Menakjubkan! 13 Penemuan Karya Seni Purba, 2 di Indonesia Berusia 540 Ribu Tahun

Inilah 13 Karya Seni Purba, 2 Ada di Indonesia Berusia 540 Ribu Tahun

Ilustrasi. [Foto: Diciptakan dengan AI oleh Kreator Cekricek.id]

Cekricek.id - Penemuan arkeologi baru-baru ini telah mengubah pemahaman kita tentang seni. Simbolisme, yang dulunya dianggap sebagai ciri khas manusia modern, ternyata telah dipraktikkan oleh hominin (nenek moyang manusia) jauh sebelum kemunculan Homo sapiens.

Definisi seni masih menjadi perdebatan, terutama dalam konteks seni prasejarah. Dilansir dari livescience, berikut beberapa penemuan karya seni tertua di dunia, beberapa di antaranya dibuat oleh manusia modern secara anatomis, dan beberapa lainnya oleh hominin yang berbeda:

Lukisan gua Mesolitikum

Inilah 13 Karya Seni Purba, 2 Ada di Indonesia Berusia 540 Ribu Tahun
Auroch, kuda, dan rusa dilukis di sebuah gua. [Foto: Wikicommon]

Ketika berbicara tentang seni prasejarah, kebanyakan orang terbayang lukisan gua seperti di Gua Chauvet dekat Avignon, Prancis, atau Gua Lascaux dekat Bordeaux. Lukisan-lukisan ini memanglah contoh seni prasejarah yang indah dan rumit, namun perlu diketahui bahwa seni prasejarah jauh lebih luas dan beragam daripada itu.

Lukisan gua seperti di Chauvet dan Lascaux tergolong seni prasejarah yang relatif baru dan canggih. Lukisan di Gua Chauvet, misalnya, dibuat oleh manusia modern awal antara 28.000 dan 37.000 tahun yang lalu, sedangkan lukisan di Gua Lascaux diperkirakan dibuat lebih baru, sekitar 17.000 tahun yang lalu.

Ukiran tulang Mesolitikum

Inilah 13 Karya Seni Purba, 2 Ada di Indonesia Berusia 540 Ribu Tahun
Venus of Brassempouy, yang terbentuk sekitar 25.000 tahun lalu. [Foto: Jean-Gilles Berizzi]

Benua Eropa tersohor dengan kekayaan seni prasejarahnya. Para arkeolog bahkan sempat menduga bahwa seni representasional, seni yang menggambarkan objek nyata, mungkin bermula dari sana.

Patung-patung yang terbuat dari tulang binatang menjadi bukti kuatnya. Tulang lebih mudah diukir dibandingkan batu dan lebih tahan lama dibandingkan kayu.

Patung-patung ini ditemukan di berbagai penjuru Eropa, seperti Prancis, Spanyol, dan Jerman. Salah satu contohnya adalah Venus Brassempouy, yang ditemukan di Prancis dan diperkirakan berusia sekitar 25.000 tahun.

Patung Venus

Inilah 13 Karya Seni Purba, 2 Ada di Indonesia Berusia 540 Ribu Tahun
Patung Venus of Willendorf do Austria. Patung tertua mungkin berusia 35.000 tahun.[Foto: Getty Images]

Dewi cinta Yunani, Venus, memberi inspirasi pada lebih dari 200 patung wanita prasejarah yang tersebar di seluruh Eropa. Patung-patung ini, sebagian besar berasal dari periode Gravettian ketika Homo sapiens mendiami Eropa, yaitu sekitar 26.000 hingga 21.000 tahun yang lalu. Patung-patung ini, biasanya diukir dari batu lunak atau tulang, menjadi saksi bisu dari keindahan dan misteri zaman kuno.

Dalam perjalanan melintasi masa, Venus Willendorf dari Austria menjadi salah satu ikon yang paling diakui. Diukir sekitar 30.000 tahun yang lalu dalam seutas batu, patung ini mencerminkan keahlian seni prasejarah yang mengagumkan. Namun, di Jerman, ditemukan Venus tertua yang mungkin telah menghiasi dunia lebih dari 35.000 tahun yang lalu, memberikan pandangan unik ke dalam keterampilan artistik manusia purba.

