Ibu-ibu Sleman Paham Pola Hidup Sehat, tapi Sungkan Tolak Suguhan

A A

Ilustrasi tampah berisi aneka kue jajan pasar untuk suguhan hajatan, difoto di Jakarta [Foto: Gunawan Kartapranata/Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0]

  • Penelitian di Cupuwatu I, Kalasan, Sleman, melibatkan 20 perempuan Jawa lewat 12 wawancara dan satu diskusi kelompok.
  • Rasa sungkan atau ewuh pakewuh membuat perempuan enggan menolak makanan suguhan tuan rumah walau tidak sehat.
  • Urusan rumah tangga menyita waktu, sehingga sebagian perempuan berolahraga lewat video YouTube di rumah.
  • Ada perempuan yang cemas obat darah tinggi merusak ginjal, dan ada yang bersandar pada ramuan tradisional.
Daftar Isi
  1. Paham Belum Tentu Menjalankan
  2. Tubuh yang Terbatas, Waktu yang Tersita
  3. Kampung yang Menolong dan Menahan
  4. Sungkan di Meja Tamu
  5. Takut, Jamu, dan Keinginan Menemani Anak
  6. Kampung Kecil, Pertanyaan yang Lebih Besar

Pengetahuan kerap dianggap pintu pertama menuju hidup sehat, seolah siapa pun yang paham isi piring yang baik dan tahu manfaat olahraga akan dengan sendirinya menjalankannya. Di sebuah kampung pinggiran Yogyakarta, anggapan itu tidak bertahan lama. Ada perempuan yang fasih menyebut sayur, buah, dan nasi porsi kecil, sementara yang lain melanggar diet saat bertamu ke rumah mertua, terbiasa dengan minuman manis yang lazim di acara warga, atau batal berolahraga karena urusan memasak.

Gambaran itu tersusun dari penelitian Yogi Fitriadi dan rekan dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada, yang terbit dengan judul Facilitators and barriers affecting healthy lifestyle behaviors among suburban Javanese women living in Indonesia: a qualitative study di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Mereka ingin mengetahui apa yang mendorong dan apa yang menahan perempuan Jawa dewasa di pinggiran kota untuk hidup sehat, dengan kerangka yang memilah perilaku ke dalam kemampuan, kesempatan, dan motivasi.

Penelitiannya berlangsung di Cupuwatu I, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, kecamatan yang menurut tim punya prevalensi penyakit tidak menular seperti hipertensi dan obesitas tertinggi di kabupaten itu. Dari Mei hingga Juli 2024, tim mewawancarai 12 perempuan secara mendalam dan menggelar satu diskusi kelompok dengan delapan peserta, sehingga seluruhnya 20 orang, dalam percakapan berbahasa Indonesia yang sesekali diselingi bahasa Jawa.

Paham Belum Tentu Menjalankan

Dalam latar penelitiannya, tim mengingatkan bahwa penyakit tidak menular menyumbang 73 persen kematian perempuan di dunia, dan bahwa di Indonesia hipertensi lebih banyak ditemukan pada perempuan dewasa, 35,4 persen, dibanding laki-laki, 31,0 persen. Orang Jawa, kelompok etnis terbesar dengan porsi 40 persen penduduk, menurut tim belum banyak diteliti dari sisi pendorong dan penghambat hidup sehat, terlebih perempuannya yang tinggal di pinggiran kota.

Kebanyakan peserta ibu rumah tanggaIbu rumah tangga 13; Wirausaha 4; Guru 1; Pegawai swasta 1; Petani 1.Kebanyakan peserta ibu rumah tanggaJumlah peserta menurut pekerjaan, 20 perempuan Jawa diCupuwatu I, Kalasan, Sleman, Mei-Juli 2024051015Ibu rumah tangga13Wirausaha4Guru1Pegawai swasta1Petani1
Sumber: Yogi Fitriadi dan rekan, Facilitators and barriers affecting healthy lifestyle behaviors among suburban Javanese women living in Indonesia: a qualitative study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Para pesertanya sebagian besar ibu rumah tangga, 13 dari 20 orang, sementara empat orang berwirausaha dan masing-masing satu orang bekerja sebagai guru, pegawai swasta, dan petani. Lima belas di antaranya warga biasa, tiga kader kesehatan, satu tenaga kesehatan, dan satu tokoh masyarakat, sedangkan tiga perempat peserta, yakni 15 orang, berpenghasilan keluarga di atas upah minimum regional.

