Cekricek.id — Dua puluh empat dari 27 depot air isi ulang Padang tercemar.
Angka itu berasal dari penelitian empat orang di Kota Padang, Sumatra Barat. Syofia Eryeni, Eri Barlian, dan Indang Dewata bekerja di Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Padang. Penulis keempat, Linda Handayuni, berasal dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma Landbouw Padang.
Laporan mereka berjudul Kondisi Sanitasi Depot Air Minum Isi Ulang di Kota Padang. Tulisan itu terbit di Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes, Volume 14 Nomor 2, pada 2023, halaman 306 sampai 311. Jurnalnya berakses terbuka dan bisa dibaca siapa saja tanpa biaya langganan.
Kota Padang tercatat memiliki 534 depot air minum isi ulang pada 2022, tahun pengambilan data. Depot semacam itu menjual air galon murah kepada rumah tangga kota setiap hari. Peneliti mengambil lima persen dari jumlah tersebut, yaitu 27 depot yang tersebar di sebelas kecamatan.
Daftar Isi
Dua Puluh Empat

Hasil pemeriksaan membelah 27 depot itu menjadi dua kelompok yang sangat timpang jumlahnya. Hanya tiga depot memenuhi persyaratan fisik, mikrobiologi, dan kimia untuk air minum. Sisanya, 24 depot, gagal memenuhi syarat, sehingga yang lolos tinggal 11,1 persen dari seluruh sampel.
Bakteri yang ditemukan pada air olahan depot itu adalah coliform. Laporan tersebut membagi coliform menjadi dua kelompok, yaitu coliform fekal dan coliform nonfekal. Coliform fekal menandakan cemaran tinja, dan kehadirannya di air siap minum jelas tidak seharusnya terjadi.
Laporan itu juga memuat data Dinas Kesehatan Kota Padang untuk rentang tiga tahun sebelumnya. Pada 2018 tercatat 594 depot, dan 79,7 persen di antaranya memenuhi syarat kesehatan. Pada 2019 angkanya turun menjadi 76,4 persen, lalu pada 2020 tinggal 67,9 persen dari 534 depot.
Jumlah depot yang terdaftar ikut menyusut sepanjang tiga tahun tersebut, dari 594 menjadi 583, lalu 534. Proporsi yang memenuhi syarat menyusut lebih cepat daripada jumlah depotnya sendiri. Selisihnya hampir dua belas poin persentase hanya dalam rentang tiga tahun.
Survei 27 depot pada 2022 memberi gambaran yang jauh lebih gelap daripada data tiga tahun itu. Angka 11,1 persen berjarak sangat lebar dari 67,9 persen dua tahun sebelumnya. Kedua angka memakai cara pengukuran berbeda, jadi perbandingan langsung antara keduanya tidak adil.
Air Baku Bersih
Bagian paling ganjil dari laporan ini justru muncul di tabel air baku, bukan di tabel hasil uji. Seluruh 27 depot tercatat memakai air baku yang memenuhi persyaratan mutu. Air olahan dari depot yang sama justru gagal di 24 titik pengambilan sampel.
Baca juga COD 440 mg/l di Sungai Gentung, Baku Mutunya 25
Selisih sebesar itu menunjuk ke satu arah saja secara cukup terang bagi pembacanya. Pencemaran tampaknya terjadi setelah air baku masuk ke dalam bangunan depot. Proses pengolahan dan penanganan di dalam depot karena itu menjadi tersangka utama dalam laporan ini.
Penilaian air baku tersebut tetap perlu dibaca dengan hati-hati oleh pembaca awam. Peneliti menilainya lewat observasi dan dokumen, bukan lewat uji laboratorium yang mereka kerjakan sendiri. Laporan itu menyebut hasil pemeriksaan air baku dipegang pemilik sumber air, bukan petugas depot.
Tidak satu pun dari 27 depot memiliki surat jaminan pasok air baku, jadi angkanya nol bulat. Klaim bahwa air bakunya bersih karena itu bertumpu pada keterangan lisan pemasok. Bukti tertulisnya tidak ada di tangan orang yang setiap hari mengisi galon pembeli.
Peralatan depot sebagian besar dinilai sudah memenuhi syarat oleh tim peneliti itu. Satu butir menonjol sebagai pengecualian yang cukup serius di dalam daftar itu. Sterilisasi ultraviolet atau ozonisasi hanya berfungsi di 17 dari 27 depot, atau sekitar 63 persen saja.
Sepuluh depot berarti menjual air tanpa tahap sterilisasi yang benar-benar bekerja saat diamati. Tahap itu adalah pertahanan terakhir sebelum air mengalir masuk ke galon pembeli. Filter menahan kotoran kasar, sinar ultraviolet mengurus sisa mikrobanya, dan satu lapis yang hilang melemahkan seluruh rantai.
Tangan Tanpa Sabun
Tabel penjamah di laporan ini memuat deretan angka nol yang sulit diabaikan pembaca. Tidak satu pun penjamah mencuci tangan dengan sabun setiap kali melayani pembeli, nol dari 27. Angka itu bukan gambaran mayoritas, melainkan gambaran keseluruhan sampel penelitian.
Tidak satu pun depot menyediakan tempat cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, nol dari 27 lagi. Tempat sampah tertutup juga tidak ditemukan di satu depot pun sepanjang pengamatan. Dua fasilitas paling dasar itu absen secara merata di seluruh kecamatan yang disurvei.
