- Menbud Fadli Zon buka Kongres ke-23 IPPA di UGM, Senin (2/11/2026).
- Ia ajak beralih dari narasi sejarah kolonial yang berpusat pada daratan.
- BRIN dan Kemenbud siapkan usulan pusat kategori 2 UNESCO soal evolusi manusia.
Cekricek.id — Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengajak bangsa Indonesia beralih dari narasi sejarah kolonial yang berpusat pada daratan dan mulai mengakui peran masyarakat pulau, lingkungan maritim, serta pengetahuan lokal. Ajakan itu ia sampaikan saat membuka Kongres ke-23 Indo-Pacific Prehistory Association (IPPA) 2026 di Grha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Senin (2/11/2026).
Fadli memaparkan Indonesia dihuni lebih dari 290 juta jiwa dengan 1.340 suku bangsa dan 780 bahasa, serta memiliki lebih dari 3.277 elemen warisan budaya takbenda nasional, 16 di antaranya masuk daftar UNESCO, dan 1.515 situs cagar budaya nasional.
Ia juga menyinggung tiga temuan ilmiah terbaru di Indonesia: seni cadas naratif tertua di dunia di Leang Karampuang, Sulawesi Selatan, berusia sekitar 51.200 tahun; artefak batu masa Pleistosen awal di Talepu, Sulawesi, yang menjadi bukti tertua keberadaan hominin di pulau itu; serta seni cadas cap tangan tertua di dunia di Liang Metanduno, Pulau Muna, yang berusia setidaknya 67.800 tahun.
“Sejarah kemanusiaan lebih beragam dan kompleks. Setiap penemuan membuka pertanyaan baru dan setiap generasi mewarisi tanggung jawab untuk melestarikannya,” kata Fadli, sebagaimana disampaikan dalam keterangan tertulis UGM, Senin (2/11/2026).
Baca juga: Menakjubkan! 13 Penemuan Karya Seni Purba, 2 di Indonesia Berusia 540 Ribu Tahun
Nusantara Disebut Poros Peradaban
Menurut Fadli, Asia dan Nusantara merupakan poros penting peradaban dunia. Ia menekankan kerja sama ilmiah internasional, ketahanan warisan budaya, penghubungan temuan arkeologi dengan masyarakat, serta kemitraan Indo-Pasifik yang berkelanjutan.
“Semakin dalam kita memahami masa lalu kita, kita harus menjadi semakin bijak dalam membentuk masa depan kita,” ujarnya.
Presiden IPPA Prof Dra Anggraeni MA PhD menyebut Indonesia untuk kedua kalinya menjadi tuan rumah kongres tersebut. Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN, Dr Herry Yogaswara MA, menambahkan bahwa BRIN dan Kementerian Kebudayaan tengah mengerjakan usulan pusat kategori 2 UNESCO untuk kajian evolusi, adaptasi, dan persebaran manusia di Asia Tenggara.
Baca juga: Terungkap! Manusia Purba Menghuni Dataran Tinggi Persia Selama 20.000 Tahun
Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama Dr Danang Sri Hadmoko SSi MSc menilai masa depan arkeologi bergantung pada kolaborasi lintas disiplin, mulai dari antropologi, genetika, ilmu lingkungan, hingga kecerdasan buatan.
“Melalui IPPA 2026, kami mengupayakan kolaborasi lintas disiplin jangka panjang antar lembaga dan antar kawasan. Semoga kongres ini dapat melahirkan penemuan-penemuan baru, kemitraan yang bermakna, serta kolaborasi nyata bagi kemanusiaan,” tutur Danang.
Baca juga: Rokok Kalahkan Belanja Gizi, Pakar UGM: Anak Rentan Stunting















