Cekricek.id — Di Tanjung Silat, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Laut, tanah itu terjepit di antara Sungai Tabanio dan pantai yang menghadap Laut Jawa. Garis pantai sekarang berjarak sekitar dua ratus meter dari sisa-sisa Benteng Tabanio. Tanahnya bukan tanah biasa. Ia tersusun dari endapan aluvial sungai dan endapan marin, dan di dalam lapisan pasir itu berserakan cangkang kerang laut dengan keragaman yang tinggi. Cangkang-cangkang itu sudah lama diketahui, tetapi tak pernah benar-benar dibaca.
Restu Budi Sulistiyo dari Pusat Riset Arkeometri BRIN, bersama Laila Abdul Jalil dari Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN serta Badruzsaufari dan Dharmono dari Universitas Lambung Mangkurat, membuka kembali kotak koleksi itu. Hasilnya terbit dengan judul Identifikasi Ekofak Moluska Bivalva dari Situs Benteng Tabanio, di Kabupaten Tanah Laut di jurnal Naditira Widya Volume 16 Nomor 1, terbitan Balai Arkeologi Provinsi Kalimantan Selatan, tahun 2022, halaman 55 sampai 72.
Benteng itu didirikan pada tahun 1789 dengan nama Fort Tabaniouw. Tujuannya dagang: memonopoli perdagangan lada sekaligus mengawasi dan melindungi diri dari ancaman dalam politik perdagangan. Tujuh puluh tahun kemudian Perang Banjar meletus. Serangan pertama pada 28 April 1859 diarahkan ke tambang batu bara Oranje Nassau, dan dari sana kekerasan menjalar sampai ke pesisir. Benteng Tabanio rusak berat. Yang tersisa kemudian dihabiskan oleh dua hal sekaligus. Alam mengikisnya pelan-pelan.
Faktor kedua manusia. Bata merah benteng dipreteli warga dan dipakai sebagai bahan bangunan, sehingga denahnya kian sulit dibaca di permukaan. Untuk memulihkan gambaran itu, ekskavasi digelar berulang kali: tahap pertama pada 1995 dan 1996, tahap kedua pada 1998, lalu 1999, kemudian dua kali workshop arkeologi pada 2011 dan 2014. Kotak-kotak gali diberi kode pendek. TP 3, TP 5, TP 13, C33, S12. Dari kotak-kotak itulah cangkang terus muncul.
Tanjung Silat

Dari setiap ekskavasi, cangkang kerang ikut naik ke permukaan bersama bata dan pecahan lain. Jumlahnya banyak. Namun tak seorang pun pernah mendudukkannya sebagai data: cangkang itu dicatat sebagai temuan, disimpan di koleksi Balai Arkeologi Provinsi Kalimantan Selatan, lalu berhenti di situ. Tidak ada nama genus, tidak ada nama spesies, tidak ada keterangan habitat. Seratus satu spesimen bivalvia menunggu di rak selama bertahun-tahun. Rak itu yang kemudian dibongkar.
Baca juga Rangka Perempuan di Bawah Gambar Cadas Gua Batu Baras
Prosedurnya sederhana dan lambat. Cangkang dibersihkan, dikeringkan, lalu dipotret satu per satu. Morfologi luarnya dibandingkan dengan panduan spesies Carpenter dan Niem 1998, Dharma 1988 dan 1992, serta Dance 2022. Penamaan ilmiahnya dicocokkan ke pangkalan data MolluscaBase dan World Register of Marine Species. Semua pekerjaan itu dilakukan di laboratorium Co-Working Space Banjarbaru milik Badan Riset dan Inovasi Nasional, jauh dari pantai tempat cangkang itu diangkat. Perbandingannya justru diambil dari pantai itu sendiri.
Beberapa ratus meter di selatan Pantai Wisata Tabanio ada zona litoral yang garis pantainya masih alami. Deposit cangkangnya melimpah dan aktivitas manusia di sana sedikit. Di sanalah sampel pembanding dikumpulkan dengan cara purposive sampling: memungut sebanyak mungkin variasi cangkang kelas bivalvia, baik yang utuh maupun yang masih menyisakan warna. Pantai hari ini dipakai untuk membaca pantai yang sudah lama tak ada. Logikanya berdiri di atas satu asumsi: deposit yang mirip menandai lingkungan yang mirip.
Saccostrea Cuccullata
Dari seratus satu spesimen itu keluar empat ordo, tujuh famili, dan empat belas genera atau spesies. Yang paling banyak adalah tiram Saccostrea cuccullata, dua puluh delapan cangkang. Menyusul Chama sp. enam belas, Dosinia dilecta lima belas, dan Saccostrea echinata empat belas. Sisanya tipis: Barbatia foliata lima, Glycymeris reevei dan Mimachlamys sanguinea masing-masing empat, sampai Ruditapes philippinarum dan Gafrarium divaricatum yang hanya satu. Angka-angka itu penting justru karena kecilnya.
Saccostrea cuccullata mudah dikenali. Bentuknya membulat atau lonjong dengan garis luar tak teratur, dan bagian luar katupnya berwarna cokelat keunguan. Ia bisa tumbuh sampai dua belas sentimeter dan hidup di zona pasang surut hingga kedalaman lima belas meter. Kerabatnya, Saccostrea echinata, permukaannya kasar, tebal, dan tajam. Tiram itu menempel di bebatuan zona pasang surut, terutama di hutan bakau dan muara sungai. Keduanya sama-sama muncul di kotak TP 5 dan S12.
