Cekricek.id — Pukul 6.20 petang, Ki Pantun Ayah Anirah turun di Kampung Cibabang, Leuwidamar, sekitar 15 kilometer dari Desa Kanekes. Yang ia tuju sebuah saung huma milik Bapak Asmin, jauh dari perkampungan, di tepi ladang yang siap ditanami. Hari sudah gelap dan udara dingin. Siang tadi ia mandi memakai batang honjé dan daun kicaang. Sehari sebelumnya seorang Juru Basa mendatanginya dan mengabarkan bahwa salah satu anak Bapak Asmin hendak menggelar ritual Ngarérémokeun, mengawinkan padi dengan bumi. Di saung itu tidak lebih dari sepuluh orang menunggu. Ayah Anirah dipersilakan duduk, disuguhi makanan dan minuman, tetapi ia tidak menyentuh apa pun sampai Juru Basa resmi menyerahkan pekerjaan kepadanya.
Malam itu, 7–8 November 2021, adalah salah satu dari sejumlah malam yang direkam Endin Saparudin dari Universitas Pamulang yang kini menempuh Program Doktor Ilmu Sastra di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, bersama Priscila Fitriasih Limbong, Turita Indah Setyani, dan R. Cecep Eka Permana dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Hasilnya mereka tuangkan dalam artikel “Ngadéngékeun nu mantun”; Constructing the “carita pantun” performance in rice planting ritual of the Baduy indigenous community (Mendengarkan orang berpantun; Menyusun pertunjukan carita pantun dalam ritual tanam padi masyarakat adat Baduy), yang terbit dalam jurnal Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia Vol. 26 No. 1 pada 2025.
Carita pantun adalah wiracarita lisan berbahasa Sunda yang dilantunkan seorang juru cerita, di banyak daerah diiringi kacapi. Di sebagian besar Tatar Sunda tradisi ini sudah lama dikhawatirkan punah; sejak 1950-an ia bergeser dari ritual ke panggung hiburan, dan sebuah kajian pada 2020 yang dikutip para penulis bahkan menyebut masa kini sebagai senjakala pantun Sunda. Di Kanekes, kata para peneliti itu, carita pantun tidak pernah menjadi tontonan. Ia bagian dari agama lokal Slam Sunda Wiwitan, bukan kesenian.
Baca juga: Guru Besar Bima dan Boyolali di Meja Bedah Metodologi Sejarah
Pintu yang lama tertutup
Alasan mengapa carita pantun Baduy jarang diteliti bukan karena tidak menarik, melainkan karena sulit dimasuki. Ajip Rosidi pada 1970-an dan Wim van Zanten pada dekade-dekade berikutnya sama-sama menghadapi tembok yang sama: mereka tidak mendapat izin menyaksikan dan merekam carita pantun di dalam konteks ritualnya. Van Zanten akhirnya menuliskan harapannya dalam bukunya pada 2021. “Menghadapi kesulitan metodologis yang serupa dengan yang dibicarakan Ajip Rosidi, saya berharap upaya saya akan mengilhami orang lain untuk melakukan kajian lanjutan dan memperdalam pemahaman tentang pantun Baduy,” tulisnya dalam kutipan yang diterjemahkan dari bahasa Inggris.
Artikel di Wacana ini adalah jawaban atas harapan itu. Setelah bernegosiasi dengan masyarakat Baduy dan para Ki Pantun, para peneliti akhirnya diizinkan mengamati dan merekam pada tiga konteks ritual saja: Ngarérémokeun, Nukuh Imah atau menempati rumah baru, dan Ngahalimpukeun atau pernikahan manusia. Rekaman dilakukan bukan dalam sesi khusus, melainkan di tengah ritual yang memang sedang berlangsung. Karena Ngarérémokeun paling sering terjadi dan tidak selalu digelar di dalam Desa Kanekes, ritual itulah yang menjadi tumpuan analisis, dengan carita pantun Langga Sari Kolot yang direkam berulang kali sepanjang musim tanam 2021 sampai 2023.
