Perahu dan Pemanah di Gambar Cadas Leang Ulu Tedong

Ilustrasi dinding ceruk batu gamping berlapis kerak dengan gambar cadas berpigmen merah pudar bermotif figur manusia berkepala berjumbai, ikan, penyu, dan perahu, dengan lanskap karst serta tambak terlihat di kejauhan

Ilustrasi dinding ceruk karst Maros-Pangkep dengan gambar cadas berpigmen merah bermotif manusia, hewan perairan, dan perahu. [Foto: Dibuat dengan AI]

Cekricek.id — M. Sabri memulai pekerjaannya di Leang Ulu Tedong dari sisi utara ceruk, lalu bergerak pelan ke selatan sambil memberi nomor pada setiap bidang bergambar yang ia lewati. Arkeolog dari Indoarchaeology itu memotret tiap panel memakai kamera mirrorless Sony a6400 dan menyertakan skala kertas khusus berukuran 10 sentimeter pada setiap bidikan, agar ukuran gambar di dinding karst Pangkep itu masih bisa diperiksa ulang orang lain bertahun-tahun kemudian. Ceruk itu tidak besar, tetapi Sabri menghitung sepuluh bidang bergambar di dalamnya.

Laporan lapangan itu ia tulis bersama Wa Ode Rawianti dan Muh. Aprisal Oka dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin serta Muhammad Rimo Ntolagi, dan terbit dengan judul Gambar Cadas Leang Ulu Tedong: Variasi Motif dan Relasinya dalam Konteks Gambar Cadas Maros-Pangkep. Artikel itu dimuat di jurnal Kapata Arkeologi Vol. 18 terbitan BRIN pada 2025, sebagai kajian kualitatif yang bersifat deskriptif, bukan penggalian, dan tanpa satu pun uji pertanggalan langsung terhadap gambarnya.

Menomori Panel dari Utara ke Selatan

Tempat yang didatangi Sabri dan timnya berada di Desa Kabba, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkajene Kepulauan, pada gugusan karst Bukit Bulu Matojeng di sisi barat Pangkep. Ceruknya berada 25 meter di atas permukaan laut, berbatasan langsung dengan persawahan dan tambak ikan milik penduduk setempat. Dari jalan lokal beraspal jaraknya hanya sekitar 500 meter, ditempuh dengan berjalan kaki melewati tambak. Garis pantai terdekat sekitar sembilan kilometer dari sana, dan jarak itu belakangan ikut menopang kesimpulan Sabri.

Sebelum menengadah ke langit-langit, Sabri dan rekan-rekannya lebih dulu mencatat apa yang tergeletak di lantai ceruk: cangkang kerang, fragmen tulang, dan pecahan gerabah polos. Menurut tim tersebut, gerabah kemungkinan berguna sebagai wadah penyimpanan, sementara cangkang kerang kemungkinan sisa konsumsi penghuninya. Fragmen tulang manusia diduga berkaitan dengan praktik penguburan yang pernah berlangsung di ceruk itu. Seluruhnya direkam secara deskriptif sekaligus piktorial, mengikuti tahapan penelitian arkeologi yang dirujuk Sabri dari Ashmore dan Sharer.

Membaca Gambar yang Sudah Pudar

Yang dihadapi Sabri di dinding itu bukan gambar yang utuh. Sebagian besar telah pudar dan permukaannya mengelupas; beberapa mulai sulit diidentifikasi bentuknya secara langsung, sebagian lagi kehilangan potongan tubuh karena permukaan dinding ikut terkelupas, seperti pada Panel 2 dan Panel 9. Panel 1 bahkan sudah tertutup jaring laba-laba. Kerusakan semacam ini sudah lebih dulu diperingatkan Y. Mulyadi, yang pada 2016 mengkaji keterawatan lukisan gua prasejarah di kawasan karst Maros-Pangkep dan menyebut Leang Ulu Tedong di dalamnya.