Banyak peserta menunjukkan pengetahuan yang baik tentang pola hidup sehat, terutama soal pilihan makanan dan kepatuhan minum obat. Seorang peserta menuturkan bahwa ia makan nasi dalam porsi kecil, memperbanyak sayur dan buah, makan teratur, dan berolahraga secara rutin. Namun, tim mencatat bahwa pengetahuan semacam itu jarang menjelma menjadi tindakan yang berkelanjutan.

Rasa bosan dan malas menyelinap sampai ke dapur, ketika seorang peserta mengaku bahwa di hari-hari malasnya tak ada sayur di meja dan ia memilih memasak ayam berkuah dengan telur. Salah paham juga bekerja diam-diam, terutama keyakinan bahwa obat darah tinggi yang diminum terus-menerus bisa merusak ginjal, keraguan yang diungkapkan seorang peserta dalam bentuk pertanyaan.

Tubuh yang Terbatas, Waktu yang Tersita

Keterbatasan tubuh menjadi hambatan pertama yang disebut peserta. Seorang perempuan bercerita bahwa olahraga paling jauh baginya adalah berjalan kaki di pagi hari, berangkat dari masjid, berkeliling sekali, lalu pulang untuk melanjutkan pekerjaan lain, karena ia tidak bisa berlari setelah beberapa kali menjalani operasi. Menurut tim, rasa sakit dan keterbatasan gerak mengurangi kemampuan perempuan berolahraga bahkan ketika mereka tahu manfaatnya.

Waktu adalah hambatan yang terus berulang, karena tanggung jawab rumah tangga membatasi kesempatan berolahraga. Pagi hari ibu-ibu sudah penuh kegiatan, kata seorang peserta, sehingga tak tersisa waktu untuk olahraga, sementara peserta lain menyebut rasa malas, capek, urusan memasak, dan menyetok bahan makanan sebagai alasan ia batal bergerak. Tim menulis bahwa wawancara dan diskusi kelompok sama-sama kuat menunjukkan tema kurangnya waktu ini.

Justru dari keterbatasan waktu itu lahir siasat baru. Video olahraga daring, terutama di YouTube, memungkinkan perempuan berlatih di rumah atau di tempat kerja, dan seorang peserta menegaskan bahwa olahraga tidak harus dilakukan bersama secara langsung karena bisa diikuti dari rumah. Tim menyebut pola ini adaptasi digital yang baru, ketika media sosial menjadi jalan lain untuk bergerak di tengah waktu yang sempit dan kegiatan olahraga warga yang terbatas.

Baca juga 30 Warga, 10 Soal, dan Hipertensi di Alai Parak Kopi

Kampung yang Menolong dan Menahan

Kampung juga menyediakan sejumlah penopang. Ada fasilitas olahraga umum, pemeriksaan tekanan darah dan pengukuran tubuh dalam kegiatan PKK, serta jalan sehat bulanan yang digelar setiap minggu pertama. Kader kesehatan, relawan warga yang menjembatani puskesmas dan masyarakat, mengukur tekanan darah dan berat badan dalam pertemuan PKK, sementara informasi kesehatan dibagikan kader dan tenaga kesehatan melalui grup WhatsApp.

Keluarga ikut menopang, terutama suami, baik secara emosional maupun dalam urusan praktis, dan seorang peserta bercerita bahwa suaminya membuatkan alat angkat beban serupa dumbel agar ia bisa berolahraga. Namun, kegiatan bersama tidak selalu ramai, sebab seorang peserta menyebut yang datang hanya sedikit, kadang sepuluh orang, kadang delapan. Menurut tim, partisipasi yang rendah semacam itu menyurutkan kehadiran sekaligus melemahkan motivasi bersama.

