Cekricek.id — 63.309.620. Itu perkiraan jumlah penderita hipertensi di Indonesia. Angka tersebut dikutip sebuah laporan pengabdian masyarakat dari Universitas Andalas. Judulnya Community Health Assistance in Hypertension Control Through Family Empowerment at the Komplek Talago Permai Kelurahan Alai Parak Kopi. Laporan itu terbit di Warta Pengabdian Andalas Vol. 33 No. 1 tahun 2026, halaman 39–46.
Penulis pertamanya Yuanita Ananda, dosen Fakultas Keperawatan Universitas Andalas, Padang. Ia menulis bersama Mulyanti Roberto Muliantino, Zifriyanthi Minanda Putri, Muthmainnah, serta Edo Gusdiansyah dari STIKes Alifah Padang. Desainnya sederhana: pretest dan posttest pada 30 warga. Lokasinya satu komplek permukiman. Tanggalnya 3 Agustus 2025. Naskahnya diterima 11 Februari 2026 dan terbit 25 Maret 2026.
Daftar Isi
63.309.620 Kasus dan 22,6 Persen Sumatra Barat
Angka 63.309.620 bukan hasil hitungan di lapangan. Ia perkiraan nasional yang dikutip dari literatur. Di sampingnya berdiri 427.218, jumlah kematian di Indonesia yang dikaitkan dengan hipertensi. Riskesdas 2018 mencatat prevalensi 34,1 persen pada penduduk berusia 18 tahun ke atas. Kalimantan Selatan tertinggi dengan 44,1 persen. Papua terendah dengan 22,2 persen. Keduanya dikutip dari literatur, bukan dari pengukuran tim di Padang.
Angka Sumatra Barat 22,6 persen. Selisihnya dari Papua tipis, hanya 0,4 poin. Namun naskah tetap menempatkan provinsi ini sebagai wilayah berprevalensi tinggi. World Health Organization pada 2021 menyebut 40 persen penderita hipertensi dunia tinggal di negara berkembang. Perkiraan lain yang dikutip: sekitar 29 persen penduduk bumi terkena hipertensi pada 2025. Naskah tidak menyebut tahun rujukan untuk perkiraan 29 persen itu.
Di balik 34,1 persen itu ada persoalan yang tidak terbaca. Hipertensi disebut naskah sebagai pembunuh senyap. Empat gejalanya didaftar: sakit kepala, mimisan, pusing, dan migrain. Empat komplikasinya juga didaftar: gagal jantung, stroke, gangguan penglihatan, dan penyakit ginjal. Semuanya bisa datang sebelum penderitanya tahu tekanan darahnya naik. Naskah menegaskan hipertensi bukan penyakit menular, tetapi penyebab kematian nomor satu di dunia.
Dari peta nasional, laporan itu turun ke satu puskesmas. Profil Puskesmas Alai 2024 mencatat prevalensi hipertensi naik 70 dibanding tahun sebelumnya. Satuannya tidak dijelaskan. Tidak disebutkan apakah 70 itu kasus, orang, atau poin persentase. Angka tersebut dibiarkan berdiri sendiri di bagian pengantar. Ia menjadi alasan utama kegiatan ini dirancang.
150 Rumah Tangga, 600 Jiwa, 40 Persen Riwayat
Data kewilayahan menyebut sekitar 150 rumah tangga di kawasan itu. Penduduknya lebih dari 600 orang. Ketua RT setempat menyerahkan tiga angka lain kepada tim. Lebih dari 40 persen warga punya riwayat hipertensi. Sekitar 60 persen warga tidak tahu dirinya hipertensi. Hanya sekitar 20 persen keluarga rutin memeriksakan tekanan darah ke layanan kesehatan.
Angka kedua dari tiga itu yang paling menarik. Sekitar 60 persen warga tidak tahu kondisinya sendiri. Mereka tidak terhitung sebagai pasien karena belum pernah diperiksa. Ketiga angka tersebut berasal dari wawancara, bukan dari pengukuran tekanan darah. Naskah mencatatnya apa adanya sebagai keterangan ketua RT dan hasil observasi lapangan. Padahal kawasan itu disebut tidak jauh dari pusat kota Padang.
Naskah menyebut pekerjaan kepala keluarga di 150 rumah tangga itu. Ada wiraswasta, buruh harian, pedagang kecil, dan pekerjaan informal lain. Ibu rumah tangga disebut paling dominan mengurus rumah serta anggota keluarga. Tidak ada angka pendapatan. Tidak ada angka jumlah penderita yang terdata di komplek itu sendiri. Yang tersedia hanya 40 persen dari keterangan lisan.