Dengan melihat foto Venus Willendorf, kita dapat menyelami ke dalam dunia prasejarah di mana seni adalah bentuk ungkapan tentang keindahan dan spiritualitas. Meskipun zaman telah berubah, namun pesona dan keajaiban patung Venus tetap abadi, menjadi pengingat akan kreativitas manusia yang tak terbatas sepanjang masa.

Lukisan Babi Kutil di Indonesia

Inilah 13 Karya Seni Purba, 2 Ada di Indonesia Berusia 540 Ribu Tahun
Lukisan babi kutil yang disempurnakan secara digital di Gua Leang Tedongnge, Sulawesi, Indonesia. [Foto: AA Oktaviana]

Di pulau Sulawesi, Indonesia, terdapat sebuah karya seni cadas yang menarik perhatian para peneliti. Dikenal sebagai "babi kutil," panel seni ini diperkirakan telah ada selama sekitar 45.500 tahun, menjadikannya salah satu karya seni representasional tertua yang pernah ditemukan. Keberadaan seni cadas seperti ini di Indonesia prasejarah menunjukkan bahwa negara ini adalah sebuah "hotspot" seni cadas yang tak terduga.

Melalui penelitian, para ahli seni menemukan bahwa karya seni ini menantang pandangan umum yang menyatakan bahwa tradisi seni cadas berasal dari Eropa dan menyebar ke seluruh dunia. Sebaliknya, temuan ini mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki sejarah seni cadas yang kaya dan mungkin telah menjadi pusat kreativitas seni cadas jauh sebelum Eropa.

Dengan mengeksplorasi jejak seni prasejarah seperti "babi kutil," para peneliti dapat mengungkap lapisan sejarah yang lebih dalam dan melibatkan Indonesia dalam narasi global tentang perkembangan seni cadas. Karya seni ini memberikan wawasan yang berharga tentang kekayaan budaya dan artistik yang dimiliki Indonesia, memperluas pandangan kita tentang asal usul seni cadas dan dampaknya dalam sejarah seni dunia.

Ukiran dinding Neanderthal

Inilah 13 Karya Seni Purba, 2 Ada di Indonesia Berusia 540 Ribu Tahun
Ukiran yang ditemukan di gua Roche-Cotard (Indre et Loire - Perancis). [Foto: Jean-Claude Marquet]

Sebuah karya seni purba telah mencuri perhatian para peneliti modern. Sebelumnya, para arkeolog meyakini bahwa hanya Homo sapiens yang memiliki kemampuan untuk menciptakan seni. Namun, penemuan terbaru mengubah pandangan ini. Dengan penuh kekaguman, mereka menemukan bahwa Neanderthal, kerabat terdekat manusia, juga terlibat dalam dunia seni.

Dalam gua-gua di Prancis, tersembunyi ukiran-ukiran misterius yang mencengangkan. Ternyata, karya ini menciptakan jejak sejarah sekitar 75.000 tahun yang lalu. Sebuah periode yang jauh sebelum kedatangan Homo sapiens ke Eropa. Penemuan ini memperkaya pemahaman kita tentang evolusi seni manusia dan melibatkan Neanderthal dalam narasi kreatif masa lalu.

Ukiran tulang Neanderthal

Inilah 13 Karya Seni Purba, 2 Ada di Indonesia Berusia 540 Ribu Tahun
Ukiran tulang oleh Neanderthal berusia sekitar 51.000 tahun. [Foto: NLD]

Di zaman lampau, Neanderthal ternyata bukan hanya ahli dalam ukiran tulang, namun para arkeolog juga percaya bahwa mereka mungkin mahir dalam mengukir kayu, meskipun buktinya kini telah menghilang. Sebuah artefak menarik berupa ukiran pada tulang jari kaki rusa raksasa muncul di sebuah gua di Jerman. Diketahui bahwa ukiran ini berasal dari sekitar 51.000 tahun yang lalu, jauh sebelum kedatangan H. sapiens di wilayah tersebut.

Keberadaan ukiran ini memukau para ahli arkeologi, dianggap sebagai salah satu karya seni simbolis paling awal yang pernah ditemukan. Meski makna sebenarnya dari ukiran tersebut masih menjadi misteri, kehadirannya memberikan gambaran menarik tentang kemampuan seni dan kreativitas Neanderthal. Dalam merenungkan ukiran ini, kita seakan diundang untuk menyelami kehidupan manusia purba ini yang ternyata memiliki kecakapan seni yang mencengangkan.

