Cekricek.id — Banjir bandang, kalau istilah teknis itu diterjemahkan ke pengalaman orang yang rumahnya berdiri di tepi sungai, berarti air yang datang lebih cepat daripada waktu yang dibutuhkan seseorang untuk mengangkat lemari. Terjemahan itu bukan karangan. Ia bisa dibaca dari laporan pengabdian masyarakat yang disusun Rahmi Muthia bersama Tiurmaida Simandalahi, Muthmainnah, dan Firi Mailani, dosen Fakultas Keperawatan Universitas Andalas, berjudul Empowering the Role of Community Leaders in Disaster Management in Flash Flood–Prone Areas of Padang City.
Laporan tersebut terbit di jurnal Warta Pengabdian Andalas Volume 33 Nomor 2 tahun 2026, halaman 173 sampai 185. Isinya kegiatan yang sederhana bentuknya: satu diskusi kelompok terarah atau focus group discussion selama 60 menit bersama sembilan tokoh masyarakat Batu Busuk, Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang, pada pertengahan September 2023, lalu disusul penyuluhan mitigasi bencana kepada 40 rumah tangga di kawasan yang sama.
Sebelum masuk ke temuannya, ada baiknya istilah di judul itu dibongkar dulu, sebab di sanalah salah paham paling sering bermula. Orang umumnya membayangkan banjir sebagai air yang naik pelan-pelan: selokan meluap, halaman becek, air masuk ke ruang tamu setinggi mata kaki, dan penghuni rumah masih sempat menaikkan kasur ke lemari, mencabut colokan, lalu memindahkan sepeda motor ke tempat yang lebih tinggi. Gambaran itu benar untuk banjir. Untuk bandang, gambaran itu justru menyesatkan.
Bedanya begini. Di bagian pendahuluan naskah, tim penulis membedakan keduanya secara tegas: banjir terjadi ketika suatu kawasan terendam karena volume air bertambah, sementara bandang punya mekanisme lain. “Sebaliknya, banjir bandang datang tiba-tiba dengan debit air yang tinggi, umumnya akibat tersumbatnya aliran sungai di sepanjang alur sungai,” tulis Rahmi Muthia dan tim. Kata kuncinya dua: tiba-tiba, dan tersumbat. Bukan hujan yang perlahan menaikkan muka air, melainkan sesuatu yang menahan air di hulu lalu melepasnya sekaligus.
Daftar Isi
Flash Flood: Bandang yang Bukan Banjir Besar
Istilah asing yang dipakai naskah untuk peristiwa ini adalah flash flood, harfiah berarti banjir kilat. Penulisnya menjelaskan, hujan deras di kawasan hulu menghasilkan aliran besar yang mendadak di kawasan hilir, membawa serta material dalam jumlah besar yang melampaui daya tampung alur sungai sehingga air limpas keluar dari saluran. Karena mekanismenya begitu, kata naskah itu, peristiwa semacam ini kerap membuat masyarakat yang tidak bersiap menjadi terkejut — dan keterkejutan itulah yang kemudian menjadi bahan diskusi di Batu Busuk.
Yang dibicarakan sembilan tokoh tadi adalah kejadian 23 Januari 2023, ketika luapan sungai berdampak pada 200 keluarga di Batu Busuk. Peserta diskusi menuturkan kerusakan yang mereka lihat: barang rusak dan tidak bisa dipakai lagi, listrik yang sengaja diputus sementara demi keamanan namun perangkat elektronik warga tetap rusak, kendaraan bermotor yang terendam, air keruh dari sungai yang meninggalkan bau tidak sedap di rumah, serta dokumen berharga yang hilang karena lemari penyimpanannya ikut terendam.
Ada satu kolom kerugian yang tidak tercatat sebagai kerusakan barang. Peserta diskusi melaporkan dampak psikologis pada korban dan keluarganya berupa kecemasan, kesulitan tidur, rasa takut ketika hujan turun, dan kesedihan saat mengenang kejadian itu. Tim penulis mengaitkannya dengan penelitian Rahman dan kawan-kawan tahun 2024 yang menemukan korban banjir mengalami beragam masalah kesehatan jiwa, sebagian kecil bahkan dengan gejala berat, dan mencatat anak serta lansia sebagai kelompok yang lebih rentan.
