada rupa, yang lain kuat pada waktu, dan keduanya belum cukup untuk menyusun garis waktu logo kamar dagang VOC secara utuh — sesuatu yang, menurut para penulisnya, masih menunggu temuan berikutnya di tempat lain.