"Tagar" Afrika Selatan

Inilah 13 Karya Seni Purba, 2 Ada di Indonesia Berusia 540 Ribu Tahun
Pola abstrak yang terukir pada sepotong oker yang ditemukan di Gua Blombos. [Foto: D'Errico/Henshilwood/Alam]

Di sebuah gua bernama Blombos di Afrika Selatan, para arkeolog menemukan sebuah serpihan batu yang menarik perhatian mereka. Serpihan ini dihiasi dengan garis-garis merah oker yang saling bersilangan, mengingatkan kita pada simbol "hashtag" yang sering digunakan di media sosial saat ini.

Penemuan ini diperkirakan berusia sekitar 73.000 tahun, dan para arkeolog menduga bahwa serpihan batu ini mungkin dibuat oleh manusia purba Homo sapiens awal. Hal ini menunjukkan bahwa nenek moyang kita mungkin sudah memiliki kemampuan untuk menggunakan simbol dan berkomunikasi dengan cara yang lebih kompleks daripada yang dibayangkan sebelumnya.

Penemuan serpihan batu "hashtag" ini merupakan salah satu contoh bukti penting tentang perkembangan kognitif manusia purba. Hal ini menunjukkan bahwa Homo sapiens awal mungkin sudah memiliki kemampuan untuk berpikir abstrak dan menggunakan simbol untuk menyampaikan makna atau informasi.

Meskipun masih banyak yang belum diketahui tentang makna di balik simbol "hashtag" pada serpihan batu ini, penemuan ini membuka jendela baru untuk memahami bagaimana manusia purba berkomunikasi dan berpikir.

Liontin cakar elang

Inilah 13 Karya Seni Purba, 2 Ada di Indonesia Berusia 540 Ribu Tahun
Cakar elang ekor putih dari situs Krapina Neandertal di Kroasia. Berusia sekitar 130.000 tahun. [Foto: Wikimedia]

Di sebuah tempat perlindungan batu kuno di Kroasia, ditemukan cakar elang yang dikumpulkan oleh Neanderthal. Cakar-cakar ini kemungkinan telah diubah menjadi liontin sekitar 130.000 tahun yang lalu. Artefak-artefak ini digali seabad lalu, namun usianya yang luar biasa baru diketahui baru-baru ini.

Penemuan ini menunjukkan bahwa Neanderthal, yang sering digambarkan sebagai manusia primitif, memiliki tingkat kecanggihan yang lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya. Kemampuan mereka untuk membuat perhiasan menunjukkan adanya pemikiran simbolis dan estetika, yang sebelumnya dianggap sebagai ciri khas manusia modern.

Penemuan cakar elang ini menambah bukti bahwa Neanderthal memiliki perilaku yang kompleks dan kemampuan kognitif yang canggih. Mereka tidak hanya mampu berburu dan membuat alat, tetapi juga memiliki rasa keindahan dan mungkin memiliki kepercayaan spiritual.

Penemuan ini penting karena membantu kita untuk lebih memahami evolusi manusia dan hubungan antara Neanderthal dan manusia modern. Hal ini menunjukkan bahwa Neanderthal mungkin tidak seprimitif yang kita duga dan bahwa mereka mungkin memiliki lebih banyak kesamaan dengan manusia modern daripada yang kita bayangkan.

Kayu hominin

Inilah 13 Karya Seni Purba, 2 Ada di Indonesia Berusia 540 Ribu Tahun
Struktur kayu, menunjukkan Manusia Zaman Batu telah memotong kayu. [Foto: Profesor Larry Barham, Universitas Liverpool]

Kayu sebenarnya mudah untuk diukir dan dibentuk, tetapi sayangnya kayu juga rentan busuk dan mudah rusak jika terkena udara terbuka. Karena sifat alaminya ini, diduga banyak sekali karya seni dan perkakas dari kayu buatan Neanderthal dan nenek moyang manusia purba lainnya yang telah musnah sepenuhnya seiring berjalannya waktu. Itulah mengapa para arkeolog jarang menemukan artefak kayu purba yang masih utuh. Namun beberapa waktu lalu, sekelompok arkeolog menemukan sisa-sisa bangunan kayu berusia 476.000 tahun yang terawetkan dengan baik di Zambia karena terpendam di dalam tanah liat. Bangunan purba ini menunjukkan kemahiran nenek moyang manusia dalam memanfaatkan dan mengolah material kayu, yang mungkin juga mereka gunakan untuk membuat karya seni pada masa itu.

