Tim UNAIR Olah Lengkuas Jadi Serundeng di Morowali

Sesi pengenalan prototipe produk olahan rempah dalam forum diskusi bersama warga di Kawasan Transmigrasi Bungku, Morowali.

Sesi pengenalan prototipe produk olahan rempah dalam forum diskusi bersama warga di Kawasan Transmigrasi Bungku, Morowali. [Foto: Universitas Airlangga]

Cekricek.id — Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga (UNAIR) menyulap rempah hasil tani warga Kawasan Transmigrasi Bungku, Morowali, Sulawesi Tengah, menjadi produk olahan bernilai jual lebih tinggi. Serai, lengkuas, pandan, hingga kelapa yang selama ini berpindah tangan dalam bentuk segar kini diolah menjadi teh serai, serundeng lengkuas, lengkuas kering, serta pandan kering, menurut keterangan tertulis Universitas Airlangga, Senin (24/08/2026).

Rempah Segar Diolah Jadi Produk Bernilai

Kawasan Transmigrasi Bungku memiliki hasil bumi yang melimpah. Namun, kelimpahan itu belum sepenuhnya berbanding lurus dengan nilai jual karena sebagian besar komoditas dilepas warga dalam kondisi segar tanpa proses pengolahan lebih dulu.

Kondisi itulah yang mendorong tim berinovasi. Alih-alih membiarkan rempah beredar dengan daya tawar rendah, tim memilih mendampingi warga mengolahnya menjadi produk konsumsi yang punya nilai tambah.

Langkah awal yang ditempuh adalah memetakan potensi komoditas lokal. Hasil pemetaan tersebut kemudian dipaparkan dalam forum Focus Group Discussion (FGD) bersama para petani, peternak, perangkat desa, hingga kader PKK di Desa Bahoea Reko-Reko, Jumat (21/8).

Forum itu mempertemukan petani dan peternak sebagai penyedia bahan baku dengan perangkat desa serta kader PKK. Dari forum tersebut, tim memaparkan hasil pemetaan sekaligus memperkenalkan prototipe produk olahan rempah kepada warga.

Serundeng Lengkuas Curi Perhatian Warga

Ketua Tim Ekspedisi Patriot UNAIR, Dr Siti Rahayu Nadhiroh SKM MKes, menuturkan sambutan warga terhadap prototipe produk berlangsung hangat. Satu varian olahan bahkan langsung menonjol dibanding varian lainnya.

Baca juga Inovasi UGM Jadi SNI Pertama Kewirausahaan Gotong Royong

“Masyarakat sangat antusias, terutama dengan produk serundeng lengkuas,” kata Nadhiroh yang juga dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat UNAIR tersebut.

Ia menilai pasokan lengkuas di kawasan tersebut terbilang melimpah dan stabil. Kondisi itu membuat komoditas tersebut punya prospek bagus untuk dikembangkan menjadi produk unggulan desa.

Antusiasme warga menjadi penanda awal bahwa produk turunan rempah berpeluang diterima pasar lokal. Pasokan bahan bakunya pun dinilai stabil sehingga produksi tidak mudah terganggu.

Baca juga Tim Itera Ubah Rambut Jagung dan Kelor Jadi Teh Herbal

Selain serundeng lengkuas, tim memperkenalkan teh serai, lengkuas kering, serta olahan pandan kering yang pas berpadu dengan campuran teh. Seluruh varian itu berangkat dari komoditas yang sudah akrab bagi warga sehingga bahan baku tidak perlu didatangkan dari luar kawasan.

Modal dan Pasar Jadi Kecemasan Petani

Meski mendapat sambutan hangat, diskusi tersebut turut membuka kecemasan utama para petani. Dua persoalan yang paling mengemuka adalah modal usaha dan kepastian pasar.

“Warga khawatir soal pendanaan dan ke mana produk ini akan dijual. Wong jual hasil rempah segar saja selama ini masih susah,” ujarnya.

Kekhawatiran itu berpijak pada pengalaman warga yang belum mudah memasarkan rempah dalam bentuk segar. Tanpa jaminan pembeli, produk turunan yang menuntut proses pembuatan lebih panjang berisiko berhenti di tahap pelatihan saja.

Pendampingan Empat Bulan di Bungku

Merespons kendala tersebut, Tim Ekspedisi Patriot UNAIR menyiapkan sejumlah langkah konkret. Tim berencana menggelar workshop, validasi pasar, hingga market testing untuk mengukur penerimaan produk.

Baca juga USU Dorong Kawasan Konservasi Perairan Pulau Pandang Batu Bara

Penjajakan kerja sama juga bakal berlangsung bersama dinas terkait, badan usaha milik desa (BUMDes), hingga pelaku usaha lokal. Skema itu diharapkan membuat rantai produksi dan pemasaran tidak bertumpu pada tim semata.

“Kami ingin produk ini tidak berhenti sebagai hasil pelatihan saja, tapi benar-benar tumbuh jadi produk khas Bungku yang menguntungkan warga,” tegas Nadhiroh.

Tim Ekspedisi Patriot UNAIR beranggotakan satu ketua dan lima anggota. Mereka bertugas mendampingi warga Bungku selama empat bulan, mulai dari pemetaan potensi komoditas hingga penjajakan pasar produk olahan.

Program tersebut merupakan inisiatif Kementerian Transmigrasi RI yang bekerja sama dengan berbagai perguruan tinggi negeri di Indonesia. Skema kolaborasi itu menempatkan kampus sebagai pendamping teknis warga di kawasan transmigrasi.

Sepanjang masa pendampingan, tim menargetkan olahan rempah tersebut naik kelas dari sekadar produk pelatihan menjadi komoditas khas Bungku yang memiliki pasar tetap.

Baca Juga

Peserta pelatihan kader tangguh bencana Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga berfoto bersama di Manokwari, Papua Barat.
UNAIR Siapkan Kader Tangguh Bencana di Manokwari
Dokter spesialis THT-BKL Universitas Airlangga Rosa Falerina di ruang kerjanya.
Pakar UNAIR: Sound Horeg Bisa Picu Tuli Permanen
Peraih Nobel Perdamaian Kailash Satyarthi berbicara dalam UGM Annual Lecture Nobel Laureate Series di Universitas Gadjah Mada.
Nobel Kailash Satyarthi: Bawa KKN UGM ke Panggung Global
Konferensi pers peluncuran pembangkit listrik tenaga surya di atas kanal irigasi di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.
Unsoed dan BRIN Luncurkan PLTS di Atas Kanal Irigasi
Penandatanganan kerja sama riset nilam kristal antara Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala dan ParagonCorp.
Nilam Kristal USK Capai Kemurnian 99,7 Persen
Sesi pemaparan materi seminar nasional tentang penyelesaian sengketa ekonomi syariah di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.
Eks Ketua MA: Pengadilan Niaga Syariah Berpotensi Besar