Daftar Isi
Cekricek.id — Di dalam bilik Candi Nandi, di kompleks Candi Prambanan, sebagian besar pengunjung hanya menoleh pada patung lembu besar yang menjadi nama bangunan itu. Padahal di belakang kanan sang lembu berdiri sebuah arca kecil yang jarang dilirik: seorang tokoh bermahkota tinggi, kedua tangannya bertemu di depan perut sambil menggenggam setangkai teratai, berdiri tegak di atas sebuah kereta. Yang menarik ada di bawah kakinya. Kereta itu ditarik tujuh ekor kuda, seluruhnya menghadap ke depan. Tujuh, bukan enam atau delapan. Angka itulah tanda pengenal paling kuat bahwa yang dipahat di sana adalah Dewa Surya, dewa matahari.
Arca di Candi Nandi itu bukan satu-satunya. Ia salah satu dari tujuh arca Dewa Surya yang sejauh ini tercatat pernah ditemukan di Pulau Jawa dan kini tersebar di lima tempat penyimpanan yang berbeda. Ketujuhnya baru dikumpulkan dan dibandingkan secara sistematis oleh Pratama Dharma Surya dari Banyan Art & Heritage lewat artikel Representasi Dewa Surya dalam Bentuk Arca di Jawa, yang terbit dalam Jurnal Arkeologi Nusantara Vol. 2 No. 2 pada 2024. Ia memakai metode deskriptif-komparatif dengan pendekatan ikonografis, yaitu membaca arca bertahap dari deskripsi pra-ikonografi, deskripsi ikonografi, sampai tahap penafsiran.
Sebagian arca ia amati langsung, sebagian lagi hanya lewat dokumentasi pihak lain karena benda aslinya tidak dapat didekati. Perbedaan cara pengamatan itu ia catat terbuka pada setiap nomor arca, dan hal tersebut kelak membatasi seberapa jauh kesimpulannya bisa ditarik. Alasan penelitian itu dikerjakan sederhana: temuan arca Surya di Jawa sudah lama disebut-sebut, tetapi dokumentasi dan kajian ilmiahnya masih terbatas dan berserak.
Tujuh Arca yang Tersebar di Lima Tempat
Tiga arca berada di Museum Nasional, Jakarta. Yang pertama, bernomor inventaris 8455, berasal dari Kediri. Arca ini bertangan dua, keduanya dalam sikap varadahasta mudra, duduk bersila di atas padmasana alias alas teratai, memakai mahkota jenis karandamakuta, anting kundala, kalung hara, gelang lengan keyura, gelang tangan kankana, dan kain bhusana. Di belakang kepalanya ada lingkaran cahaya yang disebut sirascakra. Dua arca lain, nomor 203 dan 204, berasal dari Jawa Timur dan sama-sama digambarkan duduk bersila di atas kereta yang ditarik tujuh kuda. Arca nomor 203 sudah aus di kedua tangan sehingga benda yang dulu dipegangnya tak lagi bisa dikenali; arca 204 masih menyisakan setangkai teratai di tangan kanan.
Arca keempat adalah yang berdiri di Candi Nandi, Prambanan. Yang kelima berupa fragmen dari Prambanan juga, diperkirakan berasal dari abad ke-9 Masehi, kini menjadi koleksi Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X dengan nomor inventaris BG 650. Fragmen ini tinggal menyisakan sepasang kaki di atas kereta beserta tujuh kudanya, dan posisi kaki itulah yang membuat penulisnya menyimpulkan sang dewa dulu digambarkan berdiri. Yang keenam bahkan lebih sedikit lagi sisanya: sebuah fragmen dari Purworejo, koleksi Museum Tosan Aji, yang hanya berupa tujuh ekor kuda tanpa penunggangnya. Yang ketujuh, dari Jawa Timur, kini menjadi koleksi Museum Penataran di Blitar, duduk bersila di atas kereta, tangan kanan menekuk memegang teratai dan tangan kiri dalam sikap varadahasta mudra.
Tiga Ciri yang Membedakannya dari Dewa Lain
Dari ketujuh benda itu, penulisnya menyusun tiga kriteria pembeda: sikap tangan, sikap tubuh, dan alas atau kendaraan. Sikap tangan berarti varadahasta mudra, yaitu sikap pemberian anugerah, dan atau memegang bunga teratai. Sikap tubuh berarti duduk bersila atau berdiri. Alas berarti padmasana dan atau kereta yang ditarik tujuh ekor kuda. Kriteria itu tidak dikarang sendiri, melainkan ditarik dari pedoman ikonografi India, terutama Matsya Purana, serta kitab-kitab seperti Visvakarma Silpasastra, Amsumabhedaama, dan Suprabhedaama, yang menggambarkan Surya bertangan dua membawa teratai dan mengendarai kereta tujuh kuda.
Angka tujuh itu sendiri punya beberapa tafsir dalam pustaka India yang dirujuk. Ada yang membacanya sebagai tujuh spektrum warna cahaya yang tampak mata dan tujuh hari dalam sepekan. Garuda Purana menafsirkannya lain lagi, yaitu tujuh chhands atau bait yang dipakai dalam puisi, di antaranya gayatri, vrihati, ushnik, jagati, trishtup, anushtup, dan pankti. Dalam pedoman yang sama, kuda-kuda penarik kereta itu semestinya diikat dengan tali ular dan dilengkapi satu cakra di dalam keretanya.
