Arus Atlantik Melemah Bisa Percepat Pemanasan Bumi

Ombak di Samudra Atlantik

Ombak berpusar di Samudra Atlantik dengan sinar matahari menembus lapisan awan. [Foto: Oregon State University]

Cekricek.id — Sistem arus raksasa di Samudra Atlantik yang selama ini dikenal sebagai penyeimbang iklim bumi ternyata ikut menentukan berapa banyak panas yang ditahan planet ini. Sebuah studi baru yang diumumkan Oregon State University pada Senin, 17 Agustus 2026 menyimpulkan bahwa melemahnya sirkulasi tersebut berkaitan dengan bertambahnya total panas bumi, bukan berkurangnya.

Sirkulasi yang dimaksud adalah Atlantic Meridional Overturning Circulation atau AMOC, jaringan arus yang membawa air hangat dari kawasan tropis ke Atlantik Utara, lalu mengembalikan air dingin ke selatan melalui lapisan dalam samudra. Ketika arus itu kuat, panas yang terangkut ke utara dilepaskan ke atmosfer dan akhirnya lolos ke angkasa. Ketika arus melemah, panas itu tertahan di dalam lautan.

Baca juga: Terumbu Karang Groote Archipelago Dipetakan Ilmuwan, Ungkap Dampak Pemutihan Massal

Katup Panas yang Mengatur Anggaran Energi Planet

“AMOC bekerja seperti katup panas yang mengendalikan anggaran energi planet ini,” kata pemimpin studi Christo Buizert, paleoklimatolog sekaligus associate professor pada College of Earth, Ocean, and Atmospheric Sciences, Oregon State University.

Selama ini pelemahan AMOC lebih sering dibicarakan sebagai pemicu pendinginan di kawasan Atlantik Utara dan Eropa Barat. Buizert menyebut gambaran itu tidak keliru, tetapi belum lengkap. “Namun ketika kami memperbesar cakupannya dan melihat seluruh planet, jumlah total panasnya justru meningkat,” ujarnya. Ia menambahkan, “Seolah-olah seluruh lautan berlaku sebagai ember panas raksasa.”

Buizert memberi ukuran untuk memudahkan pembandingan. “Sebagai gambaran, peristiwa pelemahan AMOC pada Zaman Es terakhir menimbulkan pemanasan sebesar yang akan ditimbulkan tambahan 25 bagian per juta karbon dioksida pada hari ini. Itu setara dengan sekitar 10 tahun emisi manusia,” katanya.

Baca juga: Karang Bercahaya Kuning di Gunung Bawah Laut Kosta Rika Dapat Famili Taksonomi Baru

Petunjuk dari Inti Es Greenland dan Antarktika

Tim peneliti tidak mengukur AMOC masa kini, melainkan menelusuri jejaknya pada Zaman Es Pleistosen — rentang panjang yang bermula sekitar 2,7 juta tahun lalu dan berakhir 11.700 tahun lalu. Periode itu berulang kali diwarnai lonjakan suhu mendadak yang dikenal sebagai peristiwa Dansgaard–Oeschger, yang berkaitan dengan berubahnya kekuatan AMOC secara tiba-tiba.

Rekaman inti es dari Greenland dan Antarktika dipakai sebagai arsip alami dua sisi proses tersebut, yaitu dinamika kandungan panas lautan dan laju pelepasan panas di Atlantik Utara. Rekaman itu lalu dibandingkan dengan simulasi tiga model iklim berbeda. Hasilnya, konfigurasi AMOC yang kuat dan yang lemah menghasilkan pola kehilangan dan penyerapan panas planet yang berbeda melalui umpan balik radiatif, sehingga kerangka klasik yang menjelaskan peristiwa itu semata sebagai perpindahan panas antarbelahan bumi dinilai perlu dilengkapi.

Baca juga: 3 Kapal Ditangkap Terkait Pelanggaran Transhipment Ikan di Perairan Kepulauan Aru

Studi tersebut terbit dengan judul Planetary energy budget during abrupt glacial climate events set by Atlantic Ocean heat valve pada jurnal Nature Geoscience tahun 2026, tayang daring Senin, 10 Agustus 2026 dengan penomoran halaman 1–7 dan DOI 10.1038/s41561-026-02070-6. Selain Buizert dari Oregon State University, penulisnya adalah Ayako Abe-Ouchi dan Yuta Kuniyoshi dari Atmosphere and Ocean Research Institute Universitas Tokyo, Guido Vettoretti dari Niels Bohr Institute Universitas Kopenhagen, Xu Zhang dari British Antarctic Survey dan Universitas Xi’an Jiaotong, Sarah Shackleton dari Woods Hole Oceanographic Institution, Sune Olander Rasmussen, Joel B. Pedro dari Australian Antarctic Division, Eric D. Galbraith dari Universitat Autònoma de Barcelona, serta Thomas F. Stocker dari Universitas Bern.

Pelemahan AMOC termasuk yang diproyeksikan terjadi seiring pemanasan yang dipicu aktivitas manusia. Berdasarkan temuan ini, pelemahan tersebut tidak akan berfungsi sebagai rem bagi pemanasan global, melainkan berkaitan dengan bertambahnya simpanan panas di lautan meski permukaan Atlantik Utara mendingin.

Meski begitu, Buizert menyebut model yang sama memberi satu catatan yang berbeda arah. “Riset kami juga menunjukkan bahwa di dunia yang lebih hangat, AMOC cenderung lebih stabil, yang mengisyaratkan peristiwa ‘titik kritis’ semacam itu mungkin tidak terjadi pada masa depan,” katanya.

Baca Juga

Pegunungan bersalju di Utah
Gelombang Panas Pemakan Salju Meluas di Barat Amerika
Citra satelit asap kebakaran hutan di Utah Amerika Serikat
NASA Buru Awan Api PyroCb Kebakaran Hutan di Utah
Dosen Fakultas Kehutanan UGM Atus Syahbudin memperlihatkan kain ecoprint karya warga Sangurejo di Leiden
Bekas Kampung Kumuh Sleman Masuk 32 Nominasi ProKlim
Pohon baobab jenis baru Adansonia bozy di kawasan Sambirano, barat laut Madagaskar.
Analisis Genom Ungkap Spesies Baobab Baru di Madagaskar
Lapisan atmosfer Bumi terlihat menyala saat matahari terbenam, dipotret dari Stasiun Luar Angkasa Internasional.
Kimia Darah Manusia Bergeser Seiring Naiknya CO2 Atmosfer
Bintang laut matahari menjelajahi hutan kelp setelah dilepas dari laboratorium.
Ilmuwan dan Suku Samish Lepas Bintang Laut Langka ke Pasifik