Seberapa hidup tradisi ini? Para peneliti mendata 24 Ki Pantun yang masih aktif mantun, tersebar di kampung-kampung Baduy Luar seperti Kadu Gedé, Cikadu, Batu Beulah, dan Cisaban, serta Baduy Dalam di Cikeusik, Cikartawana, dan Cibéo. Jumlah itu jauh lebih banyak daripada di daerah lain; di Kasepuhan Cisungsang dan Ciptagelar, misalnya, masing-masing hanya ada satu Juru Pantun. Pewarisannya pun masih berjalan. Pada 3 Oktober 2023, Sarja, pemuda 28 tahun dari Kadu Gedé, mulai berguru pada Ayah Anirah, datang setiap sore sampai malam ke rumah gurunya.
Sebelum cerita dimulai
Sebelum satu kata pun dilantunkan, ada urutan yang harus dilalui. Ki Pantun tidak boleh makan atau minum sampai Juru Basa — orang yang mewakili tuan rumah dan menjadi perantara — menyerahkan lemareun, yaitu tiga tumpuk daun sirih, apu, segumpal gambir, dan beberapa buah pinang muda yang ditata di atas wadah tembaga. Penyerahan pekerjaan itu disebut serah gawé. Keduanya duduk berhadapan di lantai bambu, berbicara dengan peribahasa dan tindakan simbolik, mengulang kata tabé sambil memberi isyarat memohon maaf. Tidak ada tawar-menawar soal sesaji, tidak ada pembicaraan soal upah.
Sekitar pukul delapan malam, lima orang duduk melingkar untuk ngalemar bersama, menikmati sirih dan pinang. Jumlahnya harus ganjil; dalam ritual yang disebut urusan pahit seperti kematian, jumlahnya genap. Wadah sirih diedarkan searah jarum jam, mengikuti arah yang disebut gilir naga. Para peneliti mencatat bahwa lingkaran yang tampak setara itu sesungguhnya menyimpan tata jenjang: yang mengambil sirih pertama adalah orang yang dianggap paling tinggi kedudukannya, dan orang terakhir hanya bisa berhubungan lewat perantara.
Area mantun disiapkan di dalam saung, memakan separuh ruangan. Sehelai kain putih polos, boéh larang, dibentangkan di atas kepala Ki Pantun sebagai lalangitan. Di dekat dinding yang akan dihadapinya diletakkan sahid, wadah anyaman bambu berisi benih paré konéng, ditemani wadah lain berisi paré siang dan paré langga sari. Di dalam sahid ada sisir kayu, minyak kelapa, cermin, duhung atau keris, kéncéh atau cangkul kecil penyiang rumput, kain putih, kain merong, panglay, dan coo binih. Lemareun dan parupuyan atau perapian dupa diletakkan di luar sahid.
Arah duduk yang ditentukan hari
Pukul setengah sepuluh malam Ki Pantun bersila menghadap sahid. Malam itu ia menghadap timur, karena ritual berlangsung pada malam Senin. Arah duduk bukan soal kenyamanan atau agar mudah dilihat, melainkan mengikuti skema gilir naga yang berputar searah jarum jam: naga dipercaya berdiam tiga bulan di setiap arah mata angin. Para peneliti menyusun tabel arah untuk setiap hari dan menemukan bahwa arah barat laut tidak pernah dipakai.
Temuan itu sekaligus mengoreksi catatan sebelumnya. Van Zanten memperkirakan bahwa pada ritual sunatan, pernikahan, dan ritual yang dihadiri pejabat adat, Ki Pantun selalu menghadap selatan sebagai arah suci, terlepas dari harinya. Pengamatan lapangan tim ini menunjukkan sebaliknya: arah duduk tetap mengikuti hari, termasuk pada ritual Prahprahan di rumah Jaro Dangka Cipatik dan Nukuh Lembur di Kadu Ketug 3.
Ki Pantun membakar kemenyan, mengucapkan mantra sasadu dengan suara sangat pelan, mengunyah sirih pinang, lalu menyembah tujuh kali sambil mengulang kata sapun. Sasadu tidak termasuk teks lisan carita pantun; ia doa permohonan maaf dan perlindungan kepada guru-guru carita pantun yang telah meninggal, leluhur, para dewa, Nyi Pohaci Sanghyang Asri, dan Sanghyang Peratiwi. Baru setelah itu suaranya naik, dan kalimat pertama terdengar: “Cik urang nu ngawih onam, kawih urang kaulinan, kawih sindir bangbalikan” — yang oleh para penulis diterjemahkan sebagai ajakan bernyanyi seperti biasa, nyanyian orang yang gemar bermain, nyanyian sindiran berbentuk bangbalikan. Malam itu Ayah Anirah melantun tanpa kacapi.
