Cekricek.id — Yasmin Nindya Chaerunissa memilih pekerjaan yang tampak sepele: menghitung hadiah. Arkeolog dari Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia itu membuka 29 prasasti Jawa Kuno bertarikh 804 sampai 909 Masehi, lalu mencatat satu hal yang jarang dilirik pembaca prasasti — berapa helai kain dan berapa keping emas yang dibawa pulang tiap pejabat desa seusai upacara. Catatan itu menjadi tulang punggung artikelnya, Peran dan Kedudukan Kalang dalam Pemerintahan Masa Kerajaan Mataram Kuno Berdasarkan Data Prasasti.
Artikel itu terbit pada 2025 di AMERTA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Volume 43 Nomor 1, dan yang dibidik Yasmin adalah satu jabatan desa bernama Kalang. Nama itu tidak asing bagi pembaca prasasti. Zoetmulder, dalam Kamus Jawa Kuna-Indonesia, mengartikan kalang sebagai sekelompok orang yang mungkin bekerja dengan kayu dan bangunan, serta kerap disebut dalam prasasti sebagai penerima hadiah pada upacara manusuk sima. H.H. Juynboll menerjemahkannya lebih pendek lagi: tukang kayu.
Persoalannya, nama Kalang juga melekat pada penilaian yang jauh dari terhormat. T. Altona, dalam tulisannya pada 1923, menempatkan Kalang sebagai kelompok berstatus rendah di Jawa masa Hindu-Buddha, setara kelompok paria di luar caturwarna. Thomas Stamford Raffles, seabad sebelumnya dalam History of Java, mencatat orang Kalang diperlakukan dengan sangat hina oleh orang Jawa sampai-sampai namanya menjadi julukan celaan dan aib. Yasmin ingin tahu apakah tuduhan setua itu sanggup bertahan bila diadu dengan daftar hadiah.
Daftar Isi
Mengumpulkan Kutipan Kalang dari 29 Prasasti
Tahap pertama kerja Yasmin adalah studi pustaka. Ia tidak membaca batu dan lempeng tembaga secara langsung, melainkan bersandar pada hasil alih aksara serta terjemahan yang sudah ada — antara lain garapan Himansu Bhusan Sarkar, Boechari, Titi Surti Nastiti dan rekan-rekannya, Machi Suhadi bersama M.M. Soekarto, serta suntingan mutakhir Wayan Jarrah Sastrawan dan Arlo Griffiths. Dari sana ia memungut setiap kutipan yang memuat kata Kalang, lalu memindahkan besaran hadiah tiap pejabat desa ke dalam tabel agar bisa dibandingkan.
Prasasti tertua dalam kumpulan itu adalah Harinjing A, berangka 726 Saka atau 804 Masehi, dari masa Rakai Warak. Isinya soal penetapan sima sebuah bendungan, dengan seorang bernama Bhagawanta Dhari di Desa Culanggi sebagai saksi. Pada baris ke-15 lempeng itu, menurut bacaan Arlo Griffiths dan Eko Bastiawan, muncul frasa tuha kalang — secara sederhana berarti pemimpin Kalang. Itulah catatan tertua yang diketahui menyebut kata tersebut. Prasasti termuda adalah Kaladi, 831 Saka atau 909 Masehi, dari masa Dyah Balitung.
Susunan pemerintahan Mataram Kuno, sebagaimana dirangkum Boechari, terbagi tiga lapis: rajya di tingkat pusat, watak semacam distrik, dan wanua atau desa. Kalang berada di lapis paling bawah, yang paling jauh dari istana. Ninie Susanti Tedjowasono, dalam skripsinya di Universitas Indonesia pada 1981, menempatkan Tuha Kalang sebagai salah satu rama — sebutan bagi perangkat yang menjalankan desa, yang juga dikenal sebagai rama magman atau mangagam kon, si pemegang perintah.
Memilah Jabatan yang Mirip tapi Tak Sama
Yang segera terlihat dari tabel Yasmin adalah keragaman sebutan. Kadang prasasti hanya menulis kalang. Kadang tuha kalang. Sesekali muncul kalang manguwu, kalang tunggu durung, pande kalang, kalang ron, bahkan rangkaian panjang manguwu ing sima kalang. Bagi Yasmin, perbedaan penyebutan itu bukan kelalaian penyalin dan bukan pula variasi ejaan belaka; ia membacanya sebagai tanda adanya pembagian peran di antara orang-orang Kalang sendiri, yang selama ini jarang dipilah satu per satu.