Baca juga Rompi Antiradiasi AstroRad Diuji di Misi Artemis I, Pangkas Paparan hingga 60 Persen
30 Peserta, 66,7 Persen Perempuan
Kegiatan berlangsung pada 3 Agustus 2025. Pesertanya 30 orang. Timnya terdiri atas lima dosen: Yuanita Ananda, Zifriyanthi Minanda Putri, Mulyanti Roberto Muliantino, Muthmainnah, dan Edo Gusdiansyah. Enam mahasiswa membantu di lapangan. Rasionya sebelas pendamping untuk 30 warga. Pendanaannya berasal dari Unit Riset dan Pengabdian Masyarakat Fakultas Keperawatan Universitas Andalas.
Metodenya empat langkah. Pertama, tim berkolaborasi dengan Puskesmas Alai, pengurus RT dan RW, serta kader untuk mengidentifikasi kasus. Kedua, tim memperkenalkan diri lalu menjalankan pretest. Ketiga, pemeriksaan kesehatan dan pemberian edukasi. Keempat, posttest sebagai penutup. Seluruh 30 peserta melewati empat langkah yang sama pada hari yang sama.
Komposisi peserta: 20 perempuan atau 66,7 persen, dan 10 laki-laki atau 33,3 persen. Pekerjaan terbanyak ibu rumah tangga, 15 orang atau 50 persen. Karyawan swasta 8 orang atau 26,7 persen. Pegawai negeri 7 orang atau 23,3 persen. Seluruh 30 peserta beragama Islam. Tabel karakteristik hanya memuat empat kategori: jenis kelamin, pendidikan, agama, dan pekerjaan.
Dominasi perempuan itu dijelaskan tim lewat riset terdahulu. Yuanita Ananda, dosen Fakultas Keperawatan Universitas Andalas, dan timnya menulis begini. “Perempuan, sebagai ibu rumah tangga, memiliki banyak waktu luang untuk memeriksakan kesehatannya.” Tim juga mengutip risetnya sendiri pada 2021 yang menyebut 85 persen penderita hipertensi adalah perempuan. Riset Dafriani dan Prima pada 2019 dikutip soal beda respons perempuan dan laki-laki.
Angka pendidikan justru yang paling janggal. Dari 30 peserta, 18 orang atau 60 persen berpendidikan S1. Sisanya 12 orang atau 40 persen berpendidikan D3. Tidak ada satu pun lulusan SMA ke bawah. Padahal kawasan itu digambarkan padat, berpenghasilan menengah bawah, dan bertumpu pada pekerjaan informal. Selisih dua gambaran itu tidak dijelaskan naskah.
Baca juga AI Prediksi Respons Vaksin dari Antibodi Sebelum Disuntik
10 Komponen dan Rentang 33,3 sampai 66,7 Persen
Pretest memakai kuesioner yang disusun tim sendiri. Ada 10 komponen yang diuji. Skor jawaban benar sebelum edukasi bergerak dari 33,3 persen sampai 66,7 persen. Terendah pada komponen bentuk dukungan keluarga: hanya 10 dari 30 peserta menjawab benar. Tertinggi 20 dari 30 peserta, dan itu terjadi pada tiga komponen sekaligus.
Tiga komponen tertinggi itu definisi pendampingan kesehatan masyarakat, strategi komunikasi efektif, dan dampak jangka panjang. Masing-masing 66,7 persen. Tiga komponen lain berhenti di 60 persen: peran penting keluarga, faktor penghambat pemberdayaan, dan peran kader kesehatan. Satu komponen berada di 56,7 persen. Dua komponen sisanya di 46,7 persen. Kesepuluh komponen itu kemudian berpindah ke 100 persen sesudah edukasi.
Materi edukasinya berupa leaflet susunan tim sendiri. Judulnya diterjemahkan sebagai peran keluarga dalam merawat penderita hipertensi. Isinya empat bagian: konsep hipertensi, tanda dan gejala, penanganan, serta peran keluarga. Leaflet itu dipakai dalam kegiatan yang diikuti 30 peserta. Naskah tidak menyebut berapa lama sesi edukasi berlangsung pada 3 Agustus 2025.
Abstrak naskah meringkas semua itu menjadi satu kalimat. Yuanita Ananda dan tim menulis begini. “Pemberdayaan keluarga melalui pendampingan kesehatan masyarakat merupakan strategi yang efektif, terbukti dari peningkatan pengetahuan masyarakat dari 60 persen menjadi 100 persen setelah edukasi.” Kalimat itu berdiri di ringkasan, bukan di tabel. Ia juga menjadi simpulan yang dibaca lebih dulu oleh pembaca jurnal.