Saluran pembuangan air limbah yang tertutup hanya ditemukan di satu depot saja, atau 3,7 persen dari sampel. Sembilan depot dinilai tidak bebas dari tikus, lalat, atau kecoa di area kerjanya. Sisanya, 18 depot, dinilai bebas dari ketiga hewan pembawa penyakit tersebut.
Baca juga Empat Indeks Jentik dan Peta Kasus DBD Sukoharjo
Sertifikat kursus higiene sanitasi depot air minum tidak dimiliki seorang pun penjamah. Pemeriksaan kesehatan berkala juga nihil di seluruh sampel, dan angkanya kembali nol dari 27. Padahal penjamah menyentuh galon, tutup botol, dan keran pengisian sepanjang hari kerja mereka.
Secara keseluruhan, 40,7 persen bangunan depot tidak memenuhi persyaratan higiene dan sanitasi. Satu butir penilaian justru bersih sempurna di dalam tabel yang sama. Seluruh 27 penjamah memakai pakaian bersih saat diamati, jadi yang terlihat rapi bukan yang menentukan.
Pengawasan yang Menyusut
Pengawasan dari luar seharusnya menutup celah sebesar itu sebelum air sampai ke rumah orang. Pada 2022 hanya sembilan depot yang airnya diambil petugas puskesmas untuk uji mikrobiologi. Persentasenya 33,3 persen, jadi dua pertiga sampel tidak tersentuh pemeriksaan sepanjang tahun tersebut.
Penulis utama laporan itu, Syofia Eryeni dari Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Padang, menulis satu kalimat yang telanjang. “Dari hasil observasi ditemukan fakta bahwa tidak satupun penjamah pernah melakukan pemeriksaan kesehatan ke unit pelayanan kesehatan,” tulisnya bersama tiga rekan penulis.
Laporan itu menyebut tiga kendala pengawasan secara terbuka, tanpa memperhalus keadaan di lapangan. Dana terbatas, tenaga terbatas, dan anggaran yang dialihkan selama pandemi Covid-19 bekerja bersamaan pada tahun yang sama. Hasilnya terbaca dengan jelas pada angka 33,3 persen tadi.
Peneliti juga mencatat penjamah belum mendapat keterampilan higiene sanitasi depot air minum. Sertifikat pelatihan tidak dimiliki seorang pun di antara mereka yang diamati. Butir sertifikat itu justru ada di dalam formulir inspeksi sanitasi resmi yang dipakai peneliti untuk menilai.
Batas Penelitian Ini
Laporan ini mengakui batasnya sendiri secara terus terang di bagian akhir tulisan. Peneliti menyatakan tidak melakukan uji kualitas air secara fisika dan kimiawi. Sisi mikrobiologi yang mereka kejar, sedangkan logam berat dan bahan kimia lain berada di luar jangkauan.
Sampel penelitian ini juga kecil untuk ukuran kota sebesar Padang. Dua puluh tujuh depot hanya lima persen dari 534 depot yang terdaftar di kota itu. Pemilihannya purposif dan bukan acak, jadi hasilnya tidak bisa digeneralisasi secara statistik ke seluruh kota.
Baca juga Skrining Kesehatan Jiwa Remaja SMK: Cemas Terbanyak
Desain penelitiannya deskriptif, dan itu menentukan seberapa jauh angkanya boleh dibawa. Laporan tersebut memotret keadaan lapangan, bukan menguji hubungan sebab dan akibat. Kaitan antara tangan tanpa sabun dan coliform di galon tetap dugaan masuk akal, bukan bukti kausal.
Datanya juga bertanggal dan itu perlu diingat sebelum angkanya dikutip lagi. Pengamatan lapangan dilakukan pada 2022 dan tulisannya baru naik cetak pada 2023. Keadaan depot bisa saja sudah berubah sejak itu, ke arah yang lebih baik atau lebih buruk.
Satu kota juga bukan Indonesia, dan itu batas yang paling sering dilanggar pembaca. Kota Padang punya pola pasokan air, harga jual, dan kebiasaan pengawasan sendiri. Angka 88,9 persen karena itu tidak boleh dipindahkan begitu saja ke kota mana pun.
Sisa Pertanyaan
Pertanyaan terbesar tersisa di ruang sempit antara air baku dan galon yang dibawa pulang pembeli. Laporan itu tidak memuat umur filter maupun jadwal penggantian alat di tiap depot. Tanpa data tersebut, titik masuk cemaran tetap kabur bagi siapa pun yang membacanya.
Pertanyaan kedua menyangkut 18 depot dalam sampel yang tidak diperiksa puskesmas pada 2022. Tidak ada keterangan tentang mutu air di sana sepanjang tahun tersebut selain hasil survei ini. Penelitian ini menutup sebagian kecil celah itu, tetapi sebagian besar celahnya tetap terbuka lebar.
Pertanyaan ketiga menyangkut pembeli air galon itu sendiri di tingkat paling sederhana. Air keruh mudah dikenali mata, sedangkan coliform sama sekali tidak terlihat. Pembeli menilai depot dari lantai yang bersih dan galon yang mengilap, dan dua hal itu tidak berkaitan dengan hasil laboratorium.
Laporan ini tidak menawarkan resep teknis yang panjang bagi dinas maupun pemilik depot. Isinya potret satu kota pada satu tahun, lengkap dengan deretan angka nol yang berulang. Potret itu sudah cukup terang untuk dibaca tanpa alat bantu apa pun.
Tiga dari 27 depot lulus, dan 24 sisanya menunggu seseorang datang memeriksa.














