Cekricek.id — Rp1.583.565 per bulan. Itu yang dibawa pulang seorang anak buah kapal teri di Tempat Pelelangan Ikan Krakahan, Kabupaten Brebes. Upah minimum kabupaten itu pada 2024 sebesar Rp2.103.100. Selisihnya Rp519.535. Angka pertama hanya 75,30 persen dari angka kedua. Kapal tempat ia bekerja mencetak keuntungan Rp150,78 juta setahun. Enam orang berbagi di atasnya.
Angka itu berasal dari satu artikel jurnal. Penulisnya tiga orang. Benny Osta Nababan adalah peneliti PKSPL Institut Pertanian Bogor. Yesi Dewita Sari mengajar di Program Studi Penyuluhan Perikanan, Politeknik Ahli Usaha Perikanan. Septa Riadi berasal dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Saburai, Lampung. Mereka mengambil data selama tiga bulan pada 2024.
Artikel itu berjudul Analisis Usaha dan Kesejahteraan Nelayan Perikanan Tangkap Teri di TPI Krakahan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Naskahnya terbit di Jurnal Penyuluhan Perikanan dan Kelautan Volume 19 Nomor 2 tahun 2025, halaman 101–115. Populasi penelitiannya 969 nelayan skala kecil. Sampelnya minimal 30 responden. Datanya dikumpulkan Februari sampai April 2024.
Daftar Isi
175 Trip Setahun dan Tiga Musim yang Tidak Sama

175 trip dalam setahun. Itu jumlah hari melaut nelayan payang di Krakahan. Warga setempat menyebut alat itu gemplo. Semua trip berakhir hari itu juga. Musim puncak berlangsung dua bulan dengan 25 trip per bulan. Musim sedang tujuh bulan dengan 15 trip. Musim paceklik dua bulan dengan 10 trip. Total 11 bulan aktif.
Ukuran mata jaring payang minimal 1 milimeter. Sekecil itu supaya teri nasi tertahan. Kapal penariknya bermotor, 5 sampai 10 GT menurut uraian alat tangkapnya. Populasi yang disurvei justru disebut nelayan skala kecil di bawah 5 GT, sebanyak 969 orang. Setiap trip membawa enam ABK. Semuanya pulang hari itu juga.
Hasil tangkapan jatuh tajam antarmusim. Pada musim puncak satu trip menghasilkan 150 kilogram teri nasi. Musim sedang tinggal 30 kilogram. Musim paceklik hanya 5 kilogram per trip. Jarak antara musim puncak dan musim paceklik mencapai 30 kali lipat. Teri Jawa mengikuti pola serupa: 10, lalu 5, lalu 2 kilogram.
Harga bergerak berlawanan arah. Teri nasi dihargai Rp23.000 per kilogram saat musim puncak. Harganya naik menjadi Rp33.000 pada musim sedang. Pada musim paceklik mencapai Rp45.000. Volume turun 30 kali lipat, harga hanya naik 1,96 kali lipat. Kompensasi dari harga tidak menutup kehilangan dari volume. Setahun penuh, teri nasi terkumpul 10.750 kilogram.
Rp294,63 Juta Masuk, Rp143,85 Juta Keluar
Total penerimaan satu kapal setahun Rp294.625.000. Angka itu dipecah menurut jenis dan musim. Teri nasi musim puncak menyumbang Rp172,5 juta. Teri nasi musim sedang Rp103,95 juta. Musim paceklik hanya Rp4,5 juta. Teri Jawa dari tiga musim total Rp13,68 juta, atau 4,6 persen dari seluruh penerimaan. Sisanya, 95,4 persen, dari teri nasi.
Baca juga Sulfat Dikira Mengunci Metana Mangrove, Ternyata Tidak
Biayanya dibagi dua. Biaya tetap Rp20,25 juta setahun, seluruhnya penyusutan. Kapal disusutkan Rp6 juta, mesin Rp3 juta, alat tangkap Rp11,25 juta. Biaya variabel jauh lebih besar, yaitu Rp123,6 juta. Solar sendiri Rp70,4 juta, atau 56,9 persen dari seluruh biaya variabel. Ransum enam ABK Rp39,6 juta. Dua pos itu saja 89 persen.