Angka 60 persen memang ada di tabel, tetapi hanya pada tiga dari sepuluh komponen. Tujuh komponen lain berada di luar nilai itu. Empat di antaranya bahkan di bawah 57 persen. Rentang 33,3 sampai 66,7 persen tidak bisa diringkas menjadi satu titik 60 persen tanpa kehilangan sebarannya.
Baca juga Separuh Perempuan Muda Tanya Chatbot AI soal Menyusui
Dari 50,5 ke 64,5, dan Lompatan 25,15 Poin
Posttest memberi satu angka tunggal: 30 dari 30 peserta menjawab benar pada kesepuluh komponen. Nol kesalahan. Angka sebersih itu jarang muncul dalam evaluasi pendidikan kesehatan. Naskah tidak menyebut jeda waktu antara edukasi dan posttest. Urutan kegiatan menempatkan posttest sebagai penutup acara pada hari itu juga. Tidak ada satu peserta pun yang tersisa di kolom salah.
Tim menyandingkan hasilnya dengan dua kegiatan lain di daftar pustaka. Supriadi dan kolega pada 2023 di Desa Cinanjung, Tanjungsari, Sumedang, mencatat pengetahuan keluarga naik dari 50,5 menjadi 64,5. Maulana dan kolega pada 2024 lewat program KESIMA di Kampung Cikoneng, Kabupaten Bogor, mencatat rata-rata kenaikan 25,15 poin.
Dua pembanding itu berhenti jauh di bawah sempurna. Supriadi berhenti di 64,5. Maulana bergerak 25,15 poin. Kegiatan di Alai Parak Kopi melompat ke 100 persen pada sepuluh komponen sekaligus. Perbedaan pola itu tidak dibahas di bagian pembahasan. Naskah menempatkan ketiganya sebagai bukti yang sejalan.
Landasan teoretisnya diambil dari dua rujukan lain. Amaliyah pada 2024 menyebut pemberdayaan keluarga sebagai intervensi interaktif lewat edukasi kesehatan, pemecahan masalah, dan kepercayaan diri. Notoatmodjo pada 2014 menyebut tingkat pendidikan memengaruhi daya serap informasi. Rujukan kedua terasa penting karena 100 persen peserta berpendidikan tinggi, S1 atau D3. Naskah juga menyebut pendidikan rendah membuat individu berisiko gagal menjaga kesehatannya.
Satu Hari dan Nol Angka Tekanan Darah
Batas laporan ini perlu dibaca sejujur angkanya. Sampelnya 30 orang, di satu komplek, pada satu hari. Kuesionernya disusun tim sendiri dan naskah tidak melaporkan uji validitas maupun reliabilitasnya. Tidak ada kelompok pembanding. Tidak ada pengukuran ulang beberapa pekan sesudahnya. Desain seperti ini menunjukkan perubahan jawaban, bukan hubungan sebab-akibat.
Yang paling terasa hilang adalah angka tekanan darah. Tim menyebut melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap 30 peserta. Hasil pemeriksaan itu tidak dilaporkan dalam angka mana pun. Tidak ada data tekanan darah sebelum dan sesudah kegiatan. Yang diukur pada hari itu adalah jawaban kuesioner, bukan kondisi klinis peserta.
Karena itu penurunan kejadian hipertensi masih berstatus harapan. Naskah menyebutnya sebagai kemungkinan, bukan hasil terukur. Jawaban benar 100 persen tidak sama dengan perubahan perilaku 100 persen. Rekomendasi tim sendiri meminta pemantauan dan evaluasi berkala atas hasil edukasi. Permintaan itu mengakui bahwa satu pertemuan tidak cukup. Naskah menyebut kegiatan berjalan lancar berkat kerja sama warga, tim, dan petugas puskesmas.
Angka 30 juga menahan generalisasi. Tiga puluh peserta bukan 600 penduduk kawasan itu. Enam ratus penduduk bukan 63.309.620 perkiraan penderita di seluruh Indonesia. Naskah tidak mengklaim sebaliknya. Namun jarak antara angka terkecil dan angka terbesar di dalam laporan ini memang sangat lebar. Jarak itulah yang perlu diingat pembaca.
Satu angka tersisa tanpa penjelasan: 70. Itu kenaikan prevalensi di wilayah Puskesmas Alai pada 2024, tanpa satuan dan tanpa pembanding. Naskah tidak menyebut ke mana angka itu bergerak setelah 3 Agustus 2025.