Baca juga Arus Atlantik Melemah Bisa Percepat Pemanasan Bumi
Indeks Bahaya: Nilai 0 sampai 1 untuk Sebuah Wilayah
Naskah ini juga memakai istilah indeks bahaya, dan istilah itu perlu diterjemahkan supaya angkanya tidak salah dibaca. Indeks bahaya adalah nilai antara nol dan satu yang menggolongkan tingkat ancaman sebuah wilayah: rendah untuk 0,00 sampai 0,33, sedang untuk 0,34 sampai 0,66, dan tinggi untuk 0,67 sampai 1,00. Ia bukan ramalan kapan air datang, melainkan rapor sebuah kawasan — semacam nilai akhir yang dihitung dari karakter fisik daerah itu.
Dengan ukuran tersebut, seluruh kecamatan di Kota Padang masuk kategori tinggi. Tabel yang disajikan tim penulis, bersumber dari Dokumen Kajian Risiko Bencana Kota Padang tahun 2013, mencatat luas area bahaya banjir kota itu 14.901,57 hektare, dengan indeks 0,755. Koto Tangah punya luas area bahaya terbesar, 5.688,72 hektare, disusul Kuranji 2.935,89 hektare. Sementara indeks tertinggi justru dipegang Padang Barat, 0,826, disusul Padang Utara 0,818 dan Nanggalo 0,810.
Angka yang lebih baru datang dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Data 2025 yang dikutip tim penulis mencatat 1.420 kejadian banjir di Indonesia sepanjang 2024, dengan 277 kejadian di Provinsi Sumatera Barat termasuk Kota Padang, dan jumlah pengungsi serta warga terdampak di Padang mencapai 47.831 orang. Naskah ini juga mencatat curah hujan Kota Padang yang naik dari 2.756,4 pada 2019 menjadi 4.124,2 pada 2021, meski satuan angka itu tidak dicantumkan dalam teksnya.
Di sinilah gambaran awal tadi meleset untuk kedua kalinya. Indeks bahaya menerangkan sebuah kecamatan sepanjang tahun, bukan sebuah malam. Sebuah wilayah bisa berada di kelas tinggi selama bertahun-tahun tanpa satu pun rumah terendam, lalu dalam beberapa jam kehilangan jembatan. Maksudnya, angka rapor itu berguna untuk menyusun perencanaan dan menentukan prioritas, tetapi ia sama sekali tidak memberi tahu penghuni rumah bahwa malam ini mereka perlu bangun.
Baca juga NASA: Mikroba Manusia Bisa Bertahan di Kutub Selatan Bulan
Bendungan Alami: Tanggul Dadakan di Punggung Bukit
Batu Busuk berada di Daerah Aliran Sungai Batang Kuranji — DAS, istilah untuk kawasan yang seluruh airnya bermuara ke satu sungai yang sama. Batang Kuranji punya panjang aliran sekitar 17 kilometer dan melintasi tiga kecamatan: Pauh, Kuranji, dan Nanggalo. Di Lambung Bukit, kemiringan lerengnya 14 sampai 40 persen, sedangkan curah hujannya umumnya berada di kategori oranye sekitar 100 milimeter per hari dan tidak jarang menyentuh kategori merah, 100 sampai 150 milimeter per hari.
Istilah ketiga yang menentukan adalah bendungan alami: tumpukan material di sekitar perbukitan yang menahan air seperti tanggul, tanpa ada yang membangunnya. “Banjir bandang dapat terjadi bahkan dengan intensitas hujan yang relatif rendah jika bendungan alami terbentuk di sekitar perbukitan lalu jebol karena tambahan air,” tulis tim penulis mengutip Cressendo dan kawan-kawan. Kalimat itu mematahkan asumsi yang paling umum: bahwa bandang selalu didahului hujan yang terasa mengancam.
Naskah ini sendiri memuat dua bacaan yang tidak seragam tentang di mana letak persoalannya. Hidayatullah pada 2022 menempatkan kawasan rawan banjir DAS Batang Kuranji di bagian hilir, dengan luas kelas rentan 166,25 hektare. Sebaliknya, Utama dan Naumar pada 2015 menunjuk kawasan hulu sebagai daerah berpotensi menyebabkan banjir, karena lerengnya curam — angka kemiringannya ditulis 45 sampai 50 persen di satu bagian naskah dan 45 sampai 55 persen di bagian lain.