Baca juga: Usul Suksesi 1998 Ditolak Tanwir dan Jalan Amien Rais ke PAN
Jeda di tengah cerita, dan pagi di tengah ladang
Sekitar dua setengah jam kemudian, ketika cerita sampai pada bagian tokoh Kai Kandayan Tani mengucapkan mantra atas benih padi, Ki Pantun berhenti dan menyingkir dari area mantun. Tuan rumah — disebut nu melak, yang menanam — menggantikan tempatnya untuk melakukan jampé binih. Ada pergantian pemain yang bersifat simbolik, lengkap dengan pergantian alat: parupuyan mangkuk keramik putih milik Ki Pantun diganti batok kelapa berlubang, dan kemenyan diganti gaharu. Ritual itu makan waktu 20 sampai 30 menit, tergantung kelancaran pelakunya. Sesudahnya alat-alat dikembalikan seperti semula dan cerita dilanjutkan sekitar satu setengah jam lagi.
Pukul setengah dua dini hari cerita ditutup dengan rumusan yang seolah sengaja menunda akhir: “Diteundeun di simbarang dayeuh, ditunda di simbarang désa, nu hurung di tungtung saur, nu hérang di tungtung sabla…” — disimpan di sembarang kota, ditunda di sembarang desa, tempat yang baik untuk menunda cerita, agar kelak disambangi, ditemui, dan diceritakan lagi. Ki Pantun kembali membakar kemenyan sebentar, lalu meninggalkan semua benda ritual apa adanya sampai pagi. Sekitar pukul dua dini hari, tuan rumah menyuguhkan nasi uduk — kewajiban adat, karena melantun selama sekitar empat jam membuat Ki Pantun lapar.
Pukul enam pagi, jampé binih diulang. Benih paré konéng dibawa ke tengah ladang, diikatkan di sisi kanan tubuh dengan kain merong atau didekap di dada, lalu diletakkan di kotak parako di depan pungpuhunan, kumpulan tanaman yang ditanam di tengah ladang. Keris dipakai membuat lubang tanam bagi sepasang padi induk, batang kituha untuk tujuh lubang berikutnya. Kéncéh yang semalam disucikan baru akan dipakai pada ritual penyiangan rumput pertama, dan benda-benda lain untuk ritual pengobatan padi. Sekitar pukul sepuluh pagi penanaman selesai, ditutup dengan ngalemar dan makan bersama. Juru Basa lalu datang lagi kepada Ki Pantun untuk memohon diri — ngajurungan balik — sambil menyerahkan congcot, lemareun, hancengan, dan sejumlah uang. Kadang ditambah seekor ayam.
Didengarkan, bukan ditonton
Salah satu temuan yang paling menarik dari artikel ini adalah alasan mengapa carita pantun Baduy sulit disaksikan. Karena Ki Pantun harus menghadap arah mata angin tertentu, tidak ada ruang untuk mengatur posisinya agar mudah dilihat penonton. Yang tersisa bagi orang di sekelilingnya hanyalah mendengar. Para peneliti menghubungkan hal ini dengan naskah Sunda Kuno Sanghyang Siksa Kandang Karesian, yang menyebut wayang dan pantun sama-sama sebagai guru panggung, tetapi membedakan cara menikmatinya: wayang ditonton, pantun didengarkan. Bandingkan dengan Ujungberung, Subang, dan Kasepuhan Banten Kidul, tempat area mantun justru ditata agar Juru Pantun menghadap dan terlihat oleh hadirin.
Para penulis mendaftar enam ciri khas carita pantun Baduy: hanya boleh digelar malam hari dan dilarang siang hari; benda-benda ritual mengalami proses penyucian sesuai konteks ritualnya; pertunjukan dibuka dan ditutup dengan ngalemar antara Ki Pantun dan Juru Basa; sifatnya auditif, bukan visual; tidak boleh berbarengan dengan pertunjukan angklung buhun; dan teks lisannya tidak dibuka maupun ditutup dengan rajah.