Sidik jari Tibet

Inilah 13 Karya Seni Purba, 2 Ada di Indonesia Berusia 540 Ribu Tahun
Rendering 3D tangan dan jejak kaki yang ditinggalkan oleh anak-anak hominin purba di Tibet. [Foto: Matthew Bennett]

Di dataran tinggi Tibet, di sekitar sumber air panas, terukir jejak tangan anak-anak yang berusia lebih dari 200.000 tahun. Cetakan tangan ini, tercipta di batu travertine yang lunak saat basah dan mengeras saat kering, mungkin mewakili karya seni tertua yang pernah ditemukan.

Para peneliti meyakini bahwa anak-anak prasejarah ini sengaja membuat cetakan tangan mereka di batu, meninggalkan jejak tak terhapuskan dari masa lampau. Namun, para arkeolog masih memperdebatkan apakah tindakan ini dapat dikategorikan sebagai seni dan apakah usia cetakan Tibet ini benar-benar setua yang diklaim.

Penemuan ini membuka jendela baru untuk memahami kehidupan dan budaya manusia purba di Tibet. Cetakan tangan ini memberikan bukti bahwa manusia purba memiliki kemampuan untuk mengekspresikan diri secara kreatif, jauh lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya.

Meskipun masih banyak pertanyaan yang belum terjawab, penemuan cetakan tangan di Tibet ini merupakan penemuan yang signifikan dan menarik, yang akan terus dipelajari dan diteliti oleh para arkeolog dan ilmuwan di seluruh dunia.

Cangkang zigzag di Indonesia

Inilah 13 Karya Seni Purba, 2 Ada di Indonesia Berusia 540 Ribu Tahun
Cangkang kerang yang diukir oleh Homo Erectus dengan sayatan geometris, berumur sekitar 540.000 tahun. [Foto: Wikimedia Commons]

Di tanah Indonesia, terukir sebuah misteri berusia 540.000 tahun. Cangkang-cangkang kuno dengan pola zigzag yang rumit, hasil karya hominin Homo erectus, membingungkan para arkeolog. Kerang itu berasal dari situs Trinil, Ngawi, Jawa Timur pada 1896. Apa makna di balik ukiran rumit ini?

Hingga kini, maksud di balik pola zigzag tersebut masih menjadi teka-teki. Namun, para arkeolog menemukan fakta menarik: pola serupa masih dibuat oleh manusia modern di berbagai belahan dunia. Apakah ini kebetulan semata, ataukah warisan budaya yang tertanam dalam memori kolektif manusia?

Penemuan cangkang berukir ini membuka gerbang baru untuk memahami evolusi budaya manusia. Mungkin, pola zigzag ini memiliki makna spiritual atau fungsional yang hilang ditelan waktu. Atau mungkin, ini hanya bentuk ekspresi artistik yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Satu hal yang pasti, cangkang-cangkang ini adalah bukti nyata bahwa Homo erectus di Indonesia memiliki tingkat kecerdasan dan kreativitas yang tinggi. Mereka mampu menghasilkan karya seni yang kompleks dan meninggalkan jejak peradaban yang tak terhapuskan.

Penemuan ini akan terus diselidiki oleh para arkeolog dan ilmuwan. Diharapkan, suatu hari nanti, misteri di balik pola zigzag ini akan terungkap, dan kita dapat memahami lebih dalam tentang kehidupan dan budaya Homo erectus di Indonesia.

Cupule batu

Inilah 13 Karya Seni Purba, 2 Ada di Indonesia Berusia 540 Ribu Tahun
Sejumlah pahatan batu berbentuk cangkir di Slagsta di luar Stockholm, Swedia. [Foto: Wikimedia]

Sejak berabad-abad silam, di hampir setiap benua di dunia, manusia telah meninggalkan jejak misterius pada batu prasejarah yang dikenal sebagai "cupules". Lubang-lubang atau cangkir kecil yang diukir di permukaan batu ini telah ditemukan di berbagai kebudayaan dan masih menyimpan banyak misteri.