Oli mesin memakan Rp4,8 juta setahun, dari 96 liter seharga Rp50.000. Es balok Rp8,8 juta. Dibanding solar Rp70,4 juta, dua pos itu kecil. Biaya tetap Rp20,25 juta hanya 14,1 persen dari total biaya Rp143,85 juta. Struktur biaya usaha ini ditentukan bahan bakar dan makan. Sisanya nyaris tidak menggerakkan apa pun.
Investasi awalnya Rp129 juta. Kapal satu unit Rp60 juta. Mesin dua unit Rp24 juta. Alat tangkap 15 unit Rp45 juta. Penerimaan Rp294,63 juta dikurangi biaya Rp143,85 juta menyisakan Rp150,78 juta. Angka itu keuntungan kapal, bukan keuntungan orang. Belum ada satu nama pun yang melekat padanya. Pembagiannya baru terjadi kemudian.
Rp171,03 Juta yang Dibagi Sembilan Bagian
Bagi hasil di Krakahan memakai sembilan bagian. Penerimaan Rp294,63 juta dikurangi biaya variabel Rp123,6 juta menyisakan Rp171,03 juta. Jumlah itu yang dibagi. Enam bagian untuk enam ABK. Tiga bagian untuk kapal dan alat tangkap. Satu bagian bernilai Rp19.002.778 per tahun. Biaya tetap dipotong dari tiga bagian pemilik, bukan dari enam bagian ABK.
Enam ABK menerima total Rp114.016.667. Sisanya Rp57.008.333 masuk ke pemilik. Dari jumlah itu dipotong biaya tetap Rp20,25 juta. Pemilik akhirnya membawa Rp36.758.333 setahun, atau Rp3.063.194 per bulan. Satu ABK membawa Rp19.002.778 setahun. Selisih tahunan antara keduanya Rp17,76 juta. Perbandingannya 1,93 kali lipat untuk satu musim yang sama. Enam orang berbagi dua pertiga, satu orang memegang sepertiga.
Angka kedua lebih menarik daripada angka pertama. Pemilik menanggung investasi Rp129 juta dan risiko kerusakan. ABK menanggung waktu dan tenaga di 175 trip. Payback period investasi itu 3,51 tahun. Artinya modal kembali sebelum tahun keempat. Alat tangkap sendiri disusutkan selama empat tahun. Jarak antara keduanya tinggal 0,49 tahun.
75,30 Persen dan 145,65 Persen dari UMK yang Sama
UMK Kabupaten Brebes 2024 sebesar Rp2.103.100. Pendapatan ABK per bulan Rp1.583.565, atau 75,30 persen dari angka itu. Pendapatan pemilik per bulan Rp3.063.194, atau 145,65 persen. Dua orang di kapal yang sama, dengan 175 trip yang sama, berada di dua sisi garis upah minimum. Jaraknya 70,35 poin persen. Perahunya satu, hasilnya dua.
Baca juga Lama Sekolah dan Kriminalitas Sumatra Bergerak Searah
Para peneliti tidak melunakkan simpulannya. Angka 75,30 persen itu mereka baca terang-terangan. Nababan dan dua rekannya menulis, “kesejahteraan nelayan ABK perikanan tangkap teri di TPI Krakahan, Kabupaten Brebes masih rendah atau dapat dikatakan miskin”. Kata terakhir itu berada di simpulan, bukan di catatan kaki. Pemilik kapal disebut lebih sejahtera pada kalimat setelahnya.
Perbandingannya memakai satu tolok ukur saja. Garis kemiskinan tidak dipakai. Nilai Tukar Nelayan tidak dipakai. Hanya UMK Rp2.103.100 yang jadi patokan. Dengan patokan tunggal itu, pendapatan ABK tertinggal 24,70 persen. Pendapatan pemilik unggul 45,65 persen. Ukuran lain bisa memberi gambaran yang berbeda untuk kedua angka tersebut. Rp2.103.100 hanyalah satu garis di antara beberapa garis.