Baca juga Situs Mamuya, Megalitik yang Ternyata Jauh Lebih Muda
Ordo Venerida menyumbang jenis paling beragam, lima spesies dari famili Veneridae saja. Alasannya ada di dasar laut: Veneridae hidup di dalam substrat lumpur berpasir dan menyaring makanan dari air, dan makanan semacam itu melimpah di sana. Dosinia dilecta contohnya. Cangkangnya sangat padat, nyaris berbentuk lingkaran, berwarna putih pucat sampai kuning terang, berdiameter sampai tujuh setengah sentimeter dengan pertumbuhan sekitar satu setengah sentimeter setahun. Umurnya bisa dikira-kira dari ukurannya.
Famili Arcidae juga hadir, dan kehadirannya menggoda untuk ditafsirkan cepat: kerang jenis ini lazim disantap di Indonesia dan gampang diperoleh. Ciri engselnya khas, sederet gigi taxodont yang jumlahnya berbeda-beda bahkan dalam satu spesies. Anadara gubernaculum punya dua puluh lima sampai tiga puluh tiga rusuk rendah. Tegillarca nodifera sembilan belas sampai dua puluh tiga rusuk berbintil. Barbatia foliata menyimpan empat puluh lima sampai lima puluh lima garis pertumbuhan.
Dua nama berhenti di tingkat genus. Spondylus sp. hanya dua spesimen, Chama sp. enam belas, dan keduanya tak bisa didorong lebih jauh. Cangkangnya sudah terdegradasi. Padahal, seperti diakui para penulisnya, spesies genus itu justru dibedakan oleh variasi duri dan hiasan berwarna — ciri yang paling dulu hilang di dalam tanah. Untuk menembusnya, dibutuhkan spesimen pembanding dari lokasi yang sama atau di sekitarnya. Keterbatasan itu disebut terbuka di dalam artikelnya sendiri.
Kotak C33 dan S12
Kembali ke kotak gali. Pertanyaan yang sesungguhnya bukan cangkang apa, melainkan cangkang itu sampai di sana karena siapa. Jawabannya mengecewakan siapa pun yang berharap menemukan dapur. Jumlah cangkang terlalu sedikit untuk disebut sampah dapur, dan sebagian di antaranya masih berukuran di bawah dua sentimeter — ukuran yang sulit dianggap layak santap. Empat belas jenis itu memang semuanya bisa dikonsumsi manusia. Tidak ada shell midden di Tanjung Silat.
Dugaan lama menyebut cangkang itu penguat fondasi benteng. Masuk akal secara kimia: cangkang moluska mengandung kalsium karbonat, sama seperti terumbu karang dan batu gamping. Tetapi kalsium karbonat tidak bisa langsung dipakai. Ia harus dipanaskan pada suhu sembilan ratus sampai seribu seratus derajat Celsius agar terurai menjadi kalsium oksida dan karbon dioksida — menjadi kapur. Cangkang dari Benteng Tabanio tidak memperlihatkan tanda kalsinasi apa pun. Kepadatannya pun masih kokoh sebagai cangkang.
Baca juga Tiga Koin Umayyah dari Lubang Tambang Emas Jago-Jago
Restu Budi Sulistiyo, peneliti Pusat Riset Arkeometri BRIN, menuliskannya seolah sedang berdiri di bibir kotak gali sambil menimbang segenggam cangkang di telapak tangan. “Kuantitas yang sedikit dan kondisi cangkang bivalvia yang ditemukan tidak mengindikasikan penggunaannya sebagai bahan fondasi bangunan,” tulisnya bersama Laila Abdul Jalil, Badruzsaufari, dan Dharmono. Satu kalimat itu menutup dugaan yang bertahan puluhan tahun. Bukan manusia yang membawa cangkang itu ke dalam tanah benteng.
Lalu siapa? Petunjuknya ada pada campuran yang mustahil. Di kotak yang sama berkumpul bivalvia epifauna, yang hidup menempel di atas substrat, dan bivalvia infauna, yang membenamkan diri di dalamnya. Dua kelompok itu tidak mati bersama di satu tempat. “Besar kemungkinan cangkang ini merupakan cangkang mati yang tertransportasi oleh ombak,” tulis tim itu, lalu terdeposisikan di zona pasang surut. Pantai dengan arus ombak yang tidak terlalu kuat memang memuat jenis bivalvia lebih beragam.
Dua titik menjadi kunci. Kotak C33 pada spit tiga dan kotak S12 pada spit lima memuat komposisi ekofak yang paling mendekati deposit cangkang di garis pasang zona litoral hari ini. Artinya, dua titik di dalam kompleks benteng itu pernah menjadi zona pasang surut. Laut pernah berdiri di tempat orang kemudian menggali. Dua ratus meter yang memisahkan situs dan pantai bukan jarak yang tetap. Ia bergeser, dan cangkang mencatat pergeserannya.
Ada yang belum selesai. Identifikasi baru menyentuh kelas bivalvia; kelas gastropoda dari situs yang sama masih menunggu giliran, begitu pula sisa fauna dari situs-situs lain yang belum pernah ditentukan namanya. Laila Abdul Jalil dan rekan-rekannya menegaskan pekerjaan dasar itu. “Identifikasi taksonomis terhadap cangkang moluska dari situs arkeologis sangat penting untuk dilakukan,” tulis mereka. Kesimpulannya berlaku untuk Tabanio, bukan untuk seluruh pesisir Kalimantan. Satu situs bukan satu provinsi.
Di Tanjung Silat, tanah itu masih terjepit di antara Sungai Tabanio dan pantai yang menghadap Laut Jawa. Garis pantai masih berjarak sekitar dua ratus meter. Yang berubah adalah cara membaca pasir di antara keduanya. Lapisan berisi cangkang itu bukan sisa makan malam serdadu dan bukan pula adukan fondasi. Ia catatan laut tentang dirinya sendiri, tertinggal di halaman sebuah benteng yang batanya sudah lama diangkut orang.