Perbedaan itu bukan sekadar perkara akademik. Peserta diskusi menceritakan bahwa kejadian 23 Januari 2023 dipicu hujan yang berlangsung hampir setengah hari, deras pada siang tetapi hanya gerimis menjelang malam, sehingga warga tidak menduga bandang akan datang. Kawasan itu, kata mereka, belum memiliki sistem peringatan dini untuk bandang, banjir, maupun longsor. Pemberitahuan sempat disiarkan lewat masjid, tetapi waktunya terlalu pendek untuk menyelamatkan barang berharga.
Baca juga Cara Laser Membaca Lukisan Kubur Bilik Batu Pasemah
Mitigasi: Pekerjaan yang Dilakukan Sebelum Air Datang
Kata terakhir yang perlu diterjemahkan adalah mitigasi — upaya mengurangi risiko dan dampak sebelum bencana terjadi, bukan penanganan sesudahnya. Diskusi kelompok terarah di Balai Pemuda Batu Busuk, RT 1 RW 3, dipilih tim sebagai bentuk mitigasi yang paling awal: mengumpulkan sembilan orang yang terdiri atas ketua RT, anggota Kelompok Siaga Bencana, ketua majelis taklim, tokoh pemuda, dan kader kesehatan, lalu meminta mereka merumuskan sendiri rencana penanggulangan untuk kampungnya.
Hasil diskusi dikelompokkan menjadi tiga tema: dampak bandang 23 Januari 2023, kendala penanganan bencana sebelumnya, dan rencana penanggulangan ke depan. Peserta menyoroti minimnya fasilitas evakuasi seperti perahu karet dan pelampung di tingkat lingkungan, serta jalur evakuasi yang membingungkan dalam gelap malam. Tindak lanjutnya, tim tokoh masyarakat dan mahasiswa dibentuk sebagai fasilitator, lalu penyuluhan digelar di mushala RT 04 dan lewat kunjungan dari pintu ke pintu di RT 01.
Dari kegiatan itu, tim penulis merekomendasikan sejumlah langkah kepada pihak berwenang dan komunitas setempat: memberdayakan tokoh masyarakat untuk menjalankan rencana penanggulangan, memperluas edukasi mitigasi, memfasilitasi langkah struktural, membangun sistem peringatan dini, serta menyelenggarakan pelatihan evakuasi dan pertolongan pertama bagi korban bandang. Rekomendasi itu, tulis mereka, sejalan dengan mandat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 yang menuntut pembangunan fisik sekaligus penguatan kapasitas masyarakat.
Sejauh apa hasilnya bisa diklaim, itu soal lain. Kegiatan ini adalah pengabdian masyarakat, bukan uji efektivitas: pesertanya sembilan orang di satu kampung, diskusinya berlangsung satu kali selama 60 menit, penyuluhannya menjangkau 40 rumah tangga, dan naskahnya tidak melaporkan pengukuran pengetahuan warga sebelum dan sesudah kegiatan. Data kejadiannya berasal dari tinjauan laporan dan pemberitaan, tabel indeks bahayanya bersumber dokumen 2013, dan tanggal diskusinya sendiri ditulis berbeda antara abstrak dan bagian metode.
Studi-studi yang dirujuk pun perlu dibaca dengan takaran yang sama. Husniawati dan Herawati pada 2023 memang menemukan pengetahuan sebagai faktor paling berpengaruh terhadap kesiapsiagaan banjir pada 204 responden dengan nilai signifikansi 0,009, dan Jahirin serta kawan-kawan pada 2021 menemukan hubungan serupa pada 30 responden. Tetapi hubungan bukan sebab-akibat: temuan itu menunjukkan warga yang lebih tahu cenderung lebih siap, bukan bahwa penyuluhan otomatis membuat sebuah kampung selamat.
Dan di situlah batas istilah tadi terlihat. “Banjir bandang” menerangkan bagaimana air bergerak — tiba-tiba, berdebit tinggi, membawa material dari hulu — tetapi tidak menerangkan lemari dokumen yang basah, rasa takut yang muncul setiap kali hujan turun, jalur evakuasi yang gelap, atau sirene yang belum pernah ada. Semua itu berada di luar definisi, dan justru semua itu yang dibicarakan sembilan orang di Balai Pemuda Batu Busuk selama satu jam.