Untuk membedakan Kalang dari Tuha Kalang, Yasmin kembali ke kamus. Zoetmulder mencatat dua arti kata tuha: usia tua, dan kepala atau pengawas kelompok. Arti kedua yang lazim dipakai dalam konteks jabatan, sehingga Tuha Kalang ia baca sebagai kepala sekelompok orang yang bekerja dengan kayu dan bangunan. Bukti pemisahan keduanya ada di prasasti Tunahan tahun 872 Masehi: seorang Kalang bernama Si Kais dan seorang Tuha Kalang bernama Si Pundangil disebut terpisah, dan menerima hadiah yang terpisah pula.
Baca juga Dua Prasasti yang Memundurkan Umur Bahasa Jawa Kuno
Sementara itu, di sisi lain penelitian, Yasmin berselisih halus dengan Richadiana Kartakusuma. Dalam tulisannya pada 2000, Kartakusuma menurunkan kata manguwu dari kuwu yang ia setarakan dengan kubu — benteng, kemah, atau pagar keliling untuk pertahanan. Yasmin menolak jalan itu karena Zoetmulder sama sekali tidak mencatat arti benteng untuk kuwu, melainkan tempat tinggal, perumahan, bangunan sementara, atau perkemahan. Ia lebih dekat kepada Titi Surti Nastiti, yang dalam disertasinya pada 2009 membaca manguwu sebagai kata kerja: mengatur rumah-rumah sementara.
Jabatan yang paling membingungkan justru kalang tunggu durung, yang muncul pada prasasti Panggumulan I tahun 902 Masehi. Nastiti bersama Dyah Wijaya Dewi dan Kartakusuma sudah mengangkat tangan lebih dulu atas jabatan ini dalam buku mereka terbitan 1982, Tiga Prasasti dari Masa Balitung. “Kalau memang nama satu jabatan, maka belum jelas apa tugas dan kewajibannya.” Kartakusuma belakangan menawarkan jalan lain: tunggu berarti menjaga, durung berarti lumbung padi, jadi Kalang yang menunggui lumbung.
Dua sebutan lain tinggal sebagai teka-teki setengah terjawab. Pande Kalang, masih dari prasasti Panggumulan I, dibaca Yasmin sebagai Kalang yang mahir mengolah logam; ia bersandar pada pernyataan Nurhadi yang dikutip Kartakusuma bahwa orang Kalang tidak melulu menekuni kayu, dan pada Agus Aris Munandar bersama Aditya Revianur serta Deny Yudo Wahyudi yang menduga logam itu berupa alat penebang kayu. Adapun Kalang Ron, yang justru muncul lewat daftar istri pejabat, hanya bisa disandarkan pada arti leksikal ron: daun.
Baca juga Saat Bangsawan Sunda Bangga Bisa Berbahasa Jawa Kuno
Menjajarkan Hadiah Kalang dengan Hadiah Pejabat Lain
Bagian paling menentukan dari kerja Yasmin dimulai di sini, dan pijakannya adalah Tedjowasono. Pada 1981, Tedjowasono memakai besaran pasek-pasek untuk memetakan birokrasi masa Rakai Watukura Dyah Balitung, dan menyimpulkan bahwa pejabat pusat terbagi dua eselon, pejabat watak terbagi dua eselon, sedangkan pejabat desa tidak bertingkat sama sekali. Kalimatnya tegas: “Tidak seperti pada pejabat tingkat watak dan pejabat tingkat pusat, dimana tingkat kedudukan/derajat mereka dapat dilihat dari jumlah pasak-pasak yang diterima di dalam setiap upacara penetapan sima, pejabat tingkat wanua tidak dibagi kedalam golongan eselon; mereka semua setaraf/sederajat, karena mereka selalu menerima jumlah hadiah yang sama besarnya.”
Dari 29 prasasti yang ia kumpulkan, Yasmin mendapati 15 di antaranya benar-benar mencantumkan pasek-pasek. Enam dari 15 itu memperlihatkan hadiah yang dibagi ke dalam golongan berbeda di desa penyelenggara upacara: Haliwangbang, Mulak, Kwak I, Ratawun I, Ratawun II, dan Panggumulan. Lima yang pertama berangka tahun berdekatan — 877, 878, 879, 881, dan 881 Masehi — seluruhnya di masa Rakai Kayuwangi. Satu sisanya, Panggumulan, berangka 902 Masehi, sudah di masa Dyah Balitung.