Para arkeolog masih belum dapat memastikan makna di balik ukiran-ukiran ini, namun beberapa teori menunjukkan bahwa cupules tertua mungkin telah dibuat sejak 1,7 juta tahun yang lalu.

Batu bulat

Inilah 13 Karya Seni Purba, 2 Ada di Indonesia Berusia 540 Ribu Tahun
Beberapa batu kapur berbentuk bulat dari situs arkeologi 'Ubeidiya di Israel utara, yang berumur sekitar 1,4 juta tahun. [Foto: Muller dkk]

Di berbagai lokasi pembuatan perkakas di Afrika, Asia, dan Eropa, para arkeolog menemukan "bola" batu lunak seukuran bola bisbol. Benda-benda misterius ini, yang usianya mencapai 2 juta tahun, telah membingungkan para ahli selama bertahun-tahun karena tujuannya yang tidak diketahui.

Baru-baru ini, sebuah studi inovatif mencoba menguak misteri ini dengan menganalisis batu bulat tersebut secara matematis. Hasilnya menunjukkan bahwa batu-batu tersebut dibuat dengan upaya untuk menerapkan "simetri" pada bentuk bola yang kira-kira bulat.

Meskipun para peneliti tidak secara eksplisit menyebutnya sebagai "seni", mereka mengamati bahwa beberapa kapak tangan kuno juga menunjukkan simetri serupa. Hal ini menimbulkan pertanyaan menarik tentang kemungkinan hubungan antara "bola" batu dan perkembangan seni dan teknologi pada masa prasejarah.

Penemuan ini membuka wawasan baru tentang kemampuan kognitif dan estetika manusia purba. Keinginan mereka untuk menciptakan bentuk simetris pada batu, meskipun tidak memiliki fungsi praktis yang jelas, menunjukkan bahwa mereka memiliki pemahaman tentang geometri dan keseimbangan, serta kemungkinan memiliki naluri artistik yang berkembang.

Baca juga: Jejak Karya Seni Manusia Purba yang Tak Terduga: Mungkin Mereka Lebih Pintar Daripada yang Kita Duga

Penelitian ini masih terus berlangsung, dan para ahli berharap dapat menemukan lebih banyak bukti untuk memahami makna dan tujuan di balik "bola" batu yang menawan ini. Penemuan ini dapat memberikan petunjuk penting tentang bagaimana manusia purba berpikir, bereksperimen, dan mengekspresikan diri mereka melalui seni dan teknologi.

Baca Berita Riau Hari Ini setiap hari di Channel Cekricek.id.

TAGS

Tag:

Baca Juga

Cincin Emas Berusia 1.500 Tahun Ditemukan di Denmark, Ungkap Kerajaan Tak Dikenal
Penemuan Cincin Emas Langka Usia 1.500 Tahun Buktikan Adanya Pangeran Tak Dikenal di Denmark
Ternyata Penemu 'Titik Desimal' Bukan Christopher Clavius, Tapi Giovanni Bianchini pada Tahun 1440-an
Ternyata Penemu 'Titik Desimal' Bukan Christopher Clavius, Tapi Giovanni Bianchini pada Tahun 1440-an
Bahasa Kuno yang Ditemukan di Jimat Berusia 2.100 Tahun Mungkin Adalah Bahasa Vasconic Purba
Bahasa Kuno yang Ditemukan di Jimat Berusia 2.100 Tahun Mungkin Adalah Bahasa Vasconic Purba
Kisah Pilu dari Makam Keluarga Kaya Romawi Berusia 1.800 Tahun
Kisah Pilu dari Makam Keluarga Kaya Romawi Berusia 1.800 Tahun
Menelusuri Jejak Mumi Mesir: Sejak Kapan Tradisi Ini Dimulai?
Menelusuri Jejak Mumi Mesir: Sejak Kapan Tradisi Ini Dimulai?
13 Jenis Makanan yang Bisa Menurunkan Risiko Terkena Kanker
13 Jenis Makanan yang Bisa Menurunkan Risiko Terkena Kanker