Hasil pemetaannya menunjukkan hanya empat arca — nomor 1, 3, 4, dan 7 — yang memenuhi ketiga kriteria sekaligus. Tiga sisanya tidak lengkap bukan karena beda konsep, melainkan karena kondisinya sudah aus, rusak, atau hilang sebagian. Meski begitu, ciri yang tersisa pada ketiganya, terutama tujuh kuda itu, dinilai masih cukup untuk mengenali mereka sebagai Surya. Arca-arca semacam ini berstatus benda cagar budaya yang penanganannya terikat aturan, sehingga sebagian hanya bisa diamati lewat dokumentasi.
Yang Absen dalam Versi Jawa
Ketika ketujuh arca Jawa itu disandingkan dengan dua arca Surya abad ke-13 dari Odisha, India, garis besarnya memang bertemu. Namun ada beberapa hal yang justru absen di Jawa. Di India, Surya biasanya ditemani tokoh penyerta dan, yang paling khas, seorang kusir bernama Aruna yang mengendalikan kereta. Kedua sosok itu tidak muncul pada arca-arca Jawa. Teratai yang dipegang pun berbeda perlakuan: di Jawa kuncup atau mekar menghadap ke atas, di India mekar menghadap ke depan. Kuda-kuda di Jawa seragam menghadap depan, sedangkan di India tidak semuanya. Motif hiasnya juga jauh lebih hemat dibanding arca India yang penuh ornamen.
“Memang tidak seluruhnya sama persis, karena setiap pembuat arca tampaknya punya subjektivitas masing-masing,” tulis Pratama Dharma Surya dalam artikel itu. Ia menyimpulkan bahwa perbedaan tersebut menunjukkan indikasi adaptasi lokal dan inovasi, tetapi ia juga menegaskan bahwa alasan di balik adaptasi itu masih membutuhkan kajian lanjutan. Pada kesimpulannya ia menulis, “Hal ini menegaskan bahwa proses akulturasi budaya India ke Jawa berlangsung dengan adaptasi minimal dalam representasi Dewa Surya.”
Batas penelitian itu ia sebut sendiri tanpa ditutupi. “Perlu digarisbawahi juga bahwa perbandingan yang dilakukan dalam penelitian ini tidak mencakup populasi dari arca Dewa Surya yang ada di India,” tulisnya, karena jumlah persis arca Surya di India tidak ia ketahui. Artinya, pembanding India di sini hanya dua arca dari satu wilayah, Odisha, yang dipilih karena sikap berdiri banyak dijumpai di sana. Perbandingan tujuh lawan dua jelas bukan perbandingan populasi. Pola yang sama juga terlihat pada kajian peninggalan Hindu-Buddha di luar Jawa, yang kerap bertumpu pada segelintir benda yang kebetulan selamat.
Matahari, Panen, dan Harapan akan Kesehatan
Pertanyaan berikutnya: untuk apa orang Jawa masa itu memahat dewa matahari. Penulisnya menyandarkan tafsirnya pada pustaka India yang menyertai pemujaan Surya. Dalam Rgveda, Surya dianggap penyembuh; pemujaannya dikaitkan dengan harapan meningkatnya kesuburan, terutama di daerah pertanian, sekaligus lenyapnya penyakit jasmani, mental, maupun rohani. Padma Purana menyebut pemujaan Surya akan menghilangkan berbagai penyakit dan membawa kesehatan, sementara Markandeya Purana mengaitkannya dengan kesejahteraan dan usia panjang.
Dalam masyarakat Jawa Kuno yang bertumpu pada pertanian, simbol matahari dinilai punya makna yang dalam karena matahari dianggap pemberi kehidupan sekaligus penentu siklus panen. Namun penulisnya berhati-hati: ia menulis bahwa konsep pemujaan Surya mungkin telah diintegrasikan ke dalam sistem kepercayaan lokal, bukan sudah pasti. Ia juga meluruskan satu hal yang kerap disalahpahami. Ritual Surya-Sevana yang dikenal di Bali, yang sering dikutip sebagai bukti pemujaan matahari, sebenarnya lebih berfokus pada produksi air suci atau tirta amerta ketimbang penyembahan matahari itu sendiri. Kehati-hatian semacam ini juga lazim dijumpai pada penelitian candi-candi masa akhir Majapahit, ketika bukti benda tidak selalu bisa dipertemukan dengan praktik keagamaannya.
Dewa yang Perlahan Meredup
Nasib Surya di tanah asalnya sendiri tidak selalu cemerlang. Setelah bertahan lebih lama daripada dewa-dewa Veda lainnya, pemujaan terhadapnya menurun drastis sekitar abad ke-13 Masehi karena perannya dianggap tidak lagi relevan dan digantikan dewa lain. Kuil baru untuknya hampir tidak dibangun lagi, sebagian dialihfungsikan bagi dewa lain, dan sebagian besar yang tersisa berhenti dipakai. Surya tetap dihormati, tetapi lebih sebagai satu dari sembilan dewa planet atau Navagraha bersama Candra, Mangala, Budha, Brihaspati, Sukra, Sani, Rahu, dan Ketu.
Penulisnya menempatkan kajiannya sebagai langkah awal, bukan kata akhir. Untuk penelitian selanjutnya ia merekomendasikan survei yang lebih luas terhadap artefak dan sumber arkeologis lain yang berkaitan dengan Surya, agar peran, ritual, dan persebaran geografisnya di Nusantara bisa dipahami lebih utuh. Sampai hal itu dikerjakan, tujuh arca tersebut tetap berada di tempatnya masing-masing: tiga di Jakarta, dua di Yogyakarta, satu di Purworejo, satu di Blitar, dengan kereta dan tujuh kuda yang sebagian sudah kehilangan penunggangnya.