Di sisi layanan, kader memang memberi informasi hasil pemeriksaan, tetapi bimbingannya sering kurang rinci, sebagian karena pelatihan yang kurang dan kerja sama yang terbatas dengan petugas puskesmas. Seorang peserta menyebut belum pernah ada pelatihan, peserta lain menyebut yang ada hanya tanya-jawab biasa tanpa kerja sama langsung dengan warga, dan tim juga mencatat jumlah kader dan tenaga kesehatan yang terbatas serta kurangnya alat ukur tekanan darah.

Sungkan di Meja Tamu

Di antara semua hambatan, yang paling khas adalah ewuh pakewuh, rasa sungkan yang membuat perempuan enggan menolak makanan suguhan tuan rumah ketika bertamu ke tetangga, sekalipun makanan itu jelas tidak sehat. Seorang peserta mengaku melanggar dietnya saat berkunjung ke rumah mertua karena merasa sungkan. Menurut tim, ewuh pakewuh mencerminkan keyakinan yang mendahulukan kerukunan, hormat pada hierarki, dan identitas bersama di atas niat menjaga kesehatan pribadi.

Kebiasaan manis menambah bebannya. Menurut tim, minuman dan makanan manis sudah menjadi kebiasaan masyarakat, terutama di Jawa Tengah dan Yogyakarta, sehingga camilan dan minuman manis lazim tersaji dalam acara warga, dan seorang peserta mengaitkan teh manis di pagi hari dengan orang Jawa. Ada pula anggapan bahwa tubuh berisi menandakan sehat, yang menurut tim membuat upaya mengendalikan berat badan surut.

Di situlah persoalannya. Menurut tim, kewajiban budaya seperti menerima makanan demi menjaga kerukunan, menghindari kesan tidak hormat kepada orang yang lebih tua, atau mendahulukan peran rumah tangga di atas olahraga bisa mengalahkan kemampuan dan motivasi pribadi, bahkan ketika pengetahuan dan sarananya memadai. “Perempuan dengan pengetahuan yang cukup, akses ke konten olahraga, atau lingkungan yang mendukung tetap kesulitan karena norma menjaga muka yang terikat budaya dan rasa takut dinilai orang lain,” tulis Fitriadi dan rekan dalam bahasa Inggris, yang di sini diterjemahkan.

Mereka menyebut norma budaya bekerja sebagai pengaruh di atas struktur, yang membentuk kemampuan, kesempatan, dan motivasi sekaligus. Diskusi kelompok, tulis tim, menambah konteks bahwa perempuan juga merasakan ewuh pakewuh ketika merundingkan keputusan soal kesehatan di dalam rumah tangga mereka sendiri. Temuan ini, menurut mereka, menantang anggapan bahwa menambah pengetahuan atau sarana fisik saja sudah cukup untuk mengubah perilaku.

Baca juga Pinggang Relawan Kesehatan Desa Thailand Susut dalam Tiga Bulan

Takut, Jamu, dan Keinginan Menemani Anak

Motivasi bergerak ke dua arah yang berlawanan. Ada perempuan yang merasa badannya lebih ringan dan lebih segar sesudah berolahraga, meski menurut pengakuannya masih agak gemuk, dan ada yang ingin berumur panjang agar dapat mendampingi anak-anaknya sepanjang hidup, sehingga mulai mengatur gaya hidup dan pola makan dari sekarang. Tokoh masyarakat dan kader juga menjadi teladan dengan membagikan pengalaman pribadi tentang hidup sehat.

Rasa takut pun bisa mendorong, seperti pada peserta yang takut ketika ada orang meninggal karena diabetes dengan gula darah sampai 900 yang tak terdeteksi, lalu bertekad mendisiplinkan diri. Peserta lain berolahraga sampai berkeringat karena badannya terasa kaku dan tidak nyaman bila tidak bergerak. Namun, takut juga menahan, sebab seorang peserta tidak bisa tidur karena cemas setelah tekanan darahnya tercatat 180.

Tim mencatat ketakutan pada hasil tekanan darah yang tinggi membuat sebagian perempuan enggan ikut pemeriksaan. Di sisi lain berdiri ramuan tradisional, seperti yang dituturkan seorang peserta tentang serai, kunyit, lengkuas, jahe, dan daun salam yang direndam air, lalu diminum sekitar 15 menit kemudian dengan madu atau gula aren, yang menurutnya mengurangi lelah dan sedikit membantu tekanan darah tinggi.