Yang juga jujur dicatat adalah perilaku hadirin. Sepanjang malam itu, perempuan-perempuan tetap menanak nasi dan menggoreng ikan, para lelaki mengobrol, minum kopi, dan merokok. Sebagian tertawa pada adegan lucu, sebagian menanggapi kosakata yang aneh, sebagian pergi, sebagian tertidur. Menurut para peneliti, itu bukan berarti mereka mengabaikan kesakralan. Hampir seluruh tindakan dalam masyarakat Baduy berkisar pada upacara, sehingga yang sakral tidak terpisah dari yang sehari-hari. Ancaman yang dianggap lebih serius justru datang dari luar: kehadiran orang non-Baduy dipandang berpotensi mencemari kesakralan ritual, dan itulah sebab utama akses dibatasi.
Kacapi yang boleh tidak ada
Di banyak daerah, kacapi dianggap tidak terpisahkan dari carita pantun. Di Baduy tidak selalu demikian. Kacapi memang satu-satunya alat musik yang boleh mengiringi, dan tidak pernah ditemani alat lain, tetapi banyak pertunjukan berlangsung tanpa kacapi sama sekali. Ayah Anirah sendiri baru kembali memetik kacapi buhun pada 2022 setelah berhenti selama 16 tahun, dan sejak itu pun tidak selalu memakainya. Bagi masyarakat Baduy, ada atau tidaknya kacapi tidak mengurangi makna ritual.
Bagi urusan berladang, carita pantun dinilai lebih berbobot daripada angklung. “Kahiji pantun, kadua angklung. Carita pantun mah sarua jeung tujuh rampasan angklung,” kata Ki Pantun sebagaimana dicatat para peneliti — pertama pantun, kedua angklung; nilai carita pantun setara dengan tujuh kelompok angklung. Meski begitu, para penulis mengakui bahwa generasi muda Baduy jauh lebih menyukai angklung buhun dan koromong, yang bisa mereka mainkan dan tarikan, ketimbang carita pantun yang hanya bisa didengarkan. Popularitasnya menurun.
Batas yang diakui sendiri
Para penulis tidak menyembunyikan batas kerja mereka. Mereka tidak diizinkan mengamati dan merekam seluruh ritual, terutama yang berlangsung di dalam Desa Kanekes dan yang dihadiri pejabat adat; untuk ritual seperti Prahprahan dan Nukuh Lembur, mereka hanya bisa bersandar pada wawancara. Ritual sunatan Nyelamkeun tidak digelar sepanjang 2020 sampai 2023 sehingga tidak dapat diamati. Analisis intinya juga bertumpu pada satu carita pantun, Langga Sari Kolot, yang dibawakan satu Ki Pantun, Ayah Anirah dari Kadu Gedé. Sebagian aturan adat pun mereka nyatakan masih memerlukan penelitian lanjutan, misalnya mengapa carita pantun dan angklung buhun tidak boleh dipilih sekaligus dalam satu ritual.
Baca juga: Rayap di Tiang 1771: Klenteng Tertua Semarang Bertahan dari Sumbangan Umat
Para penulis juga mencatat sejumlah hal yang tampak berlawanan dalam cara masyarakat Baduy menempatkan diri: mereka menolak dikaitkan dengan Pajajaran, tetapi dalam carita pantun disebut putra raja dari Pakuan dan putra bangsawan Pajajaran; mereka menyatakan memegang adat tanpa pelanggaran, tetapi adat itu sendiri menyediakan upacara penyucian bagi yang melanggar; dan mereka menyatakan adatnya tak berubah turun-temurun, padahal sebagai masyarakat lisan tanpa catatan tertulis, penafsirannya berubah bersama tiap angkatan. Koin réal mata uang Spanyol yang kini hadir dalam ritual, kain lomar yang tidak pernah mereka tenun sendiri tetapi menjadi pakaian adat, serta pantangan difoto yang diduga baru berkembang sekitar 1920-an adalah contoh unsur baru yang telah menjadi bagian tradisi.
Pada November 2024, carita pantun Baduy dan kacapi buhun ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Para penulis menutup dengan catatan agar upaya pelindungan ke depan mengutamakan sikap saling menghormati antara masyarakat, peneliti, dan lembaga setempat, serta memperhitungkan proses sosial yang sedang berjalan di dalam masyarakat Baduy sendiri.
















