Cekricek.id — Pada 1055 Saka, sebuah balok andesit dipahat di Kediri selatan. Tahun itu setara dengan 1133 Masehi. Balok tersebut adalah ambang pintu, komponen yang melintang di atas lubang pintu sebuah bangunan suci. Sembilan puluh tiga tahun Saka kemudian, di lokasi yang sama, dipahat balok kedua dengan angka tahun 1148. Jarak antara dua pahatan itulah yang kini dibaca sebagai jejak politik.
Pembacaan itu datang dari Muhamad Satok Yusuf, arkeolog Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, bersama Juan Steven Susilo dari Komunitas Pelestari Sejarah dan Budaya Kadiri (PASAK Kadiri). Keduanya menulis Pembangunan Kembali Candi Peninggalan Bameswara oleh Ken Angrok di Kediri: Kajian Arkeologis dan Politik Religi. Artikel itu terbit pada 2025 di AMERTA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Volume 43 Nomor 2.
Kesimpulan mereka pendek. Ambang pintu berangka 1148 Saka bukan tanda pembangunan candi baru, melainkan tanda pemugaran. Ken Angrok, raja pertama Singhasari, membangun ulang bangunan suci yang sudah berdiri sejak masa Sri Bameswara. Metode yang dipakai adalah arkeologi sosial K.R. Dark secara deskriptif kualitatif, ditopang analisis ikonografi, komparatif, fungsi, dan kontekstual. Tahap tafsirnya memakai teori strukturasi Anthony Giddens.
Daftar Isi
Dua Puluh Tiga Tahun Pemerintahan Bameswara
Kronologinya dimulai lebih dari seabad sebelum Ken Angrok naik takhta. Prasasti pertama Sri Bameswara, Karanggayam, berangka tahun 1034 Saka dan ditemukan di Blitar. Prasasti terakhirnya, Murni Jaya, berangka 1057 Saka dan berasal dari Pesantren, Kediri. Di antara dua titik itu terbentang 23 tahun pemerintahan. Sebagian prasasti itu memuat anugerah sima kepada masyarakat di Blitar, Kediri, dan Tulungagung. Menurut kedua peneliti, rentang selama itu menandakan stabilitas politik sebuah negara.
Bameswara memuja Siwa. Buktinya adalah lencana candrakapala, gambar bulan digigit tengkorak, yang dipahatkan pada prasasti-prasastinya. Lencana itu muncul di Padlegan I (1038 Saka), Panumbangan I (1042 Saka), Geneng I (1050 Saka), Candi Tuban (1051 Saka), Tangkilan (1052 Saka), Besole (1054 Saka), Pageliran (1056 Saka), dan Murni Jaya (1057 Saka). Ada pula prasasti Karangrejo 1056 Saka yang dipahat di belakang arca Ganesa, putra Siwa.
Dari periode itulah ambang pintu berangka 1055 Saka berasal. Bahannya batu andesit, dipahat berbentuk balok. Panjangnya 176 sentimeter, lebarnya 56 sentimeter, dan tingginya 24 sentimeter. Benda itu berada di punden Desa Jambean, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, tempat yang dalam artikel tersebut disebut Situs Jambean. Punden adalah tempat yang dikeramatkan warga. Hampir sembilan abad ambang itu bertahan di sana.
Tahun-Tahun Terakhir Kertajaya
Sri Kertajaya memerintah Kadiri pada 1116 sampai 1144 Saka, atau 1194 sampai 1222 Masehi. Pada masanya kekuasaan raja bersandar pada dua poros. Poros pertama adalah istana. Poros kedua adalah jaringan keagamaan di luar istana, berupa kadewaguruan, wanasrama, dan kabuyutan. Legitimasi religius raja dibangun lewat konsep dewaraja Siwa. Kedua peneliti mencatat delapan situs keagamaan semacam itu, tersebar dari Nganjuk sampai Blitar.
Catatannya bertanggal. Pada 1116 Saka terbit Prasasti Sunghai, yang memuat anugerah sima Kertajaya kepada warga Sunghai di Trenggalek. Tiga tahun kemudian, pada 1119 Saka, Prasasti Palah menetapkan sima untuk Candi Panataran di Blitar. Pada 1120 Saka muncul tiga sekaligus, yakni Subhasita, Candi Lor, dan Ukir Negara II. Subhasita memuat seruan agar para agamawan di mandalanya beribadah di sang Hyang Kabuyutan. Dua tahun berikutnya menyusul Galunggung di Tulungagung.