Menurut tim, bersandar pada ramuan tradisional sebagai pengganti obat antihipertensi membuat sebagian perempuan ragu pada pengobatan formal. Ada pula kecemasan bahwa minum obat tekanan darah setiap hari akan merusak ginjal, dan tim menilai salah paham seperti ini menandakan keterbatasan kemampuan psikologis, bukan sekadar kurangnya informasi. Ketakutan semacam ini, termasuk takut terlihat tidak sopan saat disuguhi makanan, menurut mereka memperlihatkan betapa motivasi terjalin erat dengan kemampuan psikologis dan pengaruh lingkungan sosial.

Kampung Kecil, Pertanyaan yang Lebih Besar

Pendidikan peserta menengah ke atasSMP: Peserta 1; SMA: Peserta 8; Diploma: Peserta 3; Universitas: Peserta 8.Pendidikan peserta menengah ke atasJumlah peserta menurut pendidikan terakhir, dari 20 peserta2468100SMP1SMA8Diploma3Universitas8Tim menyebut pendidikan peserta yang menengah ke atas sebagai salahsatu keterbatasan
Sumber: Yogi Fitriadi dan rekan, Facilitators and barriers affecting healthy lifestyle behaviors among suburban Javanese women living in Indonesia: a qualitative study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Tim mengakui penelitian ini punya batas. Jumlah pesertanya terbatas dan hanya mencakup wilayah pinggiran Yogyakarta, sehingga hasilnya tidak bisa begitu saja diberlakukan pada populasi yang lebih luas, sementara peserta berasal dari satu komunitas dan diskusi kelompok berlangsung bersama, sehingga jawaban mungkin dipengaruhi keinginan tampil baik di mata orang lain. Penerjemahan kutipan juga bisa sedikit menggeser nuansa ucapan peserta.

Kebanyakan peserta berpendidikan menengah hingga tinggi, dengan delapan lulusan SMA, tiga lulusan diploma, delapan lulusan universitas, dan hanya satu lulusan SMP. Karena itu, tim menulis bahwa temuan ini mungkin tidak sepenuhnya berlaku bagi perempuan yang pendidikannya SMP ke bawah. Meski begitu, tim menilai temuannya tetap memberi pemahaman yang peka budaya bagi upaya pencegahan penyakit tidak menular di kalangan perempuan Jawa.

Baca juga Kesehatan Jantung Perempuan: Skor Naik, Risiko Tetap

Dari temuan itu, tim mengusulkan pelatihan, pemantauan, dan pendampingan bagi kader, koordinasi yang lebih baik dengan puskesmas, pos penyakit tidak menular yang terstruktur, serta konseling berbasis cerita yang selaras dengan nilai budaya, misalnya menjadi teladan bagi anak. Mereka juga menyarankan intervensi digital dan berbasis rumah yang memperhitungkan beban waktu perempuan, serta program warga yang melibatkan keluarga.

Tim sendiri menyebut riset berikutnya perlu menguji model perilaku yang berakar pada budaya dan intervensi warga yang bisa diperluas. Untuk ewuh pakewuh, tim menulis bahwa perilaku sehat perlu diselaraskan dengan peran yang dihargai budaya, misalnya membingkai perubahan gaya hidup sebagai bagian dari kewajiban kepada keluarga dan masyarakat. Pesan kesehatan yang didukung pihak yang dihormati dan dijalankan dalam kegiatan bersama warga, menurut mereka, mengurangi risiko sosial, menjaga kerukunan, dan membuat kebiasaan sehat diterima secara sosial.

Bagikan

Baca Juga

Lemak Tubuh Karyawan Yogyakarta Turun, Berat Badan Nyaris Tetap
Petani Semarang Bersih Diri Lebih Jarang Keluhkan Iritasi Kulit
Separuh Lebih Perempuan Delta Tengah Mesir Makan Kurang Beragam
Makan karena Emosi Terkait Berat Badan Wanita Saudi, Bukan Pria
Paham Darah Tinggi Saja Tak Cukup bagi Pedagang Perempuan Ghana
Cukai Minuman Manis Ditunda Lagi, Ekonom UGM Soroti Lobi Industri