Untuk membaca gambar yang tinggal bayangan, Sabri memakai perangkat lunak ImageJ dengan plugin DStretch, teknik peregangan dekorelasi yang dipaparkan J. Harman pada 2005 dan penerapannya untuk perekaman gambar cadas di Indonesia diuraikan A. A. Oktaviana. Setelah bentuknya cukup jelas, tim menggambar ulang motif itu memakai Adobe Photoshop 2023. Barulah sesudah itu gambar diklasifikasi menurut motifnya: manusia, ikan, penyu, kadal, perahu, geometris, dan abstrak.

Sampai kerja Sabri, situs ini praktis hanya lewat di catatan orang lain. Tantra Muh. A. Abadi menyinggungnya dalam skripsi 2023 tentang sebaran gambar cadas figuratif manusia di gua-gua Maros-Pangkep. Leihitu dan Permana mendeskripsikan satu adegan pada salah satu panelnya dalam tulisan berjudul Looking for A Trace of Shamanism, in The Rock Art Of Maros-Pangkep, South Sulawesi, Indonesia, tanpa menguraikan gambar lainnya. Yosua Adrian Pasaribu bersama Permana menyebut gambar hewannya, begitu pula Saiful dan Burhan.

Baca juga Rahwana Berkepala Tujuh di Prambanan, Manusia Biasa di Panataran

Menghitung Manusia, Ikan, dan Perahu

Hitungan akhir Sabri dan timnya berhenti di 32 gambar, tersebar pada sepuluh panel di tiga lokasi utama: dinding ceruk sisi utara, langit-langit sisi utara, serta langit-langit dan dinding ruangan ceruk. Sebanyak 28 gambar dibuat dengan pigmen merah memakai teknik kuasan, empat sisanya berwarna hitam dengan teknik corengan dan berkumpul pada satu panel yang sama. Panel 4 memuat gambar terbanyak, sementara Panel 2, 6, dan 7 masing-masing hanya menyimpan satu.

Motif manusia paling banyak, yakni 12 gambar, dan seluruhnya merah kecuali satu di Panel 1. Sabri mencatat sosok-sosok itu digambarkan aktif: ada yang merentangkan kaki dengan tangan diangkat setinggi kepala, ada yang berbadan segitiga terbalik. Pada Panel 4, 9, dan 10, kepala figur-figur itu dihiasi garis-garis yang menjuntai ke atas, yang menurut tim tersebut bisa berarti simbol status sosial atau penanda identitas kelompok. Abadi menemukan hiasan serupa di Leang Batu Tianang, Tebing Ambe, dan Leang Sapira.

Panel 9 menyimpan adegan yang oleh Sabri disebut satu-satunya di situs itu: seorang figur berukuran lebih kecil berdiri sambil menarik busur, panahnya diarahkan ke sisi kiri panel, sejajar dengan figur terakhir. Tiga figur di tengah panel berukuran lebih besar dan memakai hiasan kepala, sementara figur terakhir lebih kecil tanpa hiasan. Perbedaan itu, tulis tim tersebut, mungkin saja menggambarkan pertemuan dua kelompok masyarakat berbeda. Di Panel 10, tiga figur lain berdiri berkelompok dengan ukuran berbeda-beda.

Hewan yang digambar hanya lima: dua ikan, dua penyu, dan satu reptil yang tidak diketahui jenisnya. Kedua ikan di Panel 4 dibuat dengan membuat profil luar, sementara badannya dibiarkan polos tanpa pigmen. Penyu di Panel 7 digambarkan berkaki enam, jumlah yang menurut Sabri dan rekan-rekannya tidak lazim pada hewan jenis ini dan mungkin lahir dari kreativitas penggambarnya untuk menambahkan atribut tertentu yang bermakna baginya. Reptil di Panel 8 sudah terlalu pudar untuk dipastikan.