Daftar itu berlanjut. Pada 1126 Saka muncul Prasasti Buntel di Tulungagung, lalu Manggar pada 1127 Saka di Blitar. Keduanya belum terbaca lengkap, tetapi sama-sama memuat lencana Sri Kertajaya. Pada 1130 Saka dipahat inskripsi Sentono Dowo di Penataran. Empat tahun kemudian, sebuah ambang pintu di Kuningan, Kanigoro, Blitar, dipahat dengan inskripsi krtaguna bhawa hyang rama 1134.
Baca juga Sejarah Indonesia Masih Jarang Menempatkan Alam sebagai Pelaku
Struktur itu retak menjelang akhir. Sebelumnya para sastrawan istana menulis kakawin seperti Hariwangsa, Sumanasantaka, dan Lubdhaka. Berdasarkan pembacaan Pararaton, para pendeta dan sastrawan Kadiri mulai terbelah dalam mendukung otoritas raja. Naskah itu menggambarkan mereka melarikan diri ke Tumapel karena menolak perintah Sri Kertajaya untuk menyembahnya. Ken Angrok kemudian menuduh raja telah mabuk agama. Tuduhan itu dibaca kedua peneliti sebagai strategi untuk menggoyahkan legitimasi lama.
Kadiri runtuh pada 1144 Saka. Pararaton menyebut kemenangan Ken Angrok diperoleh lewat perang Ganter, tetapi kedua peneliti menekankan bahwa perang bukan satu-satunya alat. Provokasi ideologis terhadap kelompok agamawan dan sastrawan Kadiri berjalan lebih dulu. Pada tahun yang sama Tumapel menggantikan Kadiri, dan Ken Angrok memulai pemerintahannya sebagai raja pertama Singhasari. Prasasti Mula Malurung berangka 1177 Saka kemudian mengukuhkan kedudukannya.
Lima Tahun Pemerintahan Ken Angrok
Ken Angrok memerintah pada 1144 sampai 1149 Saka, atau 1222 sampai 1227 Masehi. Lima tahun, dan tinggalan arkeologinya sedikit. Uraian biografinya sebagian besar berasal dari naskah Pararaton, sementara Kakawin Nagarakretagama hanya menyebutnya sepintas. Yang tercatat sampai sekarang antara lain sebuah gentong dari Kabupaten Sidoarjo yang menjadi koleksi Museum Nasional, dan ambang pintu berangka tahun 1148 Saka. Bangunan suci asli dari masa Singhasari pun tergolong langka.
Ambang pintu berangka 1148 Saka berjumlah dua dan identik dalam bentuk, aksara, serta bahan. Satu berasal dari Desa Purwokerto, Kecamatan Ngadiluwih, dan kini tersimpan di Museum Airlangga, Kota Kediri, dengan nomor inventaris 138/KDR/1996. Panjangnya 116 sentimeter. Satu lagi berada di Situs Jambean dengan nomor registrasi 88/KDR/1996 dan panjang 193 sentimeter. Ambang di Jambean berlebar 48 sentimeter, sedangkan koleksi museum 32 sentimeter.
Angka tahun itu dipahat pada salah satu sisi, dalam aksara Jawa Kuno bergaya timbul atau kuadrat. Pahatannya diapit dua hiasan bunga dengan empat mahkota yang mekar konsentris. Dalam arsitektur, ambang pintu dibedakan menjadi lintel dan doorpel. Lintel melintang di bagian atas pintu, sedangkan doorpel berdiri di kanan dan kirinya. Kedua temuan Kediri itu tergolong lintel.
Baca juga Menelusuri Tujuh Arca Dewa Surya di Jawa dari Kediri sampai Prambanan
Jarak antara Purwokerto dan Jambean hanya lima kilometer. Dari angka itu Yusuf dan Susilo menarik dugaan. “Kedua temuan berjarak 5 km, sehingga diduga kuat merupakan bagian dari suatu bangunan di wilayah Purwokerto-Jambean, Kabupaten Kediri,” tulis keduanya. Fungsi kedua ambang pintu itu diperkirakan sebagai komponen atas pintu candi atau gapura pada masa awal Singhasari.
Perbandingannya diambil dari bangunan lain. Ambang pintu sudah dikenal dalam arsitektur Hindu-Buddha sejak masa Mataram Kuno hingga Majapahit, antara lain di Kompleks Candi Dieng, Prambanan, Sewu, dan Kidal. Dari masa Majapahit tercatat ambang pintu Candi Kalicilik berangka 1271 Saka, Candi Angka Tahun Panataran berangka 1291 Saka, dan Gapura Plumbangan berangka 1312 Saka. Candi Kidal tercatat sebagai satu-satunya candi masa Singhasari yang tidak direnovasi raja-raja Majapahit.