Penyebabnya dirinci di pembahasan. Hasil tangkapan menurun, harga jual murah, biaya operasional naik terus. Potensi ikan pelagis kecil di WPP 712 turun dari 364.633 ton pada 2017 menjadi 275.486 ton pada 2022. Artikel itu menyebut penurunannya 32,36 persen. Hitungan langsung atas kedua angka memberi 24,45 persen. Selisih 7,91 poin itu tidak dijelaskan.
R/C 2,05 di Tabel, R/C 1,14 di Pembahasan
R/C rasio usaha ini 2,05. Penerimaan Rp294,63 juta dibagi biaya Rp143,85 juta memang menghasilkan 2,048. Angka itu muncul di Tabel 1 pada halaman 111 dan di simpulan. Namun di bagian pembahasan tertulis angka lain. Artikelnya menyebut “R/C Ratio sebesar 1,14 yang berarti penerimaan 1,14 kali lebih besar dibandingkan total biaya operasional”.
Dua angka itu tidak bisa benar bersamaan. Selisihnya 0,91 poin. Keduanya sama-sama menyatakan usaha ini layak, karena keduanya di atas 1. Tetapi jarak antara untung 105 persen dan untung 14 persen sangat lebar. Pembaca tidak diberi keterangan mana yang dipakai. Tabel dan simpulan sama-sama memilih 2,05. Pembahasan berdiri sendiri dengan 1,14. Angka 2,05 yang cocok dengan hitungan tabelnya.
Baca juga Makna Me-Time Bergeser pada Pasangan Beda Pulau
Ada pasangan angka lain yang tidak berjodoh. Jumlah trip disebut 175 per tahun. Namun biaya ransum dihitung dari enam ABK dikali 220 trip. Es balok juga dihitung 220 trip. Selisih 45 trip itu menaikkan biaya variabel. Solar 8.800 liter dibagi 220 trip berarti 40 liter per trip. Dibagi 175 trip, angkanya 50 liter.
Papernya sendiri memasang batas. Sampelnya minimal 30 responden dari populasi 969 nelayan, sekitar 3,1 persen. Lokasinya satu TPI. Periodenya tiga bulan, Februari sampai April 2024. Data tiga musim direkonstruksi dari wawancara, bukan dicatat sepanjang 12 bulan. Simpulannya berlaku untuk Krakahan. Ia tidak berlaku untuk 969 nelayan Brebes sekaligus.
Rp1.200 per Liter dan Angka 114,07 Persen
Peneliti menawarkan dua kebijakan. Pertama, solar dijual sesuai harga pemerintah Rp6.800 per liter, bukan Rp8.000. Selisihnya Rp1.200 per liter. Dikalikan 8.800 liter, penghematannya Rp10,56 juta setahun. Caranya membangun SPBU di TPI Krakahan atau SPBU terapung. Penghematan itu memperkecil biaya variabel Rp123,6 juta. Bagian yang dibagi sembilan pun ikut membesar.
Kebijakan kedua menyentuh harga jual. Jika harga teri nasi saat musim puncak disamakan dengan musim sedang, yaitu Rp33.000 per kilogram, kesejahteraan ABK naik ke 109,42 persen UMK. Kenaikannya 34,12 poin persen. Musim puncak memang menyumbang 7.500 kilogram teri nasi. Volume itu yang terbesar sepanjang tahun, tetapi harganya paling murah.
Kedua kebijakan digabung memberi 114,07 persen. Itu 14,07 poin di atas UMK Brebes. Jarak dari keadaan sekarang 38,77 poin persen. Semuanya simulasi di atas kertas. Artikel tidak menguji apakah harga Rp33.000 bertahan bila pasokan 7.500 kilogram masuk penuh ke pasar. Elastisitas harga tidak dihitung sama sekali. Selisih Rp10.000 per kilogram itu diperlakukan sebagai keputusan, bukan sebagai hasil pasar.
Satu angka terakhir: 3,51 tahun. Selama waktu itu investasi Rp129 juta kembali penuh kepada pemilik kapal. Payback period untuk ABK tidak ada, karena ia tidak menanam modal apa pun. Yang ia tanam 175 trip setiap tahun. Angka 3,51 tahun tidak menjelaskan kapan upah bulanannya melewati Rp2.103.100. Papernya berhenti di 75,30 persen, tanpa menghitung tahun keberapa angka itu berubah.