Dua gambar perahu berdiri sendiri di Panel 5, pada bidang berukuran 60 kali 42 sentimeter. Perahu yang berada lebih tinggi berwarna merah gelap dan tampak membawa penumpang yang sedang mendayung, dengan hiasan menyerupai umbul-umbul pada linggi di ujung kiri. Perahu kedua tanpa penumpang, tetapi punya garis menyudut di atas lambung yang menyerupai rumah perahu. Menurut Sabri, keduanya kemungkinan bukan perahu lesung sederhana; lambungnya melengkung tajam dan rumbai pada linggi tidak lazim pada lesung.

Baca juga Penelitian Mengungkap Manfaat Kombucha Seperti Efek Puasa

Sisanya justru yang paling sulit dibicarakan. Sabri mencatat dua motif geometris, berupa kotak-kotak menyerupai jaring berwarna hitam di Panel 1 dan garis horizontal merah di Panel 9, serta 11 motif abstrak yang sebagian besar tidak beraturan dan tidak dapat diketahui apa yang digambarkan. Empat gambar hitam pada satu panel itu, tulis tim tersebut, kemungkinan digoreskan dengan pewarna kering seperti arang, dipakai layaknya krayon pada permukaan dinding.

Membandingkan Ulu Tedong dengan Tetangganya

Setelah menghitung, Sabri menaruh temuannya di sebelah temuan orang lain. Yosua Adrian Pasaribu sebelumnya menemukan gambar ikan di Bulu Sipong 1 dan 2, Leang Batu Tianang, Leang Lasitae, serta Leang Pamelakkang Tedong, dan mengidentifikasinya sebagai tuna, paus, ikan terbang, dan kakap. Satu motif ikan di Leang Ulu Tedong diidentikkan dengan tuna. Motif penyu juga muncul di Leang Bulu Bellang dan Leang Caddia dalam catatan Saiful dan Burhan.

Saiful dan Burhan pula yang membagi Sulawesi bagian selatan menjadi dua lanskap budaya menggambar. Situs bergambar di sisi utara didominasi hewan akuatik, sementara situs di sisi selatan menampilkan hewan terestrial seperti anoa atau babi, dan perbedaan di antara keduanya mereka sebut cukup jelas. Leang Ulu Tedong masuk kelompok utara, dan kelompok itu menurut keduanya diperkirakan dibuat komunitas penutur Austronesia. Di titik itulah hitungan Sabri menyambung dengan pembacaan yang lebih lama.

Perahu membawa persoalannya sendiri. C. Ballard, S. O’Connor, serta Leihitu dan Permana menempatkan motif perahu sebagai salah satu ciri Austronesian Painting Tradition, dan gambar perahu di kawasan ini sudah ditemukan antara lain di Leang Batu Tianang, Bulu Sippong 1 dan 2, Karama, Sumpang Bita, dan Ujung Bulu dalam catatan Permana dan Pojoh. Namun Sabri mengingatkan argumentasi itu punya kelemahan: hasil pertanggalan gambar perahu di Indonesia belum diperoleh.

Soal usia, Sabri berpijak pada kerja peneliti lain. A. A. Oktaviana dan timnya pada 2024 melaporkan gambar naratif berusia 51.200 tahun di Sulawesi, gambar figuratif tertua yang dibuat manusia dengan anatomi modern. Gambar cadas Maros-Pangkep sejauh ini dikelompokkan ke dalam dua fase utama: 40.000–20.000 tahun lalu, diwakili cap tangan negatif dan hewan endemik seperti anoa serta babi hutan Sulawesi; lalu 4.000–2.000 tahun lalu, diwakili hewan berukuran kecil, motif antropomorfik, dan motif geometris. H. Widianto dan koleganya menyebut pengelompokan itu menyisakan ruang kronologis yang sangat panjang di antara keduanya.