Nafas keagamaan bangunan di Jambean diduga kuat Hindu-Siwa. Dua alasan diajukan. Pertama, Ken Angrok dikenal sebagai pemuja Siwa yang taat dan mengklaim dirinya sebagai dewaraja Bhatara Guru, yaitu klaim penguasa sebagai titisan dewa untuk melegitimasi kekuasaan. Kedua, ambang pintu berangka 1055 Saka dari masa Bameswara, sesama pemuja Siwa, berada di lokasi yang sama.
Dari dua alasan itulah dugaan pemugaran disusun. Ken Angrok tidak mendirikan candi baru, melainkan membangun ulang bangunan yang telah berdiri sejak masa Bameswara. Dalam kerangka Giddens, kedua peneliti menyebut tindakan itu sebagai reproduction through appropriation. Struktur lama Kadiri tidak dihapuskan, tetapi dipakai kembali. Simbol-simbol Kadiri justru menjadi bahan untuk membangun identitas baru Tumapel. Menurut William H. Sewell Jr., struktur sosial hanya bertahan sejauh agen mampu mengaktifkan dan mengubahnya.
Baca juga Dua Prasasti yang Memundurkan Umur Bahasa Jawa Kuno
Letak Jambean memperkuat tafsir tersebut. Kediri bagian selatan adalah titik tengah antara Tulungagung dan Trenggalek di selatan dan barat daya, serta Blitar di timur. Wilayah itu padat prasasti sima masa Kertajaya dan jejak kadewaguruan. Dataran rendahnya dilalui Sungai Brantas dan berpagar perbukitan kapur selatan dari Trenggalek hingga Blitar. Menurut Prasasti Sunghai, Kediri selatan pula yang menjadi tempat pengungsian Sri Kertajaya ketika terusir dari istana Katang-katang.
Pilihan lokasi itu dibaca sebagai keputusan yang disadari. “Keputusan ini mencerminkan kesadaran historis dan politis bahwa legitimasi kekuasaan baru harus berakar pada jejak sakral masa lampau yang dihormati masyarakat,” tulis Yusuf dan Susilo. Penaklukan Kadiri, dalam pembacaan mereka, tidak berhenti pada urusan militer. Simbol-simbol keagamaannya ikut diambil alih. Ruang religius yang semula berada di pinggir ditarik ke dalam orbit politik Tumapel.
Batas pembacaan ini perlu dicatat. Kedua ambang pintu hanya memuat angka tahun, bukan nama Ken Angrok. Kaitannya dengan raja itu disusun dari kecocokan tahun, lokasi, dan latar keagamaan, bukan dari inskripsi yang menyebut namanya. Bangunan candinya sendiri sudah tidak berdiri. Artikel ini pun bertumpu pada prasasti, naskah kuno, dan laporan terdahulu, tanpa ekskavasi. Kata yang dipakai penulisnya sendiri adalah diduga kuat.
Dari 1891 sampai 2022
Riwayat modern benda-benda itu juga bertanggal. Ambang pintu dari Purwokerto sudah tercatat dalam daftar tinggalan masa Hindu di Jawa susunan Rogier Diederik Marius Verbeek yang terbit pada 1891. Pada 1996 keduanya memperoleh nomor, yakni 138/KDR/1996 untuk koleksi Museum Airlangga dan 88/KDR/1996 untuk yang berada di Jambean. Sejak itu satu benda masuk museum, satu lagi tetap di punden desa.
Titik terakhir kronologi ini jatuh pada 9 Februari 2022. Ambang pintu berangka 1055 Saka di Situs Jambean dirusak dengan benda keras oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Salah satu ujungnya pecah menjadi dua. Benda tertua dalam perkara ini, penanda masa Bameswara, kini tidak lagi utuh. Kondisi itu terekam dalam foto yang dimuat pada artikel AMERTA tersebut.
Sampai artikel itu terbit pada Desember 2025, ambang pintu di Jambean masih disebut sebagai satu-satunya komponen bangunan keagamaan dari masa awal Singhasari yang tersisa. Bangunan tempatnya dulu melintang belum ditemukan, dan tidak ada satu pun inskripsi yang menyebut nama pembangunnya. Kronologi berhenti di situ.