Prasasti Haliwangbang tahun 877 Masehi memberi Yasmin contoh paling terang. Di Desa Mamali, pasek-pasek dibagi ke dalam tiga golongan, dan dua orang Kalang disebut terpisah. Kalang pertama, Si Pundangil, sendirian di golongan teratas dengan sepasang kain laki-laki jenis angsit dan dua masa uang emas. Kalang kedua, Si Walu, turun ke golongan kedua bersama Gusti, Tuha Banua, Winkas, dan sejumlah pejabat lain, dengan emas separuhnya. Nama Si Pundangil itulah yang membuat Yasmin menoleh kembali ke prasasti Tunahan.
Di Tunahan, lima tahun sebelumnya, Si Pundangil dari Desa Mamali tercatat sebagai Tuha Kalang. Yasmin menduga keduanya orang yang sama, dan jabatan itulah alasan hadiahnya melampaui rekan sesama Kalang. Pola serupa berulang di tempat lain. Pada Ratawun I dan Ratawun II, keduanya berangka 881 Masehi, Tuha Kalang Desa Ratawun berdiri sendirian di golongan pertama tanpa ada pejabat desa yang menyamai. Di Kwak I tahun 879 Masehi, Kalang duduk di golongan pertama bersama Gusti, Tuha Banua, dan Winkas.
Baca juga Orang Baduy Bukan Pelarian Pajajaran, Kata Naskah Kuno
Keistimewaan itu, catat Yasmin, bahkan menular ke keluarga. Di Desa Mamali, istri Kalang pertama menerima pasek-pasek tertinggi tanpa tandingan, sementara istri Kalang kedua dan istri Kalang Ron berada di golongan berikutnya. Namun tidak semua Kalang naik. Pada prasasti Mulak I tahun 878 Masehi, tiga orang yang disebut dalam rangkaian manguwu ing sima kalang justru berada di golongan ketiga, sebaris dengan Tuha Padahi alias kepala pemain kendang — menurut tafsir Yasmin, karena keduanya sama-sama petugas teknis upacara.
Membaca Ulang Tuduhan Altona dan Raffles
Yasmin sendiri menahan diri untuk tidak menarik kesimpulan terlalu jauh, dan ada beberapa alasan. Penelitiannya kualitatif dan bersandar pada data sekunder berupa alih aksara garapan orang lain. Dari 29 prasasti, hanya 15 mencantumkan pasek-pasek dan hanya enam yang bertingkat; sebagian prasasti seperti Sri Manggala II, Mamali, dan Watukura mencatat hadiah secara kolektif untuk seluruh pejabat desa sehingga tidak bisa dibandingkan sama sekali. Dugaan bahwa Si Pundangil adalah seorang Tuha Kalang pun tetap dugaan, bukan keterangan prasasti.
Batas lain menyangkut waktu dan tempat. Kedudukan tinggi yang ditemukan Yasmin sejauh ini hanya tampak pada masa akhir Rakai Kayuwangi dan sempat pada masa Dyah Balitung, di segelintir desa, dan pejabat mana yang masuk golongan mana pun tidak konsisten antara satu wanua dan wanua lainnya. Karena itu ia menutup artikelnya dengan ajakan agar prasasti lain yang belum ia pakai ikut dihitung. Yang Yasmin klaim bukan hukum umum tentang Kalang, melainkan satu pola yang terbaca di sebagian data.
Meski begitu, pola sekecil itu cukup untuk menggoyang Altona. Yasmin menunjukkan bahwa narasi Kalang sebagai kelompok rendahan pada masa Hindu-Buddha tidak terlihat dibangun di atas bukti yang kuat, berbeda dengan konotasi negatif pada masa-masa sesudahnya yang jejaknya lebih bisa ditelusuri — pada kitab Angger Ageng dan Nawala Pradata yang dibaca Edwin Wieringa, pada catatan Raffles, dan pada mitos asal-usul yang dibahas Claude Guillot serta Denys Lombard. Di prasasti abad ke-9, Kalang justru duduk sebagai rama.
Kembali ke Yasmin Nindya Chaerunissa dan pekerjaan menghitung hadiahnya. Yang ia hasilkan bukan potret utuh orang Kalang, sebab prasasti tidak bercerita tentang rumah, makanan, atau kepercayaan mereka. Yang ia hasilkan adalah daftar kain dan emas, disusun menurut desa dan tahun, yang ternyata menyimpan keterangan tentang siapa yang dihormati di sebuah desa Jawa seribu seratus tahun lalu. Dari daftar sekering itu, seorang tukang kayu bisa muncul kembali sebagai orang yang paling disegani di kampungnya.