Baca juga Penelitian Mengungkap Hidup dalam Kemiskinan Percepat Penuaan Otak

Yang bisa disandingkan Sabri hanyalah gambar hitamnya. Gambar hitam di Maros-Pangkep yang sudah dipertanggalkan berasal dari Leang Bulu Bettue, berusia 1583–1428 cal BP menurut J. Huntley dan tim. Angka yang tidak jauh berbeda muncul di Gua Hermoso Tuliao, Filipina, sebesar 3570–3460 cal BP dalam laporan A. Jalandoni, dan di Situs Gua Sireh, Sarawak, pada rentang 1670–1830 M. Untuk gambar merahnya, pembanding semacam itu belum tersedia.

Dari titik itu Sabri menarik kesimpulan dengan hati-hati. “Meskipun informasi mengenai periode pembuatan gambar di Leang Ulu Tedong belum diketahui secara pasti namun kehadiran sejumlah gambar seperti motif perahu, manusia dengan gerakan yang lebih aktif serta penggunaan alat berupa panah setidaknya menambah pemahaman perilaku dan kehidupan yang dahulu pernah terjadi di wilayah ini,” tulis Sabri dan rekan-rekannya dalam artikel yang terbit daring pada 31 Juli 2025 itu.

Keberatan terhadap dugaannya ia tulis sendiri. “Dugaan yang penulis tawarkan dalam penelitian ini tentu memiliki sejumlah kelemahan mengingat hal tersebut tidak didasarkan atas data pertanggalan langsung terhadap gambar yang diteliti,” kata Sabri. Ia juga menyebut keterbatasan waktu dan material membuat metode yang lebih terbarukan belum dijalankan. Artinya penempatan Leang Ulu Tedong pada periode yang lebih muda masih berupa dugaan yang bersandar pada bentuk motif, teknik pembuatan, dan temuan permukaan, bukan pada uji usia.

Yang tersisa dari kerja Sabri karena itu bukan angka tahun, melainkan sebuah daftar: 32 gambar, sepuluh panel, dua perahu, satu pemanah, dan 11 bentuk yang tidak seorang pun bisa namai. Ia mengerjakannya dengan bantuan para mahasiswa pascasarjana arkeologi Universitas Hasanuddin, di sebuah ceruk yang pigmennya terus mengelupas. Nomor panel yang ia tuliskan dari utara ke selatan itu kini menjadi salah satu cara tersisa untuk memanggil kembali gambar-gambar tersebut.

Baca Juga

Ilustrasi bangkai kapal besi tua tergeletak di dasar laut berpasir gelap dengan lambung tertutup terumbu karang, lubang-lubang robekan pada dinding, kemudi dan baling-baling di buritan, serta seorang penyelam di kejauhan
Kapal Karam Jepang Sangihe dan Luka yang Menghadap Keluar
Ilustrasi ceruk buatan manusia berlubang masuk persegi dengan pelipit pada tebing batu berlumut di tepi sungai kecil, dikelilingi ladang palawija, pohon aren, dan perbukitan berhutan
Gua Umang Karo: Rumah Makhluk Halus atau Kubur Batu?
Ilustrasi pelabuhan sungai di delta Brantas dengan kapal dagang berlayar segi empat bersandar, kuli memikul bal kain bercelup nila menuruni titian papan, gudang beratap daun dan teras bata merah di tepi muara
Tujuh Nama Orang India di Jawa pada Prasasti Kuno
Bongkahan batu berlubang di tanah vulkanik dengan latar hutan dan kerucut gunung api
Situs Mamuya, Megalitik yang Ternyata Jauh Lebih Muda
Ilustrasi saung bambu di tepi ladang huma pada malam hari.
Semalam di Huma Baduy, Mendengarkan Carita Pantun
Ilustrasi kubur bilik batu megalitik berlumut dengan sisa pigmen merah samar di padang rumput dataran tinggi
Cara Laser Membaca Lukisan Kubur Bilik Batu Pasemah